Tuesday, November 23, 2021

Kerupuk Blek, Dahulu Hingga Sekarang.

Kerupuk Blek, kenangan dari masa ke masa.

"Mbak Tumm...Tumbas," teriakku di depan warung Mbak Tum. Wanita berkebaya itu sudah tau, apa yang mau kubeli di pagi hari sebelum berangkat sekolah, kerupuk lagi kerupuk lagi.
Sarapan dengan nasi putih , lauknya  kerupuk seharga seringit dua, rasanya tiada tara, 
Bagi kami sekeluarga sudah Alhamdulillah,  keluarga seorang PNS di perantauan, tugas belajar menyelesaian sarjana S1 di Univ. Brawijaya.
Kami hidup sederhana, tinggal di rumah kontrakan. kenangan masa kecil di Kota Malang tahun 1977.

Setelah Bapak lulus sarjana, kami pulang ke Kalimantan.
Krupuk blek jarang ditemukan, orang Kalimantan jarang makan nasi dengan kerupuk.
Kerupuk hanya camilan, makan gado-gado atau pencok aja nggak pake kerupuk.
Berbeda dengan orang Jawa, tak ada kerupuk, makan terasa tanpa garam...
Qodarullah, berjodoh dengan suami orang Cimahi (kerupuk lover) makan wajib ada kerupuk.
Kerupuk blek, putih bulat beraa gurih ibu  bertahan dari masa ke masa, hingga kinu masih digemari banyak orang.
Lihat saja, di sudut warteg, selalu ada kerupuk putih dalam toples segi empat berkaca dalam kaleng(Blek).

Memang sih, kejayaan pedagang kerupuk blek sudah berkurang. Nggak ada lagi, terdengar ancaman emak pada anaknya.
"Jangan nakallll, nanti dibawa Mamang kerupuk. Mau!" Gertak ibu-ibu pada bocah  balita, spontan, anak langung berhenti nangisnya, takut dimasukkan ke dalam blek besar pedagang kerupuk.
Kini sudah jarang ditemukan pedagang memanggul kerupuk toples blek besar. 
Sekarang kantong kerupuk terbuat dari plastik terpal yang besar,  lebih ringan dibawanya. Atau kerupuk dijual  dengan naik kendaraan.

Pabrik kerupuk pun sudah berkurang, biasanya toke(bos) pemilik pabrik akan mengantar ke lokasi jualan pedagannya sekitar 25 orang, sekarang tinggal 11 orang saja.
Ada dua cara pedagang kerupuk mendapat keuntungan. Pertama,  menghitung untung dari jumlah kerupuk yang terjual per bijibya. 
Kedua, pedagang terlebih dahulu, menimbang kerupuk kering di pabrik, berapa kilo yang dibawa, kemudian digoreng.
Harga kerupuk blek, di kota Bogor, satu bungkus Rp. 3.000,- untuk harga satuan kerupuk dengan ukuran lebih besar, dijual seribu.

Aku jarang membeli kerupuk yang kering, karena selalu gagal mengorengnya.
Katanya, kalau di pabrrik, kerupuk digoreng dua kali dengan wajan besar,..susah susah gampang.
Kreatufitas anak IKJ, kerupuk keramik
Beli matang aja deh, tinggal makan.
Benerkan.

#NopemberKuliner
#KerupupBlek

No comments:

Post a Comment