Monday, October 19, 2015

Inikah Pantai Kuta, Pulau Bali

Sebuah kekaguman yang tak bisa diungkapkan, saat kemarin, Minggu, 18 Oktober 2015, saya pertama kali, bisa menginjakkan pulau Bali...Bukan mimpi, tapi ini mimpi yang menjadi nyata.

Bali...
Pantai Kuta, Badung, Bali
Sejak kecil, hanya mengenal Bali dari orang-orang di sekitar rumah saya semasa kecil. Keindahan pulau Bali, pantai dan Seribu Pura hanya saya lihat dari televisi.

Bali...lekat dalam kehidupan masa kecil.Di bukit Hindu, Palangka Raya Kalimantan Tengah, termasuk wilayah kota, yang di dominasi oleh pendatang dari Pulau Bali...makanya disebut Bukit Hindu. Umumnya, mereka dinas di kepolisian. Barak tempat tinggal penduduk suku Bali berada di seberang rumah kami. Dan di pinggir jalan Bukit Hindu ada pura terbesar disana, tempat beribadah agama Hindu.
Dari pura itu, saya mengenal ukiran indah tentang seni Bali, keindahan seni budaya, tari-tarian dan gamelan yang melekat lestari berpadu harmonis dengan agama Hindu. Dari sana pula, kami di Bukit Hindu, biasa saling bertandang jika hari raya Besar Agama.


Saya suka menari tari daerah dikala kecil, termasuk menari tari Bali menjadi penari Pendet, dan Tari Margapati. Kok, tiba-tiba, jadi ingat guru tari, namanya Tante Sukahet, beliau perempuan keturunan indo Bali, suaminya seorang Polisi. Entah dimanakah beliau sekarang.


Sebagai penari kecil, jika ada upacara Agama (Galungan) Hindu di Pura. Kami pun ikut parade baju Bali di jalan. Mama sampai beli serangkat pakaian Bali untuk saya dan kakak perempuan. Kalo pinjam terus malah repot. Yang saya ingat, baju tradisional Bali, memakai sanggul atau gelung. Cemara, atau rambut palsu panjang disambung dengan rambut asli dengan cara diikat ekor kuda. Gelung dipunter ke arah samping. Kain tapih atau sinjang prada dipasang dipinggang, ujung kain disisakan, hingga menjuntai. Selanjutannya memakai kemben dari kain prada. Kemben yang panjang di lilit dari tubuh atas sampai pingang. Terakhir memakai selendang. Di belakang sanggul tak lupa  diberi hiasan dari kuningan tipis, bergoyang goyang. Sudah siap memakai baju Bali, saya langsung menari.


Tak heran, Bali ku kenal sedari kecil, tanpa pernah berkunjung ke Bali.
Di Kalteng, ada daerah transmigrasi rata-rata berasal dari Bali, namanya Basarang. Semua sama, seperti di Bali. Agama dan budaya, bercorak bali, sedikit ada perubahan dalam ukiran Bali berbaur dengan suku Dayak.

Bandara Internasional Ngurah Rai (Foto:Asep Mulyadi)

Kembali, ke cerita saya, pertama melihat keindahan pulau Bali dari atas pesawat. Pesawat  mendarat di Lapangan Udara Inernasional Gusti Ngurah Rai, yang terletak di pinggir pantai.

Inikah Bali, batinku.

Gamelan perkusi menyambut kedatangan tiba di Pulau Bali.
Bunga kamboja kuning, canang serta semerbak bau dupa...
Bali memang khas.


Melewati jalan-jalan di Pusat kota Denpasar, Kabupaten Badung sangat ramai dengan wisatawan asing maupun domestik. Pulau kecil yang mendunia, dengan bahasa Inggris sebagai bahasa ke tiga yang dipakai masyarakat Bali, selain Bahasa Indonesia, dan bahasa daerah Bali.

Denpasar Ibukota Bali, didirikan sebagai salah satu provinsi Indonesia, tanggal 14 Agustus 1958. Bali terkenal dengan puri(Istana) yang dimasa perjuangan  yang terkenal melawan penjajahan asing. Suatu saat saya akan menulis, perjuangan melawan penjajahan di Bali.

Nama Bali berasal dari Balidwipa, nama itu ditemukan di prasasti Blanjong. 

Bali seperti provinsi di sebelah timur, beriklim tropis. Letak Bali di antara pulau Jawa dan Lombok. Pulau Bali dikelilingi lautan. Tak heran, Bali menawarkan banyak tujuan pariwisata, salah satunya pantai- pantai yang indah, seperti Pantai Kuta, Pantai Pandawa, Pantai Padang-Padang, Pantai Lovina dan pantai lainnya
Saya di sambut kawan baik, sebelum malam, kami makan di Bali Colada, dan menginap di Hotel Ramayana jalan Bakung Sari...nanti saya akan ceritakan hotel ini.
Kalo ke Bali, nggak syah ya, kalau belum melihat keindahan Pantai Kuta, jantungnya pariwisata Bali, keindahan pantai ini, sungguh tersohor seantero dunia. Letak pantai Kuta di sebelah selatan kabupaten Badung.

PANTAI KUTA
Mimpi menjadi kenyataan....
Akses ke pantai Kuta sangat dekat dengan hotel kami. Jam 10 pagi, sehabis sarapan, kami menuju kawasan wisata pantai Kuta. Melewati jalan segaris, Pasar Seni Kuta, kiri kanan banyak barang jualan, berbagai ukiran, kerajinan, pakaian dan topi ditawarkan.

Yang tak asing, dimana-mana selalu ada canang. Bagi umat  Hindu Dharma, sebagai sarana ibadah, tak lepas dari namanya canang, di taruh sebagai persembahan dewata. Kotak segi empat sebagai tanda sajian kepada dewata. Didalamnya berbagai warna bunga, ditaruh sedikit nasih, uang, sebagai harapan. agar rezeki datang berlimpah. Canang, diganti dua kali sehari. bisa dibeli langsung di tukang bunga. Canang, harga canang kecil Rp 1.000, untuk ukuran sedang seharga Rp. 3.000,-

Dari jauh, deburan gelombang memecah bibir pantai.

Aah...inilah Pantai Kuta. Tulisan besar di pintu masuk. 
Kata Akang Asep Mulyadi, Pantai Kuta jauh berbeda dengan tahun 197O-an. Sejarah Pantai kuta sebagai pelabuhan perdangan di abad 19 an. Pantai kuta tempat bertelur Penyu hijau, sejak cukup ramai wisatawan, penangkaran penyu hijau d pindahkan ke pantai Tanjung Benoa. Dulu, pantai tidak seramai sekarang, masih banyak ditemui pohon Kelapa. Sekarang tidak banyak lagi, sudah banyak hotel didirikan dipinggir pantai, seperti Kuta Sea View, Mercure Kuta dan Hard Rock.

ketika perahu mulai berlabuh


mengapung di pantai


Persiapan prosesi ngaben
Dari kejauhan, beberapa perahu bercadik terombang ambing di permainkan ombak. Perahu kosong dengan sauh jangkar. Katanya sih untuk membawa turis yang mau berkeliling dengan perahu sambil pemancing di laut. Di sebelah kanan, ada persiapan ngaben.

Abu jenazah akan di larung ke laut.
Sayang, saya nggak sempat lihat prosesi ngaben di sore hari. habisss...ketiduran.

Ombak Pantai Kuta juga sangat ideal untuk surfing. Tak heran, banyak ditemukan penyewaan papan selancar dan bagi pemula disediakan kursus singkat.
Masya Allah, Indahnya alam semesta. kesempurnaan hanya Milik Allah. 
Pantai Kuta, indah di sore hari. Duduk di pinggir pantai menunggu Sunset di sore hari. lalu saya berjalan menyelusuri bibir pantai. Sayangnya, di pantai banyak ditemukan sedikit sampah. Hmmm...maaf, itu pandangan saya, perlu kesadaran pengunjung gar tak buang sampah sembarangan.

Saat yang dinanti, matahari berwarna kuning jingga, seakan berada di atas samudera. Masya Allah...indahnya ciptaan Allah, pemilik Alam Semesta.

Indahh sekali. 
Itulah Pantai Kuta...



Bagi saya, berlibur adalah sarana untuk meninggalkan sejenak rutinitas dan selalu saja, menambah kekaguman ciptaan Allah, seperti pantai Kuta..Debur ombak yang tenang, ideal untuk kembali bertafakur kepada Allah.
Sekali lagi, saya mengagumi Pulau Bali dan Pantai Kuta.
Mimpi menjadi nyata, jalan jalannke Pulau Bali.




Jangan bilang pernah ke Bali, kalau belum ke Pantai Kuta


menyelusuri jalan di sepanjang pantai
Foto By Kang Asep Mulyadi

7 comments:

  1. Gambarnya keren2 ibu een endah.. Jadi mau ke bali juga...#travel.. Mana travel..

    ReplyDelete
  2. iyaaaaaa....keren ya gambarnya. Yang foto. akang saya

    ReplyDelete
  3. jd kangen bali, pengen pulkam..hiks..sroot

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bali memang mempesona ya mbak Inda...

      Delete
  4. enaknya di kuta itu, bisa ngecengin bule2 cakep yg hanya bertelanjang dada hahahaha ;D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jam 1 siang, puanasss, bule bule malah berjemur, lha kite....duduk ngadem dibawah payung

      Delete