Saturday, November 21, 2015

Kuliner Bogor: Bubur Ayam Kabita

Masih bercerita Kuliner Bogor, yang deket rumah saya.

Warung bubur ayam Kabita, dalam masa ke masa, dalam ingatan saya. Maklumlah, warung ini letaknya cukup dekat dengan rumah saya. Bahkan, semenjak saya masih gadis di tahun 1990. Sampai akhirnya pindah jadi Warga Bogor tahun 1998. Saya tetap menjadi penikmat setia bubur ayam ini.

Bubur ayam Kabita, kuah nya meluap menutupi bubur (Dokpri)
Sudah menjadi kebiasaan warga Bogor, termasuk saya. Sarapan selalu mencari yang praktis, selain nasi uduk, lontong sayur, gorengan, salah satunya pilihan sarapan, bubur ayam. Makan pagi itu sangat penting untuk menambah energi di pagi hari, sehingga lebih konsentrasi pada pekerjaan. Saya lebih memilih sarapan dengan bubur ayam, sebab tidak membuat perut kosong langsung kaget, dibanding sarapan dengan makan berat.
Warung yang tak pernah berubah (Dokpri)



Letak warung bubur ayam di pinggir jalan Raya Gunung Batu(jalan Mayjen Iskak Djuarsa), di depan Pusat Pendidikan Latihan SDM lingkungan hidup dan Kehutanan...Gampang mencarinya.
Umumnya, bubur ayam, dibelakang namanya, ditambah embel-embel asal daerah, seperti Bubur ayam Bandung, bubur ayam Cianjur, bubur sop Cirebon, atau bubur Manado. Berbeda dengan bubur ayam ini, tidah ada penambahan dari mana asal bubur ayam, hanya bubur ayam KABITA...tebaklah dari mana berasal? 

Bubur ayam Kabita, sudah dirintis sejak tahun 1971. 
Kabita dalam bahasa Sunda, artinya tergoda menjadi ingin...masih belum jelas, oke saya kasih contoh, yang namanya 'Kabita'  Melihat orang lain sedang makan bubur ayam, makannya bubur sepeti enakkkk banget, nikmat sekali. Akhirnya, tergoda untuk mencoba bubur ayam (kepingin)...Pasti langsung berkata,"buburna meni raos, kabita euy!" Buburnya seperti enak, jadi kepingin.

Nah! mendengar nama Kabita, orang pasti mengira (termasuk saya), pasti pemilik bubur ayam Kabita orang asli Sunda. 

Anda dan saya, salah besar.

Pemilik Bubur Ayam Kabita, Bapak H. Loekman (alm). Tenyata, satu-satunya orang Padang yang berjualan bubur, hanya Bapak Haji Loekman.
"Tidak ada yang lain," tutur anaknya. 

Lha, kenapa memakai nama Sunda 'Kabita'.

Awalnya berdirinya bubur ayam ini, dulu berjualan di kios Pasar Anyar(Pasar Kebon Kembang sekarang) Bogor. Pemilik resep aslinya, berasal dari orang Kuningan yang ingin pensiun berdagang. Akhirnya, seluruh resep diturunkan langsung kepada Bapak Haji Loekman di masa muda. Dipilihlah nama Kabita, dan hampir semua orang menebak Bapak H. Loekman asli sunda, habis wajahnya Sunda banget. 
Tempat kasir dan meracik bubur ayam (Dokpri)

Warung bubur Kabita terbilang sederhana, juga sekaligus tempat tinggal keluarga. Terdiri dari empat meja kayu panjang, dengan kursi plastik yang berjejer. Tempat meracik bubur dapat kita lihat langsung menyatu dengan kasir. Tak ada yang berubah dari dulu. Yang unik, saat kita membayar ke kasir, menghitung rincian makan mengunakan kertas kecil, dihitung dengan cara manual. Saya pun mengenal Bapak Haji Loekman semasa hidupnya, orangnya ramah pada setiap pelanggan yang datang. Beliau akan duduk mengobrol bersama.

Bubur ayam Kabita seperti bubur ayam pada umumnya, terdiri dari bubur nasi, ayam goreng yang disuwir tipis, kacang kedelai goreng, seledri, bawang goreng dan kerupuk. Yang menjadi ciri khasnya, adalah bubur ayam disiram dengan kuah kaldu yang berwarna kecoklatan. Bubur ayam Kabita tidak kering, tapi tergenang kaldu yang membanjiri mangkok. Rasa kaldu, gurih asin, terasa sekali ada aroma daun salam. Kelebihan lain, adalah kecap yang dipakai, kecap asin bukan kecap manis. Menurut cerita, anak Pak Haji, dari dulu hingga kini, merk kecap asin tidak pernah diganti. Pernah dicoba diganti dengan merk lain, malah mengubah citarasa Kabita. 
Kecap asin cap Patkwa, selalu menjadi andalan bubur ayam Kabita. Pilihan yang tepat, kecap Patkwa sudah menjadi legenda kecap asli Sukabumi, yang diproduksi sejak tahun 1935. Kombinasi yang sempurna, bubur dan kecap, sama terkenalnya dan tercampur serasi di lidah penikmat bubur.

Sekarang, saatnya menilai rasa bubur ayam Kabita.

Saya yang sudah mengenal bubur ini, ada sedikit berubah rasa semenjak Bapak Loekman meninggal. Entahlah ada yang berubah, tidak selezat dahulu(sampe saya tergila-gila, kalo pagi harus makan bubur ayam Kabita...ini beneran, loh!)
Namun tetap saja, saya suka. Rasanya  tetap enak dan gurih, mericanya sangat tajam dilidah, sedikit keasinan (kalo penilaian saya.) 

Bubur ayam Kabita, tidak memiliki cabang. Kini, bubur ayam dikelola oleh anak lelaki Bapak Haji Loekman. Buka setiap hari, dari jam 6 pagi sampai jam 12 malam, kecuali Hari Minggu, buka tetap jam 6 pagi, tutup jam 8 malam.

Untuk satu porsi bubur ayam, cukup membayar Rp 10.000,- termasuk segelas teh hangat tawar. Kurang pedas, tambah sambal cabe sesuai selera. Untuk semakin menambah nikmatnya bubur ayam, ada tambahan pelengkap seperti sate hati ayam, telur puyuh dan usus, serta tersedia telor asin. Satu pucuk sate Rp 2.500,- kecuali telur asin Rp 4.000,-. Selain bubur ayam, ada menu lain berupa Soto ayam. Soto berkuah bening dengan tambahan sayuran kecambah dan kol, seporsi Rp 10.000,-. Soto ayam dapat dimakan dengan pilihan nasi putih atau bubur. 

Bagi yang pertama mencoba bubur ayam ini, pasti akan menemukan citarasa yang berbeda dari bubur ayam berkuah banyak ini. Sensasinya akan berbeda dengan bubur-bubur ayam yang lain

Bubur Ayam Kabita
Jalan Mayjen Iskak Djuarsa no 67
kelurahan Gunung Batu
Bogor




17 comments:

  1. Mba itu buburnya ada mie kuningnya? Itu ciri bubur bogorkah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu bukan mie, Jenk. tapi suwiran dading ayam agak memanjang.

      Delete
  2. Ngeliat bubur ayam Kabita... saya jadi kabita euy... :)

    ReplyDelete
  3. pagi-pagi liat ginian jadi pengen segera meluncur ke bogor hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hujan terus jenk, Bogor...enaknya ya nge bubur sajalah.

      Delete
  4. jadi pengen ke bogor lagii,, huhu.. ini kan jalur saya tiap mau ngajar dulu. dulu saya ngajar di ciomas Mak... dan sekarang terdampar di Solo. aiih...bikin kangen lah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ohhh, selalulah lewat jalan raya Gunung batu...

      Delete
  5. ish ... langsung kabita deh. pengeeennn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pinternya, namina bubur na geu ...Kabita

      Delete
  6. Jadi pengen ngeliat gambar buburnya.. padahal saya kalo nyari sarapan, bubur itu jadi alternatif terakhir :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, kadang begitulah yan terjadi, suka bingung cari variasi sarapan, ujung-ujung bubur lagi

      Delete
  7. padahal tangerang sama bogor tetanggaan tapi mau ke bogor rasanya jauuh banget. hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Naik comute line deket kok, lha aku juga belum pernah ke Tangerang loh

      Delete
  8. ini dia nih bubur legendaris! saya org Makassar tp pernah tinggal di Bogor sebulan di tahun 1998 krn ayah lagi dinas disana. waktu itu saya masih kelas 3 SD, dan rumah kontrakan pas depan bubur ayam ini.

    sampai sekarang meski lebih dari 15 tahun saya masih ingat rasa dari bubur ini. unik banget karena ga ada bubur yg rasanya kek gini! sempat nyari2 karena lupa namanya (wajar masih SD). definitely on my list if i come to Bogor someday.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bubur Kabita, masih pada alamat yang sama, pemiliknya sudah meninggal di teruskan oleh istri dan anaknya, tidak buka canga. Hayokk dik Iqbal bernostalgia kembali ke Bogor

      Delete