Wednesday, October 14, 2015

Beginilah hijabku...

Berhijab bagi saya adalah melunasi sebuah janji pada Allah. Kewajiban seorang Muslimah untuk berjilbab.

Sambil mengelus perutku  yang mulai bertambah usia kehamilan. Saya berbisik pada janinku, "Nak, Mama akan berhijab setelah melahirkanmu."

Mengapa saya berjanji pada anak. Karena seorang Ibu adalah orang pertama yang akan di lihatnya. Ibu adalah sekolah dan teladan bagi anaknya. Hingga saya ingin berhijrah dengan berhijab. 
Tepatnya hari ini, Rabu 14 Oktober 2015 memasuki tahun baru hijriyah, 1 Muharram 1437 Hijriyah. Alhamdulillah, tidak terasa sudah 22 tahun saya berhijrah memakai jilbab, walau saya belum sampai pada tingkatan puncak berjilbab. 


Beginilah hijabku...(dokpri)
Kembali ke cerita saya tentang jilbab di masa itu.Tahun 1992, jumlah yang berhijab atau berjilbab masih bisa dihitung dengan jari. Apalagi saya masih kuliah di Palangka Raya. Di kampus hampir di dominasi non muslim, khususnya dosen-dosennya, 80% rata-rata non muslim; sebuah tantangan untuk membuktikan jati diri sebagai seorang muslimah.

“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana munculnya. Karena itu, beruntunglah orang-orang yang ‘asing’.” (HR Muslim).
Jika telah tiba masanya, yang bersungguh-sungguh melaksanakan agama ini dianggap aneh. Amalan mereka tampak asing. Mereka melaksanakan amal shalih dan ‘ibadah berdasarkan tuntunan shahih dari Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, tapi manusia mengingkari. Orang-orang yang dianggap asing dan terasingkan itu sesungguhnya justru orang yang shalih di tengah-tengah kerusakan yang menimpa ummat. Tapi sebagian besar manusia mengingkari. Hanya sedikit sekali manusia yang mendengar kata-katanya dan mengikuti apa yang dinasehatkannya.
Niat hijrah harus benar-benar kuat karena Allah, karena kondisi tidak mudah. Pasti, nanti saya akan menjadi orang asing diantara mereka. 


Masih muda dan langsing plus jilbab pertama (dokpri)
Sore bada Lohor, kebahagiaan saya, menjadi seorang ibu, mendengar tangis bayiku untuk pertama kali, bayi perempuan nan cantik...Saya tak langsungmenunaikan janji. Ahhh, malu sendiri jadinya.  Namun, janji harus ditepati.


Tahun 1993, mulailah saya berhijab. Itupun bermodal dua buah jilbab, berwarna dasar polos, hitam dan coklat tua. Kain jilbab sangat nyaman dan adem dari kain  katun paris dengan hiasan bordir di pinggirnya. Dua buah kiriman Mama dari Jakarta. Memakai jilbab, tidak ada tempat bertanya, mereka-reka sendiri. Karena masih baru, peniti di leherpun masih dipasang dari luar. Gaya berjilbabpun, ngeplek di jidat. Itupun sudah cantik menurut saya.

Bertahun berlalu, saya masih setia memakai jilbab katun Paris. Berbagai ragam jilbab mulai mewarnai mode masa kini. Pernah ikutan pakai jilbab dari kain sutra yang sangat lembut, lagi mahal harganya. Pingin juga tampil beda di depat siswa saat mengajar sejarah. Eh ternyata, duduk diangkot sepulang mengajar, dengan jendela terbuka, jilbab saya malah menutupi muka ketimpa angin. Rieweuh sendiri, stress sendiri karena nggak biasa jilbab berkain lembut. Harusnya sih, jilbab dikasih jarum pentul di kiri kanan kepala, biar kuat nempel. Saya tidak biasa, hasilnya...daripada repot ngajar, sibuk perbaiki jilbab, kembali lagi ke kain asal, dari katun Paris.

Sebagai wanita, saya juga ingin tampil beda. Masa jilbab kuno bener, Makplek begitu. 

"Kak, jilbabnya dibuat bunga-bunga, ya, Kakak. Biar cantikkk" Perias penganten menawarkan memperbaiki jilbab saya. Mikir sejenak, melihat kawan-kawan among tamu, kok ayu-ayu dengan jilbab dua kain di buat selang seling dengan warna berbeda, belakangnya, kain jilbab dilipat-lipat seperti bunga-bunga, di hias  kain jala perak untuk menambah glamaour penampilan. 

"Pakai ini, Kak"
 Hah! ciput! harus?
"Kalau nggak pakai ini, kurang rapi, dan nggak menjembul belakangnya, kurang mantef."

Ciput ninja dengan sanggul Gubernur.
Bulatan isi dakron, ditaruh di belakang ciput. Yang amat besar sering disebut sanggul gubernur, kalo rada kecil, sanggul Bupati, kalo rambut sendiri...itu mah namanya: Orisinil.
Mikir sebentar, kalo saya pakai dalaman ciput ninja, otomatis menutupi kedua telinga. Awalnya saya menolak pakai ciput ninja, karena saya yakin nggak betah berlama-lama. Tapi, ini perias rada kemayu, pinter merayu, akhirnya saya pasrah dihias olehnya.

Cantikkah?  

Cantik sekali.

Sejam pertama berdiri menjadi among tamu, masih kuat dengan hiasan jilbab di kepala. Dua jam kemudian, mulai keringetan, rasa-rasanya dandanan mulai meleleh. Selanjutnya, keleyengan, karena ciput menutupi kedua kuping saya. Saya memang punya penyakit, kurang keseimbangan gendang telinga tengah. Kalau daya tahan tubuh drop, yang sakit malah telinga. Terasa ada yang menutup lubang telingga. Apalagi benar-benar tertutup begini. Dari pada semaput, bikin repot orang di tengah orang banyak. Segera berlari ke kamar ganti, ganti model jilbab. Beginilah saya, kembali ke model kuno, tanpa ciput ninja dengan benjolannya yang bikin mabuk. Kuno...tapi nyaman dipakai, nyaman pula di hati. Ya sudahlah, aku mah apa atuh? sekali kuno, tetap kuno.

Sekalipun, saya tidak memakai model-model jilbab. Saya bisa memakaikan jilbab buat anak saya kalo ke pesta. termasuk saya sendiri. Namun tetap saja saya memakai jilbab dengan gaya kuno, berkain yang nyaman. Yang terpenting nyaman di pakai, nyaman pula di hati.

Saya bukan termasuk orang yang rese, menilai cara orang lain berjilbab. Mau hijjaber...silahkan, mana yang nyaman saja. Mau pakai jilbab bercadar, jilbab syari, malah bagus sekali. 

"Innamal A'mali Binniyat" [HR. Buhkari dan Muslim]

Semua tergantung pada niatnya, dan keinginan berhijrah. Saya yakin, manusia itu sedang berproses, menuju kebaikkan. Tak usah menghakim penampilan orang, nilailah diri sendiri. Semoga yang belum pakai, mendapat hidayah Allah, kalau dipaksa malah susah nurutnya. Seperti cerita saya tentang pertama kali anak saya berjilbab.Betapa manisnya anakku berjilbab. Semua datang dari niat. Nyaman di hati, karena semua di niatkan pada ketaqwaan mengikuti kewajiban agama.Saya pun terus berproses sampai tahapan tertinggi. Mohon doanya. Aamin Ya Robbal Allamiin.

Kesempatan ini, saya mengucapkan: Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1437 H, Semoga Allah memberi kesempatan pada kita untuk berhijrah pada kehidupan yang lebih baik di tahun ini.
Aamiin.

Beginilah hijabku, yang penting nyaman di hati

3 comments:

  1. Setuju mba.. semua tergantung dr niat. Dan hijab tidak berkaitan dgn tinggi rendah akhlak...
    Mudah2an selalu cinta hijabnya selamanya..
    Terimakasih sdh ikut mba.. goodluck.. salam kenal ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena yang menilai seseotang adalah Allah dan hatinya sendiri dalam bertaqwa.

      Delete
  2. Alhamdulilah konsisten berjilbab mbak.
    Semoga berkah ya :)

    ReplyDelete