Thursday, June 30, 2022

Jaelangkung Versi Anak Sekolahan

Sepulang sekolah.
Lima siswi Sekolah Menengah Pertama, duduk mengeliling satu meja di dalam kelas.
"Ssttt...kalo dia nggak mau pulang, gimana?" bisikku sedikit ragu.

"Yaaa kamu, En, yang mengantarnya," potong Nana.
Langsung bibirku maju beberapa senti, naik mendekat hidung. Nana tersenyum lebar.
.
Rencananya kami akan memanggil jelangkung, permainan goib terkenal se- Indonesia, ritual supernatural memanggil arwah. 
Medianya beragam, ada yang mengunakan boneka dari batok kelapa, atau media paling sederhana, seperti yang kami lakukan.

Jangka dan Kertas
Peralatan sudah disiapkan sejak kemarin, jangka, kertas yang di buat melingkar, di pinggirnya ada tulisan huruf Alfabet. 
Satu kertas dan polpen di tanganku, bertugas untuk mencatat.

Serentak berlima menarik nafas, takut-takut berani.
Hening, tegang.
"Jelangkung, jelangkung. Datanglah. 
Datang tak dijemput.
Pulang tak diantar." 
Nana membacakan matranya tiga kali.
Jangka di letakan tegak berdiri di tengah lingkaran kertas, Nana memegangnya dengan ujung jari telunjuk

Jangka tak bergerak.
Kami saling bertatapan, mantra  Nana kurang manjur.
Sekali lagi Nana membaca matra. 
Jangka mulai bergerak sedikit, itu artinya roh sudah datang.
Mendadak tegang. Angin dari jendela kelas tertiup sangat kencang, kami menahan nafas.

"Siapakah pacar Een?" tanya Nana (karena aku yang jomblo sendiri).

Jangka berputar melawan arah jarum jam, kencang sekali.
Tik tik tik, bergerak lambat. Berhenti di huruf M.
Berputar kencang, berputar-putar, berhenti di huruf U.
Tik tik tik bergerak lambat, terakhir huruf L.
Jangka kembali diam di posisi semula, artinya jawaban selesai.

MUL

Hah! 
Aku langsung tak percaya membaca catatanku sendiri.
Masa sih, MUL.
Mereka menatapku, tawa pun meledak melihat berubah di wajahku.
Sebuah kebetulan.
.
Mul, beliau guru mata pelajaran Ekonomi dan Muatan Lokal tehnik pertukangan dinkelas III.
Semester ini,  teman-temanku tau, beliau naksir aku. 
Pria lajang dari Jawa Tengah, wajahnya hitam manis, selalu tampak gugup jika aku melihatnya. Apa nggak kebalik.
Memang begitu kenyataan. 
Dimataku, beliau guru yang wajib dihormati...nggak ada sirrnya. 
Hellowww...
Masa sih sama Pak Mul, aku kan masih abege, anak esempe, jalan panjang masih membentang untuk melanjutkan pendidikan.
.
Hening semua.
.
Srek! Kertas disobek Nana. Permainan selesai.
Seandainya dulu, ada aplikasi vonvon menanyakan jodoh, nggak perlu ribet main jelangkung.
Tapi begitulah.
Permainan masa ituuu.

Kala itu, 1985
#Menuliskenangan
Nyatanya, bukan karena Jelangkung(syirik) tapi karena takdir Allah, pada akhirnya, jodohku bernama MUL...yadi.

Bogor, 2022
Salam manis
Ny. Mulyadi



Monday, June 27, 2022

Karena Grogi

Sudah tradisi lebaran untuk saling berkunjung, bukan sekedar salaman terus pulang, tapi duduk diam sebentar, basa-basi. 
.
Sebenarnya, perut sudah kenyang diganjal Soto Banjar dari jejeran tetangga.
Kepuhunan
Lebaran, semua tetangga, open house, menolak tawaran makan, nanti dikira nggak menghargai. 
Bisa juga sih, nggak makan, tapi makanan harus disentuh sedikit, sambil berkata, "sempulun"
Hingga saat ini aku belum tau artinya 'sempulun.' 
Ngikutin orang aja, menyebut sempulunnnn.

Percaya nggak percaya, kalau kamu datang ke bumi Kalimantan, hormati budayanya, sekalipun itu mitos atau apa kek.
Jika kamu ditawari makanan atau minuman dari pemilik rumah, jangan menolak.
Makanlah sedikit, sambil berkata: Sempulun
Orang Kalimantan percaya adanya istilah Kepuhunan atau kepohonan (bahasa Banjar: Kapuhunan) artinya celaka atau musibah akibat tidak mencicipi hidangan. Nah Loh!
Daripada cilakak; jatuh dari motor, kejatuhan pohon kelapa, kalo kejatuhan 'cinta' sih enak, mending makannn gih.

Soto lagi soto lagi
Nggak ada menu makanan lain apaaa? 
Soto Banjar...menu utama yang disajikan saat lebaran, katanya nggak sahhh, nggak masak Soto Banjar.
Sampai dulak bemakan soto.
Apa jawab si empunya rumah.
"Soto memang sama, tapi masaknya beda. Nyamannya gin bedaa jua."
Terpaksa makan lagi: "Ayujaaa, Cill.." sembari menyuap kuah bening soto Banjar, wanginya semerbak. 

Kunjungan terakhir ke Mbak Purwasih, berada di belakang rumah.
Sekalipun mbak Pur, anak Sekolah Menengah Ketrampilan, aku masih duduk di bangku SMP, kami cukup akrab, satu komplek dari kicik.

Dhilalah!  teman Mbak Pur datang terlebih dahulu. Ruang tamu kecil  menjadi sesak. Mau keluar lagi, terlanjur masuk. 
Yo wislahh.
Terpaksa aku duduk  menyempil di samping cowo.
Deg! Rada kikuk, ganteng sih.
.
Mbak Pur menyuguhkan minuman andalannya, sirup buatan sendiri.
Dari 1 kg gula pasir direbus sedikit air, tambahkan vanili frambosen, campur dua warna kuning dan merah (aih...malah bagi resep).
Sirup gula yang sudah manis dicampur lagi dengan susu kental manis,  sirup bertambah manisss, seperti akuuuuu.
.
Sambil mendengarkan obrolan mereka, aku meminum es sirup, sekali teguk, ludes. Cowo di sampingku, sering sekali, senyum-senyum dikulum ke arahku, bertambah grogi rasanya.
Beberapa menit kemudian, lhhaaaa, kenapa gelas di depanku, airnya masih penuh?
Sambil tersipu malu, melirik ke cowo sebelah, ternyata aku keliru, minum dari gelas si ganteng itu. Benar-benar salah tingkah.
.
Antara senang dan malu.
.
Lebaran, Palangka Raya 1985.
#menuliskenangan

Sunday, June 26, 2022

Gara-Gara Celana Dalam

"Marini pingsan!!!" 
Aku hanya acuh, melihat teman pingsan, bukan ikutan heboh.
Ah! Sudah terlalu sering dia pingsan, jadi kuanggap biasa. Masa paduan suara saja, bisa bikin dia pingsan.

Kadang suka iri, melihat orang pingsan, banyak yang memperhatikan, apalagi yang pingsan wajahnya cantik. Aduheee...kaum Adam langsung kompak menolong. Si Rudi, cowok terganteng spontan membopong membawa  masuk ke ruangan Unit Kesehatan Sekolah...hmmm, begitu, ya, pingsan.
Akuuuhh, boro-boro pingsan.
Nggak pernah!!!
Gerak jalan 17 km saja, tetap kuat, apalagi aku sangat aktif, masa sih pingsan.
.
Sesuatu dalam hidupku.
Senin pagi yang tak pernah  kuduga.
Upacara bendera seperti biasa.
Baru beberapa menit, ada yang aneh di dalam rok biruku.
Aduhhh, aku membatin, jangan-jangan.
Wajahku langsung pucat, detak jantung lebih cepat, keringat dingin.
Aku berbisik ke teman sebelah, rasanya mau pingsan (sesuatu banget).
Mungkin dia tidak percaya, tapi aku tetap ingin ke ruang UKS, daripada kenapa-napa.
Sambil dituntun teman cowo, aku berjalan pelan, hal yang tak biasa. Biasanya, Een terkenal jadi komandan, tegas dan tegap.

"Tiduran di ranjang," suruh petugas UKS, aku malah ke kamar mandi.
Aah...benar, makiku, tali karet celana dalam putus. Untung  tadi, nggak sempat melorot di lapangan.
Karet celana bukan dari elastis putih tapi tali merah rada pink, mirip pentil sepeda, gampang putus. Langsung kutarik ke kanan, lipat ke tengah lalu kait dengan peniti bros (seperti pakai sarung). 
Anak sekolah jaman 80-an, suka pakai bros kecil di dada seragam atasan. Ternyata, bros ini jadi 'penyelamat' muka si Een.

"Eennn," terdengar, suara cemas sambil mengedor pintu, mungkin petugas takut  aku pingsan di dalam. 
"Iyaa.." sahutku lemah, akting!

Disuruh tidur, aku memilih duduk.
Baru juga duduk sudah disodorkan teh manis hangat.
Sambil bernafas lega, aku menghirup minuman.
"Begini rasanya pingsan, bukan karena belum sarapan , tapi gara-gara celana bangsat ini!"
Celeguk, menelan ludah.

Palangka Raya, 1984
#menuliskenangan
*tak jadi pingsan*

Saturday, June 25, 2022

Dream Comes True

Kata Mama, setiap kata yang terucap adalah harapan dan doa.
Aku selalu percaya itu.
.
Een kecil dan saudaranya, hanya bisa terpukau mendengar cerita teman yang baru datang berlibur dari Jakarta. 
Kata mereka, di Jakarta ada banyak kendaraan dan gedung tinggi.
Wah! luar biasa ya, ibukota Indonesia itu.

Lalu aku melihat kotaku, Palangka Raya, gedung tertinggi hanya dua lantai. Tempat paling ramai dikunjungi, hanya Bundaran Besar dan pasar.

Bundaran besar, letaknya dekat dari rumahku di jalan Yos Sudarso, simpang lima. 
Bundaran tahun 1983, tempat kami berenang, suka juga berendam dengan kerbau, karena ada kumbangan air dan lumpur di pinggir bundaran.
Di tengah bundaran,  dibuat Patung Tentara membawa senjata laras panjang, sendirian, berdiri tegak siap siaga.
Aku kok percaya saja mendengar cerita teman, kalau patung itu kesepian, tengah malam, suka turun, muter bundaran. Seremkan, patungnya bisa hidup.
Hanya itu hiburan kami.

Kadang, aku suka terpukau dengan tanteku kalau pulang kampung ke Palangka Raya. Penampilan seorang istri Anggota DPR RI, Jakarta, berkaca mata hitam besar, sepatu tinggi, terlihat hebat.  Yang nggak kusuka, omongan, terlalu tinggi dan meremehkan keluarga kami, miskinlah, bla bla bla. Walau begitu, tetap aja aku penasaran dengan Jakarta.

"Kapan, ya, kita bisa ke ibukota," tanyaku pada kakak. Dia mengeleng, tidur di atas dipan kayu bersusun, aku tidur di dipan bawahnya.
Ah, itu cuman mimpi, harapan kecil anak daerah sepertiku.

Masa kecilku dihabiskan di kota Malang, lalu pindah ke Palangka Raya. 
Saat lebaran, rata-rata keluarga perantauan akan mudik ke Jawa, kami tidak. Terlalu berat diongkos. Sebaliknya, malah Nenek atau Aki Cirebon yang bertandang ke Palangka Raya.
Dipikir, berani juga nenek atau Aki datang ke Palangka Raya sendirian, demi kerinduan pada.anak dan cucu.
Mimpi kecil anak daerah melihat kota besar, terwujud melalui usaha sendiri, gratisan di jalur Pramuka, pertama, aku terpilih Dianpinru 1984 dan yang kedua,.aku dan kakak ikut Jambore Nasional 1986, Cibubur Jakarta.
Tak mudah bisa lolos Jambore, kami melalui tahapan seleksi. Aku dan kakak, terdaftar Jambore, beda regu. Tak apalah,  terpisah, biasanya kami selalu bersama dalam satu regu. 
Kami pun modal nekad, nggak bisa berenang, berani juga naik Kapal Perang 515 Teluk Sampit. Saat itu gelombang sangat tinggi, syukurnya kamipun sampai di Pelabuhan Tri Sakti Jakarta.
Menjejakkan kaki di ibukota, tak terbayang rasanya, tapi nyata, banggaaa luar biasa.
Oh! Inikah Jakarta.
"Kita nggak ngimpikan, Da," Aku mencubit lenganku, memeluk kakakku.
Untuk pertama kali naik bus, kereta api, helicak, dokar, kalau naik pesawat terbang sudah pernah, waktu pindah ke Malang.
 Di Jakarta, bertemu saudara Bapak, diajak jalan-jalan, aduhhh..senangnya, bisa jadi bahan cerita.
Ucapan adalah doa
Dalam keseharian, Mama paling suka menimang adik bungsuku:
Jakarta, Jakarta, Jakarta, Indonesia Raya.
Kalimat itu diucapkan dengan gemes, berulang kali, terdengar aneh.
Ternyata itu harapan dan doa Mama, diijabah Allah.
Mendadak, Bapak ditelpon, segera ke Jakarta untuk dilantik menjadi Kepala Bagian Keuangan di Kantor Manggala Wana Bakti. Semua serba mendadak, kami sekeluarga harus segera pindah ke Jakarta.
.
Tak ada yang tak mungkin, jika Allah berkehendak.
Kini, seluruh keluarga hijrah ke pulau Jawa.
Jalan hidup manusia, hanya Allah Yang Tahu. 
Di manakah kita hidup dan mati.

Palangka Raya, 1984 #nuliskenangan
#kenangan
*Kun Fayakun*

Tuesday, June 21, 2022

Pengalihan Hati

Sebelum apel Senin pagi, hari Sabtu menentukan nama-nama petugas upacara, dilanjutkam latihan, supaya penampilan kelas yang mendapat giliran semakin sip.

Aku paling males jadi petugas penaikan bendera.
Selalu deg-degan, cemas, kalau saja bendera terpasang terbalik, warna merah putih jadi putih merah. 
Apa nggak kiamat, bagi kita (jaman itu) bendera sangat dihormati, jatuh ke tanah saja, bisa ditegur tentara.
Satu lagi yang membuat jantungan, kalau lagu  kebangsaan Indonesia Raya selesai dinyanyikan, bendera baru naik setengah tiang...alahmak!
Walau, sebenarnya, jika terjadi kesalahan, malunya kan bertiga, tetap saja aku nggak mau jadi petugas itu.

Satu lagi tugas yang kuhindari adalah Dirigen lagu Indonesia Raya. Sadar diri aja.
Suaraku sedikit sumbang, bayangkan, kalau mengajak bernyanyi;  "Hiduplah Indonesia Raya. 1,2,3, 4."
Mengerakan tangan pada ketukan 4/4. Kalau tak selaras ketukan dan temponya, bisa kacau balau dunia pernyanyian. 

Trus, apa tugas yang aku suka? Jadi peserta upacara. Nggak juga sih, bosen banget berdiri tegak tanpa beban, jadi pengen ngobrol aja.
Tugas yang aku suka, menjadi pembawa acara...itu paling gampang, tinggal baca aja, terlalu muda, kurang tantangan.

Tugas upacara yang paling Aku suka menjadi komandan upacara.
Dasyatkan.
Aku suka berdiri di tengah lapangan, semua mata tertuju padaku seorang. 
Mungkin yang mengenalku, sewaktu SMPN -2 dan SMA Negeri-3  atau Pramuka Gudep Adyaksa, pasti sudah tau, aku selalu menjadi Pratama.

Berteriak lantang, memberi komando. Ada kebanggaan sendiri, mungkin aku terlalu percaya diri.
.
Semua berawal dari kegiatan Pramuka.
Entah mengapa, aku selalu dipilih jadi ketua regu (mungkin, ada aura kepeminpinanku kalee yaa). Padahal anggota regu, usianya lebih tua dariku. 
Dari keahlianku menjadi Pratama, aku terpilih menjadi wakil Kalimantan Tengah bersama 9 teman lainnya, untuk berlomba di Jakarta. 
Juara satu, lomba Dianpinru 1984 akan menjadi Pratama di upacara Hari Pramuka, 14 Agustus 1984.
Menjadi Pratama, di upacara besar dipimpin Presiden Soeharto, tentu sangat kudambakan, sebuah kebanggaan tersendiri.
Sayang, aku nggak menang,  Juara satu dari Kotamadya Cirebon. 
Paling tidak aku sudah membuktikan keahlianku sebagai Pratama. 
Tahun 1984 itu, untuk pertama kalinya, aku mendengar langsung suara Presiden Soeharto, denger suaranya aja, bikin aku terharu, biasanya cuman melihat dan mendengar dari televisi. Itulah pertama dan terakhir mendengar suara Pak Harto.
Jujur, Pramuka membuatku sibuk. 
Teman sebaya pacaran, aku malah berkemah Sabtu Minggu.
Teman pada naksir cowo, aku sibuk belajar tali temali, morse.

Sudah aku katakan, aku pandai menutupi perasaan hatiku.
Dalam batin, mau juga seperti mereka, sayangnya,  cintaku selalu bertepuk sebelah tangan.
Aku suka, dia nggak.
Pedihkan.

Palangka Raya, 1986
#Menuliskenangan
*bentuk pelarian*

Friday, June 17, 2022

Dering Telepon Pertama dalam Hidupku

Mendengar Dering Telepon Pertama kali
"Halllllooooo."
Itu pertama kali, kulihat Mama menjawab telepon, suaranya nyaring sekali.
Oh, begitu ya jawabnya, aku melongo. 
Kejadian di tahun 1981, di sudut ruangan Hotel Amandit, Banjarmasin, Mama menerima telepon sepupunya dari Palangka Raya.

Kami baru sampai di Banjarmasin  dari Bandara Djuanda Surabaya dan harus menginap di Hotel  selama dua malam, selanjutnya naik speedboat ke Palangka Raya. Lelah sekali, apalagi Mama, terus mengendong adik bungsuku (usia 4 tahun), Andi rewel karena demam.

Di Hotel Amandit itulah, aku baru tau, bentuk yang namanya telepon.  Barang baru bagi kami yang hidup sederhana di perantauan, biasanya hanya orang 'berada' saja yang punya telepon.
Kebetulan sepupu Mama, yang mengatur kepindahan kami, orang terkaya di Kalteng, pemilik Hotel Palangka. Tak heran, bisa menelpon ke hotel.
***
Menjawab telepon, pertama kali

Kami sudah pindah dari rumah kontrakan di  Bukit Hindu  ke rumah dinas kehutanan.
Di perumahan ini, aku berbaur dengan teman yang orangtuanya, sama-sama Rimbawan. Rumah-rumah dibangun berdasarkan golongan kerja, ada yang kaya ada yang biasa aja.
Kehidupan kami tetaplah sama, sederhana.
Suatu ketika aku diajak bermain ke rumah anak Kepala Kantor Kehutanan. Rumah dinas yang besar, perabotnya pun baru pertama kali kulihat, bagusss sekali. Halamannya luas di kelilingi pohon Pinus berdaun jarum dan Akasia.
Ada penjaganya, galak tak terkira, dua ekor angsa putih, gemuk besar, suka nyosor.
Kami bermain behel, di ruang tengah. 

Kringgg!!!

"Angkat, En." 
Plenga pelengo, bagaimana cara jawabnya. Gugup sekali, tangan gemetaran mengangkat gangang telepon.
Terdengar suara di ujung telepon. 
Langsung kujawab, "Hallloooooooo."

Suaraku super nyaring. Beneran, nggak nyadar, nyuaring.
Hmmm...pengalaman pertama, bocah SD kampungan, menjawab telepon, persis Mama dulu.
Oh oh oh...begini ya telepon itu, batinku
Deredek blas!

Saat itu, telepon rumah hanya punya satu warna hitam, untuk menelpon, nomernya diputar, dan berbunyi krek, krek krek.
Tahun 1992 baru telpon rumah, warna dan bentuknya beraneka ragam, nomer telpon tidak diputar lagi tapi dipencet.
.
Sampai kami sekeluarga pindah ke Jakarta, Mama Bapak tak pernah berminat memasang telepon...Katanya, nanti dikira orang kaya.
.
.
.
Rumah Dinas Kehutanan, 1981
#menuliskenangqn
#TeleponRumah

Thursday, June 16, 2022

Proses Kehidupan

Ketika anai-anai kembali pulang ke dalam tanah.
Bertanda musim hujan telah berakhir.
Nyanyian asmara kodok
jantan merayu betina dewasa.
Terdengar membahana.
Pada puncak purnama, tarian kehidupan berlangsung sepanjang malam.

Ada genangan kecil di samping langgar kayu  di Bukit Hindu.
Sepulang sekolah, aku selalu bermain ke sana. 
Berjumpa dengan sepasang kodok, yang kini malah menepi di kolam, bungkam membisu. Itu bertanda pesta kasih telah usai.
Bahagia rasanya, melihat ribuan telur kodok, melilit di tepian.
Warnanya transparan, bentuknya panjang, ada titik bulat hitam berjarak di dalamnya, berlendir.
Proses kehidupan sedang berlangsung.

Yang paling menyenangkan, melihat metaformosis kedua.
Ribuan berudu, hitam, bulat gendut, gerak berenangnya sangat lucu.
Sisa roti aku lempar, spontan berudu menyerbu.
Tahap ketiga, aku hanya  memperhatikan sampai menjadi kodok dewasa.
Di fase ini, aku mulai takut dengan kodok dewasa. Badan dan rupa, jelek, berbintik dan basah.
.
Seperti kehidupan kodok, semua melalui metaformosis
Een kecil, kurus, hitam, kutuan, melalui banyak proses. 
Sering aku bercermin, memantul wajah tak manis, jelek seperti kodok.
Baru setelah remaja, aku sadar; jangan suka minder, karena tak penting kecantikan wajah, yang penting, cantik hatinya.
Cantik menurut Allah, bukan manusia.
Sampai detik ini, aku pun bersyukur mampu melewati semua kehidupan.

Dan...
Ternyata, aku bisa juga cantik...
Sebenarnya, inti cerita ini, hanya ingin memuji diri sendiri.
Solali lali ola olala.

Palangka Raya 1983
#menuliskenangan
#menulis
*berproses*
Baca juga : 

Wednesday, June 15, 2022

Tersiksa Karena Kutu


Sore sehabis hujan, waktu yang tepat bermain di genangan depan rumah di Bukit Hindu.
Baru mau melangkah, sudah dihadang tante di depan pintu.
Aku langsung cemberut, spontan tanganku mengaruk rambut berulang kali. 
Makluk Tuhan bernama kutu ini, kalau sudah mengigit, guatalll, nggak digaruk, tersiksa. Digaruk kuat-kuat jadi korengan. 

Tante Pancar adik Mamaku, kalau sudah berburu kutu rambut, semangat sekali.
Nggak bisa ditolak, karena perintah Mama, aku merengut, piluuuu.

Petilu
Rambut terlebih dahulu dioles dengan minyak, ini nih! bikin malu, sampe besok rambut bau minyak goreng.
Duduk di lantai beralas tikar, kaki tante ngelosor, aku merebahkan kepala di pangkuannya. Satu, dua, tigaa...aksi pembantaian dimulai.

Pelan-pelan, rambutku disibak, helai demi helai diperhatikan dengan seksama.
Tangan kanan tante memegang 'petilu'. 
Alat yang terbuat dari bambu pipih, bagian ujungmya berbentuk runcing. Rambut dibuat menjadi garis lurus, ini mempermudah melihat barisan lisa (anak kutu), kor(telur), atau gerombokan kutu bersembunyi di kulit kepala, sasaran  disatukan di ujung petilu, lalu ditekan dengan kuku jempol kiri. Berbunyi, tik! Berarti telurnya berisi anakan.
Sebenarnya, ya, Tante, kepala ini terasa sakit dikerik ujung petilu, tapi kasihan sama tante, inikan hobby satu-satunya. Demi tante kesayanganku ini, aku rela disiksa, dan tertidur.

Tradisi Petan
Satu lagi, pemburu kutu rambutku, namanya Budhe Narti (tetangga sebelah rumah) suka maksa cariin kutu. Sebel.
"Mrene, Nduk, cah ayu." Terpaksa menuruti panggilannya, aku duduk di depannya, membelakangi Budhe Narti.
Kata Budhe, dia melakukan ini untuk melestarikan tradisi Jawa namanya Petan atau berburu kutu rambut, bentuk berbagi informasi, dan kebersamaan sesama tetangga dengan barengan cari kutu rambut satu dengan lain, sebut aja, cara ngegibah yang asik.

Budhe Narti memakai cara manual. Jarinya sibuk mengerayangi rambut kepalaku, semakin lincah kutu, Budhe gemes, ngomel-ngomel ke tumo, setelah dapet, kutunya bukannya diplites, malah berakhir di ujung gigi 'kletusss', katanya sih penambah darah, vitamin.
.
Sebenarnya, aku heran juga. Kutuku, betah sekali di rambut. 
Mungkin, karena serin berkemah. Tidur satu tenda dengan posisi kepala disatukan di tengah, kaki mengarah ke pinggir tenda. Otomatis, keluarga kutu dengan gembira, traveling dari satu kepala ke kepala lain.
.
Sisir Rapat
Selain berburu kutu dengan petilu, petan ala Budhe Narti. Upaya lain, Mama memotong rambutku sangat pendek, selalu diperintahkan, menyisir dengan sisir rapat (serit). 
Kepalaku menunduk, trus rambut diserit, kutu berjatuhan ke kertas putih di lantai. Kalau gerombolan kutu itu terlihat banyak, langsung dibantai, pites dengan gemas. Akhir yang tragis ya, Kutu.

Segala upaya sudah dilakukan, kenapa juga keluarga kutu belum juga hilang?
.
Hari Minggu pagi, Mama memanggilku.
"Ada apa lagi?" batinku.
Disuruh duduk di bangku kecil, aku pasrah. 
Rambut diusap dua tetes (lebih kali) obat nyamuk cair Baygon, lalu ditutup handuk, dibiarkan beberapa saat.
Setelah itu, rambut  digosok berlahan  dengan handuk kecil putih. Bener manjur, gerombolan kutu nempel, terbunuh massal.
.
Selama menunggu itu, aku rada mabuk mencium baunya.
Untung nggak mati.
Sungguh menderita. seandainya saja ada obat kutu, mungkin aku tak sengsara begini.
.
Begini nih!
Merana bukan karena cinta, tapi karena kutu. 
Aku ra popo. Ihiks!

#menuliskenangan
#PalangkaRaya tahun 1981
*membasmi kutu*

Monday, June 13, 2022

Sekolah Dasar Teladan Palangka Raya, Sekolah Terakhir

Jadi murid baru lagi, hal ini terulang kembali pada diriku...
Seperti biasa, hari pertama masuk sekolah, aku selalu disuruh memperkenalkan diri di depan kelas.
Tanpa gugup, aku bercerita tentang siapa aku, kadang kebablasan, cerita tak henti kalau tak dikasih 'kode' Bu Guru.

Bagaimana aku tak jadi biasa melakukan tampil solo begini, Sekolah Dasar kulalui berpindah-pindah.
Sekolah pertama di SD Cikalahang Kab. Cirebon, trus pindah ke Kota Malang, SD Ktawang Gede, kembali ke Palangka Raya, ada tiga sekolah. Mama memindahkanku dengan alasan jarak sekolah dengan rumah jauh.
Tak heran, temanku buanyaaak, dari lintas SD, kadang aku lupa, tapi sok kenal, nggak enak nanti disangka sombong.

Saturday, June 11, 2022

Arti Kesetiaan dan Kerinduan Seekor Kucing

"Mikiiiii."
Teriak kami bergantian, ada yang menunduk mencari di kolong ranjang.
Miki, kucing jantan berbulu coklat terang, ekor pendek melengkung, berbadan besar.  Beberapa hari ini, ia sibuk tebar pesona pada betina.
Kalau sudah birahi, kadang tak mau pulang, bahkan makanpun tak berselera. Raungan mengoda betina genit, lebih didengar dibanding teriakkanku, Miki berpetualangan jauh dari rumah. Entah di mana.

Miki tak tau hari ini kami pindah rumah. 
Bapak mendapat rumah Dinas Kehutanan.
Gelisah melanda dua bocah SD, kakak beradik, bagaimana kalau Miki tak ketemu?

Sore itu aku mengayuh sepeda di belakang mobil pic up, sekali-kali menengok ke belakang, rumah kontrakan semakin jauh.
Mikiiiiii, Mikiiiii.
.
.
.
Setiap pulang sekolah, aku dan kakak kembali ke rumah Bukit Hindu, jarak sekitar 5 km, melewati jalan kecil berliuk. Aku berteriak memanggil Miki. 
Kucing itu tak tampak, mungkin dia bingung melihat penghuni baru di rumah kontrakan.

Friday, June 10, 2022

Bisnis Keluarga | Ayam Petelur

Sebutir telur rebus dibagi empat, adalah hal lumrah, maklumlah penghasilan kecil,  jumlah saudara banyak.
Tapi tidak bagi keluarga kami. Sekalipun bapak hanya pegawai negeri (baru selesai tugas belajar di Malang), rumah masih ngontrak, anak  empat, dan dua saudara Mama.
Telur ayam dan puyuh berlimpah di rumah, makan bebas, mengapa bisa begitu?
.
Bisnis Ayam Petelur
Jiwa bisnis Bapak dan Mama, diawali dari membangunan peternakan ayam petelur di Bukit Hindu.
Tugasku setiap siang, berjalan di lorong dengan ember di kiri, menciduk air dengan gayung ke tempat minum ayam.

Thursday, June 9, 2022

Bibirku Kurang Merah

"Eenn...angkat lengannya, rata,...raataaa, tegak!" dengkul tante Sukahet menekan punggungku agar tegak, menarik pundak ke belakang, lalu dengan sigap mengangkat ke dua pangkal lengan agar tak bergerak turun.
Suara perintah bercampur bunyi gamelan Bali. Sekali-kali Tante  mencontohkan gerakan tari diiringi  suaranya, seperti gamelan, sreng sreng , ce ce sreng.

"Putar, angka delapan...matanya, lihat jari, kiri, kanan." Perintahnya, tegas dan jelas.
Tante Sukahet, guru tari, juga istri polisi dari Bali. Wajah Indo Belandanya lebih dominan, tapi dialek Balinya sangat kental.
Dua kali seminggu, aku dan kakak belajar menari Bali.

Wednesday, June 8, 2022

Bocah 80-an Harus Mandiri

Srek srek srek...
Terbayangkan, menyapu lantai memakai sapu lidi, agak susah, bukan sampah yang disapu tapi debu.
Belum kepikiran mengantikan sapu lidi dengan sapu ijuk.
Karena bentuk ketrampilan siswa tahun 80-an hanya membuat sapu lidi dari daun kelapa, dan asbak dari lempung.

Selesai menyapu lantai kelas, selanjutnya menghapus papan tulis hitam, buk buk buk...penghapus kecil dari kain diisi kapuk, debu kapur berterbangan, salah-salah muka jadi putih semua.
Sebelum pulang, ada yang tak pernah aku lupa, untuk memungut sisa kapur papan tulis.
Ini penting!
Mandiri

Ada aturan di rumah, setiap hari Minggu, seragam dan sepatu wajib dicuci sendiri.
Masih bocah sudah dibebani tanggung jawab, Mamaku tak perduli, mau bagaimana rupa seragam dan sepatuku di hari Senin, mau bersih atau lecek...
Mama takkk perduli, up to you.

Sepatuku berwarna putih berbahan kanvas model Bruce Lee. Alasnya lepek tipis, ketusuk paku saja, pasti tembus, cuman model begini yang lagi ngehit, merk Titania.

Sepatuku ini, sebenarnya sudah tak layak pakai, bagian belakangnya sudah rubuh, keseringan aku injak. Tapi apa daya, belum mampu beli yang baru.  Supaya bersinar cerah kembali, aku punya kiat sendiri. Inipun hasil bisik-bisik sesama teman senasib.

Sepatu direndam, sikat memakai sabun batangan cap 'tabe' (bahasa dayak yang berarti salaman),  warnanya sabun hijau. Setelah bersih, barulah kapur tulis digosok di permukaan sepatu, jemur di matahari. Kalau mendung, sepatu aku taruh di belakang kulkas, terjepit diantara teruji besi.
Lumayan kering,  cuman sepatu jadi kaku, mirip kerupuk kulit. 
Sepatu satu-satunya yang kusam jadi putih kembali, cuman  kalau berjalan, berterbangan debu kapur di lantai. Polusi udara.

Untuk seragam atasan putih, bilasan terakhir tak lupa dikasih belau, sering sih warna baju putih, malah berubah kebiruan,  kebanyakan belau, kadang butiran belau masih nempel.

Paling repot, nyetrika baju, harus manasin arang dulu. Setrika arang  ayam jago, beratnya minta ampun, salah-salah bisa berlubang baju seragam.
Setrika arang harus pakai perasaaan, karena tak ada lampu otomatis menyerta suhu. Kalo dirasa setrika kepanasan, taruh dulu di atas daun pisang, diamkan, sampai suhu agak normal.
Tempel lagi ke baju yang sudah dipercikan air, Maknyessss...berbunyi, uap mengepul.
Yang bikin sebel, kenapa rok bawahan SD harus lipit-lipit, kan bikin kerjaan.Sementara rok anak SMP, nggak pakai rimpel, warna biru lipat dua kiri dan kanan, anak SMA, warna abu-abu lipat satu di tengah. 
Untuk  ukuran rok SD, panjangnya harus 5 cm di atas,pendek, apalagi celana anak laki, ketat dan pendek sekali, jaman sekarang mana ada bocah mau pakai celana pendek, auratkan.   
Kembali ke rimpel yang bikin susah setrika, apakah rimpel ini bertanda, perjalanan panjang sekolah dasar selama 6 tahun, terasa laaaamaa sekali. Perjuangan buat pintar,.sampe berimpel-rimpel.
Ah sudahlah,  aku mengantung hasil setrikaanku di paku pintu kamar, senyum-senyum, puas. 
Begitulah, mau terlihat rapi dan cantik perlu kerja keras.
Walau ini seragam satu-satunya, runtuhan dari kakak.
Aku masih bersyukur.
Banyak yang lebih parah dari seragam merah putihku.
Ya begitulah, Een kecil terlihat lebih manis, walau atributnya sangat sederhana.

Palangka Raya 1981
#menulisKenangan
#SepatuSeragam merah putih.

Tuesday, June 7, 2022

Romansa Langgar Kayu

Kenapa film kartun selalu ditayangkan sore hari, kenapa nggak malam aja.
Kenapaaa...
Belum selesai bertanya pada diri sendiri, tiba-tiba Bapak menaruh sejadah menutupi layar televisi. Sebuah 'kode': Cepat pergi ke Langgar, sholat Magrib berjamaah.

Langsung kuambil mukena, lima belas langkah sudah sampai di langgar kecil.
Langgar berdinding papan terletak di depan rumah kontrakan kami di Bukit Hindu.
Jamaah kebanyakan anak Panti asuhan milik Pak Agus. Orang sekitarnya jarang memakmurkan langgar.

Monday, June 6, 2022

Drama Kesambar Petir

Kejadian kemarin sore, bukan hanya TV hitam putih kami yang tersambar petir
Tapii, Tante Pancar adik Mama, juga menjadi korban kesambar petir, kena di jempol kakinya.
Laiyahhh...hujan-hujan malah gosok pantat panci di pinggir sumur.

Yang ku ingat, sayup terdengar Bapak melantunkan azan, merdu di antara gemuruh, petir menyambar, angin berputar kencang.
Tiba-tiba, hujan mereda.
Aku mengintip dari horden depan, nasib rumah pohonku di depan rumah, rantingnya patah, daun-daun berserakan.
Bapak mendekatiku, lalu membuka pintu sambil berkata, "Dan kepunyaan Allahlah tentara langit dan bumi dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha  Bijaksana."

Sunday, June 5, 2022

Kiriman Kilat dari Tuhan

"Baju Itje Tresnawati itu, warnanya merah, loh!" kata Anita, teman sebangku, dia asyik menceritakan detail warna-warni pakaian artis.
Oooo...mulutku bulat berbentuk O kemudian menguap berulang kali, gara-gara tidur ke malaman. 
Takjub, mendengar cerita berbagai warna di acara Aneka Ria Safari. 
Tahun 80-an  acara ini sangat dinanti. Bela-belain tak tidur, demi menonton lagu dan artis baru.
Saat itu, televisi hitam putih mulai berganti TV berwarna.
Satu persatu teman sekolah punya TV baru, ramai bercerita tentang warna, aku hikmat hanya jadi pendengar.

Sepulang sekolah, aku berdiri di depan TV kayu yang ukurannya, besaaar sekali. 
Ada tutup layar, kalau dibuka, otomatis TV nyala. 
TV besar berkaki empat, layarnya cuman14 inci. 
Kapan ya, Bapak mengganti TV ini? 
Bapakku sangat hemat, kursi reot di ruang tamu, tidak akan pernah diganti kalau kakinya tak patah, apalagi tivi, kondisi masih bagus, mana mungkin diganti Bapak, bahkan untuk mengakali, biar mirip TV berwarna, tivi hitam putih ini, layar depannya dicantolin plastik berwarna warni.
Ngggakkkk mungkin tivi ini diganti Bapak, pikirku.
Nggak mungkinnnn.
Nggakkkk mungkinnn.

Saturday, June 4, 2022

Bukan Hantu

Setiap orang pasti memiliki tanda di tubuhnya. 
Akupun punya, tanda di dada sepanjang 8 cm, Mama tak pernah tau, karena aku merahasiakannya.

Masa itu, masih bocah, hitam kurus tak manis. Aku suka naik pohon belimbing di belakang rumah. Letaknya bersebelahan dengan jamban Budhe Narti hanya dibatasi pagar seng.

Friday, June 3, 2022

Misteri Bunga Gardena

Rumah kontrakan keluarga kami di Bukit Hindu, berpagar tanaman hidup. Rata-rata rumah jarang berpagar, tahun1980-an jarang ada maling, semua aman-aman saja.


Aku hanya mengamati tetangga samping rumah dari balik jendela kayu. Tanpa permisi memetik bunga Gardena putih dekat pagar.
Tak ada yang komplain, bunga dipetik seenaknya, hidup terlalu damai dibuat ribut... Silahkan saja.

Bude Narti, menaruh bunga di dalam gelas berisi air, ada pula kopi hitam pahit, dan rokok.
Sesajen setiap malam Jumat, ditaruhnya di pojok rumah.
 Dua hari kemudian, Bude dengan semangat menceritakan, 'penunggu rumah' memakan sesajen, sambil menunjukkan air yang mulai habis di gelas. 
Aku terpukau, bocah lugu yang percaya saja cerita horor Bude.