Friday, December 16, 2016

Perjalanan Sehari dari Wisata Pulau Pari ke Darmaga Cituis [Wisata Pulau Part 2]


Sehari semalam, saya berwisata di Pulau Pari. Mengelilingi pulau dari ujung ke ujung dengan naik sepeda mini berkeranjang, warnanya  merah jambu, sungguh romantis.

Dua pasang sendal jepit warna biru menjadi saksi, seluruh perjalanan wisata Pulau Pari.
Di Pulau Pari belum ada mobil, hanya beberapa kendaraan saja, lebih banyak sepeda dan gerobak. Seharusnya, ada peraturan dilarang mempergunakan kendaraan bermesin, agar pulau ini bebas polusi, tapi keinginan warga Pulau Pari untuk memiliki kendaraan tidak bisa dibendung, bagaimanapun duitnya, duit mereka sendiri. Jadi susah dilarang. Ketakutan terbesar saya, saat mendatang, pulau Pari tak alami lagi ,suasana sunyi akan terusik dengan  bising suara mesin, jalan kecil tak senyaman sekarang. Mendadak, jadi ingat kejadian kemarin sepedaan, saya harus menyempil di pinggir jalan, gara-gara ada motor lewat, ngebut seenaknya.

Di Pulau berbentuk ikan pari ini, saya puas menikmati tiga pantai; Kresek Beach, Star Beach, dan Virgin Beach.





Saya juga bahagia bisa berbincang dengan 'Orang Pulau' yang ramah, bercanda dengan teman baru, sama-sama nginap di homestay, akrab dan penuh kesan. Seru.
(Baca, Diayun Ombak ke Pulau Pari)

Walau cuman sehari semalam, bagi saya itu sudah cukup memuaskan, akhirnya kami memutuskan untuk pulang lebih awal dari jadwal rombongan wisata Pulau Pari.
"Besok pagi, ibu bisa pulang lewat rute Cituis saja," saran Pak Bidu.
"Cituis?" balik saya bertanya, baru denger nama itu, keren pula.
Eeh, Cituis itu nama Darmaga di Tangerang.

Kami sepakat nanti pagi bertemu di Darmaga Pulau Pari. Transportasi untuk jadwal pagi hari hanya rute Darmaga Cituis, sedang rute Pulau Pari-Muara Angke sekitar jam 11 siang. Makanya kami ambil jadwal pagi saja.

Pulang ke Jakarta lebih awal

Saat teman lain masih lelap terbuai mimpi, saya dan akang berlahan meninggalkan homestay menuju darmaga yang terletak di bagian depan Pulau Pari.

Udara terasa dingin, sisa hujan rintik semalam. Kami berdua, menyelusuri jalan kecil di antara rumah penduduk. Sepagi ini, warga pulau sudah memulai aktifitasnya. Menyeruak bau wangi gorengan pisang dan ubi dan sengitnya baut bakaran terasi. Bau khas yang terakhir ini, membuat saya meneguk liur, kebayang nikmatnya, sepiring nasi hangat jeung pulen,sepapan pete goreng, ikan asin japuh, lalapan bonteng ngora, dan sambal terasi...amboiii, cleguk! nelen liur lagi.

Sejak meningkatnya kedatangan wisatawan lokal ke Pulau,  dapur-dapur rumah warga, sudah mengepul dini hari, sibuk menperyiapkan makan pagi dan siang untuk wisatawan yang tinggal di homestay.

Tak sampai lima menit, kami tiba di darmaga.
Lampu darmaga masih bersinar terang. Sambil menunggu kapal, Akang membeli dua gelas kopi hitam dan saya membeli beberapa gorengan untuk bekal di jalan. Tak lupa dua botol besar air mineral untuk jaga-jaga kalau kehausan. Takut seperti kemarin, kehabisan air di tengah jalan. Ini botol cukup berat juga, tapi terpaksa daripada kehausan di laut, emang mau minum air laut, asin.

Dari Darmaga, beberapa perahu nelayan merapat ke tepian, menurunkan hasil tangkapan melaut. Bau darmaga ini sungguh khas, tak sesegar pantai lain pada umumnya, wangi aroma ikan dan udang segar.

Ada beberapa wisatawan lokal Pulau Pari seperti kami, yang juga pulang pagi ini.
Pak Bidu, menepati janji, menyusul kami ke Darmaga. Sebagai menyedia jasa wisata pulau, Pak Bidu sangat baik melayani semua keperluan wisatawan yang datang. Pagi ini pun, Pak Bidu menunggu kami sampai masuk dan berangkat untuk pulang kembali ke Jakarta.

Jalur transport ke Pulau Pari bisa melalui tiga rute darmaga.

speedbooad di Darmaga Marina Ancol (sumber: Google)
Jika ingin naik kapal cepat/speedboat bisa lewat Marina ancol, biayanya sekitar Rp. 200.000 keatas, jalur lain, melewati Muara Angke naik kapal kayu, biaya transport Rp 40.000, sedang jalur terakhir, Darmaga Cituis Tangerang, sekitar Rp. 35.000,-

Wisatawan yang datang secara mandiri, dan ingin perjalanannya lebih cepat, murah meriah, biasanya mengambil jalur Jakarta- Darmaga Citius pulang pergi. Penduduk pulau untuk belanja bahan makanan atau sekedar jalan-jalan, lebih suka mengambil jalur Darmaga Cituis , lebih cepat cuman satu jam perjalanan di banding Darmaga Muara Angke yang menempuh waktu 1,5 sampai 2 jam.

Aihhh...dunia ternyata kecil
Kapal kayu berangkat tepat waktu jam 6 pagi, penumpang berdesak masuk tak sabaran mencari posisi tempat duduk yang paling nyaman.
Suasana kapal penuh sesak, saya malah kebagian duduk di atas lantai papan, penutup mesin kapal. Getaran mesin yang keras, membuat gigi gemeretuk. Ini merupakan pengalaman pertama saya naik kapal kayu kecil menyelusuri laut.

Saya melafalkan doa perjalan laut, agar terhindar dari musibah dan diberikan keselamatan sampai tujuan.

Bismillah Majraha wa mursaahaa inna robbi laghofuurur rohim
"Dengan nama Allah yang menjalankan kendaraan ini dan berlabuh, sesungguhnya Tuhanku Maha Pemaaf lagi Pengasih"

Kapal kayu ini sebenarnya kapal barang untuk mengangkut pengiriman barang Jakarta - Tangerang. Kemudian beralih fungsi, menjadi kaparl ojek angkutan penumpang. Jadi, jangan kaget jika barang-barang, sayur, mie, kecap, sepeda mini berdesakan dengan penumpang kapal.

Menempuh perjalanan laut, angin menerobos kencang. Laut tak sekencang ombak kemarin, sedikit tenang.

Duduk manis di bagian belakang kapal

Di depan saya, bagian belakang kapal, duduk ibu-ibu berjejer rapi, berdandan cantik seperti hendak ke kondangan. Bagian depan kapal tak kalah berdesakan pula.

Saya duduk di atas kotak mesin, akang di pinggiran kapal dekat jendela. Di samping saya seorang ibu berperawakan gemuk. Pergelangan berhias beberapa gelang emas keroncong. Jilbab disampirkan di bahu kiri, untaian kalung pun menjembul. Ah, pastilah ini orang kaya, pakaiannya penuh gemerlap, batin saya.
Akang melirik memberi 'kode' ke saya. sebenarnya saya tau lirikan itu dari tadi, tapi pura-pura nggak lihat. 
Husstt, bisiknya, membuat saya kaget.
Emang sih, tanpa saya sadari, saya suka memperhatikan orang. Bukan memperhatikan, tapiii memang perhiasannya rada menyolok, untung saya bukan rampok, tapi orang baik baik...*rolling eyes*

Sambil menawarkan singkong goreng yang saya beli pada beliau, kami mulai ngobrol layaknya kawan lama. 
Alahmak! 'Dunia  tak selebar daun kelor'
Ternyata, ibu ini pemilik homestay yang saya diinap semalam...Duh! hilap deui, nanya saha namina.
Beliau punya dua homestay. Dhilalah, Pak Bidu itu ternyata menantunya. Semua menantunya bergerak di dunia wisata pulau. Dari penyediakan tempat tinggal, makanan dan peralatan snorkeling dan semuanya. Umumnya mereke bekerja sama dengan travel di Jakarta, merekalah yang menyediakan jasa, sistem bagi hasil.

Dua hari sekali beliau menuju Tangerang untuk membeli persediaan bahan makanan homestay. Kalau lelah, biasanya beliau istirahat di rumahnya di Tangerang. Rata-rata orang pulau, punya dua rumah, di Pulau dan Tangerang. Di Pulau anak sekolahan cuman sampai Sekolah Menengah Pertama, nanti dilanjutkan sekolah di Pulau Pramuka, dan kebanyakan anak-anak sekolah di Tangerang. Pantaslah mereka punya dua rumah. Sekalipun, kebanyakan orang pulau suku Jawa dan Bugis, mereka lebih senang di panggil orang Pulau.

Sejak pulau-pulau di sekitar Pulau seribu, termasuk Pulau Pari menjadi destinasi wisata pulau, kunjungan wisata meningkat sepanjang tahun, apalagi menjelang libur panjang dan akhir tahun...rame banget.

Untuk sewa homestay AC khusus keluarga biayanya Rp 400.000 - Rp 500.00.
Homestay non AC, bisa disewa Rp 300.000- Rp 350.000,-
Biaya makan, Rp 15.000 sekali makan, biasanya dihitung tiga kali. 
BBQ per orang dikenakan Rp 15.000,-
Peralatan snorkeling sekitar Rp 25.000 dan sewa sepeda sekitar Rp 7000 sampai 15.000,- duh, saya jadi tau kisaran biaya di Pulau Pari. Suer! saya nggak nanya, ibu itu aja cerita sendiri.

Ibu berkulit coklat legam ini terus bercerita, saya terkagum atas usaha kerja keras mengelola usaha wisata pulau Pari. Dulu sih mereka rata-rata nelayan, sebelum ramainya wisata pulau. Sekarang, mau melaut rada takut, ombaknya tinggi cuaca tak menentu. Semakin terkenalnya Pulau Pari sebagai destinasi wisata pulau pulau Kepulauan Seribu berimbas pada melonjaknya pemasukan ekonomi penduduk pulau, serta mengubah pola prilaku mereka dari nelayan menjadi menyedia jasa wisata, untuk tetap menjaga kelestarian biota laut dan kebersihan pantai, serta ramah pada setiap pengunjung.

Lirikan ujung mata si akang seakan mengisyarakat 'kode' kesekian kali pada eikeh...emm.
"Ennn...ngobrol wae." Ih, hobby kok dilarang, mending ngobrol daripada mabuk laut, nu repot kan akang juga.

Kapal kayu ini nggak punya kamar kecil, terlihat kepanikan seorang nenek yang kerepotan cucu perempuannya ingin buang air besar. Panik, repoott, ada-ada saja.
Satu jam waktu tempuh Pulau Pari- Darmaga Cituis, botol minuman cuman habis setengah, perkiraan saya meleset deh. Perjalanan lancar.

Darmaga Cituis Tangerang
Kapal kayu mulai menurunkan suara mesinnya, laju kapal mulai melambat. Darmaga dan keramaian orang sudah terlihat dari kejauhan. Air di muara berwarna coklat keruh. Tiba-tiba mesin kapal mati, dan kami sedikit tertahan. Saya pun kaget.
"Biasa, Bu...antri keluar masuk kapal," kata Ibu menenangkan. Saya mengangguk, perjalanan kemana aja kudu sabar. Kalo nggak sabaran, hayoklah berenang aja ke darmaga...:)

Sebenarnya Darmaga ini bernama Darmaga Rawa Saban atau Muara Saban, Kabupaten Tangerang. entah kapan, lebih ngehit namanya Darmaga Cituis. Cituis nama sungai yang airnya bermuara di darmaga ini.

Lima belas menit kemudian, perahu kayu bisa merapat di darmaga Cituis. Kapal nggak bisa masuk ke dalam sampai tepian, jadilah saya perlu ekstra keseimbang badan untuk bisa meniti pinggir kapal yang kami lewati satu persatu.

Darmaga ini air dangkal penuh lumpur tebal, ikan kecil terlihat berenang di air berwarna coklat.
Perahu nelayan berhimpitan, kadang kalau air surut, rata-rata perahu kandas, susah keluar masuk darmaga. Apalagi kalau musim kemarau, kata Ibu, lumpur akan mengeras, penumpang terpaksa turun beberapa meter dari darmaga kayu.

Saya perhatikan (tah! hobby memperhatikan), darmaga ini memang lumpur di darmaga ini perlu dikeruk dengan alat berat, kalau tidak, arus ekonomi masyarakat, khususnya nelayan yang akan menjual hasil tangkapan jadi tersendat. Sebagai wisatawan lokal saya merasa kesusahan, habisnya waktu di jalan, cuman menunggu keluar masuk kapal yang tersendat.

Alhamdulilah, kami sampai di Darmaga Cituis Tangerang dengan selamat. 
Baru keluar kapal, tukang ojek pangkalan menawarkan jasanya, sungguh membingungkan. Berebut penumpang. Belum saya pesan, sudah ditawar ojek yang lain, lalu ojek pertama komplain ke saya.

Saya cuekin aja, arah mau kemana juga saya belum tau. Hati-hati ya, bro, lebih baik woles aja, nggak usah terburu-buru naik ojek.
Merapat sebentar ke posko jaga di pintu keluar darmaga karena tempat ini baru bagi kami. Menanyakan jalan mana yang harus ditempuh..*Seperti syair lagu aja
.
Perjalanan di Kabupaten Tangerang
Dengan keramahan khas Indonesia, Petugas jaga Darmaga menunjukkan arah yang harus kami lewati. Kami harus naik ojek pangkalan ke Paku Aji, ongkos Rp 20.000,- per motor.
Kami naik ojek dengan beriring-iringan. Kiri kanan jalan masih banyak sawah penduduk, maklumlah, ini kabupaten Tangerang, nggak seramai Tangerang Kota. Sebenernya yang bikin saya gugup naik ojek, penumpang nggak pake helm, bawa motornya ngebut, tukang ojek badannya lebih kecil dari saya, otomatis rasa nggak seimbang, kurang percaya diri nih naik ojek. 

Perjalanan yang saya kira dekat, ternyata jauh juga, mungkin karena saya orang baru ya. Ongkos ojeknya juga murah banget. Heran sendiri.
"Buuu, sudah sampai, nanti ibu dan bapak naik Elp ke arah Pasar Baru," Pesan tukang ojek.
Paku Aji, tertulis jelas di sebuah toko pinggir jalan.

Tangerang menuju Bogor
Matahari di Tangerang terasa panas, dengan sabar kami harus menunggu mobil elp.Berdiri di samping kami, seorang pemuda rada tuaan dikit, calo angkot tersenyum ramah. Akang lantas menawarkan rokoknya...Yakok bisa langsung akrab nih Akang.

Terdengar gelak tawa akang dengan bapak itu.
"Maaf ya, Bang, bukannya gua sombong. Aku tuh! enggak suka musik dangdut, kagak tau kenape..."

si Bapak nunjukin IM3 yang selalu di bawa.
"Trus, musik apa dong yang didenger?" tanya Akang.
"Scorpion, Deep purple, Rolling Stone, Keep rock and rock aja deh, Bang. Music make you look younger and happy face. Kalo musik rock lokal sih, I like Power Band and God Bless."

Luar biasnya, si bapak hapal semua lagu. Trus, akang cerita, sebelum pulang ke Indonesia, akang nonton live music Scorpion. Bapak itu kaget tak percaya, dan senang waktu di perlihatkan video konser Scorpio dari hape Akang.... Bapak itu teranguk anguk mengikuti suara musik.

Yang membuat akang sedikit sedih, kenapa lupa nanyain alamatnya. Kan bisa dikirim baju, sedikit coklat dan keju dari Swiss.
Simple thing but make other peoples happy. It's like great rewards for me. itu kata akang, aku suka melihat orang lain bahagia. Saya jadi terharu dan kagum padanya,orangnya baik dan suka ngebodor, membuat saya selalu tertawa, menyenangkan.





Mobil Elp yang ditunggu berhenti di depan kami, langsung kami melanjutkan perjalanan. Lumayan jauh menuju Pasar Baru. Sebentar-bentar saya bertanya dengan penumpang lain, apa sudah sampai, takut kelewatan.

Akhirnya, dengan membayar Rp 11.000 per orang kami berhenti sebelum Pasar Baru, kami harus menyambung lagi perjalanan dengan naik angkot 03 menuju Stasiun Duri.

Dari pagi kami belum makan, mampir sebentar di warteg, makan bagai kesurupan, semua dibeli...puasin deh Kang, entar di sono nggak ketemu yang beginian, murah meriah,kenyang lagi. Nikmat mana yang didustakan, tinggal di Indonesia tiada bandingnya.

Kelihatan banget, kami orang baru di Tangerang ini, diangkot nanya berapa bayar ke stasiun Duri, cuman Rp 4.000,- bahkan seorang bapak mengatakan sama saya saja nanti turunnya, Bu, saya juga mau ke stasiun Duri...Duhai, ramah nian.

Ini pertama Akang naik Kereta Api Listrik Comuter Line.

Selama ini, dia hanya membaca dan melihat lewat media sosial. Dalam pikirannya, kereta di Indonesia, kotor, kumuh dan berjubel. Nah, ini saatnya nunjukin, bahwa kereta atau Comuter Line di Indonesia sudah tertata dengan baik, Stasiunnya aja sudah bersih, nggak ada penjaja makanan, pengamen dan pencopet seperti dulu.





Akang menunggu di ujung, saya mengantri membeli kartu tiket idi vending machine. Rute Stasiun Duri nanti berhenti di Stasiun Manggarai, lalu dilanjutkan ke Stasiun Bogor, kami beli tiket Rp 17.000,- per orang.

Alhamdulillah, Comuter tidak begitu ramai, kami bisa dapat tempat duduk di gerbong 4.
"Nah, ini Comuter Line, Kang."

Dia mengangguk, sambil mendengar suara mas-mas yang memberitahukan rute stasiun yang kami singgahi, gerbong comuter line terdiri dari 8 gerbong. Gerbong 1 dan 8 gerbong di khususkan untuk wanita. Bangku khusus, di utamakan untuk orang tua, difabel dan ibu hamil.

Pejalanan yang dianggap biasa bagi orang lain, bagi akang itu hal yang menyenangkan karena lama bermukim di Swiss.
Indonesia sudah banyak berubah tidak seperti dulu lagi dalam pelaksanaan angkutan modanya. Semua tertata rapi, nggak kalah dengan negara lain.

Minggu, 17 Juli 2016, Comuter line tiba di Stasiun akhir, Bogor. Wajah sumrigah dan segar anak gadis  menyambut kami yang berwajah kusut kecapean dengan muka penuh debu.
Namun, di hari ini, sungguh menyenangkan, melakukan perjalanan dari Pulau Pari sampai di kotaTangerang, sekalipun saya tinggal di Bogor, baru kali ini ke Darmaga Cituis, dan melihat kota Tangerang.




Mobil melaju memutar kekanan, arah yang berlawan dari rumah. Anak gadis membawa kami ke rumah makan Jepang, untuk mengakhiri perjalanan dua hari satu malam, mabuk laut, terdampar manis di tiga pantai Pulau Pari,berayuan ombak teluk Jakarta, dan naik kapal kayu, ojek, Comuter Line.
Bertemu dengan teman baru, sayangnya, lupa alamatnya, namanya juga lupa...*merasa kecewa.

Salam manis.

-En-




















































Thursday, December 15, 2016

Diayun Ombak menuju Pulau Pari [Wisata Pulau Part 1]

Juli, 6 bulan yang lalu, seusai lebaran.
Sebelum subuh, saya bergegas berangkat dari rumah Bogor menuju Jakarta. Rencananya, dua hari satu malam, saya akan berwisata ke Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Sejujurnya, badan masih raringsek sejak mudik lebaran belum pernah istirahat, sibuk gitulah...*Halahh, sok sibuk...hehehe.
Namun, apalah daya, paket wisata murah meriah ke Pulau Pari sudah dibeli anak gadis, susah ditolak. 

"Ayolah ,Ma, sesekali liburan, melihat sisi lain Jakarta. Ini wisata pulau murah meriah, Maaa." 
Duluuu, saya juga pernah wisata ke Pulau Pramuka bersama rombongan ibu-ibu naik kapal cepat Badak laut dari Marina Ancol.

Laaa ini berangkat ke Pulau Pari dari pelabuhan tradisional Muara Angke. Aihhh, petualangannya pasti lebih serunya. Okelah kita berangkat dengan gembira sembari memakai sendal jepit warna biru andalan saya, dua baju kaos, mukena, legging. Yang mau berenang dan snorkeling, silahkan bawa baju renang, peralatan mandi, dan sunblock.


Jalan lancar jaya, masih sepi, memasuki kawasan Muara Angke, langit masih gelap, lampu jalan mulai bersinar redup. 

Ini pertama kali saya ke Muara Angke. Waduh, sumpeh! terpana melihat kenyataan, jalan becek di genangin sisa air pasang, bau amis bercampur sampah basah, bau menyengat sekali menembus celah jendela mobil pagi itu.

Wednesday, December 14, 2016

Sosialisasi Tanda Tangan Digital pada Transaksi Elektronik

Tanda tangan sudah saya kenal dari masih kinyis-kinyis hingga sekarang. Tanda tangan, suatu tanda guratan tertulis dikenal sebagai tanda bukti diri. Tanda tangan dengan gaya lekuk nan manis menuliskan nama saya, tertera di ijasah sejak Sekolah Dasar hingga Sarjana...Jadi senyum sendiri, melihat tanda tangan yang bentuknya berbeda setiap masa menurut usia. 
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tanda tangan bagai lambang nama yang ditulis dengan tangan oleh orang itu sendiri sebagai penanda pribadi. Tanda tangan yang bersifat manual memerlukan kertas dan polpen yang digoreskan di kertas dokumen sebagai bukti yang memiliki jaminan hukum yang kuat. 

Semakin berkembangnya tehnologi menciptakan dua dunia, dunia nyata dan dunia maya. Semakin majunya tehnologi menciptakan banyak kemudahan terutama semakin berkembang potensi e-commerce, semua begitu mudah, tinggal bertransaksi secara online, beres.  

Apalagi saya sebagai blogger, sering melakukan kerjasama transaksi online dengan pemberi jasa dan melakukan invoice yang diserta tanda tangan saya. Tanda tangan yang saya foto terlebih dahulu, lalu dipindai. Untuk keabsahan sih, menurut saya sah-sah saja, namun kekuatan hukumnya relatif lemah karena kurang menjamin, bisa saja diubah pihak lain karena tidak ada data pendukung dari tanda tangan yang saya pindai tersebut.

Menjawab keraguan saya dalam bertransaksi elektronik tadi, alhamdulillah ada solusi baru yang sedang disosialisasi pada masyarakat khususnya lembaga Pemerintahan dan Swasta oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika, tentang tanda tangan digital dalam transaksi elektronik.
Event dilaksanakan di Hotel Bidakara Jalan .Jend. Gatot Subroto Kav. 71-73, Pancoran, RT.8/RW.8, Menteng Dalam, Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12870( Kamis, 8 Desember 2016)
Acara  dimulai pukul 09.00-17.00 WIB, registrasi dimulai sejak pukul 08.00. Saya memdapat nomor peserta 690. Wooww...pesertanya 1.000 orang lebih.

Dua dunia masa kini semakin banyak tantangan.

Menurut  Bapak Rifi Arif Gunawan, Kasubdit Tehnologi dan keamanan Kementerian Kominfo, manusia masa kini menghadapi dua dunia, nyata dan dunia maya.
Dunia nyata dalam melakukan transaksi lebih mudah dibanding dunia maya karena masing-masing pihak bertatap muka secara langsung, dapat dibuktikan dan melakukan transaksi dengan dokumen kertas. Kekuatan hukum di dasarkan pada sistem legal dan Indentitas langsung (e-KTP).
Sedangkan untuk dunia maya(cyber word) tidak dapat dibuktikan keberadaannya secara fiksi/langsung/virtual...rada rada susah, untuk menjamin bener atau nggak orang yang bertransaksi.

Dalam hal  bertransaksi ekonomi, dunia nyata lebih memiliki jaminan hukum karena mempergunakan tanda tangan basah yang melekatkan sebagai ciri individu pada media kertas sehingga kertas memiliki jaminan hukum sebagai bukti.
Berbeda dengan transaksi di dunia maya, bisa saja tanda tangan yang dipindai kemudian diubah pihak lain, sehingga untuk memberikan jaminan hukum, perlu mengunakan tanda tangan elektronik bersertifikat. 

Mengapa perlu tanda tangan elektronik?
karena intensitasnya dapat dipercaya secara Nasional dan terjamin keamanannya.

Apakah tanda tangan digital sah secara hukum? 
Pasti rata-rata pertanyaan pertama yang akan diajukan masyarakat. 

Menurut Bapak Hendri Sasmita, Bagian  Hukum dan kerjasama Kementrian Kominfo, landasan hukum tanda tangan elektronik dua dasar hukum.
Dasar hukum 
● UU ITE no 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
● Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggara Sistem dan transaksi Elektronik (PP PDTE)
Perlu diketahui, tidak semua dokumen bisa dilakukan dengan tanda tangan elektronik contohnya, dokumen tertulis seperti Akta, Kartu Keluarga, Surat wasiat, sertifikat harta, harus melalui akta notamil yang dibuat oleh pejabat pembuat akta. 

Apa itu tanda tangan elektronik, sertifikasi elektronik dan badan penyelenggara serifikat elektronik?  
Hayuk;ah kita terlebih dahulu mengetahui defenisi masing masing.

Tanda tangan elektronik adalah tanda tangan yang terdiri atas informasi elektronik yang dilekatkan, terasosiasi atau terkait dengan informasi elektronik lainnya yang digunakan sebagai alat verifikasi dan autentikasi. 

Sertifikasi elektronik adalah sertifikasi yang bersifat elektronik yang memuat tanda tanga elektronik dan indentitas yang menunjukan status subjek hukum para pihak dalam transaksi elektronik yang dikeluarkan penyelenggara sertifikat elektronik 
Sertifikat digital ini memberi informasi tentang indentitas dari suatu entitas serta informasi lainnya 
Sertifikat digital diterbitkan oleh Certicate Authority (CA) 
Cericate Authority menjamin validitas informasi. Sertifikat digital berisi kunci publik, yang  telah didaftarkan dan ditandatangani oleh CA.

Penyelenggara Sertifikat Elektronik (PSrE) adalah badan hukum yang berfungsi sebagai pihak yang layak dipercaya, yang memberikan dan mengaudit sertifikat Penanda tangan adalah subjek hukum yang terasosiasikan atau terkait dengan tanda tangan elektronik. 
■CA merupakan Otorita TRusred third party yang menjamin kebenaran indentitas pemilik tanda tangan elektronik bersetifikasi.
Publik key Sivion merupakan kepanjangan tangan dari CS yang memiliki tugas melakukan verifikasi terhadap calon pemegang sertifikat dan memiliki perjanjian khusus dengan CA.
Publik key Sivion merupakan solusi bagi yang menerbitkan sertifikat elektronik namun tidak ingin membangun CS sendiri. 

Tanda tangan elektronik memiliki kekuatan dan akibat hukum yang sah. Syarat; 
  1. Data pembuatan TTE terkait hanya kepada penanda tangan; 
  2. Data pembuatan TTE pada saat proses penandatanganan elektronik hanya berada dalam kuasa penanda tangan. 
  3. Segala perubahan terhadap TTE yang terjadi setelah waktu penandarangan dapat diketahui
  4. Segala perubahan terhadap informasi elektronik yang terkait dengan tanda tangan elektronik tersebut setelah waktu penandatangan dapat diketahui 
  5. Terdapat cara tertentu yang dipakai untuk mengindentifikasi siapa penandatangannya. 
  6. Terdapat cara tertentu untuk menunjukkan bahwa tanda telah memberikan persetujuan terhadap informasi elektronik yang terkait.
Fungsi Tanda Tangan Elektronik
Fungsi sebagai alat autentikasi dan verifikasi 
○ Indentifikasi penandatangan 
○ Keutuhan dan keaslian sebuah informasi elektronik. 

Tanda tangan elektronik sebagai persetujuan penandatangan atas informasi atau dokumen elektronik 
*dokumen elektronik adalah setiap informasi elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirimkan, diterima, atau disimpan dalam bentuk digital elektromagnetik, optikal atau sejenisnya yang dapat dilihat, ditampilkan dan atau didengar melalui komputer atau sistem elektronik.

Jenis Tanda Tangan Elektronik 
A. Tersertifikasi 
  • Dibuat dengan mengunakan jasa Penyelenggara Sertifikasi Elektronik/PSrE 
  • Tehnologi IKP/Publik Key Infrastructure 
  • Dapat menjaga dan membuktikan nir sangkal dan integritas data, dibuktikan dengan sertifikat elektronik 
B. Tidak tersetifikasi
  • Dibuat tanpa certification authority
  • Kekuatan pembuktian nir sangkal lemah.
  • Tidak mendukung keutuhan integrasi.
  • Tanda tangan di tablet, scan, dipindai. Tanda tangan elektronik yang tidak tersertifikasi tetap mempunyai kekuatan nilai pembuktian meskipun relatif lemah karena masih dapat ditampil yang bersangkutan atau relatif dapat dengan mudah diubah pihak lain. 
Peran Kementerian Komunikasi dan Informatika 
■ Menyusun regulasi implementasi tanda tangan elektronik, termasuk menyusun standar dan prosedur Penyelenggara Sertifikat Elektronik berinduk; 
■ Pembangunan dan Pengembangan PSrE induk 
■ Pengawasan PSrE 
■ Memdorong implementasi  tanda tangan Elektronik pada Instansi pemerintah dan swasta 




Untuk mendapatkan tanda tangan bersertifikat, lakukan langkah sebagi berikut.
Ingat, Wajib meliki NIK (Nomor ID di KTP) dan e-mail.


  1. Peserta melakukan registrasi secara online dengan membuka aplikasi brower, ketik alamat https://rakominfo.rootca.or.id/ apabila belum memiliki akun pada laman, klik daftar pada laman tersebut.
  2. Pendaftran, lakukan pemgisin dengan memasukkan NIK, nama lengkap, email yang digunakan. Contreng: saya buka robot.
  3. Kembali ke laman untuk login
  4. Peserta antri untuk registrasi kembali dan mendapatkan email berupa user name dan pasword.
  5. Masuk kembali pada halama yang disediakan https://rakominfo.rootca.or.id/


Hal yang perlu diperhatikan. 
□ Waktu mengunduh sertifikat tidak diberbolehkan menggunakan download manager seperti IDM, FDM, Down ThemAll, dll 
□ Browser yang digunakan sangat disarankan Mozilla Firefox dan Chrome Termutakhir
 □ Internet lambat atau koneksi internet putus dapat mengakibatkan download gagal

Masih bingung?
Langsung saja kontak email support@sivion.id 
Panduan sertifikat digital dapat diunduh di http://www.siviob.id/downloads/sivionManual.pdf



Nara sumber Gildas Geograt, Praktisi Keamanan Informasi, MARSHAL Pribadi , Riki Arif Gunawan Kasubdit Tehnologi dan Keamanan Informasi, Henry Sasmita Bag Hukum Kemenkominfo.
Blogger pun tak mau kalah, kudu punya tanda tangan digital juga


Antrian registrasi Tanda tangan digital....


Petugas yang siap melayani  peserta regstrasi



Tuesday, November 22, 2016

Mewujudkan Mimpi di #UsiaCantik Tak ada Kata Terlambat.



Life began at the age of 40 years

Pepatah orang Cina itu benar adanya, karena saya memulai dari usia tersebut.

Bagi saya, letak kematangan kecantikan baik jiwa dan raga dimulai di usia 40 tahun. 
Cantik masa muda merupakan sebuah kecelakaan dalam kecantikan. Kok bisa?

Friday, November 18, 2016

Seribu Nuansa Satu Indonesia | Pameran Kain Tradisional Nusantara 2016.

Irama musik talempong, rentak khas musik Minang Kabau mengawali acara sebagai tanda ucapan selamat datang dan salam hormat kepada para tamu undangan.  Penari tari Pasambahan berbalut keagungan warna keemasan, berpadu merah , gemulai rancak, membuat suasana terasa membangkitkan jiwa, bangganya menjadi orang Indonesia. Sirih pinang dalam carona dipersembahkan pada tamu sebagai tanda penghormatan. 

Museum Nasional  siap menggelar Pameran Kain Tradisional Nusantara pada 14-20 November 2016 di ruang Pameran Temporer B.
Pameran tahun ini adalah yang ke 6 merupakan hasil kerja sama dengan sejumlah museum provinsi di Indonesia yang telah diselenggarakan sebelumnya di Museum Provinsi Bali (2007), Museum Provinsi Lampung "Ruwai Jurai"(2012), Museum Provinsi  Jawa Tengah Ronggowarsito(2013), Museum Provinsi Jawa Timur Mpu Tantular(2014) dan Museum Sumatera Barat Adityawarman(2015)


Friday, November 11, 2016

Jalabria, Tengahe Bolong

Sebenarnya, rada gimana gitu, denger teriakkan penjual kue yang lewat di depan rumah orang tua saya di kampung, ds Cikalahang.

Jalabeeeriiaaa,  teengahh'e boolllooonng.

Alahmak, aneh dengernya.

Wednesday, November 9, 2016

Ealahhh, Ternyata Namanya Caraisi



Kenangan di Manado

Pesawat sebentar lagi akan mendarat. Saya tertekun tiada henti memandang panorama tanah Sulawesi Utara dari atas udara. Garis pantai berwarna menawan. Gradasi biru berganti hijau menghias bibir sepanjang pulau, Masya Allah, indah sekali. Perjalanan selama dua jam penerbangan terbayar lunas.