Friday, October 26, 2018

Dua Varian Baru Bika Bogor Talubi, BOSTON BROWNIES

Buuu...siapa yang suka ketan item? Cung!
.
.
.
Satu, dua, tiga, seratus, seratus sembilan sembilan, seribu.
Wiih, banyak juga pengemar ketan item (hitam).
Kita sama ya, Bu, pengemar aliran kue tradisional.  Apalagi kalau memakai bahan utamanya Ketam hitam, Ya Allah,  aroma ketan hitam  khas bangettt.
Ketam hitam dicampur bahan apapun, wangi khas ketan itemnya masih kerasa. Wangi akan terasa ngeboom di udara dan lidah, kalo ketan hitam dipadu dengan daun pandan, Masya Allah, dua wangi berasal dari alam menyatu sempurna, saya suka aromanya...sungguh! tak ada duanya.

Menjawab kegemaran orang-orang Indonesia pada kue tradisional.

Wednesday, October 17, 2018

Cerahkan Wajah Cantikmu Dengan Gizi Essential White With Temulawak | Review

Haiii, kawan, sahabat perempuan.
Salam Takzim: Assalamu 'alaikum.

Saya perlu beberapa waktu untuk menuliskan pengalaman mengunakan produk perawatan wajah Gizi Essential White with Temulawak series, karena menunggu hasil nyata selama 14 hari lebih.
Jujur, sebenarnya saya sudah mengenal lama produk ini. Seingat saya, produk yang bernama Gixi Cosmetics cukup ngehit waktu itu, semasa saya Sekolah Menengah Pertama tahun 1984 di Palangka Raya Kalimantan Tengah (huhuhu, angkatan tuaaaa)

Wednesday, October 10, 2018

Taman Kita OREO, Arena Seru Kebersamaan Keluarga Indonesia

Peresmian Taman Kita OREO
I love Bogor, selamat atas peresmian Taman Kita OREO
Satu lagi taman hadir di kota Bogor yang berlokasi di Taman Heulang, Bogor, Jawa Barat.

"Bogor kota sejuta taman, karena taman adalah oksigen jiwa, karakter warga yang suka berkumpul, selalu bersama.
Dengan adanya taman, diharapkan warga tidak selalu pergi mall saja,  tapi warga bermain di taman, lebih murah meriah. 

Di Taman kita bisa saling bergandengan, berpelukan dengan pasangan dalam kehangatan. 
Taman bukan untuk mempercantik kota tapi untuk bersamaan kita. Makanya dinamakan Taman Kita OREO," tutur Bapak Bima Arya, Walikota Bogor saat peresmian Taman Kita OREO (30 September 2018)

Friday, September 7, 2018

Blogger Gathering with SIS Bona Vista

Pernah suatu ketika saya berkunjung ke rumah kakak perempuan. 
Disudut ruangan, cucunya asik menonton You tube. Tak bergerak, matapun tak berkedip memandang handphone. 

Tiba-tiba, si cucu menangis kencang. 
Kontan saya panik 
"Kenapa dia, Da ?" tanya saya pada kakak, heran juga kakak saya malah lempeng tak sepanik saya. "Biasalah...dia menangis, gara-gara filmnya kepotong iklan." 
Aihhhhhh....kid jaman now, begitu ya, baru juga 2 tahun. Ampun deh. 
Kok nggak dilarang, tanya saya lagi.
"Susaahhh, dilarang aku, Maminya membolehkan. Ujungnya, aku malah nggak ditegur Maminya."

Hmmm, dilema Mertua dan Menantu, juga harap maklum saja, saya ini, mamak produk jaman dulu, anak tunggal sayapun lahir ditahun 1992, belum kenal hape. Taunya main sepeda ke pada ilanglang cari buah mesisin. Sampai rumah, baju dekil, badan bau matahari, lidah berwarna unggu, warna buah hutan. Makanya, terus terang menghadapi anak jaman sekarang dengan serbuan digital yang maha dasyat, Amih bingung...(cucu saya memanggil saya dengan amih/nenek), perlu ilmu untuk menghadapi anak era digital macam cucu saya ini. 

Qodarullah

Saya diundang Blogger Perempuan dalam acara Blogger Gathering with SIS Bona vista, yang menghadirkan Pysikolog Elizabeth T Santoso(31/8)


Tuesday, July 31, 2018

Rekor Dunia MURI Lomba Food Plating Lapis Bogor Sangkuriang varian Kopi Susu

Sabtu kemarin, 28 Juli 2019 masih dalam acara memperingati Hari Krida Pertani di GOR Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor.

Terus terang ini pertama kali saya ke stadion yang baru diresmikan dua tahun lalu.
Biasanya cuman lihat atap stasion yang berbentuk bundar, setiap melintas di jalan Tol Jagorawi. Alhamdulilah, hari ini bisa sowan kemari.
.
Ngapain coba?
Panas cetar membahana kemari.
Semua, demi memeriahkan Grand launching varian baru Lapis Bogor Sangkuriang rasa kopi susu.

Saturday, June 9, 2018

Pesona Wisata Sejarah, Cagar Budaya Komplek Candi Arjuna Dieng

Komplek Candi Arjuna, Dieng Plateau

Bunga kecubung  berwarna kuning, tumbuh subur di pinggir jalan utama menuju komplek Candi Arjuna.
Angel's Trumpet

Entah apa nama bunga lainnya, semua cantik di kelilingi tarian kupu-kupu.


Ungu nan mewah, Agapanthus

Bunga Bokor, orang bilang Panca warna

Daisy
Saat melihat kupu-kupu terbang mendekati bunga.
Saya teringat kata orang bijak, bunga dan kupu-kupu.
jika ingin memelihara kupu-kupu, janganlah kau tangkap kupu-kupu, maka ia akan lari menjauh.
Tapi, tanamlah bunga, kupu-kupu akan datang sendiri  mengembangkan sayap indahnya,  bahkan membawa kawanan lainnya, capung, lebah menambah warna warni keindahan.
Bunga-bunga, sayur mayur disepanjang jalan itu tentu tak tumbuh sendiri,  pasti ditanam, dirawat dan tumbuh subur di udara Dieng yang sejuk

Selain terpesona dengan beragam kecantikan bunga, saya pun terpana bengong, nggak pake ngangga, ya Chin...

Sumpah! 
Baru pertama kalinya melihat tanaman kentang, receh banget arti bahagia saya.
Kalian udah pernah lihat tanaman kentang? 
Ngaku.
Hayo, pasti cuman umbi kentang saja yang tau?

Ya Allah, cupunya diriku ini, sampai tanaman kentang pun tak tau. 
Di Dataran tinggi Dieng, cuacanya yang dingin sangat cocok untuk pertanian Kentang. Ratusan bibit muda tumbuh di antara lubang plastik dipasang terbentang dari ujung ke ujung. Plastik itu berguna agar tak tumbuh gulma.
(Baca : Dua Jenis Kentang Dieng )

Angin dingin terasa menampar wajah saya yang masih lelah, belum mandi dan gosok gigi, komplit nian rasanya.
Rasa yang ada itu sirna dan berseri kembali, melihat rombongan bocah Taman Kanak kanak berparade melintasi kami.


Bocah perempuan memakai kebaya dan sanggul cempol, dandannya medok sekali,  bergincu merah. Bocah laki-laki memakai pakaian tradisional Jawa, blangkon berbaju beskap, tak sempat bertanya mau kemana, sibuk melihat polah mereka, yang kesulitan berjalanan terkendala lilitan jarik.
Rupanya hari ini, 21 April 2018, Hari Kartini, sampai saya lupa.

Gerbang Komplek Candi Arjuna.

Tak sulit menemukan lokasi Perkomplekan Candi Arjuna, secara geografis berada di dekat perbatasan Wilayah Kabupaten  Banjarnegara dengan Kabupaten Wonosono.Candi Arjuna terletak di desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur.

Di areal halaman depan, berderet toko oleh-oleh khas Dieng.
Untuk masuk ke Perkomplekan Candi Arjuna, kita membayar harga tiket masuk per orang untuk wisatawan domestik Rp 15.000,-  Wisatawan mancanegara Rp 30.000,-  per orang.

Memasuki Cagar Buda, komplek candi Arjuna, kita langsung ditawarkan panorama landcape yang indah. Lekuk perbukitan dataran tinggi Dieng berselimut kabut, di tengah bukit,  tulisan besar  : Dieng Plateau, Banjarnegara.

Halaman komplek  Candi Arjuna sangat luas sekita 1 hektar,  rumput dirawat dengan rapi, rupanya rombongan pawai Kartian tadi,  tujuan akhirnya di Komplek Candi Arjuna. Mereka membuka bekal makan dan minuman, piknik Kartinian. Senyum sendiri memperhatikan polah bocah, mengunyah roti sembari sibuk membetulkan letak kondenya.
Hunting foto, lupa sapa yang candid saya, cantikkk sekali
Sebagian pengunjung, sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Menikmati mentari dengan yoga,
Komplek Candi Arjuna, terdiri dari lima bangunan candi. Nama  sebenarnya dari candi ini, sejarah dan raja yang bertanggungjawab atas pembangunan candi tidak diketahui. Hal ini karena kelangkaan data dan prasasti. Penduduk kemudian menamakan setiap candi sesuai tokoh wayang Jawa, (epos Mahabrata)
Candi Arjuna sebagai candi utama,  ada empat candi bersebelahan. Candi Semar berhadapan langsung dengan candi utama. kemudian, berjajar berurutan; Candi Srikandi, Candi Sembadra dan Candi  Puntadewa.



Komplek Candi Arjuna adalah kelompok candi Hindu abad ke 7 Masehi.
Candi Arjuna berukuran hanya sebesar 4 m2 .  
Pada pintu masuk dihiasi oleh Kala Makara. ya dipercayai sebagai penjaga kesucian candi. Kala, artinya raksasan yang menakutkan, Makara berarti wujud binatang dongeng Hindu yang terdiri dari campuran berbagai wujud bentuk hewan: seperti gajah, buaya dan ikan, dikarenakan bentuk kala makara yang menakutkan itu, diharapkan dapat menangkal roh-roh jahat yang mencoba memasuki candi.

Keunikan Komplek Candi Arjuna, tidak terdapat hiasan arca seperti pada candi lainnya.
Candi Arjuna biasanya digunakan untuk pelaksanaan Galungan dan ruwatan anak gimbal.

Sayangnya, tour leader kami hanya memgantarkan ke lokasi  destinasi wisata saja, tak menjelaskan tempat yang kami kunjungi, dan umumnya peserta rombongan memang lebih suka hunting foto, (khususnya foto-foto selfie), memperhatikan arsitek kuno dan ada yang benar-benar piknik, duduk-duduk saja.

Hellowww, kita disini,.
Foto rada burem
Dua saudara dari empat saudara

Deretan pertokoan oleh-oleh di depan areal Perkomplekan Candi Arjuna


Sumber pendukung: From situsbudaya.com
Salam sayang dari kami di Dieng
-Een Endah=




































Friday, June 8, 2018

Batu Pandang Ratapan Angin, Melihat Maha Karya Negeri di Atas Awan

Batu Pandang Ratapan Angin. 

Tiba di homestay, langsung sholat dhuhur, mandi dan makan siang. 
Rombongan tour harus bersiap jam 13.00 menuju destinasi wisata yang sudah dijadwalkan. 
Cape banget rasanya, pengen tidur  karena efek obat anti mabuk masih terasa sampai sekarang. Nguantukkk sekali, kalau mengikuti hati, mau tidur aja. Tapi...ngapain kemari kalo cuman tidur. Dengan kekuatan tersisa, saya bangkit, mengumpulkan semangat.
Cayooooooo, berangkat. 

Dieng Plateau Teater 

Sambil menunggu tiket masuk seharga Rp 4.000, saya memperhatikan bangunan teather berdiri di lereng bukit Sikendil, sayang tak terurus.
Dieng Plateau Theater di resmikan mantan Presiden, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono tanggal 9 April 2006. 
Ruangan theater dapat menampung sekitar 100 orang. Film yang akan diputar tentang pesona alam Dataran Tinggi Dieng, sejarah, kondisi geografis, durasi film 23 menit.