Friday, September 7, 2018

Blogger Gathering with SIS Bona Vista

Pernah suatu ketika saya berkunjung ke rumah kakak perempuan. 
Disudut ruangan, cucunya asik menonton You tube. Tak bergerak, matapun tak berkedip memandang handphone. 

Tiba-tiba, si cucu menangis kencang. 
Kontan saya panik 
"Kenapa dia, Da ?" tanya saya pada kakak, heran juga kakak saya malah lempeng tak sepanik saya. "Biasalah...dia menangis, gara-gara filmnya kepotong iklan." 
Aihhhhhh....kid jaman now, begitu ya, baru juga 2 tahun. Ampun deh. 
Kok nggak dilarang, tanya saya lagi.
"Susaahhh, dilarang aku, Maminya membolehkan. Ujungnya, aku malah nggak ditegur Maminya."

Hmmm, dilema Mertua dan Menantu, juga harap maklum saja, saya ini, mamak produk jaman dulu, anak tunggal sayapun lahir ditahun 1992, belum kenal hape. Taunya main sepeda ke pada ilanglang cari buah mesisin. Sampai rumah, baju dekil, badan bau matahari, lidah berwarna unggu, warna buah hutan. Makanya, terus terang menghadapi anak jaman sekarang dengan serbuan digital yang maha dasyat, Amih bingung...(cucu saya memanggil saya dengan amih/nenek), perlu ilmu untuk menghadapi anak era digital macam cucu saya ini. 

Qodarullah

Saya diundang Blogger Perempuan dalam acara Blogger Gathering with SIS Bona vista, yang menghadirkan Pysikolog Elizabeth T Santoso(31/8)


Tuesday, July 31, 2018

Rekor Dunia MURI Lomba Food Plating Lapis Bogor Sangkuriang varian Kopi Susu

Sabtu kemarin, 28 Juli 2019 masih dalam acara memperingati Hari Krida Pertani di GOR Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor.

Terus terang ini pertama kali saya ke stadion yang baru diresmikan dua tahun lalu.
Biasanya cuman lihat atap stasion yang berbentuk bundar, setiap melintas di jalan Tol Jagorawi. Alhamdulilah, hari ini bisa sowan kemari.
.
Ngapain coba?
Panas cetar membahana kemari.
Semua, demi memeriahkan Grand launching varian baru Lapis Bogor Sangkuriang rasa kopi susu.

Saturday, June 9, 2018

Pesona Wisata Sejarah, Cagar Budaya Komplek Candi Arjuna Dieng

Komplek Candi Arjuna, Dieng Plateau

Bunga kecubung  berwarna kuning, tumbuh subur di pinggir jalan utama menuju komplek Candi Arjuna.
Angel's Trumpet

Entah apa nama bunga lainnya, semua cantik di kelilingi tarian kupu-kupu.


Ungu nan mewah, Agapanthus

Bunga Bokor, orang bilang Panca warna

Daisy
Saat melihat kupu-kupu terbang mendekati bunga.
Saya teringat kata orang bijak, bunga dan kupu-kupu.
jika ingin memelihara kupu-kupu, janganlah kau tangkap kupu-kupu, maka ia akan lari menjauh.
Tapi, tanamlah bunga, kupu-kupu akan datang sendiri  mengembangkan sayap indahnya,  bahkan membawa kawanan lainnya, capung, lebah menambah warna warni keindahan.
Bunga-bunga, sayur mayur disepanjang jalan itu tentu tak tumbuh sendiri,  pasti ditanam, dirawat dan tumbuh subur di udara Dieng yang sejuk

Selain terpesona dengan beragam kecantikan bunga, saya pun terpana bengong, nggak pake ngangga, ya Chin...

Sumpah! 
Baru pertama kalinya melihat tanaman kentang, receh banget arti bahagia saya.
Kalian udah pernah lihat tanaman kentang? 
Ngaku.
Hayo, pasti cuman umbi kentang saja yang tau?

Ya Allah, cupunya diriku ini, sampai tanaman kentang pun tak tau. 
Di Dataran tinggi Dieng, cuacanya yang dingin sangat cocok untuk pertanian Kentang. Ratusan bibit muda tumbuh di antara lubang plastik dipasang terbentang dari ujung ke ujung. Plastik itu berguna agar tak tumbuh gulma.
(Baca : Dua Jenis Kentang Dieng )

Angin dingin terasa menampar wajah saya yang masih lelah, belum mandi dan gosok gigi, komplit nian rasanya.
Rasa yang ada itu sirna dan berseri kembali, melihat rombongan bocah Taman Kanak kanak berparade melintasi kami.


Bocah perempuan memakai kebaya dan sanggul cempol, dandannya medok sekali,  bergincu merah. Bocah laki-laki memakai pakaian tradisional Jawa, blangkon berbaju beskap, tak sempat bertanya mau kemana, sibuk melihat polah mereka, yang kesulitan berjalanan terkendala lilitan jarik.
Rupanya hari ini, 21 April 2018, Hari Kartini, sampai saya lupa.

Gerbang Komplek Candi Arjuna.

Tak sulit menemukan lokasi Perkomplekan Candi Arjuna, secara geografis berada di dekat perbatasan Wilayah Kabupaten  Banjarnegara dengan Kabupaten Wonosono.Candi Arjuna terletak di desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur.

Di areal halaman depan, berderet toko oleh-oleh khas Dieng.
Untuk masuk ke Perkomplekan Candi Arjuna, kita membayar harga tiket masuk per orang untuk wisatawan domestik Rp 15.000,-  Wisatawan mancanegara Rp 30.000,-  per orang.

Memasuki Cagar Buda, komplek candi Arjuna, kita langsung ditawarkan panorama landcape yang indah. Lekuk perbukitan dataran tinggi Dieng berselimut kabut, di tengah bukit,  tulisan besar  : Dieng Plateau, Banjarnegara.

Halaman komplek  Candi Arjuna sangat luas sekita 1 hektar,  rumput dirawat dengan rapi, rupanya rombongan pawai Kartian tadi,  tujuan akhirnya di Komplek Candi Arjuna. Mereka membuka bekal makan dan minuman, piknik Kartinian. Senyum sendiri memperhatikan polah bocah, mengunyah roti sembari sibuk membetulkan letak kondenya.
Hunting foto, lupa sapa yang candid saya, cantikkk sekali
Sebagian pengunjung, sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Menikmati mentari dengan yoga,
Komplek Candi Arjuna, terdiri dari lima bangunan candi. Nama  sebenarnya dari candi ini, sejarah dan raja yang bertanggungjawab atas pembangunan candi tidak diketahui. Hal ini karena kelangkaan data dan prasasti. Penduduk kemudian menamakan setiap candi sesuai tokoh wayang Jawa, (epos Mahabrata)
Candi Arjuna sebagai candi utama,  ada empat candi bersebelahan. Candi Semar berhadapan langsung dengan candi utama. kemudian, berjajar berurutan; Candi Srikandi, Candi Sembadra dan Candi  Puntadewa.



Komplek Candi Arjuna adalah kelompok candi Hindu abad ke 7 Masehi.
Candi Arjuna berukuran hanya sebesar 4 m2 .  
Pada pintu masuk dihiasi oleh Kala Makara. ya dipercayai sebagai penjaga kesucian candi. Kala, artinya raksasan yang menakutkan, Makara berarti wujud binatang dongeng Hindu yang terdiri dari campuran berbagai wujud bentuk hewan: seperti gajah, buaya dan ikan, dikarenakan bentuk kala makara yang menakutkan itu, diharapkan dapat menangkal roh-roh jahat yang mencoba memasuki candi.

Keunikan Komplek Candi Arjuna, tidak terdapat hiasan arca seperti pada candi lainnya.
Candi Arjuna biasanya digunakan untuk pelaksanaan Galungan dan ruwatan anak gimbal.

Sayangnya, tour leader kami hanya memgantarkan ke lokasi  destinasi wisata saja, tak menjelaskan tempat yang kami kunjungi, dan umumnya peserta rombongan memang lebih suka hunting foto, (khususnya foto-foto selfie), memperhatikan arsitek kuno dan ada yang benar-benar piknik, duduk-duduk saja.

Hellowww, kita disini,.
Foto rada burem
Dua saudara dari empat saudara

Deretan pertokoan oleh-oleh di depan areal Perkomplekan Candi Arjuna


Sumber pendukung: From situsbudaya.com
Salam sayang dari kami di Dieng
-Een Endah=




































Friday, June 8, 2018

Batu Pandang Ratapan Angin, Melihat Maha Karya Negeri di Atas Awan

Batu Pandang Ratapan Angin. 

Tiba di homestay, langsung sholat dhuhur, mandi dan makan siang. 
Rombongan tour harus bersiap jam 13.00 menuju destinasi wisata yang sudah dijadwalkan. 
Cape banget rasanya, pengen tidur  karena efek obat anti mabuk masih terasa sampai sekarang. Nguantukkk sekali, kalau mengikuti hati, mau tidur aja. Tapi...ngapain kemari kalo cuman tidur. Dengan kekuatan tersisa, saya bangkit, mengumpulkan semangat.
Cayooooooo, berangkat. 

Dieng Plateau Teater 

Sambil menunggu tiket masuk seharga Rp 4.000, saya memperhatikan bangunan teather berdiri di lereng bukit Sikendil, sayang tak terurus.
Dieng Plateau Theater di resmikan mantan Presiden, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono tanggal 9 April 2006. 
Ruangan theater dapat menampung sekitar 100 orang. Film yang akan diputar tentang pesona alam Dataran Tinggi Dieng, sejarah, kondisi geografis, durasi film 23 menit.

Monday, June 4, 2018

Sensasi Kuliner Khas Dataran Tinggi Dieng

Perjalanan kami ke Dataran Tinggi Dieng di bulan April lalu (21/4)
Menempuh jarak 12 jam, rombongan kami mengawali hari dengan sarapan di Warung Selera Raja. 
Wih, namanya yang tak biasa.
Warung berada  di jalan masuk utama komplek Candi Arjuna, Dieng Kulon.

Udara pagi tak sedingin yang saya kira, cuaca hangat lebih tepatnya. Sebagai pengemar kuliner dari berbagai daerah di Nusantara, alhamdulilah, saya selalu suka mencoba makanan baru, yang penting halal.
Ragam makanan dan minuman di bumi Pertiwi ini membuat saya kagum, walau kulinernya antara satu dengan yang lain nggak jauh beda rasa dan bahan utamanya.

Oke deh, Trip to dieng Plateau, saatnya berburu makanan, ini nih yang membuat saya bersemangat, lupakan diet, pokoknya makan.
Beberapa kuliner khas Dieng tak langsung akrab di lidah, bukan berarti tidak suka atau tak enak, semua perlu proses, mencicipi, menikmati, mencari sensasi, kemudian mengila...alias doyan.


Mi Ongklok
Inilah mi yang saya idamkan sejak lama, penasaran bagaiman rupa dan rasanya. Dhilalah, mi ini menjadi sarapan pertama saya tiba di Dieng.

Friday, June 1, 2018

Memeluk Matahari di Bukit Sikunir

Golden Sunrise Sikunir
Jika tak ingat, 
betapa jauhnya aku melangkah. 
Aku akan berhenti di jalan terjal 
namun, aku terus mendaki 

Embun saja belum menyapa 
Aku berdiri memandangmu
Duhai ciptaan Illahi 

Gunung Sindoro

Sumbing
Merbabu 
Merapi

Ketika mentari datang menepati janji
Ingin kupeluk atas jerih payahku. .

Bukit Sikunir.
dalam senyum dua saudara. 


Dua saudara, Dieng, 22 April 2018 [Foto: Ahmad Zaki Maulana]
Berbait, huruf berserak
kurangkai serentak, menjadi sebait puisi.
Bentuk luapan kebahagiaanku .
Seorang perempuan menginjakan kaki pertama kali di atas bukit Sikunir.
(baru naik bukit aja sudah girang, bagaimana kalau naik ke Bulan, mungkin saya langsung pingsan tersedak bahagia)


***
Tepat jam 02.00 dini hari, malam teramat gelap, rombongan travel berjumlah 19 orang meluncur menuju lereng bukit Sikunir.

Wednesday, May 30, 2018

Jangan Anggap Remeh Anyang-Anyangan!

Satu kata: Antusias! 
Setelah saya mendapat undangan dari Blogger Perempuan, Sabtu, 26 Mei 2018.
Acara Blogger Gatherin Uricran dan Talkshow :
Pentingnya menjaga kesehatan saluran kemih pada Wanita. 

Pukul 02.00 WIB, kami tiba di Stasiun Sawah Besar. Langsung pesan gocar menuju Hotel Haris - Kelapa Gading. 
Baru saja, saya masuk mobil. 
"Mau kampanye ya, Bu" sapa ramah sang supir sambil tersenyum.
Aihhh... Bersengaja dress code merah tua manis manja dibilang, kampanye. 
Tau nggak Bang, kita ini mau talk show, ketemu Dokter OZ Indonesia yang terkenal itu. 
Untung, saya puasa, jadi kesabaran tingkat tinggi, tetep kalem. 

Setelah melakukan registrasi jam 15.00 WIB, Blogger dipersilakan melakukan sesi foto di areal depan ruangan, ada hadiah menarik untuk foto paling unik dan caption yang lucu. 

Antri, demi foto Uricran, warna baju merah saya menyatu dengan latar yang sama merah, membara.