Friday, July 1, 2022

Manusia Bodoh yang Bernama Kuyang

"Nur, masih adakah kuyang di sana?"
"Hah! Mbak ini, kirain nanyain musim buah apa kek, ini malah nanyain kuyang," suaranya terdengar nyaring, terkaget-kaget. Dia sepupuku, Noor Hasanah, seorang guru SMA di Tanah Tinggi, Puruk Cau, Kalimantan Tengah.
Jangan kanget, Noor.
Mendadak, Mbak ingat Kuyang, bukan kangen, tapi apa masih ada nggak di jaman sekarang tahun 2022?

Sedari kecil tinggal di Palangka Raya tahun 1980 sampai akhir tahun1998, aku masih sering melihat dari kejauhan. Bentuknya bulat berwarna hitam, di bawahnya ada seperti api kecil berwarna kemerah-merahan, terbang melintas, bergerak lambat di langit malam.
Itu kuyang, bukan orang mati, tapi  orang hidup (bahkan susah mati). 
Manusia bodoh berilmu hitam, memilih hidup menjadi Kuyang, tak jadi kaya raya seperti pesugihan lainnya.
Entah apa yang dicari. Katanya sih, ilmu yang 'terpaksa' diterima secara turun-temurun.
 
Banyak orang di luar Kalimantan tak percaya keberadaan Kuyang. 
Ah! Itu hanya legenda, cerita bohong. 
Pendapat tentang keberadaan Kuyang, akan berbeda, kalau pernah tinggal tinggal di Kalimantan, Kuyang itu ada. Nyata.

Kuyang mencari mangsa dengan menghisap darah bayi baru lahir atau ibu sehabis melahirkan.
Sampai saat ini, tak pernah ada kabar, orang mati karena Kuyang.
Dari bumbungan rumah, Kuyang melakukan aksinya dengan mengisap darah bayi dan ibu melahirkan. Kalau Kuyang ngisapnya kebablasan, si ibu atau anak akan pucat kehabisan darah,  Itu bertanda sial bagi si Kuyang, aksinya ketahuan dukun beranak, pasti langsung dikejar, dibacain mantra...Mampoosss! Eh, Kuyang kan susah matinya.

Siluman Banyak Tanya
Menurutku,  Kuyang itu manusia siluman yang sedikit bodoh, sejatinya kalau punya ilmu hitam, tidak perlu bertanya ini itu kepada calon mangsa.
Harusnya Kuyang lebih cerdas, ada radar silumannya, ini malah rempong nanya-nanya.

Begini maksudnya.
Kuyang, dalam keseharian, hidup layaknya manusia biasa, tapi orang sekitarnya tidak menyadari, bahwa dia adalah Kuyang. 
Kuyang, rata-rata perempuan, bergaul seperti  emak-emak pada umumnya, ngegibah gitu. 
Jadiii, susah  banget kannn menentukan pelaku Kuyang, sebab siang hari, hidupnya normal.

Cara menguji perempuan, Kuyang atau bukan, dengan memeras jeruk nipis. Perempuan Kuyang, jika kita peras jeruk dari jarak jauh (nggak jauh-jauh amat) dia langsung gelisah, gatal-gatal, garuk-garuk, terlihat galau tak bertepi.
Sebaliknya, perempuan biasa, dikasih perasan jeruk apalagi air jeruk nipis dikasih ke dalam kuah Soto Banjar, efeknya bedaaaa, bukannya gelisah, malah kesurupan... satu piring bisa nambah tiga piring, nyaman banar jer.

Pantangan
Orang Kalimantan, umumnya tidak mau menjawab (pantang), kalau tiba-tiba ada perempuan tak dikenal, sok akrab, bertanya kepada ibu hamil; "Buuuu, berapa usia kehamilannya?"
Mending pura-pura nggak denger, nggak usah dijawab.
Itu pasti Kuyang, karena kalau ibu itu menjawab: "Hamil 3 bulan." Si Kuyang akan memperkirakan, kapan waktu ibu itu melahirkan. 
Saat itulah Kuyang melakukan aksinya. Kalau kebetulan lahirnya malam, Kuyang akan gentayangan di atas rumah calon mangsa.
Tak heran, kalau ada yang  melahirkan malam hari, umumya  rumah akan dijaga sanak saudara beramai-ramai supaya tak disatrorin Kuyang. Merekapun menaruh rumput jaringau, bentuknya mirip pandan, hanya lebih kecil berbau khas. Kuyang tak suka baunya. Bikin mabuk katanya.

Demi berumur panjang, tetap cantik, manusia rela mengoles 'minyak bintang atau kuyang'. Kuyang akan melepaskan kepala (sebatas leher) dan terbang bersama seisi organ tubuhnya.
Tahun 1984, pernah heboh, Kuyang melandau (kesiangan), apa karena keasikan begadang, sampe lupa waktunya jadi manusia. Kebetulan, tempat menaruh bagian bawah badan Kuyang ditemukan orang.  Batang leher yang tersisa, dipasang bambu kecil di sekeliling. Otomatis, si Kuyang panik, mau menyambungkan kepala jadi susah, dan menjadi lemas. Kuyang ditangkap warga. 
Waktu itu, aku diajak teman melihat rumah tempat kuyang melandau, aku menolak, ngapain coba.
Sampai saat ini, aku beruntung, hanya melihat Kuyang dari kejauhan, jangan deh ketemu langsung, ngeriiiii, seperti yang dialami Mina ku (Bibi dalam bahasa Dayak Ngaju)

Kuyang bikin trauma
Tahun 1989, waktu kuliah, aku numpang di rumah Om dan Mina Silly di Bukit Tunggal. 
Jarak satu rumah ke rumah, masih berjauhan, suasana sekitarnya masih dikelilingi pohon, hutan ilalang, sepiii sekali.
Aku ingat, Mina Silly keluar rumah malam hari. Tak lama Mina pulang sambil berlari, wajah Mina begitu ketakutan.
"Ada apa, Mina?"
Bibir Mina gemetar, "Ku..ku..ku yangggg." 
Dia merapatkan tangannya semakin ketakutan.
Setelah 15 menit, Mina baru bisa bercerita, tadi Mina melihat kuyang, terbangnya terlalu rendah (mungkin baru belajar terbang). Bentuknya menakutkan, lidahnya menjulur panjang berlendir, matanya membesar, rambutnya terurai dan organnya menjuntai. 
Sejak itu, kalau dibonceng motor, aku lebih suka menunduk, daripada melihat langit, takut ada Kuyang, bikin trauma berkepanjangan.

Waktu KKN di Benao Hulu, Kecamatan Lahei, tahun 1993 lebih serem lagi. 
Kami bertemu tetua Kuyang, laki-laki setengah baya, lehernya bergaris melingkar, mulutnya agak monyong berwarna merah karena menyipa(Mengunyah sirih pinang) 
Bapak Kepala Kampung, berbisik: Jangan dekat-dekat, jangan melihat matanya kalau dia bicara.
Jujur, kami takut sekali, sebab jika Tetua itu suka seseorang, bisa saja ia menurunkan ilmunya tanpa kita ketahui. Tiba-tiba, leher gatal, ingin melepas kepala dari badan, kakipun bisa naik ke kepala untuk mendorong kepala, kita tak menyadari, tiba-tiba jadi Kuyang. 
Untung, dulu aku tak disukai tetua itu, baru sekali ini, merasa beruntung, tak berupa cantik. Jadilah aman, tak jadi siluman bertaring.

"Masih ada kuyang nggak?" tanyaku penasaran.
"Masih ada, mbak,  tapi agak berkurang. Dulu tahun 2011, masih banyak hutan, jam 9 masih suka  melihat," tandas sepupuku...(Melihat aja kan, nggak pake say hello).
"Kalo di Palangka Raya, sudah nggak ada lagi, sudah ramai," lanjutnya.
Sangking penasaran, tanyalah aku dengan bekas teman kuliah dulu.
"Kuyang di Palangka Raya sudah nggak ada lagi, En. Mungkin sudah ubanan atau ganti profesi. Udah bosen gentayangan Terus, terbang nggak jelas."

Cuman bisa bilang, oh!
Kuyang, percaya tidak percaya, tapi ada.


#menulisKenangan
#BukanHoror
#bukanhantu

Thursday, June 30, 2022

Jaelangkung Versi Anak Sekolahan

Sepulang sekolah.
Lima siswi Sekolah Menengah Pertama, duduk mengeliling satu meja di dalam kelas.
"Ssttt...kalo dia nggak mau pulang, gimana?" bisikku sedikit ragu.

"Yaaa kamu, En, yang mengantarnya," potong Nana.
Langsung bibirku maju beberapa senti, naik mendekat hidung. Nana tersenyum lebar.
.
Rencananya kami akan memanggil jelangkung, permainan goib terkenal se- Indonesia, ritual supernatural memanggil arwah. 
Medianya beragam, ada yang mengunakan boneka dari batok kelapa, atau media paling sederhana, seperti yang kami lakukan.

Jangka dan Kertas
Peralatan sudah disiapkan sejak kemarin, jangka, kertas yang di buat melingkar, di pinggirnya ada tulisan huruf Alfabet. 
Satu kertas dan polpen di tanganku, bertugas untuk mencatat.

Serentak berlima menarik nafas, takut-takut berani.
Hening, tegang.
"Jelangkung, jelangkung. Datanglah. 
Datang tak dijemput.
Pulang tak diantar." 
Nana membacakan matranya tiga kali.
Jangka di letakan tegak berdiri di tengah lingkaran kertas, Nana memegangnya dengan ujung jari telunjuk

Jangka tak bergerak.
Kami saling bertatapan, mantra  Nana kurang manjur.
Sekali lagi Nana membaca matra. 
Jangka mulai bergerak sedikit, itu artinya roh sudah datang.
Mendadak tegang. Angin dari jendela kelas tertiup sangat kencang, kami menahan nafas.

"Siapakah pacar Een?" tanya Nana (karena aku yang jomblo sendiri).

Jangka berputar melawan arah jarum jam, kencang sekali.
Tik tik tik, bergerak lambat. Berhenti di huruf M.
Berputar kencang, berputar-putar, berhenti di huruf U.
Tik tik tik bergerak lambat, terakhir huruf L.
Jangka kembali diam di posisi semula, artinya jawaban selesai.

MUL

Hah! 
Aku langsung tak percaya membaca catatanku sendiri.
Masa sih, MUL.
Mereka menatapku, tawa pun meledak melihat berubah di wajahku.
Sebuah kebetulan.
.
Mul, beliau guru mata pelajaran Ekonomi dan Muatan Lokal tehnik pertukangan dinkelas III.
Semester ini,  teman-temanku tau, beliau naksir aku. 
Pria lajang dari Jawa Tengah, wajahnya hitam manis, selalu tampak gugup jika aku melihatnya. Apa nggak kebalik.
Memang begitu kenyataan. 
Dimataku, beliau guru yang wajib dihormati...nggak ada sirrnya. 
Hellowww...
Masa sih sama Pak Mul, aku kan masih abege, anak esempe, jalan panjang masih membentang untuk melanjutkan pendidikan.
.
Hening semua.
.
Srek! Kertas disobek Nana. Permainan selesai.
Seandainya dulu, ada aplikasi vonvon menanyakan jodoh, nggak perlu ribet main jelangkung.
Tapi begitulah.
Permainan masa ituuu.

Kala itu, 1985
#Menuliskenangan
Nyatanya, bukan karena Jelangkung(syirik) tapi karena takdir Allah, pada akhirnya, jodohku bernama MUL...yadi.

Bogor, 2022
Salam manis
Ny. Mulyadi



Monday, June 27, 2022

Karena Grogi

Sudah tradisi lebaran untuk saling berkunjung, bukan sekedar salaman terus pulang, tapi duduk diam sebentar, basa-basi. 
.
Sebenarnya, perut sudah kenyang diganjal Soto Banjar dari jejeran tetangga.
Kepuhunan
Lebaran, semua tetangga, open house, menolak tawaran makan, nanti dikira nggak menghargai. 
Bisa juga sih, nggak makan, tapi makanan harus disentuh sedikit, sambil berkata, "sempulun"
Hingga saat ini aku belum tau artinya 'sempulun.' 
Ngikutin orang aja, menyebut sempulunnnn.

Percaya nggak percaya, kalau kamu datang ke bumi Kalimantan, hormati budayanya, sekalipun itu mitos atau apa kek.
Jika kamu ditawari makanan atau minuman dari pemilik rumah, jangan menolak.
Makanlah sedikit, sambil berkata: Sempulun
Orang Kalimantan percaya adanya istilah Kepuhunan atau kepohonan (bahasa Banjar: Kapuhunan) artinya celaka atau musibah akibat tidak mencicipi hidangan. Nah Loh!
Daripada cilakak; jatuh dari motor, kejatuhan pohon kelapa, kalo kejatuhan 'cinta' sih enak, mending makannn gih.

Soto lagi soto lagi
Nggak ada menu makanan lain apaaa? 
Soto Banjar...menu utama yang disajikan saat lebaran, katanya nggak sahhh, nggak masak Soto Banjar.
Sampai dulak bemakan soto.
Apa jawab si empunya rumah.
"Soto memang sama, tapi masaknya beda. Nyamannya gin bedaa jua."
Terpaksa makan lagi: "Ayujaaa, Cill.." sembari menyuap kuah bening soto Banjar, wanginya semerbak. 

Kunjungan terakhir ke Mbak Purwasih, berada di belakang rumah.
Sekalipun mbak Pur, anak Sekolah Menengah Ketrampilan, aku masih duduk di bangku SMP, kami cukup akrab, satu komplek dari kicik.

Dhilalah!  teman Mbak Pur datang terlebih dahulu. Ruang tamu kecil  menjadi sesak. Mau keluar lagi, terlanjur masuk. 
Yo wislahh.
Terpaksa aku duduk  menyempil di samping cowo.
Deg! Rada kikuk, ganteng sih.
.
Mbak Pur menyuguhkan minuman andalannya, sirup buatan sendiri.
Dari 1 kg gula pasir direbus sedikit air, tambahkan vanili frambosen, campur dua warna kuning dan merah (aih...malah bagi resep).
Sirup gula yang sudah manis dicampur lagi dengan susu kental manis,  sirup bertambah manisss, seperti akuuuuu.
.
Sambil mendengarkan obrolan mereka, aku meminum es sirup, sekali teguk, ludes. Cowo di sampingku, sering sekali, senyum-senyum dikulum ke arahku, bertambah grogi rasanya.
Beberapa menit kemudian, lhhaaaa, kenapa gelas di depanku, airnya masih penuh?
Sambil tersipu malu, melirik ke cowo sebelah, ternyata aku keliru, minum dari gelas si ganteng itu. Benar-benar salah tingkah.
.
Antara senang dan malu.
.
Lebaran, Palangka Raya 1985.
#menuliskenangan

Sunday, June 26, 2022

Gara-Gara Celana Dalam

"Marini pingsan!!!" 
Aku hanya acuh, melihat teman pingsan, bukan ikutan heboh.
Ah! Sudah terlalu sering dia pingsan, jadi kuanggap biasa. Masa paduan suara saja, bisa bikin dia pingsan.

Kadang suka iri, melihat orang pingsan, banyak yang memperhatikan, apalagi yang pingsan wajahnya cantik. Aduheee...kaum Adam langsung kompak menolong. Si Rudi, cowok terganteng spontan membopong membawa  masuk ke ruangan Unit Kesehatan Sekolah...hmmm, begitu, ya, pingsan.
Akuuuhh, boro-boro pingsan.
Nggak pernah!!!
Gerak jalan 17 km saja, tetap kuat, apalagi aku sangat aktif, masa sih pingsan.
.
Sesuatu dalam hidupku.
Senin pagi yang tak pernah  kuduga.
Upacara bendera seperti biasa.
Baru beberapa menit, ada yang aneh di dalam rok biruku.
Aduhhh, aku membatin, jangan-jangan.
Wajahku langsung pucat, detak jantung lebih cepat, keringat dingin.
Aku berbisik ke teman sebelah, rasanya mau pingsan (sesuatu banget).
Mungkin dia tidak percaya, tapi aku tetap ingin ke ruang UKS, daripada kenapa-napa.
Sambil dituntun teman cowo, aku berjalan pelan, hal yang tak biasa. Biasanya, Een terkenal jadi komandan, tegas dan tegap.

"Tiduran di ranjang," suruh petugas UKS, aku malah ke kamar mandi.
Aah...benar, makiku, tali karet celana dalam putus. Untung  tadi, nggak sempat melorot di lapangan.
Karet celana bukan dari elastis putih tapi tali merah rada pink, mirip pentil sepeda, gampang putus. Langsung kutarik ke kanan, lipat ke tengah lalu kait dengan peniti bros (seperti pakai sarung). 
Anak sekolah jaman 80-an, suka pakai bros kecil di dada seragam atasan. Ternyata, bros ini jadi 'penyelamat' muka si Een.

"Eennn," terdengar, suara cemas sambil mengedor pintu, mungkin petugas takut  aku pingsan di dalam. 
"Iyaa.." sahutku lemah, akting!

Disuruh tidur, aku memilih duduk.
Baru juga duduk sudah disodorkan teh manis hangat.
Sambil bernafas lega, aku menghirup minuman.
"Begini rasanya pingsan, bukan karena belum sarapan , tapi gara-gara celana bangsat ini!"
Celeguk, menelan ludah.

Palangka Raya, 1984
#menuliskenangan
*tak jadi pingsan*

Saturday, June 25, 2022

Dream Comes True

Kata Mama, setiap kata yang terucap adalah harapan dan doa.
Aku selalu percaya itu.
.
Een kecil dan saudaranya, hanya bisa terpukau mendengar cerita teman yang baru datang berlibur dari Jakarta. 
Kata mereka, di Jakarta ada banyak kendaraan dan gedung tinggi.
Wah! luar biasa ya, ibukota Indonesia itu.

Lalu aku melihat kotaku, Palangka Raya, gedung tertinggi hanya dua lantai. Tempat paling ramai dikunjungi, hanya Bundaran Besar dan pasar.

Bundaran besar, letaknya dekat dari rumahku di jalan Yos Sudarso, simpang lima. 
Bundaran tahun 1983, tempat kami berenang, suka juga berendam dengan kerbau, karena ada kumbangan air dan lumpur di pinggir bundaran.
Di tengah bundaran,  dibuat Patung Tentara membawa senjata laras panjang, sendirian, berdiri tegak siap siaga.
Aku kok percaya saja mendengar cerita teman, kalau patung itu kesepian, tengah malam, suka turun, muter bundaran. Seremkan, patungnya bisa hidup.
Hanya itu hiburan kami.

Kadang, aku suka terpukau dengan tanteku kalau pulang kampung ke Palangka Raya. Penampilan seorang istri Anggota DPR RI, Jakarta, berkaca mata hitam besar, sepatu tinggi, terlihat hebat.  Yang nggak kusuka, omongan, terlalu tinggi dan meremehkan keluarga kami, miskinlah, bla bla bla. Walau begitu, tetap aja aku penasaran dengan Jakarta.

"Kapan, ya, kita bisa ke ibukota," tanyaku pada kakak. Dia mengeleng, tidur di atas dipan kayu bersusun, aku tidur di dipan bawahnya.
Ah, itu cuman mimpi, harapan kecil anak daerah sepertiku.

Masa kecilku dihabiskan di kota Malang, lalu pindah ke Palangka Raya. 
Saat lebaran, rata-rata keluarga perantauan akan mudik ke Jawa, kami tidak. Terlalu berat diongkos. Sebaliknya, malah Nenek atau Aki Cirebon yang bertandang ke Palangka Raya.
Dipikir, berani juga nenek atau Aki datang ke Palangka Raya sendirian, demi kerinduan pada.anak dan cucu.
Mimpi kecil anak daerah melihat kota besar, terwujud melalui usaha sendiri, gratisan di jalur Pramuka, pertama, aku terpilih Dianpinru 1984 dan yang kedua,.aku dan kakak ikut Jambore Nasional 1986, Cibubur Jakarta.
Tak mudah bisa lolos Jambore, kami melalui tahapan seleksi. Aku dan kakak, terdaftar Jambore, beda regu. Tak apalah,  terpisah, biasanya kami selalu bersama dalam satu regu. 
Kami pun modal nekad, nggak bisa berenang, berani juga naik Kapal Perang 515 Teluk Sampit. Saat itu gelombang sangat tinggi, syukurnya kamipun sampai di Pelabuhan Tri Sakti Jakarta.
Menjejakkan kaki di ibukota, tak terbayang rasanya, tapi nyata, banggaaa luar biasa.
Oh! Inikah Jakarta.
"Kita nggak ngimpikan, Da," Aku mencubit lenganku, memeluk kakakku.
Untuk pertama kali naik bus, kereta api, helicak, dokar, kalau naik pesawat terbang sudah pernah, waktu pindah ke Malang.
 Di Jakarta, bertemu saudara Bapak, diajak jalan-jalan, aduhhh..senangnya, bisa jadi bahan cerita.
Ucapan adalah doa
Dalam keseharian, Mama paling suka menimang adik bungsuku:
Jakarta, Jakarta, Jakarta, Indonesia Raya.
Kalimat itu diucapkan dengan gemes, berulang kali, terdengar aneh.
Ternyata itu harapan dan doa Mama, diijabah Allah.
Mendadak, Bapak ditelpon, segera ke Jakarta untuk dilantik menjadi Kepala Bagian Keuangan di Kantor Manggala Wana Bakti. Semua serba mendadak, kami sekeluarga harus segera pindah ke Jakarta.
.
Tak ada yang tak mungkin, jika Allah berkehendak.
Kini, seluruh keluarga hijrah ke pulau Jawa.
Jalan hidup manusia, hanya Allah Yang Tahu. 
Di manakah kita hidup dan mati.

Palangka Raya, 1984 #nuliskenangan
#kenangan
*Kun Fayakun*

Tuesday, June 21, 2022

Pengalihan Hati

Sebelum apel Senin pagi, hari Sabtu menentukan nama-nama petugas upacara, dilanjutkam latihan, supaya penampilan kelas yang mendapat giliran semakin sip.

Aku paling males jadi petugas penaikan bendera.
Selalu deg-degan, cemas, kalau saja bendera terpasang terbalik, warna merah putih jadi putih merah. 
Apa nggak kiamat, bagi kita (jaman itu) bendera sangat dihormati, jatuh ke tanah saja, bisa ditegur tentara.
Satu lagi yang membuat jantungan, kalau lagu  kebangsaan Indonesia Raya selesai dinyanyikan, bendera baru naik setengah tiang...alahmak!
Walau, sebenarnya, jika terjadi kesalahan, malunya kan bertiga, tetap saja aku nggak mau jadi petugas itu.

Satu lagi tugas yang kuhindari adalah Dirigen lagu Indonesia Raya. Sadar diri aja.
Suaraku sedikit sumbang, bayangkan, kalau mengajak bernyanyi;  "Hiduplah Indonesia Raya. 1,2,3, 4."
Mengerakan tangan pada ketukan 4/4. Kalau tak selaras ketukan dan temponya, bisa kacau balau dunia pernyanyian. 

Trus, apa tugas yang aku suka? Jadi peserta upacara. Nggak juga sih, bosen banget berdiri tegak tanpa beban, jadi pengen ngobrol aja.
Tugas yang aku suka, menjadi pembawa acara...itu paling gampang, tinggal baca aja, terlalu muda, kurang tantangan.

Tugas upacara yang paling Aku suka menjadi komandan upacara.
Dasyatkan.
Aku suka berdiri di tengah lapangan, semua mata tertuju padaku seorang. 
Mungkin yang mengenalku, sewaktu SMPN -2 dan SMA Negeri-3  atau Pramuka Gudep Adyaksa, pasti sudah tau, aku selalu menjadi Pratama.

Berteriak lantang, memberi komando. Ada kebanggaan sendiri, mungkin aku terlalu percaya diri.
.
Semua berawal dari kegiatan Pramuka.
Entah mengapa, aku selalu dipilih jadi ketua regu (mungkin, ada aura kepeminpinanku kalee yaa). Padahal anggota regu, usianya lebih tua dariku. 
Dari keahlianku menjadi Pratama, aku terpilih menjadi wakil Kalimantan Tengah bersama 9 teman lainnya, untuk berlomba di Jakarta. 
Juara satu, lomba Dianpinru 1984 akan menjadi Pratama di upacara Hari Pramuka, 14 Agustus 1984.
Menjadi Pratama, di upacara besar dipimpin Presiden Soeharto, tentu sangat kudambakan, sebuah kebanggaan tersendiri.
Sayang, aku nggak menang,  Juara satu dari Kotamadya Cirebon. 
Paling tidak aku sudah membuktikan keahlianku sebagai Pratama. 
Tahun 1984 itu, untuk pertama kalinya, aku mendengar langsung suara Presiden Soeharto, denger suaranya aja, bikin aku terharu, biasanya cuman melihat dan mendengar dari televisi. Itulah pertama dan terakhir mendengar suara Pak Harto.
Jujur, Pramuka membuatku sibuk. 
Teman sebaya pacaran, aku malah berkemah Sabtu Minggu.
Teman pada naksir cowo, aku sibuk belajar tali temali, morse.

Sudah aku katakan, aku pandai menutupi perasaan hatiku.
Dalam batin, mau juga seperti mereka, sayangnya,  cintaku selalu bertepuk sebelah tangan.
Aku suka, dia nggak.
Pedihkan.

Palangka Raya, 1986
#Menuliskenangan
*bentuk pelarian*

Friday, June 17, 2022

Dering Telepon Pertama dalam Hidupku

Mendengar Dering Telepon Pertama kali
"Halllllooooo."
Itu pertama kali, kulihat Mama menjawab telepon, suaranya nyaring sekali.
Oh, begitu ya jawabnya, aku melongo. 
Kejadian di tahun 1981, di sudut ruangan Hotel Amandit, Banjarmasin, Mama menerima telepon sepupunya dari Palangka Raya.

Kami baru sampai di Banjarmasin  dari Bandara Djuanda Surabaya dan harus menginap di Hotel  selama dua malam, selanjutnya naik speedboat ke Palangka Raya. Lelah sekali, apalagi Mama, terus mengendong adik bungsuku (usia 4 tahun), Andi rewel karena demam.

Di Hotel Amandit itulah, aku baru tau, bentuk yang namanya telepon.  Barang baru bagi kami yang hidup sederhana di perantauan, biasanya hanya orang 'berada' saja yang punya telepon.
Kebetulan sepupu Mama, yang mengatur kepindahan kami, orang terkaya di Kalteng, pemilik Hotel Palangka. Tak heran, bisa menelpon ke hotel.
***
Menjawab telepon, pertama kali

Kami sudah pindah dari rumah kontrakan di  Bukit Hindu  ke rumah dinas kehutanan.
Di perumahan ini, aku berbaur dengan teman yang orangtuanya, sama-sama Rimbawan. Rumah-rumah dibangun berdasarkan golongan kerja, ada yang kaya ada yang biasa aja.
Kehidupan kami tetaplah sama, sederhana.
Suatu ketika aku diajak bermain ke rumah anak Kepala Kantor Kehutanan. Rumah dinas yang besar, perabotnya pun baru pertama kali kulihat, bagusss sekali. Halamannya luas di kelilingi pohon Pinus berdaun jarum dan Akasia.
Ada penjaganya, galak tak terkira, dua ekor angsa putih, gemuk besar, suka nyosor.
Kami bermain behel, di ruang tengah. 

Kringgg!!!

"Angkat, En." 
Plenga pelengo, bagaimana cara jawabnya. Gugup sekali, tangan gemetaran mengangkat gangang telepon.
Terdengar suara di ujung telepon. 
Langsung kujawab, "Hallloooooooo."

Suaraku super nyaring. Beneran, nggak nyadar, nyuaring.
Hmmm...pengalaman pertama, bocah SD kampungan, menjawab telepon, persis Mama dulu.
Oh oh oh...begini ya telepon itu, batinku
Deredek blas!

Saat itu, telepon rumah hanya punya satu warna hitam, untuk menelpon, nomernya diputar, dan berbunyi krek, krek krek.
Tahun 1992 baru telpon rumah, warna dan bentuknya beraneka ragam, nomer telpon tidak diputar lagi tapi dipencet.
.
Sampai kami sekeluarga pindah ke Jakarta, Mama Bapak tak pernah berminat memasang telepon...Katanya, nanti dikira orang kaya.
.
.
.
Rumah Dinas Kehutanan, 1981
#menuliskenangqn
#TeleponRumah