Thursday, August 6, 2015

Berapakah tarif Porter kereta api?

Berapa upah jasa angkut Porter?
Bingungkan....
Ini kejadian, dua hari yang lalu, Selasa, 3 Agustus 2015 pukul 9.45 WIB. Waktu saya naik kereta dari Stasiun Kejaksan, Cirebon menuju stasiun Jati Negara, Jakarta. Biasanya, saya jarang menggunakan porter, karena tas bawaan saya selalu sedikit. Hari itu, saya berangkat berdua dengan tante. Bawaannya kotak kardus, berisi oleh- oleh dan tas pakaian. Lumayan berat. 
Kondisi begini, jasa porter sangat dibutuhkan. Jujur, sebenarnya sih, saya malas menggunakan jasa porter kereta api. Tarifnya yang tak jelas. Tak ada ketentuan tarif minimal. 
Berapakah yang harus saya bayar?

Umumnya, pembayaran suka rela, tergantung hati dan rezeki para porter. Jarang sekali, terjadi tawar menawar antara pemakai jasa dengan porter.
Kalo, saya datang ke stasiun kereta , masih punya banyak waktu. Saya akan  memilih porter yang kalem, tidak gragas, tidak berteriak menawarkan jasanya. Porter yang baik, memperkenalkan diri dengan santun,  menyebutkan nomor indentitas porter (ada bordir di belakang baju seragamnya.) Itu penting, untuk keamanan barang bawaan. Sapa tau,  barang tak sampai kereta, kita bisa mengadukannke pihak keamanan kereta.

Kembali, ke cerita saya. Kebetulan, saya datang dengan waktu mepet. Dari luar mobil di halaman stasiun, porter akan menyambut kedatangan kita. Karena keburu, saya langsung memilih porter. Sekali lagi, tidak ada tawar menawar. Dia berjalan cepat, mengikuti saya menuju peron.
Verifikasi tiket, saya langsung menuju gerbong. Jarak peron tunggu menuju jalur 5, Cirex Ekpres. Sesampai tempat duduk, barang ditaruh.Saya membayar Rp. 25.000,- Eh! dia bilang, "Kurang, Bu. Tambah lagi." Saya pikir itu harga yang wajar, bawaannya juga nggak berat amat. Saya malas berdebat, saya tambah lagi. Kemarin-kemarin,  pake porter saya kasih Rp 20.000,- porter menerima dengan santun. Lhaenih...heudeuh!

Pernah, beberapa bulan yang lalu.Saya naik kereta api pagi.Seorang gadis duduk disamping saya, marah-marah dengan porter. Barang bawaannya dua buah, koper besar beroda dengan tas cabin. Rupanya, dia tidak memperhatikan, sampai tempat duduk, porter nya ternyata dua orang. Jelaslah, dia komplain, tadi menyuruh cuman satu.
"Penglaris, Nok." jawabnya. Jengkelin kan. Porter itu, malah minta uang buat jasa porter temannya, yang cuman bawa tas kabin beroda. Sungguh, sikap porter ini sangat memprihatin, dan merusak citra kereta api Indonesia.

Kejadian itulah,  yang membuat saya malas memakai jasa porter, kalo nggak kepaksa.
Terakhir, sebelum kereta api berhenti diam di stasiun Jati Negara, Jakarta. Para porter sudah masuk dan berdesak desak di koridor gerbong. Saya suruh satu porter bawa barang bawaan.  Sebenarnya, jaraknya deket banget, turun ke kereta di jalur 3 menuju teras tunggu Comuter line di jalur 5. Daripada rempong, eikeh suruh porter.
Kebetulan Comuter line arah Bogor , sudah menunggu di jalur. Barang malah di brukkkk di lantai comuter line, bukannya di taruh di atas tempat tas. Saya sudah mempersiapkan Rp.20.000 untuk jasanya. Karena keburu, porter turun cepat, dia berteriak lagi, sebelum pintu tertutup, "Kurang, Bu. Tambahhh!!!"teriaknya sambil mengedor pintu comuter line.
Otomatis, smua mata, tertuju pada saya, tergesa saya memberi uang tambahan jasa. Lalu, saya berpikir, berapa sih tarif porter sebenarnya? Dengan jarak angkut yang berbeda, wajar dong, saya memberi ongkos jasa porter segitu.

Saya juga tau betul, berapa berat barang yang di angkut oleh porter. Dengan rasa kemanusiaan, tak mungkin, keringat seseorang, saya bayar murah. Saya bayar dengan harga  pantas. Namun, seringnya kejadian tarif porter, ada rasa malas memakai jasa porter, tapi terpaksa karena butuh. Sejati, antara pemakai dan pemberi jasa, ada kesepakatan baku,  tentang tarif, sehingga tak mengalami kejadian yang membuat badmood. Mungkin saja sudah ada standar tarif minimal, tapi, saya tak menemukan, di tempel dimana pemberitahuan tarif itu.

Harapan saya, pihak PT. KAI akan mensosialisasikan, tarif minimal porter.
Mungkin, ada yang berpikir uang yang saya berikan, terlalu sedikit, tapi itulah kemampuan saya.







18 comments:

  1. saya prnah mbak usul ke salah satu keala stasiun untuk menempelkan semcam surat pemberitahuan berapa tarif porter, tapi katanya enggak enak sama porter2 yang ada disana,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah, itu dia...saya jarang menawar loh mbak. tapi..tetap aja kurang.
      Harusnya memang, ditempel tarif porter ya mbak

      Delete
  2. laa aku pernah dimintai Rp 30 ribuan mb di tasiun gambir.. padahal barangnya dikit 1 biji doang

    ReplyDelete
    Replies
    1. hayah.....mahal banget.
      Tuh kan, suka suka porter

      Delete
  3. Setuju teh...kadang bikin males pk jasa mrk krn ga jelas tarifnya. Klo orgnya bener sih ga maenin tarif...tp kebanyakan suka nakal sih

    ReplyDelete
    Replies
    1. heeh....apalagi kalo nawar jasa pake maksa. heudeuhhhh.

      bencii eikeh.

      Delete
  4. kok lbh sopan porter bandara ya spertinya.. ga prnh tuh mrk ngotot bilang kurang uangnya.. -__-. aku g prnh naik KA, jd ga bgitu tau sifat2 porter di sana.. tp bnr mba, nybelin bgt kalo ada yg sampe bgitu..pdhl awal2 kita make jasa mrk jg kdg2 cm krn kasian... -__-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Di bndara, saya jg tidak tau berapa tarif porter. Karena di bandara tersedia troly, tdk masalah membawa banyak barang.

      Delete
  5. Waaaahh... mbakk iya ya... kasian porternya..tapi mbak sudah berbuat baik....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kadang, memberi tarifnya, melihat aura porternya, kalo santun dan baik, pastiii diberi lebih

      Delete
  6. Klo pihak stasiun tidak berani tegas menentukan harga. Kapan mau majunya?

    ReplyDelete
  7. Klo pihak stasiun tidak berani tegas menentukan harga. Kapan mau majunya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar mbak, jadilah penumpang males mengunakan jasa mereka kalo nggak kepepet bener

      Delete
  8. masih mending porter dari stasiun Solo pada ramah dan baik hati.. Porter jatinegara pada edan euyy.. Dikasih 20k buat 2 porter malah bantah minta tambahannya 40k helehh... -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh...itu sama dengan di Cirebon, barang nggak seberapa, malah dua porter, maksa lagi

      Delete
  9. Iya yah kadang suka kasian aja liat bapak2 tua liat kereta berhenti sumringah lari-lari nawarin jasa nya.. tapi yaa mudah2an kalo lagi ada rezeki lebih ga apa2 lah yah pake porter mahal jg, klo lg paspasan.. mending ga usah dulu kali yah hhihi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu kadang saya juga begitu, suka kasihan, tapi batal, tarif ga jelas sih

      Delete
  10. Rate nya umum di:
    Rp 30,000 St. Gambir/Ps.Senen/Jatinegara

    Rp 20,000 St. Di Kota selain Jakarta

    ReplyDelete