Wednesday, January 15, 2020

Buah Wani Khas Bali, Bagus untuk Pencernaan

Baru empat hari di Bali, saya kesulitan untuk BAB.
Ah...apakah ini bertanda belum krasan tinggal di Bali. Perut rasanya nggak enak sekali, serba salah, resah dan gelisah (mirip lagu Obie Mesakh aja...)
Mau beli buah dan sayuran untuk melancar pencernaan, tapi saya belum tau, dimana letak Pasar di Kuta.
Kebetulan sekali, pagi-pagi tetangga sebelah mengajak belanja, langsung saya semangat: okeh siap!

Sampai di Pasar tradisional Kuta, masuklah, hmmm...pasar Kuta inu  belum ada renovasi. Becek dan gelap. Apalagi Bali beberapa hari selalu hujan...komplitlah aroma di dalam pasar.

Melewati deretan pedagangan. Saya tertarik dengan tumpukkan buah
"Ini terong belanda ya. Kok di Bali ada juga ya?"

"Bukaaan, Bu. Ini buah Wani." Jawab pedagangannya.

Saya rada terheran, baru mendengaran ada buah namanya wani.
Aihhh,  wani, kalo dalan bahasa Melayu dan Sunda, Wani sama artinya Berani.
Radar keingin tau saya langsung antusian, untung ibu pedagang juga antusias. Sebelumnya nanya ke saya, orang dan datang dari mana.
Bogor buuu, bogor.
Langsung pedagang begitu antusias.

Buah Wani
adalah buah lokal khas Bali.
Lagi-lagi saya takjud, bentuknya seperti terong belanda, setelah diamati lebih dekat, buah wani mendekati buah mangga
.
Buah wani masih kerabat (sepupu kaliii) dengan buah mangga. Ibu pedagang menunjukkan daging buahnya berwarna putih.
"Ini bisa juga namanya Mangga Putih, coba Bu. Rasanya manis ada asamnya sedikit."

Mau nyoba tapi pasar kok baubya apek begini, jadi saya tak mencoba, nanti di rumah saja. Belilah dua biji Rp 10.000. Karena baru nyoba, sekilo cuman Rp 18.000,-

Buah Wani  dalam bahasa latin mangifera Caesia, memiliki banyak varian: Wani tembang, Madu dan yang paling disukai wani Ngumje karena hampir tak memiliki biji.
Sepanjang perjalanan pulang, tetangga banyak bercerita, sebagai boncenger, saya jadi pendengar setia.
Kata tetangga saya, dia kurang suka rasanya.
Saya belum bisa bilang suka atau tidak, karena baru lihat hari ini, mencicipinya juga belum.

Buah Wani mulai berbunga dari bulan Juni sampai Desember.  Matang sekitar September sampai Maret.
Beruntung sekali saya datang bulan Januari, masih ada panen buah Wani.
Dalam perhitungan kalender Bali, buah wani panen saat angin berhembus kencang atau sasih Keulu.
Saat itulah, banyak masyarakat terutama bocah akan duduk di bawah pohon menunggu buah jatuh. Tak perlu diperam, langsung dimakan...tapi sekarang buah wani tak wanieun(berani) lagi, tak  jatuh alami, tapindipetuk setengah matang dan diperam.
.
Pohon Wani sama dengan pohon mangga pada umumnya, pohonnya tinggi berdaun lebat.
Saat panen, umumnya orang Bali menyewa tukang Pene. Bahasa Bali dengan Jawa hampir sama ya, Pene itu kan artikan naik.
Jadi tukang Pene adalah orang yang mempunyai keahlian memanjat pohon tinggi.
Selain tukang pene, buah wani dijual dengan cara borongan satu pohon. Pemborong itu namanya Tukang Pajeg, biasanya bekerja sama dengan tukan Pene tadi. Pemilik pohon tinggal tau beres, deal, terima uang.

Saking penasaran dengan rasa buah Wani. Saya langsung  mengupas buah Wani. kata orang buah ini mirip Mangga,setelah saya makan buah wani,  malah lebih mirip, rasanya. ke buah kemang (binjai), daging buahnya lembut  dan berserat. Rasanya manis(apa kebetulan ya) asamnya cuman dikit, ini kalo saya kasih level: enakkķkkkk.. suer, saya suka!
.
Berapa jam kemudian, saya mules (ini yang saya tunggu).
Alhamdulilah, buah Wani bermanfaat untuk pencernaan. Cukup ampuh karena banyak serat.
Terbukti...hati dan perut saya merasa plong deh!

Penasaran kan dengan Buah lokal khas Bali? Hayuklah kemari, mumpung lagi musim.
Buah wani cocok juga dijadikan oleh-oleh dari Bali selain buah salah dan anggur Bali.

Sekian dulu sampe jumpa cerita lain, selama saya tinggal di Bali

Salam dari yang sedang bahagia.
-een endah-

Nganyut Sekah ke Segara

Perempuan berbaju adat Bali, kebaya brokat putih dan kamen (kain jarik) khas corak bali, bulang pasang atau selendang  berwarna merah diikat di pinggang semacam kemben
Manis sekali terlihat dengan sanggul kecil. Para pria pun memakai baju putih, kamen, dan udeng.

Saya pikir ada ngaben di tepian pantai Kuta.
Terlihat deretan sajen sudah dipersiapkan.
Pedanda (sebutan pendeta Hindu Bali) pun duduk tenang di atas panggung kecil semacam altar.
Menunggu matahari tenggelam.

Penasaran dari pada salah, saya bertanya pada seorang perempuan berkebaya, yang sama sibuknya seperti saya foto-foto matahari tenggelam, ia menjelaskan.
"Ini upacara nyekah, Bu."

Nyekah
Proses ritual nyekah, adalah proses lanjutan ketika tadi pagi sudah dilaksanakan ngaben pada keluarga yang meninggal dunia.

Sebelum diaben, jenasah dikubur dahulu sampe menunggu dana cukup untuk melaksanakan ngaben.
Umumnya, jenasah sebelum diaben akan dikubur, dan keluarga datang untuk nyekar sembari berdoa dan menabur bunga.

Jika dana dan waktu cukup, maka dilaksanakan ngaben dan dilanjutkan dengan nyekah(nyekar)
Abu atau arang jenazah dikumpulan, atma telah disucikan akan segera dilarung ke lautan...sebagai bentuk simbolik suci sungai Gangga.
.
Suara gamelan dan lantunan doa, denting lonceng dari tangan pedanda, rombongan keluarga segera menghanyutkan sekah ke segara.
Atma suci didoakan akan diterima Hyang Yang Widi.
dan kelak akan lahir kembali(reinkarnasi) di dunia ini menjadi wujud yang baik.
Semua baik dan buruk tergantung amal perbuatan manusia itu ketika hidup.
Semoga saja pada kelahiran kedua nanti, Menjadi Pedanda yang sulinggi, memiliki kedudukan yang tinggi(linggih) yang baik(su), awalnya menjadi manusia biasa dan terlahir menjadi Brahmana(rohaniawan)
.
Sore di tepi Pantai Kuta hari ini, ada saja cerita mewarnainya
Sayapun bergegas pulang ke rumah untuk melaksanakan sholat Magrib.

Pulau Dewata yang penuh pesona.
Agama, budaya, panorama alam yang indah dan menyatu sempurna.
Masya Allah.
.
Saya tinggal dulubya.
Yukkk mari

Monday, January 13, 2020

Bali dalam Cerita

Karena ada prediksi cuaca ektrim tanggal 11 sampai tanggal 13 Januari 2020.
Anak saya sudah wanti-wanti agar berangkat ke airport Soeta lebih pagi, takut hujan pasti macet.
.
Terakhir naik Damri Bogor - Soeta 4 bulan yang lalu, tiket damri bus biasa Rp 55.000,- sekarang sudah  naik jadi Rp. 70.000,- 
Ya sudahlah, yang penting sampai tujuan.
Perjalanan lancar, cuaca terang benderang. Alhamdulilah.
.
Karena kapok bayar bagasi lebih 12 kg,  sebesar satu juta lebih (naik Air Asia bagasi 10 kg) tempo hari.
Sekarang saya naik Citylink dengan bagasi 20 kg. Itupun sedikit was-was kalo kelebihan lagi. Saran saya selalu bawa tas untuk persiapan.
Bener juga, lebih dua kilo, langsung saya bongkar muatan, taruh ke tas ransel untuk ke kabin. Alhamdulilah bawaan aman.
PenerbanganJakarta-Bali lancar walau di udara, ada sedikit awan jelek yang bikin deg-degan.
.
Bali sangat cerah 31° beda sekali dengan kota Bogor yang mendung sepanjang hari.
Ada yang nggak saya suka, naik Transportasi Bali airport, mahal.
Masa Bandara Ngurah Rai ke jalan Kubu Anyar dikenai Rp 150.000,- tidak pakai argo. Empat bulan yang lalu masih Rp 100.000,- mobilnya juga biasa nggak ada stiker atau semacam taxi.
Di samping dua both tranport line, sekarang ada both khusus Grab.
Tak mikir murah, ternyata tarifnya beda, karena masuk ke bandara, Rp 119.000,-
Sudahlah pesan grab, ealah...10 menit nunggu mobilnya datang bukannya seperti yang saya kira, mobilnya stanby. Artinya beda dikit dengan taxi line.
.

Jarak bandara rumah cuman 10 menit
Baru di depan pintu kamar, lihat keadaa  kamar kos yang kotor, maklum kosong selama 4 bulan. Saya nggak nyapa tetangga, langsung bebersih...Napa juga dapur kotor begini, ternyata malam hari Bali hujan deras disertai angin kencang. Dapur terbuka pun tempias , kena percikan air hujam. Juga kurang talang untuk mengucurkan air.
Kalo di Bali, saya tidak mengenal tukang, ah biarlah tinggal cuman 3 minggu ini.
Lagi-lagi saya harus bebersih, piuhhh kamar kecil menguras tenaga pula. Baru setengah hari  sudah kangen rumah Bogor, jujur, saya belum benar-benar krasan di pulau Dewata ini.
.
Bali sekarajg turisnya babyak dari Cina dan India, sebagian orang timur tengah.
Dulu sebelum DJ cafe dibongkar, hanya perlu 5 menit ke pantai Kuta. sekarang ditutup pintunya, harus mutar ke pantai..Lebih baik di rumah aja.
panaassss.

By dulu ya cyinnn

Wednesday, November 13, 2019

Bluder Gulung Bika Bogor Tallubi

Hendaklah kalian saling memberi hadiah. 
Niscaya kalian akan saling mencintai.
(HR. Abu Ya'la)

Untuk dicintai baik dari pasangan, anak, tetangga...atau siapa saja yang kita kenal, sangatlah mudah. Berilah hadiah, memberi sebagai  tanda kita memberikan waktu dan ingat pada mereka
Saat memberi, saya tak berharap imbalan, cukup sesuatu yang  paling sederhana; senyum lebar dan rasa gembira...itu rasanya luar biasa
"Gimana rasanya, enak?" tanya saya setelah memotong dan membagikan roti.
.
Hening.
.
Bikin was-was aja.
Semua sibuk mengunyah. 
"Enakkk, Buuu," jawabnya serentak. Aih, kompak sekali.
Mendengar jawaban itu, senyum saya semakin lebar, merasa puas.
Saat hujan turun, riuh bahagia terasa hanya karena sepotong roti yang datang tiba-tiba (rezekiii.nggak akan lari kemana). 




Jatuhnya air hujan, berbunyi keras menimpa atap seng, warung sederhana milik tetangga. Irama alam...Saya suka suasana begini, bahagia tanpa kepura-puraan.

Sunday, March 24, 2019

Aksi Nutrisi Generasi Maju SGM Eksplor


Bertahun yang lampau.
Een kecil, anak kelas satu sekolah dasar di tahun 1977, berperawakan kurus berkulit hitam (manisss) merasakan gugup luar biasa, setiap mendengar panggilan Bapak untuk makan siang bersamanya. 

Di ruang makan belakang, Bapak duduk di kursi tengah meja makan, sosoknya terlihat tinggi besar dan sangat pendiam. Sebenarnya bapak bukan bapak pemarah, tapi sosoknya sangat kami segani. 
Makan bersama kala itu, sebuah siksaan, karena dipastikan, disuruh makan 'sayur'. Itulah, alasan saya menghindar, makanya sebelum makan siang, saya sudah makan duluan. Begitu pula ke tiga saudara saya. Kesiaaan Bapak, makan sendirian, (oh...maafkan Een ya, Bapak) Mama biasanya mondar-mandir menyuguhkan makanan dan sibuk pula berbisnis. 

Itulah gambaran saya tentang makanan dan meja makan...rada gimana gitu. Beda dengan sekarang, bahwa makan bersama di meja makan itu baik untuk membangun karakter anak melalui saling bercerita atau berkomunikasi lancar dan sopan.

Untunglah, sejak kecil, saya paling suka minum susu dan buah, jadi saya bisa tumbuh ke atas, bukan kesamping dan berhasil mencapai cita-cita, walau nutrisi tak bisa terukur. 
Hingga kini saya masih berucap syukur Alhamdulillah, Mama Bapak walau hidup tak berkecukupan masih bisa memberikan nutrisi lengkap dan seimbang sebagai modal membangun kecerdasan, menunjang prestasi di sekolah saya hingga saya berhasil sampai perguruan tinggi.
Sejak SMA saya bisa mengubah pola makan dengan berusaha menyukai sayuran, berawal dari sayur singkong tumbuk butan Mama, mulailah saya sadar, sayur itu enak...enakkk dan sehat lagi bergizi.

Saya berasal dari anak generasi masa lampau, beda generasi dan pola asuh, beda cerita.
Wajarlah, kini, saya sebagai ibu, ingin memberikan yang terbaik untuk anak anak sebagai generasi masa depan.

Alangkah bahagianya melihat mereka, anak Indonesia menari dan menyanyi riang
Aku bisa mencapai cita cita  setinggi langit.
Kejar mimpi tanpa berhenti.
Percaya semua akan terjadi.
Aku bisa jadi apa saja,
setinggi langit yang tak ada batasnya

Kutipan syair lagu  mini performen sebagai pembuka acara Media dan Blogger Gathering SGM Eksplor dalam aksi sosial mendukung Aksi Nutrisi Generasi Maju
Rabu, 20 Maret 2019, di Hotel Hermitage , Menteng Jakarta Pusat.

Jujur, ketika di undang acara ini, saya rada ragu karena SGM Eksplor yang diproduksi dari PT. Sari Husada, terkenal memproduksi berberbagai produksi nutrisi untuk Ibu hamil, menyusui dan anak.
Saya tidak sedang hamil, apalagi menyusui, apalagi anak tunggal saya sudah tergolong dewasa 27 tahun, jadi apa saya salah undang, bertanya pada diri sendiri.



Ternyata, acara ini merupakan acara ajakan untuk mendukung aksi sosial SGM Ekplor Aksi Nutrisi generasi maju.
Dan nara sumber yang hadir, banyak memberi tambahan ilmu bagi saya, yang nanti, ilmu ini akan saya bagikan kepada mamá Mama muda di lingkungan saya.

Saturday, January 5, 2019

Ketika Kemalasan Menulis Melanda

Terus mau bilang apa.
duduk berlama-lama di depan laptop, tak jua menemukan rasa
.
Malas memang terlalu.
atau bisa dikatakan bosan
Baiklah
beri saya waktu
mengumpulkan sisa semangat dan memulai di tahun baru 2019.
Doakan ya


Friday, October 26, 2018

Dua Varian Baru Bika Bogor Talubi, BOSTON BROWNIES

Buuu...siapa yang suka ketan item? Cung!
.
.
.
Satu, dua, tiga, seratus, seratus sembilan sembilan, seribu.
Wiih, banyak juga pengemar ketan item (hitam).
Kita sama ya, Bu, pengemar aliran kue tradisional.  Apalagi kalau memakai bahan utamanya Ketam hitam, Ya Allah,  aroma ketan hitam  khas bangettt.
Ketam hitam dicampur bahan apapun, wangi khas ketan itemnya masih kerasa. Wangi akan terasa ngeboom di udara dan lidah, kalo ketan hitam dipadu dengan daun pandan, Masya Allah, dua wangi berasal dari alam menyatu sempurna, saya suka aromanya...sungguh! tak ada duanya.

Menjawab kegemaran orang-orang Indonesia pada kue tradisional.