Wednesday, September 16, 2015

Es Cuing, minuman khas Cirebon

"Cuing!!! " teriak Mamang sambil mendorong gerobaknya.
Cuing!!! teriaknya lebih nyaring, biasalah, agar terdengar, maklum Mama saya suka membeli es cuing kalo lewat depan rumah.
Semangkok es Cuing, dihargai sangat murah, cukup Rp 2.000,- #Di desa segalanya masih murah di banding di kota. Es cuing, minuman khas Cirebon,terasa segar melepas dahaga, cocok dengan cuaca panas di desa Cikalahang yang panas. Es Cuing, sumpeh, segerrrr, slurpppp!

Apa, tuh! Es cuing?
Es Cuing, heudehhh...warna cuing ijo, gegara kamera jadul, kok jadi hitam.
Maenyakkkk, ternyata...
"Mang,  ieu mah cincau geuningan," saya melongok ke dalam dandang yang berisi jeli cincau yang berwarna hijau alami.
"Sanes, Bu, ieu mah, Cuing." keukeuh wee, bilang cuing.
Es cuing, minuman khas Cirebon  perpaduan dari gel(agar-agar)  daun cincau hijau, cendol sagu, santan kelapa, es serut dan kinca(air gula merah aren). Untuk menghemat tenaga, Mamang tidak perlu lagi menyerut es batu setiap menyajikan es cuing. Serutan es batu di campur dengan santan kelapa dan dimasukkan ke dalam termos besar kedap angin,
"Ini mah, Bu, dari daun cuing yang merambat. Nggak ada pewarna pabrik, hijaunya asli. Nggak pake pengawet tepung keong untuk mengentalkannya. Semua asli"
#Promosi ya, Mang.
Keluguan Mamang tukang Es Cuing ini, patut di kasih jempol. Jualan benar-benar mencari barokah, rezeki halallan thoyiban. Saya foto es Cuing sulit menampakan warna hijau tua cuing, karena tidak memakai pewarna tambahan.
Menurut Mamang, membuat cuing, tidak lama. Dari pemetikan daun cuing, pencucian, meremas dan mengendapan cuing tidak lama. Cuing menjadi jeli agar-agar hanya perlu 4 jam saja, katanya.

Sebenarnya, cuing itu nama lain dari cincau. Dibuat dari cincau hijau merambat. Seingat saya, daunnya berbentuk bulat. Dulu, waktu sekolah dasar, saya suka memetik daun cincau di rumah teman di Bukit Hindu-Palangka Raya.Sebaiknya, memetik daun cincau di sore hari, karena penyerapan hasil fotosintesis di pagi hari, menghasilkan klorofil/hijau daun benar-benar tersimpan  di daun cincau di waktu sore. Cincau ada dua, cincau rambat (Cyclea Barbata) berwarna hijau dan cincau perdu (Premna Oblongifolia), untuk pembuatan cincau hitam Terus terang, untuk cincau perdu, saya belum pernah melihat langsung.

Jadi keingetan, masa kecil tahun 80-an, saya suka membuat minuman cincau, belajar dengan teman cara membuat cincau. Jaman dulu, anak lebih kreatif, maklum jarang ada yang jual minuman. Berbeda dengan sekarang, semua sudah tersedia.
Proses pembuatan gel(agar-agar), daun cincau sangat mudah. Cuci bersih daun cincau yang dipetik, taruhlah kedalam wadah besar(baskom atau mangkuk). Sobek daun menjadi kecil-kecil. Tuang air secara berkala, sedikit demi sedikit. Lakukan peremasan berulang-ulang sampai lendir daun cincau berwarna hijau tua keluar. telah dirasa cukup, saring hasil remasan daun cincau. Proses terakhir, tempatkan air remasan cincau dalam wadah, diamkan selama 4 jam di tempat yang sejuk. Daun cincau berubah menjadi mengental menyerupai gel(agar-agar) siap diolah untuk berbagai aneka minuman. Potong cincau sesuai selera, sajikan bersama santan kelapa dan gula.Cincau bermanfaat untuk mengobati panas dalam. Untuk pengobatan, cincau diminum tanpa es.

Es Cuing, disajikan dengan berbagai variasi. Salah satunya, si Mamang menambahkan es cendol dari sagu, santan, es dan susu kental manis.
Nah! sudah taukan, kalau si Mamang teriak, "Cuuuiinggg!!!"
Nggak perlu berdebat dengannya, sekalipun dijelaskan ciung itu cincau. Tetap saja si Mamang bilang," ieu cuing, Bu,"....Yasudahlah, sekali cuing tetap cuing.
Padahal sih, cincau.Yuk, menikmati hari dengan semangkok es cuing atau es cincau. Apa nama lain cuing, cincau di daerahmu? 

3 comments:

  1. segernyooooo, panas2 gini paling mantab menyantap ini ya mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mantap sekali, sambil terkaget kaget, mendengar suara Mamang penjual es
      "Cuingg!"

      Delete
  2. Baru denger kata cuing, ternyata sama dngan cincau. Pake santan seperti es dawet ya.

    ReplyDelete