Wednesday, October 12, 2016

Gemblong Dadakan dalam Cerita


Alahmak... gagal lagi ngukus ketan di seeng. Sepertinya gampang, nyatanya rasa susah juga. Maklumlah saya jarang pake seeng tapi pake dandang biasa. Semenjak orang tua pindah ke ds. Cikalahang ngukus dirasa afdol kalo pakai seeng. Naah...nyatanya tak semudah teori di banding praktek, mungkin saya aja yang nggak bisa.


Seeng


Biasanya urusan mengukus di rumah, tugasnya Suniah. Wanita tinggi langsing asisten rumah tangga mama saya sering kali mangkir kerja. Bekerja setengah hari, datang lepas subuh, trus pulang, siang balik lagi, trus pulang lagi, sore datang lagi. Apalagi sejak saya sedang di rumah orang tua, adaaa aja alasannya untuk nggak kerja, izin anaknya demam, sibuk ngobeng (istilah membatu hajat tetangga), trus nganter penganten, dan sejibun alasan. 


Saya malas berdebat karena mencari asisten rumah tangga sekarang agak sulit, jadilah Suniah sekarep dewek...Apalagi mantan istri kuwu itu tetap merasa istri kuwu, jadilah sulittt dikasih tau untuk ini itu, malah balik menjawab. Yaaa....kenapa jadi curhat, heudeuh.

Kembali ke kukusan bernama seeng.
Seeng dan asepan
Seeng merupakan perabotan tradisional untuk mengukus terbuat dari tembaga. Teman seeng itu asepan, terbuat dari anyaman bambu berbentuk kerucut.Seeng tanpa asepan tak kan jadi apalah, makanya seeng dan asepan adalah pasangan sejati. Untuk mengukus beras ketan tak semudah masak beras biasa. Apalagi kalo bisa dimasak di ricecooker, pasti lebih praktis, tinggal cekrek mateng.
Masak beras ketan perlakuannya beda. Beras ketan dicuci bersih, rendam selama kurang lebih satu jam dan tiriskan. Perendaman dimaksud agar beras ketan kekeul.

Tahap pertama, beras ketan dimasukkan ke dalam asepan, tutup rapat jangan dibuka-buka ya, kukus ketan di seeng selam 30 menit.
Setelah beras ketan mekar, taruh diwadah plastik. Tuang sedikit demi sedikit santan kentan dicampur garam, aduk hingga merata. Beras ketan akan tampak seperti beras yang diaron, diamkan sebentar agar santan menyerap sempurna.

Tahap ke dua, kukus kembali berasa ketan selam 45 menit hingga matang

Beras ketan lembek

Dirasa cukup waktu pengukus beras ketan, saya buka tutup asepan...Ampyunn, kenapa air dari bawah seeng naik ke atas, otomatis ketan jadi lembekkk banget. 


"Suniah, kenapa jadi begini?"
Dengan santai ia menjawab,"Nok sihhh, kasih airnya kebanyakan, kira-kira cukup dua gayung, atau dibawah muncung seeng."
Aahhh...kenapa nggak bilang dari tadi.
Saya melonggo melihat ketan yang lembek, mau langsung dimakan pasti tak enak.

Oke deh, terpaksa saya beralih dari plan A ke plan B. Ketan kukus jadi Ulli. Saya ulenei ketan dengan plastik, masukin ke kulkas, sapa tau nanti bisa keras dikit. Nanti tinggal dipotong dan goreng.Sejam kemudian...ealah, ketannya tetap lembek. Okelah, plan B gagal maning beralih ke plan C. Tiba-tiba saya berpikir membuat gemblong, ala saya.

Ketan setengah kilo, diuleni tepung beras ketan, kira-kira satu gelas, karena belum kalis saya tambahlah tepung sedikit lagi, sampe bisa dibentuk.
Bentuk adonan menjadi lonjong, tadinya mau dibentuk seperti donat tapi nggak bisa. Di Cikalahang, kue berbentuk donat dari ketan dinamakan Jalaberia, tengahe bolong.  Boro-boro mau dibentuk bolong, dilonjongin aja susah.

Karena dari awal sudah lembek, cara mengorengnya, bentuk langsung masukkan ke wajan. Goreng dengan api sedang, jangan sampe terlalu coklat waktu mengorengnya, terlalu kering, membuat bentuk lonjong beranak, pecah keluar dari dalam. 
Tuh, gemblongnya pecah dan beranak

Setelah semua selesai digoreng, Tahapan terakhir, gemblong dicampur karamel gula merah, di sini namanya ampyang

Seperempat gula merah disisir, dimasukan ke dalam air mendidik kira kira segelas lebih air. Biarkan sampai menjadi karamel, matikan kompor. Masukan satu persatu gemblong ke wajan, aduk pelan sampai karamel melekat di permukaan. Setelah rata, taruh di piring, diamkan hingga dingin.

Jadi juga nih gemblong temannya teh sore ini. Sebuah perjalanan panjang, ketan lembek menjadi gemblong dadakan yang nggak direncanakan. Rasanya, enyoiii banget, biasanya gemblong agak keras ketannya, laaa... punya saya lembut sekali, cocoklah buat Mama, yang giginya tak setangguh masa muda dulu.

Sebagai pengemar ketan, Mama memuji gemblong saya, enak katanya...Sambil mangut-mangut mendengar cerita kegagalan masak di seeng.
Bahagia itu, ketika hasil kue kita dihargai, walauuu jangan lihat rupanya

Yang penting, sore ini masih bisa menikmati kue tradisional yang rasa manis, semanis yang buat...*hihihi.

Kadang, kita tak pernah menyadari inovasi yang kita buat, akibat kegagalan hasil akhir kue, tak sesuai yang diinginnya, akhirnya menciptak kue baru, bermodal pikiran dadakan, tanpa melihat resep aslinya, hanya modal the power of panic.

Inilah cerita saya, tentang ketan lembek digoreng dadakan, jadilah gemblong. 
Mari nikmati, hidup begitu indah untuk selalu bersyukur.
*Saya masih di sini, Ds. Cikalahang, masih bersalut mendung.






2 comments:

  1. Aduhduhh.. kalau bahas gemblog kaya gini jadi pengen merasakan makanan yang manis-manis :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sering makan manis, nanti dikerumuti semut loh

      Delete