Tuesday, September 12, 2017

Mudahnya Berwakaf Melalui Asuransi Syariah


Sabtu, 9 September 2017, memenuhi undangan Jumpa Blogger Sun Life, bertempat di The Hook Restaurant and Bar Jalan Cikatomas III Jakarta Selatan.
Acara dimulai jam 13.00 WIB diawali dengan makan siang.
Ada sekitar 50 Blogger yang datang, antusiasme untuk menerima ilmu tentang asuransi dan wakaf.


Baiklah, sebelum mengetahui lebih lanjut.
Sebuah pertanyaan sederhana saya ajukan.

Sudahkah teman-teman mengetahui apa perbedaan zakat dengan wakaf?

Perbedaan Antara Zakat Dengan Wakaf?
  1. Dari sisi hukumnya, zakat berhukum wajib, sedangkan wakaf berhukum sunnah (mandub).
  2. Orang yang diberi harta zakat, maka ia berhak atas kepemilikan benda dan manfaatnya sekaligus.  Fakir miskin, ketika mendapatkan seekor kambing zakat misalnya, maka ia berhak memiliki kambing itu, dan semua manfaat dari kambing tersebut.  Sedangkan pada kasus wakaf; penerima wakaf hanya berhak mengambil manfaat dan guna dari harta waqaf, dan ia tidak berhak memiliki atau menghabiskan harta wakafnya.  Pada wakaf hewan ternak, misalnya wakaf kambing, maka penerima wakaf hanya berhak mengambil air susunya, atau manfaat dari kambing tersebut; sedangkan kambingnya tidak berhak ia miliki.
  3. Zakat hanya diperuntukkan bagi 8 golongan yang telah disebutkan di dalam al-Quran.  Sedangkan wakaf diperuntukkan tidak hanya bagi 8 golongan itu saja.
  4. Pada harta zakat tertentu disyaratkan adanya haul dan nishab. Adapun pada wakaf, tidak ada syarat haul dan nishab.Jumlah zakat yang harus dikeluarkan dari harta-harta yang wajib dizakati telah ditentukan; misalnya, zakat emas dan perak sebesar 1/40, dan lain sebagainya.  Dalam kasus wakaf, tidak ada ketentuan spesifik mengenai jumlah harta yang meski diwakafkan.
Kesimpulannya, bahwa zakat itu habis terpakai saat itu juga, sedang wakaf manfaatnya terus menerus, amal jariah yang mengalir sejak manusia hidup sampai meninggal dunia.
Masya Allah, begitu dasyatnya  wakaf sebagai sedekah jariah.

Ada satu kisah tentang Wakaf sumur Khalifah Ustman bin Affsan RA, yang hingga kini amal jariah terus ada.

Dahulu di Madinah, tidak terlalu jauh dari masjid Nabawi, ada sebuah properti sebidang tanah dengan sumur yang tidak pernah kering sepanjang tahun. Sumur itu dikenal dengan nama : Sumur Ruma (The Well of Ruma) karena dimiliki seorang bernama Ruma.
Ruma menjual air kepada penduduk Madinah, dan setiap hari orang antri untuk membeli airnya. Di waktu waktu tertentu, ia menaikkan seenaknya harga airnya, dan rakyat Madinah pun terpaksa harus tetap membelinya. karena hanya sumur inilah yang tidak pernah kering.
Melihat kenyataan ini, Rasulullah berkata, “Kalau ada yang bisa membeli sumur ini, balasannya adalah Surga”. 

Seorang sahabat nabi bernama Utsman bin Affan radhiallahu’anhu mendekati sang pemilik sumur. Utsman menawarkan untuk membeli sumurnya. Tentu saja Ruma menolak. Ini adalah bisnisnya, dan ia mendapat banyak uang dari bisnisnya.
Tetapi Utsman bukan hanya pebisnis sukses yang kaya raya, tetapi ia juga negosiator ulung.  
Ia bilang kepada Ruma, “Aku akan membeli setengah dari sumur mu dengan harga yang pantas, jadi kita bergantian menjual air, hari ini kamu, besok saya.”  
Melalui negosiasi yang sangat ketat, akhirnya Ruma mau menjual sumurnya senilai 1 juta Dirham dan memberikan hak pemasaran 50% kepada Utsman bin Affan.
Apa yang terjadi setelahnya itu, membuat Ruma merasa keki. Ternyata Utsman berbisnis dengan Allah, ia mewakafkan sumur tersebut kepada penduduk. Utsman menggratiskan air tersebut kepada semua penduduk Madinah. Penduduk pun mengambil air sepuas-puasnya sehingga hari kesokannya mereka tidak perlu lagi membeli air dari Ruma.
Merasa kalah, Ruma akhirnya menyerah, ia meminta  Utsman untuk membeli semua kepemilikan sumur dan tanahnya. Tentu saja Utsman harus membayar lagi seharga yang telah disepakati sebelumnya.
Menjadi Sumur Utsman


Wakaf Sumur Utsman (Pic by Google)

Hari ini, sumur tersebut dikenal dengan nama Sumur Utsman, atau The Well of Utsman. Tanah luas sekitar sumur tersebut menjadi sebuah kebun kurma yang diberi air dari sumur Usman. Kebun kurma tersebut dikelola oleh badan wakaf pemerintah Saudi sampai hari ini.
Kurmanya diekspor ke berbagai negara di dunia, hasilnya diberikan untuk yatim piatu, dan pendidikan. Sebagian dikembangkan menjadi hotel dan proyek proyek lainnya, sebagian lagi dimasukkan kembali kepada sebuah rekening tertua di dunia atas nama Utsman bin Affan. Hasil pengelolaan kebun kurma dan grupnya itu, hingga saat ini menghasilkan pemasukan 50 juta Riyal per tahun (atau setara 200 miliar per tahun)
Visi Utsman yang dasyat.
Karena visi Ruma  terlalu dangkal. Ia hanya hidup untuk masa kini, masa ia ada di dunia. Sedangkan visi dari Utsman Bin Affan adalah jauh ke depan. Ia berkorban untuk menolong manusia lain yang membutuhkan dan ia menatap sebuah visi besar yang bernama Shadaqatun Jariyah, sedekah berkelanjutan.  Sebuah shadaqah yang tidak pernah berhenti, bahkan pada saat manusia sudah mati.
Masya’ Allah. Semoga kita mendapat berkah Sayyidina Utsman. Amin allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad.

Membaca cerita Utsman dan wakaf sumurnya.
Mendadak, saya pengen berwakaf/ memiliki tabungan akhirat juga, karena wakaf itu bagai air bersih yang terus mengalir dan pintu masuk menuju surga.

Trus, bagaimana cara berwakaf?
Untuk memenuhi kebutuhan hidup saja susah?
.
Bagaimana?
.
.
.

Mulailah berinvestasi (berwakaf) melalui asuransi syariah.

Siapa yang tidak ingin berinvestasi, pengen, tapi ngumpulan uang susah, jawaban yang sungguh biasa kita dengar dari sebagian masyarakat investasi baru niat doang, sih!)
Ya, begitulah kenyataan yang terjadi, untuk menabung untuk beli tanah dengan menyimpan di Bank,  kadang uangnya sering terpakai, akhirnya uang habis, niat wakaf menguap.
Solusi termudah untuk mewujudkan niat wakaf tersebut, dengan cara mencicil dengan dipaksa (kalau enggak dipaksa biasanya orang enggak mau berusaha) melalui asuransi syariah, kita bisa disiplin membayar asuransi setiap bulan.

Asuransi?
Jujur, kesadaran masyarakat Indonesia berasuransi sangat rendah. Baru dengan kata asuransi, sudah mundur selangkah.
Untuk meningkatkan kesadaran asuransi, perlu ditingatkan program literasi, edukasi pada masyarakat tentang asuransi khususnya program berwakaf pada asuransi syariah.

Dimanakah asuransi yang tepat untuk berwakaf dengan mudah, aman, pasti dan amanah?
Tenanggg, semua akan dijawab tuntas.

Dua nara sumber: Ibu Aan Dan Bapak  Nadratulzaman
Menurut  Ibu Srikandi Utami, Head of Syariah unit Sun Life Finansial Indonesia;
Setiap orang selalu ingin memiliki perencana investasi baik untuk dirinya sendiri maupun keluara seperti mempersiapkan masa pensiun,  dana pendidikan, dana perjalanan ibadah (haji dan umroh), dana sosial serta mengakumulasi kekayaan. Untuk mewujudkan perencanan investasi diperlukan manfaat investasi yang bernilai ganda, salah satu dengan berwakaf.