Friday, November 18, 2016

Seribu Nuansa Satu Indonesia | Pameran Kain Tradisional Nusantara 2016.

Irama musik talempong, rentak khas musik Minang Kabau mengawali acara sebagai tanda ucapan selamat datang dan salam hormat kepada para tamu undangan.  Penari tari Pasambahan berbalut keagungan warna keemasan, berpadu merah , gemulai rancak, membuat suasana terasa membangkitkan jiwa, bangganya menjadi orang Indonesia. Sirih pinang dalam carona dipersembahkan pada tamu sebagai tanda penghormatan. 

Museum Nasional  siap menggelar Pameran Kain Tradisional Nusantara pada 14-20 November 2016 di ruang Pameran Temporer B.
Pameran tahun ini adalah yang ke 6 merupakan hasil kerja sama dengan sejumlah museum provinsi di Indonesia yang telah diselenggarakan sebelumnya di Museum Provinsi Bali (2007), Museum Provinsi Lampung "Ruwai Jurai"(2012), Museum Provinsi  Jawa Tengah Ronggowarsito(2013), Museum Provinsi Jawa Timur Mpu Tantular(2014) dan Museum Sumatera Barat Adityawarman(2015)


Kain tradisional atau wastra (bahasa Sansekerta) Indonesia yang unik dan eksotik menjadi kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Keragaman kain tradisional Nusantara tidak hanya diperkaya oleh tehnik pembuatannya, tetapi juga sifat dan fungsinya. Kain bukan hanya bersifat profan yang dipakai sehari-hati, tetapi bernilai saklar yang dikenakan pada saat khusus dan dianggap memiliki kekuatan magis.

Corak atau motif kain tradisional Nusantara yang umumnya memiliki makna filosofis yang mendalam juga berfungsi sebagai media pembelajaran tentang bagaimana memaknai kehidupan.
Kepala Museum Nasional, Ibu Intan Mardiana, menyampaikan kata Pengantar Pembukaan Pameran kain Nusantara
Pameran kain tradisional Nusantara ini didukung oleh Yayasan Batik Indonesia dan Sekolh Menengah kejuruan 27, Jakarta serta melibatkan 34 museum seluruh Indonesia, antara lain; Museum Nasional Indonesia, Museum Tekstil Jakarta, Museum Sejarah DKI Jakarta, Museum Aceh, Museum Provinsi Sumatera Utara, Museum Provinsi Sumatera Barat "Adityawarman", Museum Sriwijaya Palembang, Museum Provensi Sumatera Selata "Bala Putra Dewa", Museum Provinsi Jambi "Siginjei", Museum Propinsi Bengkulu, Museum Propinsi Riau "Sang Nila Utama",  Museum Negeri Propinsi Lampung "Ruwai Jurai", Museum Propinsi Jawa Barat "Sri Baduga", Museum Batik Pekalongan, Museum Propinsi Jawa Tengah "Ronggowarsito", Museum Propinsi DIY "SonoBudoyo",  Museum Propinsi Jawa Timur "Mpu Tantular", Museum Propinsi Kalimantan Timur "Mulawarman", Museum Propinsi Kalimantan Barat, Museum Kapuas Raya Sintang Kalimantan Barat, Museum Propinsi Kalimantan Tengah "Balanga", Museum Propinsi Kalimantan Selatan "lambung Mangkurat", Museum Propinsi Sulawesi Utara, Museum Propinsi Sulawesi Tenggara, Museum Negeri  Propinsi Sulawesi Tengah,  Museum Propinsi Sulawesi Barat "Mandar Majene", Museum Propinsi Sulawesi Selatan "La Galigo", Museum Provinsi Bali , Propinsi Museum NTT, Museum 1000 Moko Kab. Alor NTT, Museum Propinsi  Maluku "Siwa Lima", Museum Propinsi Papuan dan Museum Sarmi Papua.
Penari dari Donggola
Acara di meriahkan dengan berbagai tarian dari Donggola yang menunjukkan keindahan sarung Pompa. 
Tari Ubung dari Sintang Kalimantan Barat

Tarian ke tiga, sangat menarik yang langsung dibawa dari Sintang Kalimantan Barat , Sanggar Bhayangkara yang anggota terdiri dari Polisi, Bhayangkara artinya siap mengawal budaya untuk kesatuan Indonesia. 
Tarian Ubung. berarti benang, menampilkan proses pembuatan sehelai kain, proses panjang suku dayak mengolah dari memetik buah kapuk sebagai bahan dasar untuk kain, memilih kapuk yang layak dipintal, menenun hingga menjadi sehelai kain.

Pameran Kain Tradisional Nusantara 2016, resmi dibuka oleh  Dirjend Kebudayaan, Bapak Hilmar Farid, Phd dengan  menepuk Ketepuh alat musik Dayak, di sertai ke 34 Kepala Museum di Indonesia.
Bapak  Hilmar Farid bersama kepala Museum Provinsi di Indonesia
Menurut beliau,Pameran ini sebagai pelestarian warisan buda, salah satunya kain tradisional. Wastra Nusanara merupakan merekam jejak perjalanan kehidupan bangsa.
Berbagai kendala masa kini adalah,
1. Produksi kain tradisional  mengalami kendala penurunan bahan mentah semakin berkurang, malah benangnya saja harus impor.
2.Pelestarian kain Tradisional dengan terus mengupayakan penghargaan batik, diakui warisan budaya Indonesia, UNESCO tahun 2009 sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Cultural Heritage of Humanity menjadi bukti bahwa kain tradisional Indonesia yang demikian rumit pembuatannya diakui sebagai pusaka dunia. Dan yang terpenting mendapat pengakuan dalam negeri, ada berbagai cara dilakukan dengan mengalakkan pengetahuan, pendidikan kain tradisional bagi anak bangsa.
3. Upaya menyelenggarakan pameran kepada publik, dilaksanakan dengan cara berpindah dari museum satu ke  museum lainnya 

Usai Pembukan pameran, Para tamu undangan dipersilakan menikmati hidangan untuk makan siang. 

Seribu Nuansa Satu Indonesia

Tema Pameran kain tradisional 2016, menunjukan  Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu, semboyan sempurna untuk Indonesia. Pegakuan keberagaman atas banyaknya dan beragamnya kain tradisional Nusantara namun memiliki banyak kesamaan, 1000 Nuansa satu Indonesia.
Pameran kali ini kesamaan lebih disorot pada tehnik pembuatannya.

Saya memasuki ruang pameran, terasa nuansa  Nusantara.  Kain tradisional merupakan salah satu koleksi masterpiece yang banyak diapresiasi oleh masyarakat, khususnya pencinta wastra. 

Indonesia sangat kaya dengan karya seni salah satunya kain tradisional, coraknya sangat dipengaruhi oleh adat istiadat dan budaya setempat , serta metode yang dipergunakan .

Pada pameran ini ditampilkan 183 koleksi yang berupa tenun ikat, tenun songket ,tenun ikat ganda, batik, sulam, kain kulit dan tehnik ikat celup(jumputan}.

Berbagai jenis kain tradisional di susun pada posisi kiri dan kanan, antara lai kain songket, batik, tenun ikat, ulos, kain besurek, tapis, grinsing, kain sasak, sasirangan, kain tenun doyo, tenun sutera bugis, sulam karowo, tenun dayak.

Beberapa jenis kain  dibuat dengan proses yang sangat rumit dan memakan waktu berbulan-bulan. Proses pembuatan kain semacam ini hampir punah, seperti kain Pelapai dari Lampung, kain bentenan dari Minahasa, keberadaan tinggal selusin, salah satunya ada di Museum Nasional. Di Pameran ini bisa dilihat kain Grising  yang dibuat oleh penenun  dari desa Tenganan, Karang Asem, Bali. Kain ini dibuat dengan tehnik ikat ganda (double ikat). Tehnik semacam ini hanya terdapat di India, Jepang dan Indonesia hanya terdapat di desa Tenganan, Bali.

Selanjutnya pada pukul 13.00 WIB Museum bekerja sama dengan Direktorat Cagar Budaya dan Permuseuman (PCBM) menyelenggarakan seminar " Lestari Wastraku Lestari Negeriku" di ruangan Auditorium Gedung B. 
Seminar ini bertujuan mengedukasi masyarakat untuk lebih mengenal keragaman jenis kain tradisional di Nusantara serta mengungkapkan keterkaitan historis kultural masayarakat Indonesia melalui kain.

Seminar ini menghadirkan para pembicara Dr. Harry Widinto (Direktur PCBM), bu Judi Achjadi (Kurator Testil) dan Ibu Dinny Yusuf (Pendiri Toraja Melo)
Workshop membatik dengan Pak Daromi, SE.. ternyata, susah juga.

Pameran juga mengelar workshop membatik dan jumputan serta bazar kain handy carf dari seluruh Nusantara.

Harapan  Pameran  Kain Nusantara, dengan tema seribu nuansa satu Indonesia dapat membuka wawasan dan meningkatkan pemahaman serta kecintaan masyarakat khususnya terhadap kekayaan budaya Nasional khususnya kain tradisional Nusantara. 
Museum Nasiona, Kuyakin sampai di sana karya Nyoman Nuarta, 2012
Mari kita bersama melestarikan kain Tradisional.
Masih ada waktu untuk menikmati keindahan ragam kain Tradisional hingga tanggal 20 Nopember 2016. (en)


Foto saya berlatar belakang berbagai keindahan kain di masa lampau

Blogger dalam Pameran kain Nusantara, ceria selalu

Diapit Asma dan Beni, Duta Museum Riau, 








6 comments:

  1. aduh aku penaggum berat kain-kain nusantara, setiap ke daerah pasti beli kain khasnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama mbak, ini sampe bela belain ikut lihat pameran dan seminar kain. Kain Tradisional Nusantara memang indah sekali, lagi mahal...ya harga ngga bisa bohong, juga prosesnya lama.
      Salam Hangat

      Delete
  2. Batik tulisnya minaaat... mbk, Open Order dimana yah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebetulan saya nggak tau dimana bisa order Mas Dipan

      Delete
  3. Duhhhh batiknya bagus-bagus banget mak, pingin beli rasanya, tapi kalo liat harganya, hemmmmmmmmmmmmmm hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa..harganya memang mahal dibuat dari Alat Tenun Bukan Mesin, jadi harga mahal memang wajarlah.

      Delete