Saturday, May 20, 2017

Tradisi Menjelang Melahirkan di Sampit

Lelah di sore menjelang Magrib masih saya rasakan. keajaiban dalam hidup ini, bagaimana tidak, rasa sakit, tiba-tiba sirna sekejap, ketika suara tangis bayi memecahkan suasana, detik itu juga, saya sudah sempurna sebagai wanita, menjadi seorang ibu.

Jauh di lubuk hati saya, bahagia, juga sedih berpisah jauh dengan Mama di Jakarta...saya merasa sendiri sebenarnya, tapi nasib membawa saya kemari.
Saya melahirkan di  rumah mertua di Sampit, tidak di klinik bersalin. Hal baru bagi saya tapi pasrah, manut aja kata orang tua.
Bagi saya yang penting semua selamat, bayi lahir sehat.

Wednesday, May 10, 2017

Piknik Sehari bersama Big Bird

Judulnya seperti  acara di televisi, serasa jadi selebritis. Emang sih, sehari dimanja, jalan-jalan di kota Cirebon, eh! eh... itu jelas-jelas kota saya, sekalian pulang kampung dengan rasa berbeda.

Sabtu, 22 April 2017, piknik bersama Big Bird dan Indonesia Lifestyle Digital Influecer (ILDI)  jelong manjahh dengan teman blogger muda dan tak muda lagi.


Saturday, April 29, 2017

Manfaat Daun Jarum Tujuh Bintang

"En, lihat! daun insulin itu kembangnya bagus."


Saya beranjak menuju tumbuhan yang hidup subur di samping kandang 'ayam  ketawa' pagar rumah.
Seingat saya, terakhir pulang kampung, adik ipar memberi daun insulin yang dibawa dari Jakarta. Daun insulin bermanfaat untuk penyandang diabetes. Katanya, kakak iparnya diabetes jadi normal. Itu dia, bela-belain nanam buat mertua. Jujur, saya jarang memperhatikan daun insulin.
Yang saya tau, Bi Suniah pembantu Mama, selalu memetik beberapa daun di seduh dengan air panas untuk Mama minum, dengan harapan kadar gula darah bisa lebih stabil.

Matahari seminggu ini, bersinar cerah, pantaslah bunga insulin mekar sempurna. Cantik sekali, seperti bunga mawar berwarna merah bercampur kuning. Tumbuh di ujung batang. Baunya tak wangi.
Ini pertama kali saya melihat kembang insulin.

Anehnya, saya kok penasaran, ini bener daun insulin?

Langsung googling.
Loh, di foto hasil pencarian, menunjukkan bunga daun insulin berwarna kuning bukan merah.
Semakin penasaran.
Untungnya saya bersahabat dengqn Mbak Sri Sukarmi, ahli tanaman dalam Komunitas Flona (flora dan Fauna)

Demi menuntaskan penasaran saya, saya share di komunitas Apakah ini bunga daun insulin?
Mohon pencerahan.

Setelah menunggu, muncul komentar mbak Sri sebagai admin.
"Bunga insulin itu warna kuning (Tithonia diversifolia), nanti saya carikan fotonya di grup ini.
Kalau foto anda ini nama lokalnya daun jarum tujuh duri, daun jarum tujuh bintang, sevent thorn, mawar Medan. Nama ilmiah Pareskia sachora."
Bunga Daun Insulin
Alamak, ternyata ini bukan daun insulin.
Menurut Mas Teguh Suptianto member Flona. ciri daun Insulin rasanya pahit, tak heran daun insulin, dalam nama lokal: daun paitan.
Langsung deh saya petik, gigit, rasanya nggak pahit, malah terasa segar.

Keliru
Jelaslah sudah, ini bukan daun insulin, ini daun jarum tujuh bintang.
Masih keluarga kaktus,  satu-satunya memiliki daun sebenarnya
Kok ada ya, tumbuhan namanya lokalnya keren banget: namanya begitu keren,  daun jarum tujuh bintang.
Setelah saya cermati, sepanjang batang dekat pangkal daun, terdapat tujuh duri yang tajam kecil seperti jarum. Duri bergerombol membentuk bintang, benerrr....jumlahnya ada tujuh.
Saya perhatikan bentuk batangnya, membesar seperti ada air di dalam.  Ternyata, daun jarum tujuh bintang/duri  termasuk dalam keluarga kaktus.
Dan satu-satunya kaktus yang memiliki daun sebenarnya. Genus daun jarum tujuh duri termasuk paling primitif dalam keluarga Kaktus.

Tumbuhan yang diduga berasal dari Afrika, Amerika dan India ini mudah beradaptasi. Tanaman ini mampu hidup dan tahan di berbagai cuaca, khususnya beriklim tropis.

Tiba tiba saya kaget sendiri sambil memandang Mama yang sibuk menikmati sarapan.
Kalau tanaman ini bukan daun insulin tapi daun jarum tujuh bintang, berbahaya atau tidak bagi kesehatan Mama?
Selama ini, Mama meyakini daun insulin dan rutin meminumnya.

Segera saya baca kembali komentar mbak Sri Sukarmi. 
"Biasanya daun jarum tujuh duri untuk obat kanker daunnya, tapi caranya tidak tahu. Kalau bunganya, herbalis Cina bilang untuk obat mata."

Daun Jarum Tujuh Bintang atau duri ini merupakan tanaman obat untuk penyakit akut.
Daun tumbuhan ini lebih sering dimanfaat untuk kesehatan di banding bunganya.
Manfaat daun jarum tujuh bintang untuk menyembuhkan penyakit, antara lain:
● Hipertensi
● Reumatik
● Asam Urat
● Luka pasca operasi
● Kanker rahim
● Wasir
● Luka bakar
● Mulut dan gusi bermasalah 
● Perut kembung
● Qnti racun
Daun Jarum Tujuh Bintang, bisa dimakan mentah sebagai lalapan.
Sebagai pengobatan penyakit dalam, ambil lebih kurang 15 lembar daun, tumbuk kasar, direbus dan saring, diminum hangat pagi dan sore.

Kalau Mama lebih suka diseduh air hangat.
Untuk pengobatan luka bakar, daun ditumbuk lalu di oleskan pada luka.

"Maaa....ini bukan daun insulin, tapi daun jarum tujuh bintang, tanaman obat juga dan bagus untuk mengobati berbagai penyakit," tandas saya.
Mama hanya manggut-mangut mendengar penjelasan saya tentang kekeliruan selama ini.

Tak lama terdengar bunyi motor berhenti, Agus pekerja kami meminta ijin untuk pulang lebih awal. Istrinya masuk rumah sakit, ada bisul di payudaranya, entah belum jelas sakit apa.
Bergegas saya memetik daun lalu memberikan pada Agus. Tumbuk kasar, tempel pada bisul. Daun jarum tujuh bintang terasa dingin, bagus untuk luka dan bisa memdingin.
***

Dua hari kemudian.

Saya memetik daun muda, 4 helai untuk jadi lalapan Mama.
Alhasih, biasanya Mama susah buang air besar, ini malah lancar. Daun jarum tujuh bintang memang berlendir kalau dimakan mentah.
Catatan, jangan terlalu banyak makan mentah, karena kencing Mama katanya terasa pahit.
Laaa...itukan bagus, jawab saya, biasanya Mama penyandang diabetes, kencingnya manis. Beliau suka merasa dengan dicicipi sendiri, karena kencing bisa menjadi indikator, naik atau normal kadar gulanya.

Sejak meminim seduhan daun jarum tujuh bintang, istri Agus rada enakan setelah operasi tumor jinak payudara.
Saban pagi Agus memetik beberapa helai, begitu juga tetangga yang sakit rematik, ikutan minta.
Gegara Mama koar koar sih, manfaat daun obat ini.

 Saya memandang tanaman itu yang mulai kehabisan daun. Semoga tetap tumbuh subur.

Berawal dari penasaran. 
Tumbuhan apa ini?
Sebagai orang awan, kita hanya percaya pada tukang kembang.
 
Sejatinya bertanya dulu pada ahlinya, apa ini tanaman yang kita cari. Untung saja, tanaman yang keliru ini termasuk tanaman obat dan banyak manfaatnya.

Untuk bercerita tentang tanaman daun insulin dan manfaatnya.
Entar deh, saya tulis pada postingan.

Masih di desa Cikalahang, akhir April 2017.



Sunday, March 26, 2017

Bolu Singkong Rasa Aduhei

Sudah menjadi kebiasaan orang Kalimantan, suka sekali makan kue dengan segelas teh.
Pagi-pagi Mamang jualan kue tradisional ngider pakai sepeda motor sambil berteriak manjah, "wadaiiiii"

Wadai dalam bahasa banjar artinya kue.
Harganya murah meriah.
Sekalipun sudah makan nasi kuning, lontong segitiga haruan bumbu habang gulai nangka,  enggak sah kalau belum makan kue.
Walau sudah bertahun pindah ke kota Bogor, tetap aja selera enggak berubah, maunya makan kue.
Kalau di Bogor, Jawa Barat umumnya, sarapan makan gorengan, bala-bala dengan lontong.
Kalo keseringan makan gorengan, otomatis saya semakin semlohai.
Juga dalam upaya menurunkan khoresterol jahatbyang makin tak berteman seiring usia.

Di samping rumah saya, tetanga baru panen singkong. Bahan singkong mentah diparut dan dijual perkantong 1 kg sebesar Rp 5.000,- siap olah.

Monday, February 6, 2017

Taman Kaulinan, Kota Bogor, Tempat Anak Bermain, Belajar dan Bergembira


Sepuluh menit sebelum jam 06.00 WIB, saya sudah berada di Lapangan Sempur, Kota Bogor. Semangat banget saya hari ini, mau olahraga, bermain dan bergembira juga santai. Belum begitu ramai suasana pagi cerah ini (Minggu,5/2)

Puas mengitari Lapangan Sempur yang kini berubah lebih cantik, rumputnya hijau dan tertata rapi, saya beranjak ke sisi utara lapangan Sempur, tepatnya dekat  sungai Ciliwung. Ada taman baru, loh!

Waduh, ternyata, di sini sudah rame dengan kehadiran anak-anak Sekolah Dasar berkumpul memakai baju kebaya tradisional, dan seragam olah raga.
"Jam berapa datang?" teriak pembawa acara, "Udah sarapan belum?" lanjutnya.
"Belummm..." jawaban begitu poros, eh! saya juga belum...hehehe
"Mau sarapan?"
"Mauuu." teriak anak-anak antusias, termasuk saya.
"Beli sendiri." 
Suasana begitu akrab di hiasi gerai tawa riang.

Selanjutnya, sebelum acara utama dimulai, Taman Kaulinan sudah diisi kuis dan berbagai penampilan anak- anak.
Manuk Dadali, Manuk Pang Gagahna


Terdengar lagu Sunda, Manuk Dadali yang dinyanyikan anak-anak SD Negeri Polisi 04 Bogor, membuat saya ikut larut dalam kegembiraan. Bernyanyi dan bergerak, gilee, ya, Mak. Semangat.
"Manuk Dadali manuk pang gagahna, pelambang sakti, Indonesia Jaya..."
Suara merdu dilantunkan dengan gerakan tangan kekiri dan kekanan, diiringi irama gamelan.
Selain bernyanyi sebagiaan anak sudah sibuk bermain, terdengar suara gelak tawa ceria...Aaah, jadi inget masa kecil anak saya, bergerak lincah, berlarian kesana kemari, berinteraksi bersama teman.

Hari Minggu ini, jam 06.00-09.00 WIB, akan diresmikan taman baru, namanya; Taman Kaulinan, tempat anak-anak di Kota Bogor dapat bermain, belajar dan bergembira.

Friday, December 16, 2016

Perjalanan Sehari dari Wisata Pulau Pari ke Darmaga Cituis [Wisata Pulau Part 2]


Sehari semalam, saya berwisata di Pulau Pari. Mengelilingi pulau dari ujung ke ujung dengan naik sepeda mini berkeranjang, warnanya  merah jambu, sungguh romantis.

Dua pasang sendal jepit warna biru menjadi saksi, seluruh perjalanan wisata Pulau Pari.
Di Pulau Pari belum ada mobil, hanya beberapa kendaraan saja, lebih banyak sepeda dan gerobak. Seharusnya, ada peraturan dilarang mempergunakan kendaraan bermesin, agar pulau ini bebas polusi, tapi keinginan warga Pulau Pari untuk memiliki kendaraan tidak bisa dibendung, bagaimanapun duitnya, duit mereka sendiri. Jadi susah dilarang. Ketakutan terbesar saya, saat mendatang, pulau Pari tak alami lagi ,suasana sunyi akan terusik dengan  bising suara mesin, jalan kecil tak senyaman sekarang. Mendadak, jadi ingat kejadian kemarin sepedaan, saya harus menyempil di pinggir jalan, gara-gara ada motor lewat, ngebut seenaknya.

Di Pulau berbentuk ikan pari ini, saya puas menikmati tiga pantai; Kresek Beach, Star Beach, dan Virgin Beach.

Thursday, December 15, 2016

Diayun Ombak menuju Pulau Pari [Wisata Pulau Part 1]

Juli, 6 bulan yang lalu, seusai lebaran.
Sebelum subuh, saya bergegas berangkat dari rumah Bogor menuju Jakarta. Rencananya, dua hari satu malam, saya akan berwisata ke Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Sejujurnya, badan masih raringsek sejak mudik lebaran belum pernah istirahat, sibuk gitulah...*Halahh, sok sibuk...hehehe.
Namun, apalah daya, paket wisata murah meriah ke Pulau Pari sudah dibeli anak gadis, susah ditolak. 

"Ayolah ,Ma, sesekali liburan, melihat sisi lain Jakarta. Ini wisata pulau murah meriah, Maaa." 
Duluuu, saya juga pernah wisata ke Pulau Pramuka bersama rombongan ibu-ibu naik kapal cepat Badak laut dari Marina Ancol.

Laaa ini berangkat ke Pulau Pari dari pelabuhan tradisional Muara Angke. Aihhh, petualangannya pasti lebih serunya. Okelah kita berangkat dengan gembira sembari memakai sendal jepit warna biru andalan saya, dua baju kaos, mukena, legging. Yang mau berenang dan snorkeling, silahkan bawa baju renang, peralatan mandi, dan sunblock.


Jalan lancar jaya, masih sepi, memasuki kawasan Muara Angke, langit masih gelap, lampu jalan mulai bersinar redup. 

Ini pertama kali saya ke Muara Angke. Waduh, sumpeh! terpana melihat kenyataan, jalan becek di genangin sisa air pasang, bau amis bercampur sampah basah, bau menyengat sekali menembus celah jendela mobil pagi itu.