Thursday, November 5, 2015

Jangan Lupa, berwisata Wana: Monkey Forest, Padangtegal, Ubud.Bali

Berlibur di Bali, banyak menawarkan wisata yang beragam, dannnn... jangan terlewatkan. Khususnya di wilayah  Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. Wisata Ubud yang terkenal sampai mancanegara, menawarkan keindahan pesona alam, sawah, hutan dan pantai. Ubud, juga terkenal dengan keindahan seni ukiran , tarian dan budaya. Ubud memang menyimpan pesona budaya yang sangat beragam. Wajarlah, karena  letak Ubud di antara sawah dan hutan yang terletak di jurang-jurang gunung yang membuat alam sangat indah.

Monkey Forest
Selasa, 20 Oktober 2015, bulan lalu, saya tak menyia-yiakan waktu untuk datang berkunjung ke Wisata hutan, Wenara wana atau hutan kera, monkey forest.

Dalam benak saya, pasti seperti wenara wana di Indonesia lainnya, kera dengan mitos-mitosnya.
Dengan semangat, kami,  berangkat menuju lokasi wisata hutan lindung yang jarak tempuh sekitar satu jam, dari Ramayana Hotel and Resort, Kuta.
Wisata Wana, Monkey Forest, Ubud


Memasuki kawasan hutan lindung, suasana yang dirasakan, sungguh berbeda, pohon-pohon tinggi, hijau dan rindang serta suara alam menghadirkan rasa, seperti memasuki dunia lain, dari yang tadinya rame jadi senyap...Sambil menunggu Akang membeli tiket masuk seharga  Rp. 30.000,- untuk dewasa dan Rp. 20.000,- untuk anak-anak usia 3 - 12 tahun.


Di depan Pintu Gerbang Monkey Forest
Saya duduk di pintu gerbang yang berukir patung-patung kera.
"Bli, apa ada mitos dari kera-kera di hutan ini?" tanya saya pada petugas yang memakai pakaian adat dengan ikat kepala khas Bali.
"Nggak ada, Bu. Hanya hutan dihuni ratusan kera"
Jawaban, yang tidak biasa. Tapi, sungguh melegakan. Kera atau monyet ekor panjang yang memang hewan, tanpa embel-embel penjelmaan seperti di wisata hutan kera lain.
Kera yang hidup damai sejahtera
Kawasan hutan lindung, adalah kawasan hutan sakral yang terdapat di kawasan Ubud, tepatnya masuk ke dalam ini di dalam  wilayah desa adat Padangtegal, Ubud. Buka setiap hari, dari jam 8.30 sampai 18 waktu Bali. Ada baiknya, datang di siang haru, waktu kera-kera sehabis makan, biasanya kawanan itu sedang leyeh leyeh tidur siang karena kekenyangan.
Taati petunjuk rambu jalan
Sekalipun, hari sudah siang, hutan ini masih terasa sejuk, hijau dan bersih. Bau kotoran kawanan kera tidak begitu menyengat. Kebersihan sepertinya nomor satu di sini, harap pengunjung  jangan membuang sampah sembarangan. Di pintu gerbang ada plang berdinding kaca, berisi larangan atau peringatan kepada pengunjung, salah satunya;  Taruhlah barang berharga di dalam tas, berjalan di jalan yang sudah disediakan. Jangan memukul atau menyakiti kera, dan jangan memberi makan kacang, demi kesehatan kera. Semua untuk menghindari kejadian yang tidak di inginkan selama memasuki kawasan monkey forest. Demi kenyamanan pengunjung dari prilaku kera, yang kadang tidak terduga, bisa bersifat agresif, di kawasan wisata ini, banyak dijumpai petugas Monkey forest.

Sebenarnya, nama asli objek wisata Ubud ini: Mandala Suci Wenara Wana, namun lebih dikenal sebagai Sacred Monkey Forest Santuary.

Kera abu ekor panjang
Romantika di Wenara Wana
Hutan kera (wenara Wana) merupakan hutan yang dibhuni kawanan kera abu yang hidup sejahtera. Hidup dengan bebas beranak pinak dan diberi jaminan makan. Jumlah kawanan kera sekitar 600 ekor lebih. Dipikir,  enaknyaaa, hidup kera-kera di hutan ini, tidak seperti kera yang menjadi objek pencari uang,  bekerja keras di jalan jalan umum,  seperti topeng monyet Di sini, kera hidup aman sentosa, Kawanan kera di Monkey Forest, terkenal dengan kawanan kera-kera yang  kalem. Tenang tidak bringas. Malah, sudah biasa di foto, bahkan banyak yang bermesraan dengan pasangan kera. Hmmm, kera aja romantis, masa eikeh nggak...cari-cari Akang, yang jalannya sangat cepat di depan, di bahunya, tergantung tas saya, agar tidak dirampas kawanan kera...
"Tunggu..." saya berjalan cepat,  mengejarnya.

Di Wenara Wana terdapat Pura Sakral  umat Hindu. Pura dalem Padangtegal yang dibangun pada awal abad ke 20. Pura ini tidak bisa dimasuki pengunjung, cukup dilihat dari pintu pagar saja. Yang menarik dari Pura ini, memiliki arsitektur dan ornamen yang sangat kuno. Dipercaya sebagai : 'sumber kesucian' dari candi-candi lain dalam upacara kremasi(ngaben)
Canang untuk Maha Dewa
Terus berjalan lebih dalam hutan, banyak  yang bisa kita lihat, ukiran dari batu berbentuk patung kera, patung Naga dan patung komodo.
Ahhh...ada komodo, bukannn, tapi biawak. Saya lihat, biawak lagi berjalan di antara sungai kecil. Sayang keburu lari, nggak sempet di foto.

jembatan kayu menuju air suci

Yang menakjudkan di hutan Wenara ini, ada sungai kecil yang mengalir di bawahnya. Seperti, saat menuju sumber air suci yang di percaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit jika meminumnya. Kita harus, berjalan melewati jembatan kayu di tepi jurang, di bawahnya ada sungai kecil berair jernih. Berjalan menelusuri jembatan kayu, anehnya, di sini, tidak terlihat kawasan kera seperti di depan hutan wenara... Yang terasa adalah kesunyian dengan derak suara alas kaki di atas kayu. Sampai ujung jembatan kayu, kita bisa menemukan pancuran kecil air suci. Silahkan diminum airnya dengan mengunakan telapak tangan, tapi ingat ya, di larang mencuci kaki di air suci ini. Di Pancuran air suci ini tertulis tanggal 9-7-1994, mungkin ini masa pemugarannya, ya.

Kembali dari jembatan kayu, kita naik ke atas, menanjak lagi, anggap olahraga.  Di hutan ini, ada  kolam air yang di dalamnya terdapat ikan koi. Karena di percaya, kolam pemandian susi ini bisa mengabulkan doa-doa yang di harapkan,  banyak mengunjung melemparkan uang koin ke dalam air.
Seorang oetugas, sedang nembersihkan daun danun yang jatuh di atas permukaan air serta meyauh uang koin.  Uang koin harus di ambil setiap 2 hari sekali. Maklumlah, koin mengandung zat besi yang tidak baik untuk komunitas ikan yang hidup di kolam itu.
Kolam Pemandian Suci
Menurut Bapak (lupaaa namanya). Hutan ini duluuu, tempat beliau bermain di waktu kecil. Kolam inipun, masih berupa kolam tanah yang terbentuk sendiri. Bisa dibayangkan, hutannya lebat dimasa itu, mandi di tengah hutan...Nggak kebayanglah. Beda dengan sekarang, kawasan kolam pemandian  suci ini baru dibuka setelah dipugar tahun 1983. Rata-rata petugas yang bekerja di kawasan Wenara Wana berasal dari penduduk sekitarnya.
Menurut cerita beliau, ada seorang Para Normal sakti dari Jawa, yang bisa melihat secara batin, bahwa di dalam hutan ini terdapat seekor kera putih yang sangat besar.
"Bli, pernah lihat?"
Sambil tersenyum Bapak itu mengeleng, "Belum pernah, hanya orang yang berilmu tinggi yang bisa melihat."
Puas berbincang, saya melanjutkan perjalanan di kawasan hutan yang sangat luas ini.
Dragon Stair



Ukiran seni yang indah

Jujur, perlu waktu yang lama dan kekuatan fisik untuk bisa berkeliling di seluruh kawasan hutan kera ini. Terdapat  tempat terbuka(open stage),  main temple, dragon stair, center point, tempat perlestarian kijang (deer stable), holly pool, tree adoption, entrance to holly spring, holly spring temple, rumah kompos.
Jangan takut tersesat, di sini ada petunjuk arah, dimana lokasi,yang akan kita tuju. 
Kami hanya bisa melihat beberapa saja, tapi sudah cukup memuaskan berwisata di Monkey Forest.
Pohon Au di Parkiran Monkey Forest

Keluar melalui pintu samping Monkey Forest, sambil menunggu mobil yang parkir rada jauh. Ada yang menarik bagi saya. Sebatang pohon tinggi rindang, buahnya muncul bergerombol di badan batang utama.
Penasaran, saya tanya dengan petugas parkir.Oohhh....ini buah yng di Bali dinamakan Pohon Au.
Baru denger saya...trus rasanya bagaimana?
"Kecut.." jawabnya sambil mngerutkan bibirnya, spontan saya ikutan. Aihhhhh...ada-ada aja.
Kapan-kapan , saya akan mencoba rasa buah Au, bukan sekedar mendengarkan namanya saja.

Wisata hari ini menyenangkan, selanjutkan kami menuju lokasi lainnya untuk menjelajah Pulau Bali, yang memang tak ada habisnya untuk diceritakan.
Untuk info Monkey Forest
bisa hubungi: Info@monkeyforestubud.com dengan web: www.monkeyforestubud.com.
telp +62 361 971304, 972774

2 comments:

  1. iyak, nanti kalau mudik ke bali maen ke sini ah, tengkou infonya ya mak

    ReplyDelete