Friday, October 16, 2020

Menunggu Pesona Matahari Terbit di Gili Air | Part 4

Tak perlu menunggu.
Aku pasti menepati janji.
Aku akan datang, tak kan terlambat sedetikpun.
Percayalah..."
- Matahari-

Selepas sholat subuh, tak perlu pakai mandi, bebedakpun tidak, kami sudah keluar kamar.
Jalannya saja masih sepi, semua masih terlelap dalam mimpi.
Lampu rumahpun masih temaram, tapi kamiiii, suami istri, bergegas menanti matahari terbit di tepian Dermaga Gili Air.


Berlahan warna jingga menghiasi langit mengantikan gelap.
Sunrise begitu indah, 
Masya Allah. Allahu Akbar!



Kami juga mengamati aktivitas penduduk Gili Air di pagi hari,  nelayan pergi melaut, sebagian sibuk memancing, kapal-kapal disiapkan untuk berangkat pagi.

Kapal motor siap mengangkut penumpang

Berharap rezeki dari laut

Memancing

Pedagang sayur keliling

Cidomo mengangkut sampan tadi malam

Berlahan, langit menjadi terang. Ya Allah, rasa syukur kepadaMu Ya Rabb, kami masih diberikan waktu melihat Sunrise juga Sunset di Gili Air....Alam menjadi sangaaattt indah.

Padahal, sebenarnya gerakan harian semu matahari itu sudah biasa kita rasakan setiap hari. Ketika  Bumi berputar pada porosnya mengitari matahari, hingga gelap menjadi terang, malam berganti siang, musim ke musim, itu hal biasa yang kita lewati.

Apalagi  setelah sholat subuh adalah waktu untuk berzikir menanti matahari terbit.
Tetapi kenapa jika di rumah sendiri, kita tak bersusah payah naik ke atap, mengabadikan sunrise?
Kenapa di sini kita begitu berbeda, semangat melihat Kekuasaan Allah Yang Perkasa, Pemilik alam semesta beserta isinya.

Baru kita sadari, dengan liburan ini, kita bukan saja untuk bersenang-senang, tapi juga sedang tadabur alam. Memberikan kesempatan untuk sejenak lepas dari aktivitas keseharian, walau sekedar melihat terbitnya matahari dari timur dan kembali tenggelam di ufuk barat...itu sudah sesuatu yang luar biasa.

Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban 
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Semua terjadi sebagai tanda kasih sayang Allah yang diberikan kita. 

Sunrise di Darmaga Gili Air

 Sunset di Pantai Gili Air

Ngopi dulu, biar strong

Tiba-tiba pengen ngopi, untung ada warung sederhana yang sudah buka, sementara cafe-cafe masih tutup, pasti karyawan dan pengunjung lelah sepanjang malam. 

Ini warung yang sudah buka di pagi hari


Bala bala, getas, onde atau roti goreng, lupa tanya apa namanya

Sepeda ditinggal penyewanya.

Dusun Gili Air

Di depan warung ada persimpangan, salah satunya jalan  utama ke dusun Desa Gili Air. 


Di dalam terdapat hotel dengan harga terjangkau, cafe, rumah-rumah penduduk asli.
Klinik

Perlu direnovasi musolanya...

Pulang...

"Kang, jadwal kapal nyebrang, cuman sekali sehari. Kita harus ke bandara, pesawat ke Bali jam 4 sore." 
Saya baru ingat, kami harus segera kembali ke Lombok.
Rasanya, liburan ini sebentar sekali, tapi kami harus pulang. Segeralah berkemas, sarapan pagi, sekalian cek out.


Kami tetap memilih naik kapal motor saja, karena kalau naik speedboad memang sebentar sampainya, nunggunya rada lama.

Tersedia jembatan ke kapal
Kapal motor jalannya alon- alon asal kelakon, sing penting selamet

Kapal Cepat

Karena trauma Mabuk Laut kemarin, pusing nggak jelas, lemes, mual, keringat dingin, diam-diam saya minum aja obat anti mabok sebiji, efeknya emang nggak langsung ngantuk, paling tidak otak saya, nggak terganggu keseimbangannya.
Mabok dikarenakan badan kita diam(duduk) tak bergerak, tapi mata dan penglihatan tetap aktif, itulah yang menyebabkan mabooook.

Eh! Jadi ingat tante Mawar, adik ibu saya di Kalimantan Tengah,  untuk mencegah mabuk perjalanan, tante suka mengengam batu, trus dikepal kenceng-kenceng sambil ngomong; Jangan mabukkkl. 
Gile benerrr, ngomong sama batu. 
Tapi kenapa kalo kebelet buang hajad, saya suka genggam batu juga, sekencengnya, nggak jadi deh modolna...aneh pan. 

Karena kemarin berangkat, sokkk sekali duduk di depan deket kemudi, malah kena ciprat air.
Duduklah kami berdua  di belakang perahu. 
Tenyata, gelombang lagi  baek, ombaknya nggak tinggi, sampai pelabuhan  Bangsal juga cepat.

Sesampai Bangsal Pemenang, kita naik darat menyelusuri gang kecil, pasar kaget. Sebenarnya perlu diperbaiki fasilitas dermaga Bangsal ini, agak bagus napaa, turis yang datang banyak dari manca negara, pelayanan kelas kecamatan.

Untung, kami nggak dipusingkan mencari mobil tumpangan menuju Lombok. Teman kami Luh, memberi kontak driver yang sering menjemput dan mengantar dia dari Lombok ke Bangsal atau sebaliknya.

Baru mobil berjalan, ini obat anti mabuk baru bereaksi, nguantukkkk tak kira. Sampai suami heran, kenapa saya jadi pendiam? (dia nggak tau aja, antimo ditelen satu tablet, kalau tau suka marah)

Masih ada sisa waktu sebelum meluncur ke Bandara Internasional Lombok,
Kami makan siang dulu di Lesehan Taliwang Indah kota Mataram. 
Makan pakai ngantuk itu menderita sekali, apalagi pake bohong.
"Minum antimo, ya? Kebiasaan," tebak suami penasaran.
"Enggakkk, ini beneran ngantuk."
(Dalam hati, yakin dia nggak percaya...kelihatan dari romannya.)
Dari pada terlambat, kami lebih baik menunggu di Bandara, jadi nggak usah mampir beli mutiara (Mataram terkenal dengan keindahan mutiara air laut dan tawar).
Saya sudah cukup punya satu mutiara yang beeesaarrr: itu....mutiara yang selalu di hatiku.
(Menatap ke suami, sembari ngantuk)
.
.
.
Sampai bandara, tak ada keinginan satu pun, saya cuman mau tidurrrr....Zzzzzzzz.
Tidur di kursi ruang tunggu Bandara,  pendingin ruangan menyenangkan hati. Dhilalah, sudah buru-buru  ke Bandara, malah delay hampir 1 jam lebih (tau kan apa pesawatnya?)
Kirain dikasih apa tanda maaf: biskuit sebungkus dan air mineral gelas.
Lah! Kami mau bilang apaaah? 

Oke, cerita bersambung.
Noted: Dapat kabar dari Luh teman kami, untuk sementara Gili Air ditutup untukmencegah pandemik. Mari kita berdoa agar Covid19 cepat pergi.














No comments:

Post a Comment