Review

Monday, October 19, 2020

Lembayung Senja di Taman Sail Komodo, Labuan Bajo

Duduk di bangku beton menunggu senja, jam lima sore, matahari masih bersinar terang. Taman Sail Komodo berada di tepian Dermaga Labuan Bajo, Sebenarnya, saya sedang terpesona dengan patung Komodo yang begitu besar, terlihat kuat dan perkasa.


Suara bocah bercakap dengan bahasa daerah, dialeknya khas, memaksa saya melonggok di tepian laut di darmaga, Hah! sebenarnya apa yang dicari, Nak?  Rela berenang ditumpukan sampah plastik dan kayu yang menepi di pinggir pantai, spontan jawabnya serentak: "Ikang..."

"Awas loh! ada ularrr."

"Sudah biasa, Tante..." Byurrrrr melompat lebih jauh, lebih dalam.

Dasar bocah, ular dianggap sohib, gelak tawa, selalu riang walau  terjepit kayu. Bukan saja berenang, tapi menyelam mencari ikan kecil (nggak yakin ketemu, laa, nggak pake umpan). Tapi kalau diingat dari leluhur mereka, suku Bajo, yang sanggup menahan nafas  di dalam laut sekitar 10 menit untuk mencari ikan, kepiting, bisa jadi, bocah-bocah dapat ikangg. 

"Nih ..." ikan kecil segede kelingking di masukkan dalam botol mineral...saya suka melihat wajah bahagia di sore itu.

Anak perempuan bermain lompat

Di ujung jalan dermaga, lama saya berdiri menikmati angin sepoi-sepoi, rasanya di surga, sejuk ....Labuan Bajo lagi panas-panasnya.

Sebenarnya saya ke Taman Sail Komodo ini, sedang membunuh waktu, menunggu sahabat suami, Bos Eco Tree O'tel, Matheus Siagian yang mengudang kami ke Labuan Bajo.

Rupanya Bos turun langsung mengantar rekan dari Jakarta, mengunjungi ke penghuni asli ini pulau, The Last Dragon,Tuan Komodo.

.

Mundur dikit nih ceritanya...

.

(Labuan Bajo, 17-19 Januari 2019)

Tadi siang kami tiba di Bandara Komodo, langsung dijemput supir. Nurutt aja.

Dari Bandara menuju  kota Labuan Bajo  berjarak 2 km hanya lima menit ke kota. 

Jalannya naikkkk, turun, datar, naik lagi, ( Lo kata, jet coaster)...dari jendela mobil saya terpesona (sembari melirik suami yang diam saja) terpesona juga kali ya, roman-romannya begitu. Sama terpesonanya dengan panorama tepi laut Labuan Bajo, luarrrr biasaaa. Laut biru, dikelilingi pulau-pulau kecil, kapal berlabuh menambah suasana yang berbeda.

"Kanggg, urang teh mimpi naon kamari?"  Alhamdulilah Gustiii, urang sampai  ke Labuan Bajo.

Mengenal Labuan Bajo.

Labuan Bajo terletak di ujung barat Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, pulau kecil merupakan pintu gerbang menuju objek wisata terkenal bernama Pulau Komodo dan keajaiban pulau lainnya.

Asal kata 'Labuan' berarti tempat berlabuh, sementara kata 'Bajo" adalah nama suku Bajo yang suka tinggal di perahu itu. Suku Bajo berasal  dari kepulauan Sulu, Philipina yang kemudian berlayar ke Sulawesi, singgah ke Nusa Tenggara Timut , bermukim di pesisir barat Flores. Inilah awal pemukiman kawasan suku Bajo. 

Secara status, suku Bajo adalah pendatang, tapi suku inilah yang meletak batu pertama di pulau kecil ini...hingga terkenal menjadi Labuan Bajo. 

Agama Suku Bajo hingga kini menganut agama Islam, dan bisa hidup berdampingan dengan suku asli Flores yang menganut mayoritas agama Kristen.

Labuan Bajo, tempat kecil yang bisa hidup berdampingan dengan damai sesama suku, agama dan tetap melestarikan adat dan budaya.

Taman Sail Komodo dulu, kampung air ini dulu adalah pantai tempat turunnya ikan dari perahu sebagai bagan jual beli ikan, tempat menambatkan kapal-kapal kecil milik nelayan tradisional.
Sekarang pantai ini diuruk pasir, dijadikan taman dengan patung besar seekor komodo dari perunggu.

Eco Tree O' tel


Jl. Soekarno Hatta Labuan Bajo

Letak taman Sail Komodo, ada di bawah hotel, tinggal buka pintu belakang, taraaaaa sampe deh! 

Yang mau ke Labuan Bajo, hotel Bintang tiga, Eco Tree O'tel ini cocok buat kalian ya.

Itu hotelnya yang menjulang di belakang patung Komodo

Sekitar 10 menit kemudian, matahari mulai redup, udara  menjadi teduh, biasanya dari sore sampe jam 10 malam, penduduk Labuan Bajo berkumpul di sini, sekedar ngobrol,  bahkan mencari jodoh (janjiannya di sini, bro). Tapi jarang ada bule nongkrong dimari, banyakan warga lokal.

Hidup Cilok

Ada tuh, penjual makanan memakai sepeda motor, yang beli ngantriiii, kirain jualan apah coba? cilok! di sini juga ada, cilok telur. Dhilalah... penjual ciloknya, orang JawaTimur, jauh bener mencari rezekinya, yo Mas. Laris manis.

"Suwun, Bu, "seraya memencet terompet tet tot tet tottttttt.

Di samping taman, berderet warung tradisional sederhana, jual gorengan, teh dan kopi panas, berbagai cemilan keripik.

Saya numpang duduk di dalam(ngopii) sambil melihat kesibukan ibu empunya warung, membuat minuman soda gembira, Ekstra Joss pake es.

"Sabar, sabar, sabarrrr..." Ucapan yang menjadi akrab di telingga, mereka biasa berkata 'sabar' agar pembeli sabar menunggu. Ibu yang hebat, single parent, suaminya meninggal karena sakit  liver...dari warung inilah, keluarga ini menyambung hidup. Rumahnya nyambung di belakang warung.

"Maaa, nenek tidak mau makang, maunya keripik pisang," jelas anaknya.

"Aduh, Bu, Mama saya ini sudah tidak punya gigi. Gemar makan keripik keras, " keluhnya, "saya ini selalu salah, apa saja salah...Cuman saya aja, Mama tinggal, saudara yang lain tidak mau," sambungnya sambil memperbaiki letak berqo yang menyon .

"Sabar,  sabar, sabar." Sahut saya, laalaaaa, ketularan, sabar, sabar, sabar.

Saya ini suka heran, di mana-mana, baru kenal, selalu jadi tempat curhat orang..(Kalo ada cermin, pengeeen lihat wajah sendiri, ada apa dengan raut wajah ini? selalu jadi tumpahan curhat.) Anehkan. 

Dari ibu ini, saya jadi tau, bercerita tentang Taman Sail Komodo. Sejak ada taman itu menjadi berkah baginya, warung menjadi rame, biasanya sepi. 

Menjelang Magrib,  saya kembali ke hotel (sebelum dicari suami). Duduklah berdua, serasa pacaran,  duduk di anjungan hotel yang menjorok ke depan ke arah laut di lantai atas. Di sini kita bisa melihat seluruh keindahan pelabuhan, laut  dan taman Sail Komodo.

Di sini, kita menunggu lukisan terindah di dunia. Matahari terbenam di bawah garis cakrawala di sebelah barat.

Suara azan Magrib mengema di setiap sudut kota Manggarai Barat, Allhahu Akbar!  Labuan Bajo mayoritas beragama kristen saja mempersilahkan suara toa terdengar jelas dan nyaring...terharu rasanya, suara azan yang selalu saya rindukan. 

Akang

Dua Sahabat

Pemilik hotel ini adalah sahabat lama suami, dulu bersama ketika beliau masih sekolah di Swiss. Hampir 5 tahun tak bertemu, kini kami datang berkunjung, bahagia sekali melihat bisnisnya sukses.

Sehabis makan malam, bebek goreng special, mendengarkan live music.

"Hayuk pulang, Sep." 

Kirain mau tidur di hotel, tapi bos memilih untuk menginap di rumahnya saja, Matt memberi kunci motor, tinggal pilih yang besar atau yang kecil.

Wadoohh! suami sudah lama nggak pakai motor, jiwa preman istri meronta. Terpaksa saya yang bonceng.

Baru posisi enak di depan, napaaa, ada yang ngeganjel, punggung terasa ada yang  ngedesak ke depan, dudukkan driver  jadi  semakin sempit, yeeee...rupanya perut si Akang penyebabnya, lagian  motornya buat orang pacaran, karena posisi jok belakang lebih tinggi, otomatis yang dibonceng nyungsep ke depan. Mungkin maksudnya, biar mesraaa gitu, tapiii...ini berat.

"Kang, pegangan yang erat, ini pake ngebut loh! " 

Motor terpaksa sedikit  ngegas, takut kehilangan arah. Yang dibuntutin, entah kemana si Bos. Di kira kita pake radar. Toleh sana-sini di jalan persimpangan, ini mau belok kiri, atau kanan atau jalan terus, gelap lagi.

"Sep..." suara di ujung terdengar memanggil nama suami.

Langsung tarik gas, Akang rada tegang, soalnya jalan rada berpasir, naik ke atas, turun lagi, rem kaki kurang pakem, pake rem tangan kudu dikencengin... Trus membatin, ini yang di belakang napa diam aja, pingsan kali ya.

"Disini..." tanya Akang. Kami bengong, parkir di tempat gelap. Aduh Matt, dasar bocah separuh bule, senengennya rumah penyendiri gini.

Bukan sampe di situ, kita jalan setapak banyak semak, cuman mengandalkan senter hape (besok pagi baru tau, kita lewat kuburan).

Rumah besar berlantai dua, begitu lengang. Saya sudah larut dalam tidur, dan tak tau sampai jam berapa, dua sahabat ngobrol. Biarlah, mereka mengenang masa lalu.

Mari kita bermimpiiii.



No comments:

Post a Comment