Friday, June 8, 2018

Batu Pandang Ratapan Angin, Melihat Maha Karya Negeri di Atas Awan

Batu Pandang Ratapan Angin. 

Tiba di homestay, langsung sholat dhuhur, mandi dan makan siang. 
Rombongan tour harus bersiap jam 13.00 menuju destinasi wisata yang sudah dijadwalkan. 
Cape banget rasanya, pengen tidur  karena efek obat anti mabuk masih terasa sampai sekarang. Nguantukkk sekali, kalau mengikuti hati, mau tidur aja. Tapi...ngapain kemari kalo cuman tidur. Dengan kekuatan tersisa, saya bangkit, mengumpulkan semangat.
Cayooooooo, berangkat. 

Dieng Plateau Teater 

Sambil menunggu tiket masuk seharga Rp 4.000, saya memperhatikan bangunan teather berdiri di lereng bukit Sikendil, sayang tak terurus.
Dieng Plateau Theater di resmikan mantan Presiden, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono tanggal 9 April 2006. 
Ruangan theater dapat menampung sekitar 100 orang. Film yang akan diputar tentang pesona alam Dataran Tinggi Dieng, sejarah, kondisi geografis, durasi film 23 menit.

Saya duduk di kursi deretan ke tiga, theater sudah mematikan lampu untuk memutar pesona Dieng Plateau, negeri Khayangan para dewa. 
Suara narator merdu mendayu-dayu. 
Larut dalam kesedihan menyaksikan  meletusnya kawah Dieng tahun 1974 sound musiknya mendukung sekali. 
Masyarakat saat itu tidak mengetahui tanda-tanda alam, mereka berlari ketebing tertinggi menyelamatan diri, padahal mengantarkan jiwa menjadi korban  menghisap asap beracun.

Beberapa menit kemudian
.
.
Astagfirullah al adzim 
Saya terkaget saat suara merdu itu menghilang. 
Layar didepan tertulis: The End.
Ya Allah, rupanya saya tertidur dengan pulas, tak tau apa yang diberita Dieng Plateau Theater. 
Suasana gelap mendukung sekali untuk tertidur (tidak sengaja). 
Jadiiii ke theater, bukan nya nonton film, tapi malah pules, bener-bener tidur yang nikmat sekali. 

Batu Pandang Ratapan angin 
Letaknya di belakang areal parkir Dieng Plateau Theater.  

Ada apa di batu pandang ratapan angin? 
Terdengar begitu pilu,ratapan angin. Semakin saya penasaran. 
Cuaca sedikit mendung, dingin menghantar perjalanan kami, dan benar, angin kencang mempermainkan ujung jilbab...
Mungkin, ini yang dikatakan ratapan angin, sekan membisikan: ucapan selamat datang di negeri dia atas Awan. 

Di kiri kanan jalan kecil, dihiasi bunga-bunga cantik bermekaran. 

Bunga Kallalili Putih


Daisy
Tebing batu berwarna indah ditumbuhi jamur, cantik sekali. 

Sekuat tenaga, saya berusaha mendaki, terus mendaki. 
Pada satu titik kami berhenti, ditempat datar, diatasnya dibuat tempat dasarnya ditutup papan, rumah tanpa dinding (dek). 

Ini dengkul sudah gemetaran, tapi percuma menyerah, kembali bersusah payah naik ke dek.
Satu hal membuat nyali ciut, tapi teriakan penyemangat dari si Iqbal, "Bu Een pasti bisa!"
Terpaksa, Nak, Mama  menindas rasa takut untuk duduk disebongkah  batu tebing, seremmm, gugup, takut kepeleset, cilakaaaak, ada jurang di bawahnya.


Inilah Batu Pandang Ratapan Angin.
Tempat dimana kita bisa melihat seluruh pesona maha karya Negeri di atas Awan, keindahan Dieng Plateau dari ketinggian. 
Telaga warna, Telaga Pengilon, gunung Prau, hutan pinus, hamparan kebun kentang , uap sumur-sumur geothermal serta kabut belerang kawah Sikidang., serta kabut dan awan menyatu berarak-arakan di langin. Masya Allah.
Keindahan seluruh negeri khanyangan dibidik pada satu titik, Batu Pandang Ratapan Angin. 

Untuk masuk ke kawasan ini tiket masuk sebesar Rp.10.000,- 

Jembatan Merah Putih

Masih dalam satu kawasan Batu Pandang Ratapan Angin.
Seandainya ada bendera putih, sayalah orang pertama mengibarkan bendera tersebut: tanda menyerah. Tentara menyerah, Jenderal!
Tak kuat lagi mendaki ke jembatan merah putih. 
Cukup puas melihat dari bawah saja. Sekalipun ditawarkan naik Flying Fox (tiket Rp 50.000) tetap saya menolak, saya sudah puas menikmati alam dan, memperhatikan pengunjung yang datang.

Romantika jika Jatuh Cinta  
Suasana batu pandang Dieng, memang terasa romantis bagi mereka yang jatuh cinta. Dunia milik mereka berdua, lalu saya, apa dong? 
Jadi penonton.




Menuruni satu tangga, saya memdatangi pemilik burung hantu. 



Popo, nama burung hantu itu. Terlihat sudah akrab dengan pengunjung yang ingin berfoto bersamanya. Pengunjung dipersilahkan membayar seikhlasnya. 
Dalam hati, melihat rantai di kaki Popo, sedih melihat burung yang dieksploitasi untuk mencari rezeki. 
Sejatinya, burung hantu terbang bebas. mengangkasa di waktu malam, dan tidur diwaktu siang. Burung hantu adalah sahabat petani karena sebagai predator alami pemburu tikus. 

"Popo dipelihara sejak kecil, ada saudaranya dilepas di rimbunan daun kentang. Popo juga dilepas bebas kok Bu. Kalopun di foto, dia sudah biasa" 
Pemiliknya seakan tau, keryit dan senyum masam di wajah saya memang susah disembunyikan. 
Saya hanya menarik nafas, segera berlalu, benar bagai ratapan angin,tapi ini ratapan hati meliat hewan menjadi objek mencari uang.

Ditunggu, rombongan tak terlihat, masih foto-foto di Batu Pandang, dan ada yang mendaki ke jembatan merah putih. 


Karena nggak sabaran menunggu yang lain (kebiasaan kami berdua, terlalu mandiri, tak kuat menunggu), kakak saya mengajak turun ke areal depan, kiraian mau apa, taunya mau cari WC.
Dia bilang, sejak dari home stay, dia sakit perut, kembung, karena menahan buang angin. sepanjang perjalanan Jakarta-Dieng, kan nggak enak brat bret broot di dalam mobil. Jalan kecil sedikit menurun. 

Saya berada tepat di belakang kakak. Tiba-tiba dia berhenti, saya ikut berhenti. Menoleh ke kiri dan kanan sebanyak dua kali.
Broooottttt 

 "Suaranya merdu sekali, mbak." 
Hah! sama-sama kaget, nggak nyangka ada orang, spontan kami mencari sumber suara. Tenyata ada laki-laki muda tersenyum lebar,duduk di gubuk sebelah kiri. Posisinya tersembunyi. 

Suara kentut, mengema, ehoonya terpantul dari batu tebing, memang bunyinya: luarrr biasaaa. 
Sambil tersipu malu, ditutupi gelak tawa, Maaf masss sakit perut. 

"Ndak apa, Mbak, daripada ditahan, nanti malah sakit." 
Jawabannya sungguh syahdu. Gara-gara kentut, kami jadi kenal, pemandu wisata asal Semarang yang menunggu rombongannya tiba di Batu Pandang. 

Sampai bawah, tak bisa dibendung lagi, Ida berlari ke WC umum melepaskan hajat. hahahaha...selalu ada-ada saja peristiwa lucu dalam perjalanan kami berdua.

Jadi ingat kembali, waktu di meeting point Plaza Semanggi, Jakarta sebelum berangkat ke Dieng Plateau.
Kami mencari tempat wudhu untuk sholat Magrib sebelum berangkat. 
Di depan kami, seseorang sedang menunduk di kucuran air, rambutnya sangat pendek, berbaju kemeja batik dan celana jeans reguler. 

"En, apa kita salah tempat wudhu. Ini kan tempat laki-laki," bisik Ida ragu.

Perasaan saya bener, ini tempat perempuan," Mas, ini tempat wudhu peeeremmm.." Belum selesai kalimat terakhir, orang itu menoleh ke belakang: saya Perempuan, mbakk. 

Kontan kami berdua saling berpandangan, laaaaaa...taunya perempuan. 
"Salah sendiri, kaya laki-laki." 

Sampai jumpa pada cerita perjalanan kami selanjutnya

 Salam manis dari yang sudah manis 
 - Een Endah-































11 comments:

  1. Mbak Een, walai pendakiannya bikin dengkul gemetar, sampai di atas terbayar ya tunai ya. Cantik sangat view dri batu rataoan angij ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. disinilah tempat teindh..memandang negeri diatas awan

      Delete
  2. Wah Dieng , udah belasan tahun tidak kesini. Bagus bgt memang. Kasian lihat Popo yaaa

    ReplyDelete
  3. Pernah ke Dieng taun 2016,dua hari satu malam di Dieng asyik bisa eksplor wisata Dieng, kangen tempe kemul dan hawa dingin Dieng :)

    ReplyDelete
  4. Dieng masih seindah dulu ya. Jadi inget waktu ke sana sama anak-anak, the best memang pemandangan dari batu ratapan angin, ngeri-ngeri sedap ya mbak. Etapi tapi lucu juga tuh sampai ketiduran pas nonton di Dieng Theater hihihi

    ReplyDelete
  5. Berdua di tempat seindah dan sedingin dieng itu memang menyenangkan ya hihi..

    ReplyDelete
  6. Bahahaha. Ketiduran. Gak nyangka klo ensing di theater bakal begitu



    Bagian akhirnya juga seru, nyalahin orang ��

    ReplyDelete