Tuesday, October 20, 2020

Perempuan Berwajah Putih di Labuan Bajo

Dari tadi saya memperhatikan perempuan  dari atas anjungan hotel Eco Tree O'tel.
Berbaju biru, duduk di depan kantor Dermaga Labuan Bajo tepat di depan Taman Sail Komodo.
Wajahnya putih, bergincu merah, penampilan yang beda sendiri...(Padahal saya lihatnya dari jauh loh!)

Akhirnya, saya turun, penasaran dengan Taman Sail Komodo, juga ingin kenal dengan perempuan yang tampil beda itu...(baca: kepooo)

Perempuan itu asik menelpon, suaranya terdengar nyaring, tadinya tak hendak ikut dengar, tapi kedengaran juga (berarti saya nggak salah dong).
Ia tertawa tak henti, ngobrol tak ada habis, dialek yang khas dengan kalimat manja.

Tiba-tiba, hening. 
Lalu, marah-marah dengan hapenya.
"Ihhh...habis baterana." 
Ia menarik nafas kesal.
Seperti, dia tau sedang saya perhatikan.
Ia tersipu.

"Orang baru ya?" tanyanya  pelan, wajah saya mungkin asing olehnya, saya mengangguk sambil tersenyum.
Ia duduk di samping saya.

"Orang mana aslinya?" balik saya bertanya.
"Dari Lombok, kakak. Iniii, saya bingung, disuruh pulang ke kampung. Mau diajak kawing...gimana ya? Dia lebih muda dari saya."
Lagi-lagi kejadian, baru kenal, langsung jadi tempat curhat.
"Kenal di mana?" saya ikut antusias.
Dia tersenyum malu-malu, "Di facebook."
(Saya membatin, juga penasaran, apa poto profilnya bebedak begitu)
"Sudah ketemuan langsung."
"Belumm...cuman telpong-telpong aja. Video call."

Aih...lagi jatuh cinta rupanya.
Dia tersipu, saya terus memandangnya, seakan tau, saya memperhatikan wajah putihnya.

"Panasss, kakak, tidak kuat saya. Kalo begini enak, muka jadi dingin," lanjutnya.
Boleh saya foto?
Dia melebarkan senyumnya.
Cekrek!
Cilakak, malah lupa nanya sapa namanya...

Bebedak (bedak dingin) sudah biasa dilakukan perempuan di daerah tropis, khususnya suhu udara di atas  30°.
Fungsinya untuk menahan sengatan panas matahari dan membuat kulit menjadi halus dan bebas jerawat.
 
Di Kalimantan Tengah, tempat saya tinggal dulu, perempuan biasa memakai bedak dingin, kami namakan dalam bahasa Dayak: Kasai Bisa (bedak basah) atau dalam bahasa Banjar, pupur basah.
Bedak dingin terbuat  dari beras, kunyit dan ramuan lain. Beras dan ramuan ditumbuk halus memakai lesung, lalu disaring.dan diayak agar mendapatkan butiran yang halus, kemudiam dipadatkan, dibentuk bulat dan dijemur


Cara memakai bedak dingin supaya lebih praktis ala sayah: taruh dua butir di atas telapak tangan, beri sedikit air bersih, gerus dengan jari sampai menyatu, langsung usap ke wajah. Sebelumnya, jangan lupa baca Bismilllah, supaya selalu diberian Allah berupa aura kebaikan di wajah, lembut, bersih dan bercahaya.
Bagi sebagian perempuan Kalimantan dan Sulawesi sudah terbiasa belang belentong  mukanya, (jangan kaget melihatnya) karena bedak dingin keringnya tak merata. Nggak perlu dibasuh air, biarkan saja kering dan rontok sendiri.
Umumnya, bedak dingih berwarna kuning langsat.

Tapi ini perempuan ini, berbeda, bedaknya tebal berwarna putihhhh sekali.
"Pakai bedak bayi dicampur air."
Ahhh...pantaslah, putihnya seperti penari di Jepang. Putihhh.
Esok hari, ketika saya beli gorengan di warung di jalan tepian dermaga.

"Kakakkk...saya kerja di sini." teriaknya dari lantai 2 samping Tree Top (teteup we make bedak).
Senyumnya yang khas sambil memegang gangang pel, saya melambai padanya...Masya Allah, rupanya dia masih ingat saya.

"Matt, katanya orang ini kenal kamu," tanya suami ke Matt sambil menunjukkan foto di hape saya
"Oh itu...yang wajahnya putih."
Rupanya, itulah personal brandingnya: satu-satu perempuan di Labuan Bajo, bebedak super putih.
.
Labuan Bajo memang eksotis, alam dan lautnya indah, perempuannya ramah dan manis, sehari yang penuh warna, seperti cerita hari ini.
Intinya: saya kasih tau, tetaplah menjadi dirimu sendiri apapun gayamu, bila itu nyaman bagimu, lakukan.
Buktinya, perempuan berwajah putih, menemukan kekasihnya, galau tak bertepi didesak kawin di kampung.

Sampai jumpa.
Besok kami jumpa dengan Komodo sungguhan di Pulau Rinca.




Monday, October 19, 2020

Lembayung Senja di Taman Sail Komodo, Labuan Bajo

Duduk di bangku beton menunggu senja, jam lima sore, matahari masih bersinar terang. Taman Sail Komodo berada di tepian Dermaga Labuan Bajo, Sebenarnya, saya sedang terpesona dengan patung Komodo yang begitu besar, terlihat kuat dan perkasa.

Friday, October 16, 2020

Menunggu Pesona Matahari Terbit di Gili Air | Part 4

Tak perlu menunggu.
Aku pasti menepati janji.
Aku akan datang, tak kan terlambat sedetikpun.
Percayalah..."
- Matahari-

Selepas sholat subuh, tak perlu pakai mandi, bebedakpun tidak, kami sudah keluar kamar.
Jalannya saja masih sepi, semua masih terlelap dalam mimpi.
Lampu rumahpun masih temaram, tapi kamiiii, suami istri, bergegas menanti matahari terbit di tepian Dermaga Gili Air.


Berlahan warna jingga menghiasi langit mengantikan gelap.
Sunrise begitu indah, 
Masya Allah. Allahu Akbar!



Kami juga mengamati aktivitas penduduk Gili Air di pagi hari,  nelayan pergi melaut, sebagian sibuk memancing, kapal-kapal disiapkan untuk berangkat pagi.

Kapal motor siap mengangkut penumpang

Berharap rezeki dari laut

Memancing

Pedagang sayur keliling

Cidomo mengangkut sampan tadi malam

Berlahan, langit menjadi terang. Ya Allah, rasa syukur kepadaMu Ya Rabb, kami masih diberikan waktu melihat Sunrise juga Sunset di Gili Air....Alam menjadi sangaaattt indah.

Padahal, sebenarnya gerakan harian semu matahari itu sudah biasa kita rasakan setiap hari. Ketika  Bumi berputar pada porosnya mengitari matahari, hingga gelap menjadi terang, malam berganti siang, musim ke musim, itu hal biasa yang kita lewati.

Apalagi  setelah sholat subuh adalah waktu untuk berzikir menanti matahari terbit.
Tetapi kenapa jika di rumah sendiri, kita tak bersusah payah naik ke atap, mengabadikan sunrise?
Kenapa di sini kita begitu berbeda, semangat melihat Kekuasaan Allah Yang Perkasa, Pemilik alam semesta beserta isinya.

Baru kita sadari, dengan liburan ini, kita bukan saja untuk bersenang-senang, tapi juga sedang tadabur alam. Memberikan kesempatan untuk sejenak lepas dari aktivitas keseharian, walau sekedar melihat terbitnya matahari dari timur dan kembali tenggelam di ufuk barat...itu sudah sesuatu yang luar biasa.

Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban 
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Semua terjadi sebagai tanda kasih sayang Allah yang diberikan kita. 

Sunrise di Darmaga Gili Air

 Sunset di Pantai Gili Air

Ngopi dulu, biar strong

Tiba-tiba pengen ngopi, untung ada warung sederhana yang sudah buka, sementara cafe-cafe masih tutup, pasti karyawan dan pengunjung lelah sepanjang malam. 

Ini warung yang sudah buka di pagi hari


Bala bala, getas, onde atau roti goreng, lupa tanya apa namanya

Sepeda ditinggal penyewanya.

Dusun Gili Air

Di depan warung ada persimpangan, salah satunya jalan  utama ke dusun Desa Gili Air. 


Di dalam terdapat hotel dengan harga terjangkau, cafe, rumah-rumah penduduk asli.
Klinik

Perlu direnovasi musolanya...

Pulang...

"Kang, jadwal kapal nyebrang, cuman sekali sehari. Kita harus ke bandara, pesawat ke Bali jam 4 sore." 
Saya baru ingat, kami harus segera kembali ke Lombok.
Rasanya, liburan ini sebentar sekali, tapi kami harus pulang. Segeralah berkemas, sarapan pagi, sekalian cek out.


Kami tetap memilih naik kapal motor saja, karena kalau naik speedboad memang sebentar sampainya, nunggunya rada lama.

Tersedia jembatan ke kapal
Kapal motor jalannya alon- alon asal kelakon, sing penting selamet

Kapal Cepat

Karena trauma Mabuk Laut kemarin, pusing nggak jelas, lemes, mual, keringat dingin, diam-diam saya minum aja obat anti mabok sebiji, efeknya emang nggak langsung ngantuk, paling tidak otak saya, nggak terganggu keseimbangannya.
Mabok dikarenakan badan kita diam(duduk) tak bergerak, tapi mata dan penglihatan tetap aktif, itulah yang menyebabkan mabooook.

Eh! Jadi ingat tante Mawar, adik ibu saya di Kalimantan Tengah,  untuk mencegah mabuk perjalanan, tante suka mengengam batu, trus dikepal kenceng-kenceng sambil ngomong; Jangan mabukkkl. 
Gile benerrr, ngomong sama batu. 
Tapi kenapa kalo kebelet buang hajad, saya suka genggam batu juga, sekencengnya, nggak jadi deh modolna...aneh pan. 

Karena kemarin berangkat, sokkk sekali duduk di depan deket kemudi, malah kena ciprat air.
Duduklah kami berdua  di belakang perahu. 
Tenyata, gelombang lagi  baek, ombaknya nggak tinggi, sampai pelabuhan  Bangsal juga cepat.

Sesampai Bangsal Pemenang, kita naik darat menyelusuri gang kecil, pasar kaget. Sebenarnya perlu diperbaiki fasilitas dermaga Bangsal ini, agak bagus napaa, turis yang datang banyak dari manca negara, pelayanan kelas kecamatan.

Untung, kami nggak dipusingkan mencari mobil tumpangan menuju Lombok. Teman kami Luh, memberi kontak driver Made, yang sering menjemput dan mengantar Luh dari Lombok ke Bangsal atau sebaliknya.

Baru mobil berjalan, ini obat anti mabuk baru bereaksi, nguantukkkk tak kira. Sampai suami heran, kenapa saya jadi pendiam? (dia nggak tau aja, antimo ditelen satu tablet, kalau tau suka marah)

Masih ada sisa waktu sebelum meluncur ke Bandara Internasional Lombok,
Kami makan siang dulu di Lesehan Taliwang Indah kota Mataram. 
Makan pakai ngantuk itu menderita sekali, apalagi pake bohong.
"Minum antimo, ya? Kebiasaan," tebak suami penasaran.
"Enggakkk, ini beneran ngantuk."
(Dalam hati, yakin dia nggak percaya...kelihatan dari romannya.)
Dari pada terlambat, kami lebih baik menunggu di Bandara, jadi nggak usah mampir beli mutiara (Mataram terkenal dengan keindahan mutiara air laut dan tawar).
Saya sudah cukup punya satu mutiara yang beeesaarrr: itu....mutiara yang selalu di hatiku.
(Menatap ke suami, sembari ngantuk)
.
.
.
Sampai bandara, tak ada keinginan satu pun, saya cuman mau tidurrrr....Zzzzzzzz.
Tidur di kursi ruang tunggu Bandara,  pendingin ruangan menyenangkan hati. Dhilalah, sudah buru-buru  ke Bandara, malah delay hampir 1 jam lebih (tau kan apa pesawatnya?)
Kirain dikasih apa tanda maaf: biskuit sebungkus dan air mineral gelas.
Lah! Kami mau bilang apaaah? 

Oke, cerita bersambung.
Noted: Dapat kabar dari Luh teman kami, untuk sementara Gili Air ditutup untukmencegah pandemik. Mari kita berdoa agar Covid19 cepat pergi.

Noted Kontak Driver Made Lombok +62 852-0522-3404














Thursday, October 15, 2020

Cidomo di Gili Air | Part 3

"Ini dokar?"
"Bukan."
"Dokarrr," teteup keukeh.
"Bukannn, Cidomo, bu."

Oh...
Cidomo


Nama yang asing bagi saya yang pertama kali liburan ke Gili Air, Lombok Utara.
Kalau diperhatikan, Dokar dan Cidomo, sama-sama transportasi darat yang mempergunakan tenaga kuda.
Trus apa bedanya?

Wednesday, October 14, 2020

Semalam di Gili Air | Part 2

Usai menikmati indahnya Pantai Gili Air tadi siang, kami beristirahat sebentar di Villa Karang Resort. 

Sinar matahari masih tersisa selepas sore, menerobos tirai jendela. 
Segera kami bergegas melanjutkan acara liburan yang sebentar.

Sambil bergandengan, kami berjalan ke arah timur melewati Darmaga kapal.
Sepanjang jalan utama Gili Air, di sisi jalan sebelah kiri, lampu temaram cafe sudah dinyalakan, pengunjung  berbaju rapi mulai berdatangan untuk menghabiskan malam.

Tuesday, October 13, 2020

Perjalanan ke Gili Air, Lombok Bersama Cinta | Part 1


Bali, Agustus 2019.
Kicau burung di pohon mangga depan kediaman kami, terdengar ramai sekali, bersaut-sautan. 
Mungkin, burung-burung, ular dan tupai itu, sedang ngeghibah kami: Itu suami istri di rumah aja, kurang jauuuh mainnya.

Friday, October 9, 2020

Masih Ada Orang Baik: Kisah sebuah Perjalanan.

Cerita di Balik Perjalanan
Traveling 2018: dua hari, satu malam di Dieng Plateau.

Hamparan perkebunan sayur dan kentang tumbuh subur menghijau di sepanjang jalan.
Sinar matahari pagi menerpa kaca jendela, warnanya kuning keemasan. Udara sejuk menerobos cela kaca jendela mobil Elf Microbus.
Suasana yang di nanti, melunasi rasa lelah yang luar biasa, trip to Dieng Plateau selama 12 jam.

Tepat jam 09.00 WIB kami memasuki Dataran tinggi Dieng, Kecamatan Batu,  Kabupaten Banjarnegara.
Kawasan wisata yang banyak didatangi wisatawan lokal dan mancanegara. Berbagai destinasi wisata ditawarkan, perjalanan yang pasti tak akan terlupakan.

Thursday, October 8, 2020

Fenomena Alam Danau Telaga Warna, Dieng

Air telaga. berwarna hijau tosca, kadang berubah berwarna kuning dan pelangi, itulah asal mula kenapa namanya Telaga Warna.
Pergantian warna air Telaga  disebabkan kandungan sulfur yang cukup tinggi, sehingga ketika sinar matahari mengenai permukaan telaga, maka warna air telaga tampak warna warni.

Wednesday, October 7, 2020

Tips Sembuh Selama Isolasi Mandiri Covid-19 di Rumah

Mmmmm... (menahan)
Mmmmmghhh ...(Tenggorokan terasaaa semakin gatal)
Mmm...Hatchiiii  uhukkkk (terlepas, tak kuat lagi)

Spontan semua mata  tertuju pada saya, 
Aduhhh...macam penjahat aja, hanya gara gara batuk.
Saya merasa bersalah, tapii...sudah sekuat tenaga ditahan, tak kuat lagi ampyunnnn, daripada makprutt  keluar dari lubang lain, lebih cilakakkk.

Beginilah nasib kita, semenjak pandemik Covid 19. Orang batuk langsung dicurigai PDP, padahal jelas-jelas saya pakai masker, duduk jaga jarak, sebelum masuk ruang tunggu, cuci tangan, sudah di cek thermo Gun, suhu saya normal...Berarti sehat dan aman.

Tuesday, October 6, 2020

Berbalut Asap Pekat Kawah Sikidang Dieng

Jam 17.00 WIB lewat.
Setelah mengunjungi objek wisata Komplek Candi Arjuna dan Bima 
Tujuan akhir perjalanan hari ini ke kawah Sikidang, letaknya di 
desa Dieng, Kulon Batur, Banjarnegara Jawa Tengah

Sebenarnya, objek wisata alam ini buka dari jam 07.00 sampai 17.00 setiap hari, karena harga tiket merupakan tiket terusan objek wisata Candi Arjuna dan Bima, terpaksa datang, biar kata, udara sudah mulai mendung kelabu dan pengunjung sangat sepi. Hayuk aja....Lanjutkan, semangat.

Monday, October 5, 2020

SGM Eksplor dan Lazada Dukung Pendidikan Anak Indonesia dengan Menyalurkan Donasi Beasiswa Generasi Maju


Dari ASI ke SUFOR

Di usia setahun empat bulan, adalah masa keemasan seorang anak untuk tumbuh berkembang, namun, anak saya terpaksa berhenti menetek ASI karena saya harus berangkat Kuliah Kerja Nyata tahun 1993 selama tiga bulan.

Tadinya, saya mau bawa, tapi dusunnya terlalu jauh dari ibukota propinsi Kalimantan Tengah, jarak tempuh transportasi saja, dua hari dua malam naik kapal air ke Muara Teweh, dilanjutkan naik kapal kecil selama 4 jam.
Kabarnya di lokasi KKN, tak ada dokter, hanya dokter kunjung seminggu sekali, itupun kalo ada dengan puskesmas terapung. 

Nah, kalo ada apa-apa dengan anak saya, bisa-bisa penyesalan seumur hidup.

Keputusan terakhir, terpaksaaa saya menitipkan
anak satu-satunya ke tempat orangtua di Bogor...padahal anak lagi lucu-lucunya, baru bisa bicara satu kata, memanggil saya; Mama
(Sedihnya, kalau mengingat masa itu)

Anak saya cukup beruntung, punya nenek yang sangat perduli kesehatan, apalagi cucu pertama di keluarga kami.

Untuk memenuhi nutrisi dan pertumbuhan cucu, ibu saya melanjutkan dengan memberi susu formula.

Merk Susu formula yang dikenal ibu saya, hanyalah SGM saja, suerrr...susu formula ini sudah  dikenal satu generasi ke generasi lain. Alhamdulillah, susu pertumbuhan SGM cocok dengan anak saya.

Saya baru bertemu kembali setelah empat bulan, senangnya anak saya sehat gemuk lucu, sangking deketnya dengan nenek, ibu saya di panggil: Mama...hah! Adohh.

Wajah Pendidikan di Indonesia

Tiga bulan di dusun terpencil, saya mengabdi menjadi guru SD adalah kebahagiaan tersendiri. Sekolah yang sangat sederhana, terbuat dari papan...Itupun masih bersyukur, ada sekolah di desa terpencil, sekalipun gurunya cuman dua orang saat itu. Mengajar berpindah-pindah kelas, sebentar masuk ke kelas 3, selagi siswa mengerjakan tugas, guru sementara berpindah ke kelas lain.

Di kala pagi, di tepian sungai, menanti kedatangan siswa Sekolah Dasar dan SMP memakai jukung(perahu kecil) berangkat sekolah.                                                

Tak banyak siswa yang datang, hanya setengah jumlah siswa di kelas (kadang cuman lima orang saja) kebanyakkan mereka bolos tak berkabar. Biasanya, siswa membantu pekerjaan orangtua menjadi buruh memantat (menoreh) mengumpulkan getah karet. Sebenarnya, mereka, siswa yang bersemangat belajar, sayang terkendala kehidupan yang jauh dari rata-rata, makan saja susah, yang penting kenyang, tak perduli soal kesehatan. 

Senyum yang riang bertemu saya, kadang redup, entah bagaimana masa depan nanti.

Selesai kuliah, saya menjadi guru Ekonomi dan wali kelas XII di Madrasah Aliyah Bogor. Ada beberapa siswa berprestasi, nilai mata pelajaran selalu tinggi. Sayangnya, kadang tak masuk kelas, saya bertanya sebagai wali kelas, kenapa tidak masuk sekolah?

"Nggak ada uang, Bu, buat transport." 

Wajahnya sering terlihat pucat, tubuhnya kurus ringking , tentu anak ini belum sarapan, kurang nutrisi. Anak yang malang. Secara pribadi, saya suka menyelipkan uang untuk ongkos besok ke sekolah, bahkan untuk Bimbel pun saya bayarkan.

Itulah kesedihan seorang pendidik. Mereka memang bukan anak saya, tapi mereka anak negeri ini, punya hak untuk maju dan terus bersekolah...apalagi di masa pandemik ini, beban hidup semakin berat, begitu pula biaya pendidikan.

Jujur inilah, kegelisah saya dan orang tua seluruh pelosok negeri ini,  akan tanggung jawab, memberikan kesehatan dan pendidikan untuk masa depan tunas bangsa, generasi maju.

Donasi Pendidikan untuk Anak Generasi Maju

Sunday, October 4, 2020

Belanja di Pasar Tradisional Rakyat: Pasar Badung, Kota Denpasar

Gegara kelebihan bagasi pesawat menuju Bali.
Sampai bayar bagasi, seharga tiket pesawat, gileeee bener.
Nahhh, pulang ke Bali bulan ini, saya nggak bawa banyak  oleh-oleh.

Sebenarnya, isinya koper ini, semua oleh-oleh permintaan suami yang nanti, akan dibawa ke Swiss.
Cuman opak, rangginang, ikan asin, cikur, kerupuk kaca, sagala yang beraroma Sunda, dibeliin demi Yayang suami.

"Udah nanti kita belanja oleh-oleh ke Pasar Badung, Bali saja.Di sana juga lengkap," saran suami, karena dia deg-degan juga, kalo balik ke Swiss, takut bagasi lebih 30 kg.
"Mawa naon sih Cintaaa, sagala diabus keun," keluhnya. 
Eh! Dia tidak tau itu tanda sayang, istri...pamajigan. Tetap aja saya masukkan oleh-oleh ke tasnya. Saya tau, ia memandang  kopernya dengan resah gelisah, takut kalo bagasinya  pesawatnya kelebihan berat. Mehongg bayarna.

Setelah dipikir, solusi terbaik; agar sama-sama plog soal berat bagasi. 
Belenjong oleh-oleh Sunda saja yang dibawa dari Bogor, sisanya beli di Bali saja
Sebagai orang yang setahun dua kali ke Bali.
Pasar Badung, saya belum pernah ke sana. Whattt?
Belum pernahhhhh.
Emmmm. 
Yaiiyalahhh, bambang, kami tinggal di Kuta. 

Pasar Badung letaknya di lokasi strategis di pusat kota Denpasar, jalan Gajah Mada.
Untuk sampai ke Pasar Badung, biaya  ojol mobil tarifnya sebesar  Rp 50.000 (sebelum virus corona).