Sunday, December 31, 2017

Selamat Tinggal Tahun Terbaikku 2017

Aaahhh...1 jam 15 menit lagi, jam waktu menuju tahun baru 2018.

Saya harus menuliskan sesuatu, tulis apa saja sebagai penanda di akhir tahun di malam ini.
Menulis di antara bunyi petasan gemerlap di langit.
Darrr derrr dorrr.
Padahal belum waktunya sih untuk Indonesia Bagian Barat, nggak sabaran kali ya untuk menyulutkan api petasan.

Malam Minggu terakhir, langit cerah sekali.
Saya sendiri, eh nggak juga, ada gerombolan si berat, kucing-kucing gemuk setia menemani.
Tapi...tetap merasa sendiri, mereka sibuk berdandan menjilati bulu-bulunya (seperti hendak wakuncar padahal di rumah saja), sebagian tidur pulas karena kenyang.
Sebagian bersembunyi di kolong ranjang, bunyi petasan sangat menyakitkan di telinga kucing, atau disangka ada perang.
Ya sudahlah, mau bagaimana lagi, kesenangan orang.
Setahun sekali membakar uang...hehehe *horang kayaaaa.

Malam tahun baru.
Sebungkus nasi Padang dipesan anak, sebelum dia berangkat untuk berpesta, bakar sate.
Dia berharap Mama tetap kenyang di malam tahun baru...hehehe, takut mama pingsan.
Nasi Padang memang mantaf, Te O Pe, apalagi dengan porsi komplit, (paling tau selera Mama.)
Nasi, ayam bakar jumbo, sambal lado ijo, rebus daun ubi, sedikit gulai nangka...nyam nyam nyam.
Terpaksa saya makan bersembunyi di dapur, sampe megap-megap, keselek, air putih lupa di sediakan. Ini gara-gara si Nuha

Suara Nuha mengeong kera ingin masuk, bau nasi Padang semerbak mengoda untuk ikut makan.
Aaahh, sayang, biarkan mama menikmati, sekali-kali tanpa diganggu...please!
Saya tetap tak memperdulikan, suara ngamuk si kucing jantan remaja di depan pintu dapur.

Selesai makan.
Duduk di depan televisi.

Acara dangdut, sedikit membosankan. Lagu Pop, bukan aliran saya, tambah membosankan. Menunggu tausiah saja di TV one. Pindah-pindah chanel setiap waktu 5 menit, sungguh saya tak konsisten menikmati acara, tak ada yang menarik.

Tiba-tiba, suara tanda pesan masuk di hape saya.
Mudah di tebak siapa yang mengirimnya, cuman satu: suami.
Akang mengirim pesan:
Selamat tahun baru, cintaaa.
(Padahal belum waktunya)
So sweet...ya harus, kami berbeda jarak dan enam jam, komunikasi yang utama.
Setia pada komitmen dan saling percaya.
Rasanya saya ingin memeluknya.

Televisi saya matikan.
Masuk kamar.
Menulis.

Kesedihan dan Kebahagiaan

Tahun 2017 memberikan banyak pelajaran.
Kesedihan dan kebahagiaan dalam hidup saya.

Sedih...Juni 2017, kehilangan Mama secara mendadak.
Kematian telah memutuskan nikmat kebahagiaan di dunia, tiada lagi Mama tersayang.
Ada ruang hampa tak terkata, ketika tiada lagi orang tua.
Tak ada yang kurindu untuk bertemu...sungguh, inilah arti kehilangan. Baru terasa setelah pergi selamanya.
.
.
.
Dannn...tahun 2017
Saya memenuhi janji pada Mama tepat di hari yang ke 100.
Melaksanakan pernikahkan dengan kekasih tercinta.

Semua serba mendadak.
Tak terencana...
Saya harus melakukannya.
Harus ada kepastian, kalimat dalam diam berkecamuk di hati.

Mau jalan terus hubungan ini.
Atau berhenti, dan belok kanan. Selesai.
Lelaki baik itu, masih jetlag 12 jam perjalanan dari Swiss-Indonesia.
Pulang untuk menikahi saya.
Satu hari waktu yang singkat, mempersiapkan segalanya.
Alhamduliah, Oktober 2017
Allah memberikan kemudahan dan kelancaran acara kami.

Pernikahan sederhana.
Dihadiri sanak saudara.
Kesedihan terhapus dengan kebahagiaan.
Benar kata Mama, sedih dan senang, hanya soal perasaan...waktu akan mengobati seluruh luka dengan kebahagiaan.
Sedih dan senang adalah rasa sementara, yang akan tetap ada, silih berganti.
Jalani semua perasaan dengan sabar dan ikhlas.
Jadikan semua ujian untuk meningkat keimanan.

Tahun 2017.
Saya berusaha tegar menjalani semua ujian kesediaham juga kebahagiaan.

Doa dan Harapan
Tahun 2017 segera berakhir.
Doa dan harapan untuk tahun baru 2018
Hanya ingin Allah memberikan kesehatan serta kesempatan terus beribadah.
Saya sadar, mensederhanakan harapan, tak muluk, yang pasti saja.

Banyak bersyukur maka Allah akan menambah banyak kenikmatan.

Ini terbukti.
Saya tak muda lagi, namun Allah memberikan suami yang baik...berakhir sudah masa single parent di tahun ini.

Di usia jelang setengah abad, Allah memberi anak yang berbakti, penyejuk mata dan hati. Bahagia sekali, anak yang dewasa dan mentas. Tadi siang,.si gadis memberikan kado ulang tahun, satu set meja makan, beberapa dekorasi rumah, padahal ulang tahun saya, 9 Januari (catett...hihihi...maksud Lo!)

Saya tak muda lagi, hanya satu kuminta pada  Pemilik kehidupan dan pengenggam kebahagiaan, Allah SWT, panjangkan usia hamba yang dipenuhi keberkahan.

Tak banyak mimpi di tahun depan.
Mengikuti takdir seperti air mengalir.

Sebentar lagi, tahun berganti.
Saya awali denga tekad niat baik dan doa.
Bismillahir rohmannir rohim.

Salam penuh kebahagiaan
-Een Endah-

7 comments:

  1. Merembeng gerimis baca pesan alm.Mama. Berbahagialah Mbak Een, dikelilingi keluarga penuh rahmah.
    Barakallah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mbak Oti yang baik hati. Yaa...semua memang hanya perasaa yg sifatnya sementara saja

      Delete
    2. Makasih Mbak Oti yang baik hati. Yaa...semua memang hanya perasaa yg sifatnya sementara saja

      Delete
  2. Mak eeennn, trasa di hati damainya hati mak een,bahagia selalu ya mak ����

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaaa...hidup memang hanya belajar dan belajar utk berdamai dgn hati. Memgikhlaskan...

      Delete
    2. Yaaa...hidup memang hanya belajar dan belajar utk berdamai dgn hati. Memgikhlaskan...

      Delete
  3. Semoga tahun ini, semuanya menjadi yang lebih indah lagi ya mba

    ReplyDelete