Friday, December 1, 2017

Wisata Sehari di China Town Glodok

Mau traveling kemana kitaaaa?
Yang nggak mahal, murah meriah, trus nggak perlu jauh, cukup sehari aja, tapi travelnya terasa di China bukan di Indonesia.
.
.
.
Hening.
Mikirrr.
Mana ada sih, wisata sehari, murah meriah serasa di China...*emangnya situ punya lampu Aladin?

Tunggu dulu, sabarrr. 
Ternyata ada,loh! wisata sehari, murmer, chiinnn.
Cukup dengan biaya Rp 60.000,- saja, bersama Jakarta Food Traveler, kita menjelajah China town-Glodok dengan hati senang.

Sebelum menutup lembar bulan Nopember ini, saya mau bercerita tentang jalan-jalan sehari di kawasan Glodok, Jakarta Barat.

Dari Stasiun Bogor hampir dua jam perjalanan comuter line menuju Stasiun Kota(Beos). 
Rombongan Asinan Blogger tiba di Beos...Yang dua horang lagi kemana ya?
Kami bertemu dengan rombongan lain, Jakarta food traveler di Panjcoran tea house jam 09.00 lewat dikittt. Untuk menemukan meeting point ini gampang sekali karena berada di pinggir jalan besar.

Glodok
Untuk berkeliling di China town Glodok hari ini. 
Tentu dong, mau tau, kenapa dinamakan Glodok?

Dilihat dari sejarah, kawasan Glodok ini memiliki peran penting dalam berdirinya kota Batavia hingga berkembang menjadi kota Jakarta. 
Sebenarnya kawasan Glodok ini memiliki sejarah kelam pada masa penjajahan karena tempat isolasi orang Tionghoa, tak heran kawasan Glodok di kenal sebagai pecinan terbesar di Jakarta dan kini berubah menjadi pusat elektronik terbesar di Indonesia. Hebatnya, sekalipun tahun terus berganti, orang Tionghoa di Glodok tetap melestarikan makanan, tradisi dan budaya dari leluhurnya negeri China.

Asal nama Glodok diambil dari suara air yang mengucur dari banyaknya pancuran kanal di daerah ini. Bunyi air "grojok grojok" itu, dieja sebagai glodok oleh penduduk Thionghoa

Pantjoran Tea House
Di perempatan jalan ini, berdirilah Pantjoran tea house (karena waktu mepet, saya tak sempat masuk ke dalam)
Yang menarik di depan kedai ini, disajikan 8 teko teh dan cangkir dari kaleng motif blurik jaman dulu. Silahkan diminum sebelum anda lelah. 
Gratis. 
Waduh...leganya bisa beri teh gratis, ibarat oase, pas bener sedang haus. Minuman delapan teko ini memang tujuannya untuk kebersamaan.

Tradisi Patekoan menyajikan teh ini, berasal dari kebaikan Kapiten Gan Djie dan istrinya pada masa lalu.
Kapiten yang dikenal sebagai Kapiten warga Cina (kapiten der Chineezen) meletakkan 8 teko untuk pedagang keliling, orang orang yang lelah tau sekedar berteduh.
Delapan (pat dalam bahasa China) teko ini menjadi asal muasal nama di Patekoan.
Sepanjang jalan Patekoan terdapat deretan toko obat China. 
Di depan toko obat di emperan jalan, banyak pula penjual kalender China dan amplop angpao. 

Perlu dicatat, saat memberi angpao ke warga Thionghoa wajib berwarna merah sebagai lambang kemakmuran. Jangan sekali-kali berwarna putih, karena dianggap berkabung.

Toko Penjualan Manisan dan Permen
Sebelum memasuki satu lorong gang Gloria, ditandai penjual deretan manisan, warga pecinan menyebut manisan kiloan.
Aihhh serasa di mana gitu, di Chinaaa. 
Selain manisan buah kering, dijual berbagai permen. Dan hebatnya terdapat juga permen masa kecil dulu, permen telur cicak warna warni, permen susu yang bungkus tipis bisa dimakan, benar-benar komplit bagi yang hobi permen dan manisan.

Gang Gloria
Saat memasuki  gang Gloria, langsung disambut kepulan uap dari rebusan kuah soto babi menyeruak di udara. 
Di gang sempit ini memang surga bagi pencinta kuliner non halal.
Terdapat banyak kuliner Cina Peranakan di gang Gloria. Berderet pedagang menjual, siomay, nasi campur babi. 
Dijual pula Pioh tauco berupa soto atau sop, makanan berkuah berbahan dari daging kura-kura atau penyu darat ditambah tauco. 
Pioh Tauco dipercaya berkhasiat untuk kesehatan dan dapat mengencangkan payudara kaum hawa. Tak heran laris manis diburu pengunjung wanita termasuk saya, cuman... saya mah jadi pemerhati saja.
Selain itu, saya pikir tadi itu apa?
Daging yang ditaruh di panci besar dengan kuah warna kecoklatan Ternyata ini namanya Bektim, semacam soto dari jeroan Babi. 
Saya tanya seporsi untuk usus babi termasuk murah cuman Rp 10.000,- Hebatnya, sang penjual tetep aja menjawab pertanyaan saya, sekalipun saya nggak beli, apalagi memakai jilbab. Tetep ramahh suramahhhh.

Di Gang Gloria ini, merupakan destinasi utama wisata kuliner yang di dominasi warga Thionghoa. Rombongan kami yang sebagian besar berjilbab dan dresscode berwarna merah sampai ditanya:
"Bu, pengajian dari mana.nih? 
"Duilehh...kitakan turis, boo." #kibasjilbabManjaah.
Huhuhuuu pertanyaan itu membuat saya senyum senyum sajalah. 

Syukurnya, pedagang di gang ini ramah-ramah, difoto pun mau bergaya dan tersenyum manis.
Hal ini berbeda banget  dengan yang saya rasakan, waktu  travel Singapura di daerah China Town.
Disana, senyum pun tidak mereka pada saya.

Dududu, trus saya dianggap apa nih...kita kan turis, tetap aja di anggap Indon
Beda banget di Indonesia, China Town Glodok mah ramah-ramah menyambut siapa saja yang datang.
Pantas Indonesia terkenal ramah dan suka senyum di manca negara.

Kopi Es Tak Kie
Dapat es kopi  susu Tak Kie aja, eikeh girang
Letak kedai kopi ketutupan pedagang Bektim dan Pioh Tauco. 
Masuk ke dalam kedai, laaadalah...pengunjungnya buanyak bener.
Apa yaa keistimewaannya?

Sangking penuhnya pengunjung, saya harus sabar menanti untuk dapet bangku, tadinya saya berdiri macam serbet warteg.

Kopi Tak Kie berdiri sejak tahun 1927. Lamaa benerkan. Dan mereka tetap mempertahankan cita rasa kopi dari dulu hingga sekarang.
Dengan racikan 5 kopi Lampung, gula dan air mendidih, dan susu tambah es. 

Sruppp....glek!
memang es kopi susunya enak, manisnya sedang, nggak bikin enek.
Sambil menikmati es kopi, saya pun ikut sibuk selfie dengan penyeduh kopi,  wajah oriental lagi kece. 


Untuk segelas kopi hitam TaK Kie dibandrol Rp 15 000,- sedang Es kopi susu cukup Rp 17.000,-
Selain kopi, menu lain, mie, nasi campur daging Babi. Jadi saya hanya menikmati kopi sajah, sembari terpana meliha kelahapan pengunjung makan nasi campur...*masa mesen, cuman bisa nelen ludah, ihikz

Pasar Petak Sembilan
Selanjutnya kita berjalan mengikuti komando tour guide menuju sebuah pasar tradisional bernuansa China yang dikenal Pasar Petak sembilan.
Saya seakan berada di ChinaTown Singapura. Lampion merah menghias jalan Pasar Petak Sembilan, bergantungan di atas kepala.

Namanya juga pasar, semua ada di sini dari pakaian, asesoris, alat untuk sembahyang ke klenteng, sayur mayur, ikan dan daging. Bagusnya dari Pasar Petak Sembilan, sayur mayur, ikan dan daging disusun rapiii sekali.

Ini nih kayu Ali
Bahan-bahan yang yang susah ditemukan juga ada di sini , seperti daun bambu untuk pembungkus bacang.
Penjual obat Thionghoa juga ada, buah dewa kering, biji mahoni, akar alang-alang, daun kering kelor sampai kayu Ali untuk keperkasaan pria juga ada.

"Beli, Bu, cuman Rp 30.000. Di rebus,minum selagi hangat, kasih ke suami...hasilnya, jossss," tawar pedagang muda sambil menyodorkan irisan kering kayu Ali.

"Nggak ah, saya mau yang alami saja. Kalau terlalu perkasa, saya juga yang repot..." 

"Ibu bisaaa aja." disambut gelak tawa rombongan.
Yaaa benerkan, yang alami aja saya sudah puas was, nggak perlu doping lagi, batin saya sambil melenggang pergi.
Di deretan pedagang, terdapat penjual, lintah laut , timun laut atau tripang jarang-jarang dijual kecuali di pasar petak sembilan, katanya sih harganya mahal.
Satu lagi yang membuat saya kaget, nah ini...ada ketuyung (keong dalam bahasa Banjarmasin) dijual juga di sini, pengen beli tapi nanti repot nenteng-nentengnya. Saya kasih tau ya,  Ketuyung ini, enak direbus, setelah masak, cara makannya disedot.
Mengoda sekali ajakan Ratna untuk masuk ke Pasar Sadis, saya berkata: tidaaakkkk
Rombongan dipersilahkan masuk ke lorong sempit dan becek, dinamakan lorong sadis. 
Dinamakan sadis, karena semua binatang ada disana, siap potong. Mendengar begitu, saya nggak mau masuk, cuman berdiri di ujung lorong, takut melihat kenyataan, coba kalo ada daging kucing atau anjing, apa saya nggak shock berat.

Laaa ini, lihat kodok hidup ditusuk dengan bilah bambu hidup untuk dijual aja hati saya teriris bagai sembilu, perihhh.
Ya sudahlah, saya berjalan cepat menuju destinasi selanjutnya.

Vihara/Klenteng Dharma Bakti
"Bu beli burung?"
Hah...
Saya yang awan jadi bertanya tanya.
Burung?

Bagi penganutnya, untuk mendapat karma baik, manusia harus melakukan kebaikan terlebih dahulu. Salah satunya dengan melepas burung untuk memberikan kebebasan pada burung dan nanti akan, karma baik ini akan dibalas dengan kebaikan pula.
Oh...pantaslah, banyak umat, membeli burung pipit untuk dilepaskan setelah sembahyang.


Memasuki gerbang utama, bau asap hio mendominasi klenteng hari. Lilin besar berwaena merah menyala menerangi klenteng.

Klenteng  Dharma Bhakti berada di jalan Kemenangan III, dibangun oleh Letnan Kwee Houn. 
Jadi merupakan klenteng tertua di kawasan Glodok.
Klenteng ini aslinya bernama Jin De Yuan, kemudian agar terdengar nama Indonesia diganti klenteng Dharma Bhakti. 

Sebagai tuan rumah klenteng ini adalah Dewi Kuan In (Dewi Welas Asli). Menurut cerita, ketika kejadian Angke, semua patung hancur yang tersisa cuman Patung Dewi Kuan In.
Memasuki ruang klenteng utama, letaknya di belakang,  terdapat tiga patung dewa berwarna keemasan dengan ukuran besar. Kebetulan waktu saya datang, umat yang sembahyang sangat banyak.


Untuk melepas lelah, pengunjung disajikan bubur kacang hijau secara gratis

Gereja St. Maria de Fatima
Kami hanya sebentar karena ada pemberkatan pasangan yang menikah saat itu. Yang khas dari gereja ini adalah inskrip dalam bentuk aksara Tionghoa.

Gang Kalimati
Masih di kawasan Pasar Petak Sembilan, gang Kalimati?
kita sampai pada destinasi terakhir. 

Gang kecil ini juga termasuk surga bagi pemburu kuliner khas China Peranakan.

Jujur ya, dari tadi sebenarnya, saya merasa lapar, bahkan sekarang rada gemeteran, cumannn, saya tahan aja karena mau beli makanan, kebanyakan non halal. Setelah celingak-celinguk, akhirnya ketemu juga penjual makanan halal.
Penjualnya memakai jilbab, saya dengan semangat membeli mie goreng bertabur kacang tanah.

Makan di depan toko, saya merasa kenyang sekali, kenyang makan mie, kenyang juga mencium wanginya berbagai jajanan; cempedak dan sukun goreng. 
Ada pula Pia Lau Beijing, yang katanya, menurut cerita, di namakan Beijing, karena yang membuat kue langsung dari orang Beijing. 
Bagaimana rasanya? emmmm...enakkk, apalagi isian Pia Lau sangat beragam dari kacang merah, keju dan durian. Pia Lau mirip Bakpia, bedanya, ukurannya lebih besar dan lempeng/nggak bulet montok seperti bakpia umumnya. Harga Pia Lau Beijing Oriental rasa asli Rp 5.000,- perbuah, sedang isian durian dan kejua Rp 6.000,-

Kedai terakhir yang kita datangi
kedai Mie Lao Hoi
Memasuki kedai ini, sungguh membuat saya terkagum kagum. Interior serta ornamen kedai seakan membawa ke Tionghoa masa lalu. Tempatnya juga rapi dan bersih.

Di Depan kedai, seorang bapak tua menyambut pengunjung  dengan sangat ramah, senyumnya manis sekali

Kedai Mie Lao Hoi berasal dari kata 'Tua' atau lanjut usia. Ini disesuaikan dengan pengelola kedai yang memang sudah lanjut usia. Sekalipun sudah tua tapi masih bersemangat berusaha.

Sembari menunggu pesanan, saya pun permisi numpang ke kamar kecil di belakang kedai.
Lagi-lagi, saya berdecak kagum, sekalipun ruangan nya kecil tapi sangat bersih. Dindingnya berhias keramik biru dan pintunya  berdaun dua, kunci pintu terbuat dari palang datar pakai kayu, macam jaman dulu.
Kalo tau interiornya bagus begini, pasti saya foto, tapiii karena kebelet, hape ditinggal dalam tas di depan, aahhh... biarlah keindahannya tersimpan di benak saya sendiri. *lebay deh!

Diam-diam, saya melonggok ke dapur di belakang kedai, yang masak memakai jilbab, yakinlah mie Belitung di jamin halal.

Untuk saat ini kami tidak sempat memesan menu makanan, hanya memesan minuman: Liang teh dan sirup cap badak

Es Liang teh, minuman sehat karena rasanya hambar. Sekalipun tanpa gula terdapat sensasi dari tehnya, segar dan ringan.

Membaca label sederhana dari kertas putih di botol 'Sirup cap Badak', jarang-jarangkan nama binatang jadi nama sirup apalagi hewan Badak. Jelas dong, saya penasaran, ealahh...inikan limun Sarsapila. 
(Saya pernah posting tentang Rasa Sarsapila di Minum kopi di warung kopi Purnama Bandung)

Ditempat ini, Gang Kalimati, rombongan Trip old China Town Glodok berpisah.
Rasanya puas dengan perjalanan sehari ini, ternyata Jakarta itu memiliki kawasan Pecinan yang unik, membuat saya terperanggah...nggak nyangka, berasa di Negara China padahal sih di Jakarta.
Kalo nggak ikutan Jakarta Food Traveler, saya nggak pernah tau seluk beluk wisata di China Town /pecinan di Glodok. 

Dengan membayar angkot Rp 4.000,- perorang, kami enam perempuan dari Asinan Blogger kembali ke stasiun Beos menunggu comuter line menuju Bogor.
Ngobrolin si kokoh di Es Kopi Tak Kie, kece habis mirip bintang Film
Oke, sampe jumpa pada perjalanan selanjutnya. 

Salam teramat manis dari saya, yang sudah manis.
Ehhhh....hahaha.

*Een Endah*












6 comments:

  1. Eeennn, aku mau foto yg di depan Gang Sadis😘

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ambillahhh...kau tampak cantik disana

      Delete
  2. Haduuuh..terkaget kaget bacanya. Ada bangga, aneh, lucuu, sampe horor soal pembantaian hewan itu. Ada juga rasa ciut tapi legaaa setelah tahu ada makanan halal mie tabur kacang . Indonesiaku luar biasa!!
    Hayuu mbak Een, ke sana lagi! Temani saya, lalu potret kamar mandi itu. *Tulisan yg bagus!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemonlah. Eikeh siap diajak kesana lagi. Berpetualangan menyelusuri sisi lain lota jakarta

      Delete
  3. Kopi Es favorit banget deh itu. Udah lama ngak ke kawasan kota tua, abis lihat postingan Mbak Een jadi kangen wisata sejarah lagi di sana.

    ReplyDelete
  4. Wah, baru tau kalau dalamnya Glodok itu rame bgt penjual. Next time aku juga mau coba jalan2 ke sana. Anyway, sempet ketawa baca tulisan rombongan pengajian hihi :p

    ReplyDelete