Tuesday, June 21, 2022

Pengalihan Hati

Sebelum apel Senin pagi, hari Sabtu menentukan nama-nama petugas upacara, dilanjutkam latihan, supaya penampilan kelas yang mendapat giliran semakin sip.

Aku paling males jadi petugas penaikan bendera.
Selalu deg-degan, cemas, kalau saja bendera terpasang terbalik, warna merah putih jadi putih merah. 
Apa nggak kiamat, bagi kita (jaman itu) bendera sangat dihormati, jatuh ke tanah saja, bisa ditegur tentara.
Satu lagi yang membuat jantungan, kalau lagu  kebangsaan Indonesia Raya selesai dinyanyikan, bendera baru naik setengah tiang...alahmak!
Walau, sebenarnya, jika terjadi kesalahan, malunya kan bertiga, tetap saja aku nggak mau jadi petugas itu.

Satu lagi tugas yang kuhindari adalah Dirigen lagu Indonesia Raya. Sadar diri aja.
Suaraku sedikit sumbang, bayangkan, kalau mengajak bernyanyi;  "Hiduplah Indonesia Raya. 1,2,3, 4."
Mengerakan tangan pada ketukan 4/4. Kalau tak selaras ketukan dan temponya, bisa kacau balau dunia pernyanyian. 

Trus, apa tugas yang aku suka? Jadi peserta upacara. Nggak juga sih, bosen banget berdiri tegak tanpa beban, jadi pengen ngobrol aja.
Tugas yang aku suka, menjadi pembawa acara...itu paling gampang, tinggal baca aja, terlalu muda, kurang tantangan.

Tugas upacara yang paling Aku suka menjadi komandan upacara.
Dasyatkan.
Aku suka berdiri di tengah lapangan, semua mata tertuju padaku seorang. 
Mungkin yang mengenalku, sewaktu SMPN -2 dan SMA Negeri-3  atau Pramuka Gudep Adyaksa, pasti sudah tau, aku selalu menjadi Pratama.

Berteriak lantang, memberi komando. Ada kebanggaan sendiri, mungkin aku terlalu percaya diri.
.
Semua berawal dari kegiatan Pramuka.
Entah mengapa, aku selalu dipilih jadi ketua regu (mungkin, ada aura kepeminpinanku kalee yaa). Padahal anggota regu, usianya lebih tua dariku. 
Dari keahlianku menjadi Pratama, aku terpilih menjadi wakil Kalimantan Tengah bersama 9 teman lainnya, untuk berlomba di Jakarta. 
Juara satu, lomba Dianpinru 1984 akan menjadi Pratama di upacara Hari Pramuka, 14 Agustus 1984.
Menjadi Pratama, di upacara besar dipimpin Presiden Soeharto, tentu sangat kudambakan, sebuah kebanggaan tersendiri.
Sayang, aku nggak menang,  Juara satu dari Kotamadya Cirebon. 
Paling tidak aku sudah membuktikan keahlianku sebagai Pratama. 
Tahun 1984 itu, untuk pertama kalinya, aku mendengar langsung suara Presiden Soeharto, denger suaranya aja, bikin aku terharu, biasanya cuman melihat dan mendengar dari televisi. Itulah pertama dan terakhir mendengar suara Pak Harto.
Jujur, Pramuka membuatku sibuk. 
Teman sebaya pacaran, aku malah berkemah Sabtu Minggu.
Teman pada naksir cowo, aku sibuk belajar tali temali, morse.

Sudah aku katakan, aku pandai menutupi perasaan hatiku.
Dalam batin, mau juga seperti mereka, sayangnya,  cintaku selalu bertepuk sebelah tangan.
Aku suka, dia nggak.
Pedihkan.

Palangka Raya, 1986
#Menuliskenangan
*bentuk pelarian*

No comments:

Post a Comment