Monday, December 14, 2015

Melunasi Kerinduan Kuliner Jawa di Gerai Cita Rasa Solo 2015 #DapurSolo

Mendapat undangan Gelar Cita Rasa Solo 2015, saya senang banget. Sebagai pencinta kuliner khususnya jajanan dan masakan Nusantara, saya selalu siap berangkat dengan semangat. Dari Bogor, saya datang di hari ke dua, Sabtu, 12 Desember 2015, Diselenggarakan selama tiga hari, 11-13 Desember 2015, di Lapangan Restaurant Dapur Solo Sunter, jalan Danau Sunter Utara no 7. Jakarta Utara.
Welcome to Gerai Cita Rasa Solo 2015
Di depan pintu gerbang, saya disambut ramah, staf dari Restaurant Dapur Solo, seorang perempuan muda berseragam coklat terakota berhias kain batik dengan rambut digelung cempol kecil ditengkuknya, djawani sekali. Tiba-tiba, saya berasa di Solo melihat raut wajahnya, nah inih...senyumnya manis sekali, bahkan, ia rela membantu fotoin saya dan teman-teman untuk mengabadikan moment GCRS 2015 ini.

Masuk ke dalam areal festival,  berdiri beberapa tenda yang menghadirkan aneka jajanan tradisional Jawa. Yang patut di ajungkan jempol, festival ini, merupakan Festival kebudayaan tematik pertama di Jakarta, kuliner Jawa khususnya Solo...Hebatkan, ide Restaurant Dapur Solo.

Disambut dengan ramah, Marketing Dapur Solo, Mas Candy Christiawan, yang menceritakan tentang Dapur Solo dan alasan diadakan Gerai Cita Raya Solo 2015. Selintas, seorang wanita cantik diusianya, berbaju hijau dan berjarik, sederhana penampilannya, sangat ramah, dan masih enerjik, bersalaman dengan saya, dan sibuk kesana kemari. Ternyata, beliau pemilik Restaurant Dapur Solo, Ny. Swan Kumarga.

Restaurant Dapur Solo Ny. Swan, kembali menggelar acara tahunan bertema kuliner dan budaya Jawa untuk ke 3 kalinya. Tetap dengan nama yang sama: Gelar Cita Rasa Solo(GCRS).


Ide awal konsep GCRS tiga tahun silam, muncul dari kerinduan pemilik Dapur Solo, Ny. Swan Kumarga akan budaya Jawa, khususnya di bidang kuliner.


Tujuan diselenggarakan Gerai Cita Rasa Solo ini:

1. Keinginan supaya masyarakat lebih mengenal dan mencintai kuliner dalam negeri.
Dengan cinta masakan bangsa, maka kemanapun seseorang mengejar pendidikan kelak, dapat dipastikan ia tetap akan kembali ke Indonesia karena rindu rasa.

2. Sebagai kampanye terhadap sesama pengusaha restaurant untuk menggunakan berbagai bahan lokal dalam tiap makanan dan minuman yang dijual. Dan bersama-sama berusaha menggali kisah dibalik masakan Indonesia.


3. GCRS juga menjadi tempat Ny. Swan untuk menggerakkan hati pemerintah supaya kedepan dapat terjadi sinergi antara pemerintah, pengusaha dan petani, juga seluruh pihak yang mendukung masakan Nusantara.


Tujuan festival yang sangat mulia, karena di jaman ini, serbuan berbagai produk makanan import dan siap saji, tentu akan berdampak pengaruh kebiasaan generasi sekarang. Untuk itulah, Gerai Cita Rasa Solo, ingin menyebarkan semangat cinta budaya di bidang Kuliner. Meninggal jejak 'rasa' di lidah generasi bangsa, kemanapun mereka pergi, pasti..ingin kembali, untuk melunasi kerinduannya pada kuliner, contohnya seperti saya *nunjuk mantaff ke diri sendiri*. 

Selalu saja saya kangen dengan masakan Jawa dan inilah saat yang tepat, untuk mencoba berbagai kuliner Solo yan belum pernah saya rasakan, lagi-lagi, saya semangat berlebihan, untuk segera menjelajahi jajanan Jawa, memanjakan sejuta nostalgia saya tentang kenangan masa kecil di Kota Malang, Jawa Timur.

Puas berbincang dengan Mas Candy Cristiawan, dilanjutkan ngobrol dengan Mas Fariz dari Dapur Solo, memberikan kupon dan gift voucer Dapur Solo Ny. Swan. Yuk mari, segera mengeksekusi jajanan langka Pulau Jawa.

Kupon dan gift voucher, yuk maree melunasi kerinduan kuliner Jawa

Nyam-nyam,  melihat berbagai jajanan dan kuliner Jawa, langsung semangat untuk mencicipi, eh! memakan. Maklumlah, selera Jawa masih melekat di lidah saya...*girang banget rasanya*

Jajanan, makanan dan minuman tradisonal banyak banget, hayukkk merapat kemari, rata-rata kuenya mulai jarang ditemukan di Jakarta. 
*bener-bener melunasi kerinduan Kuliner Jawa.

Terdapat 30 tenant yang ikut dalam festival kuliner dan kebudayaan, mulai dari jajanan hingga kerajinan tangan, serta dimeriahkan dengan pertunjukan kesenian tarian dan alat musik tradisional.
Jajanan dan minuman khas Jawa
Tahunya beda loh, garing, gurih pake petis lagi. Nendang banget rasanya

Ini kuliner yang belum pernah saya makan
Jajanan dan minuman yang tersedia di GCRS 2015, berupa; Tahu petis, sosis Solo, pukis, loempia Semarang, serabi Solo, jagung bakar, kue putu ayu, kue rangi, tahu acar Solo, aneka jajanan pasar(tiwul, cenil, ongol) serta ada pula kerak telur Betawi, kue cubit, rujak bebek. Untuk minuman, tersedia; Wedang ronde, wedang kacang tanah, Es dawet sar gese, es poedeng, berbagai teh Poci, es goyang kampoeng.

Kuliner khas Jawa khususnya Solo, menghadirkan brambang asem, pecel wijen, cabuk rambak, bubur solo tumpang letok, nasi ulam, sate ayam.
Semua kuliner dibandrol dengan harga pas Rp. 10.000,-

Berdiri di deretan kuliner Solo, yang langsung dimasak dari Restaurant Dapur Solo, makanan pertama saya ingin merasakan, rasanya makanan Brambang asem.

Taraaaa, penampakan brambang asem dengan tempe gembus bacem
Oww, pedesnya dasyat, makcling! jadi seger kembali.
Rasanya mirip dengan rujak kangkung hhas Cirebon, bedanya, sambel Brambang asem tidak mempergunakan bahan petis. Brambang asem, bahan utamanya dari daun ubi yang di kukus...Ow! baru kali ini saya makan daun ubi, enak, manis, mirip kangkung. Kenapa dinamakan Brambang Asem?
Perpaduan, manis, asem dan pedas, berasal dari brambang (bawang merah) utuh yang disangrai , bawang putih, cabe yang direbus, terasi dikit kemudian diulek, diberi air asam Jawa. Sambel asem disiram diatas daun ubi, segerrr asem. Pedassnya... langsung saya membeli es poedeng.
Es Poedeng, rasanya mantaf.

"Pak, ini mirip es doger, ya" ucap saya dengan penjual melihat penampakan es poedeng. Dengan ramah, ia menjelaskan, es poedeng Solo berbeda dengan es Doger.  Perbedaannya terletak pada esnya. Es doger, mempergunakan es serut yang dicampur dengan adonan santan dan gula. Sedang es Poedeng, esnya berasal dari es cream tradisonal, rasa santannya asli.
Makcleguk, nelen liur, pedas dan haus. Roti gandum, bubur ketan hitam, bubur mutiara, alpukat di siram es cream santan. Untuk menambah rasa es poedeng, diatasnya diberi taburan kacang sangrai, mesis, dan susu kental manis. Benar beda dengan es doger, pokoknya mantaf. 

Kembali ke deretan kuliner Solo.

Saya tertarik dengan Namanya yang unik Cabuk Rambak. Kuliner apakah itu?
Irisan tipis ketupat, rambak dibancur saus wijen. Ini pertama kali saya mencoba cabuk rambak
Aihhh, saya kira rambak itu, kerupuk kulit sapi, ternyata kerupuk dari nasi dan bleng, yang dikenal kerupuk gendar atau karak
Tadinya saya kira namanya: Cambuk rambak, kok kejam banget, pake di cambuk ini kerupuk? Hehehe, karena eh karena, rambaknya disiram dengan saus wijen yang berwarna putih. Bukan Cambuk tapi cabuk rambak, cabuk mengacu pada wijen yang disangrai.
"Bagaimana cara membuat saus ini?"
"Gampang mbak, hanya mempergunakan wijen yang dicampur tepung beras, diberi kemiri, bawang putih, cabe, dan kencur," jawab seorang bapak berbaju batik disamping saya.
Karena cabuk rambak, hanya sebagai makanan sela, satu porsi tidak mengenyangkan. 

Saya melirik kesebelah masih pada meja yang sama, berjejer kwali dari tanah liat, ada bubur nasi, opor tahu telur puyuh, krecek. Bubur Solo sambel tumpang letok.

Opor tahu telur puyuh, krecek, sambel tumpang jadilah Bubur Solo Tumpang Letok

Sambil menunggu pesanan, saya memperhatikan bapak itu, membuang kelebihan minyak diatas masakan krecek.
"Sebenarnya, minyak ini menambah manis penampilan masakan, tapi tidak menyehatkan. Sebagian pedagang tidak perduli, tapi saya tidak suka, makanan harus enak juga sehat," jawabnya ketika saya bertanya, kok dibuang. Terharu saya mendengarnya, jarang ada yang begini, biasanya pedagang  lebih menekankan keuntungan.
Waktu saya mau foto krecek itu, dengan ramah, bapak ini mengambil sendok sayur, membantu saya, agar wujud masakan terlihat sempurna.
"Ramah banget, baik lagi," batin saya.

"Kenapa diberi nama  Letok," tanya saya pada penjual di depan meja.
"Yaaa, karena mletok," sahut Ny. Swan, yang tiba-tiba berada dekat saya.
Lagi-lagi Bapak sebelah saya menjawab, mletok itu artinya kental dan enak. Tumpang berasal dari tempe yang over fermentasi, yang dikenal tempe gembus/Bosok.
Untuk masakan tumpang letok Dapur Solo, tidak mempergunakan tempe gembus semua, namun ditambah tempe anyar(baru) dan tahu. Ini dimaksud, agar menyesuaikan, selera penikmat Tumpang Letok, yang tidak semua berasal dari tanah Jawa. Bumbu yang dipergunakan, brambang, bawang putih, cabe merah, rawit, daun jeruk purut, laos, dan kencur.

"Bagaimana rasanya?" tanyanya,

"Rasanya gurih, enak khas Jawa sekali," jawab saya.
Seingat saya, orang Jawa, selalu memasukan tempe bosok,atau tumpang kedalam masakan sayurannya, lodeh, botok. Jadi, rasanya khas, aromanya susah dicari dan diceritakan, pokoknya Jawa sekali.

Puas dengan kuliner Jawa khususnya Solo, saya membeli berbagai jajanan seperti, serabi solo, sosis solo, loenpia Semarang. 

Tempat makan outdoor, sembari mendengarkan keroncong


Sambil duduk di teras Restaurant, area ourdoor Dapur Solo, sambil menikmati jajanan Jawa. Iringan musik keroncong begitu merdu, dikemas sedikit modern, membawakan lagu-lagu Jawa, Bengawan Solo, cucok Ruwo...Hmm, menghadirkan nostalgia di masa lalu.
Awal usaha  kuliner Ny Swan, dari garasi rumah sederhana di tahun 1988
Ny. Swan duduk di antara kami, dan menceritakan jatuh bangun merintis usaha kuliner Dapur Solo, dari garasi rumah sederhana di tahun 1988, bermodal ulekan dan brender,menjual rujak dan aneka jus buah.
"Saya ini, seorang ibu rumah tangga yang ditakdirkan bukan menjadi seorang putri. Tidak bisa diam. Saya mau bekerja. Waktu itu, saya tak perlu menunggu modal besar untuk memulai usaha. Apa saja yang kita punya, lakukan. Kerja keras, ketekunan, keuletan, semangat, terus berkreasi dan hati yang mau bekerja ," Senyum diwajahnya sangat manis terlihat.
"Suatu kebanggaan, usaha yang dimulai dari bawah dan menjadi besar, ini namanya kepahitan yang manis diceritakan," Lanjut beliau.
Duduk di antara Ny Swan dan Bapak Heru Kumarga, mendengarkan cerita beliau.
Duduk disamping saya, bapak berbaju batik.
"Ini suami saya," Ny. Swan memperkenal.
Saya malah bengong,"Pak Swan?" tebak saya.
"Bukannn, nama saya; Heru Kumarga." 
Bukan main malunya, sampai tertawa Ny. Swan melihat saya.

Ngobrol santai dengan Bapak Heru  Kumarga
Aihh, jadiii, sedari tadi saya sudah berbincang dengan pemilik Dapur Solo. Subhanallah, saya semakin takjub, dua orang yang sangat sederhana, ramah dan akrab dengan siapa saja, padahal, sudah memiliki 13 cabang Dapur Solo. Saya merasa seperti mendapat anugrah  luar biasa, bisa bertemu dengan beliau, Ny. Swan dan Bapak Heru Kumarga yang sungguh hebat. Bapak Heru Kumarga, seorang Insinyur, yang memegang proyek besar di Jakarta, bergabung untuk sama-sama membesarkan bisnis keluarga di tahun 2005.

Bapak lebih visioner dan ahli di bidang manajemen, dan Ny, Swan sebagai founder, sangat ahli di bidang marketing. Ini dibuktikan dengan keramahan Ny. Swan menyapa pengunjung yang datang, akrab tak berbatas, benar-benar melayani dengan hati.
Restaurant Dapur Solo, bukti keberhasilan bekerja keras
Menurut penuturan Ny. Swan Kumarga, keberhasilan adalah kepuasan jiwa, bukan diukur dari kekayaan. Kunci rahasia sukses terletak pada spritual yang kuat, menghadirkan Tuhan dalam kehidupan. Gelar Cita Rasa Solo yang digelar selama tiga tahun ini adalah, sebagai perwujudan dari rasa syukur atas nikmat Tuhan berikan. Dengan mewujudkan ide ini, ekspektasi ke depan, untuk terus menyebarkan semangat cinta budaya Indonesia khususnya kuliner.

Bagi saya berada di GCRS ini juga sebuah anugrah dan rezeki.

Anugrah, bertemu orang hebat, yang mau berbagi rahasia sukses dan mepayungi Usaha Kecil dan Menengah, untuk terus memotivasi, fokus pada usahanya. 
Rezeki untuk saya, bisa menikmati kuliner dan Jajanan Jawa, khususnya masakan Dapur Solo Ny.Swan.

Sambil menikmati kuliner Solo, saya membenarkan, kalimat Ny. Swan tadi. Makanan ini terasa lezat dan nikmat, karena senantiasa masakannya di olah dari bahan-bahan lokal terbaik dan berkualitas hingga menghasilkan sajian yang istimewa.


"Ibu tidak takut dengan banyak saingan restaurant Nusantara?" tanya saya.

Dengan mantap dan bersemangat, beliau berkata, Dapur Solo, mengutamakan keaslian citarasa, kebersihan dalam pengolahan makan adalah prioritas dapur solo untuk menyajikan yang terbaik kepada pelanggan, pencinta kuliner Solo. Itu yang dinamakan "Memasak dengan Hati."   Dijamin pelanggan tak mungkin kelain hati, tetap mencintai kuliner khas Dapur Solo. Kepuasan pelanggan adalah kepuasan kami. Kesungguhan untuk melayani dengan hati, membawa Dapur Solo ke tempat istimewa di hati banyak orang.
Berfoto bersama dengan Ny Swan, ramah dan terlihat sangat enerjik
Dalam Gerai Cita Rasa Solo, juga terdapat workshop membuat tumpeng unik dan membatik.
Ruangan yang berAc dan nyaman, tempat diselenggarakan Tumpeng Tsum-Tsum
Tumpeng Tsum Tsum, merupakan kreasi unik dan lucu. 



Berasal dari tumpeng yang diolah menjadi kreasi bento untuk bekal si kecil. Nasi Langgi Kuning. dibentuk menjadi picture Winny the Pooh dan kawan-kawannya.

Belajar membatik
Di sudut teras restaurant Dapur Solo, berjejer batik cantik, asli batik tulis dari Segosae. Di GCRS disediakan pula, belajar membatik dengan tehnik tradisional, dengan canting dan malam. 
Membatik dengan pengajar yang ahli di bidangnya
Menurut pemilik Segosae, Niken Ayu, membatik dengan canting adalah sarana ketekunan dan kesabaran. Ini juga bentuk perwujudan melestarikan budaya khususnya Jawa kepada generasi muda.

Kekenyang makan camilan yang sungguh aduhei, saya bisa membawa pulang masakan Dapur Solo, berupa Garang asem Ayam, gudeg dan selat Solo. 


Pulang kembali dengan bahagia, itu yang saya rasakan, di Gerai Cita Rasa Solo, bagai melunasi kerinduan kuliner Jawa, sebuah kenikmatan tiada tara. Semoga Gerai Cita Rasa Solo terus berkesinambungan dari tahun ke tahun. Sukses!

Dekorasi frame, inspirasi  dari pintu masuk Keraton Kesunanan Surakarta
Sampai jumpa lagi di tahun mendatang.
Dannn, jangan lupa mengundang saya...*smile*

Restaurant Dapur Solo Ny. Swan
web: www.dapursolo.com






Mas Fariz dari Dapur Solo, Blogger dan Media Antara.online.


























12 comments:

  1. Waaah belum pernah nyobain Brambang asem.Seperti apa ya mbak rasanya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rasa sambel brambangnya, pedas, manis dan asem, Seger banget. Makanan penuh serat dan sehat.

      Delete
  2. Alhamdulillah saya tinggal di Solo jadi mudah menemukan makanan seperti itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo di Bogor, rada susah, Alhamdulillah, bisa mencoba berbagai kuliner khas Solo

      Delete
  3. Pengen nyobain brambang asem.... kayaknya enak banget tuh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mirip rujak kangkung, tapi beda dari bahan utamanya

      Delete
  4. Vouchernya banyak mbak, bagi dong....hihihihi. Saya belum pernah ke Solo euy..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh ternya, kupon dan gift voucher harus dihabiskan sehari. Alhamdulillah, berkah ngeblog.

      Delete
  5. Replies
    1. Terima kasih juga, GCRS2015 merupak anugrah dan rezeki buat sana. Bapak dan Ny. Swan, menjadi inspirasi saya untuk tetap fokus pada usaha, ulet dan mau bekerja keras. Salam

      Delete
  6. Makanan dan minumannya enak2 kayaknya
    Kapan ya sy diundang
    Terima kasih reportasenya
    Salam hangat dari Jombang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tahun depan ngih Pakde Cholik. Insya Allah. Salam Hangat pula buat keluarga

      Delete