Monday, February 15, 2016

Dalam Kenangan Cabe Gendot di Kota Bandung

Sebagai, orang yang lama tinggal di Bogor, Jawa Barat. Saya merasa gagal jadi orang Sunda...Kenapa coba?
Apalagi, sebelumnya saya tinggal di Palangka Raya, benar-benar nggak pernah denger tentang cabe gendot.
Penampakan Cabe Gendot di Pasar Gedebage Bandung

Pasti yang lain merasa aneh. Masa sih, nggak tau cabe gendot? Kenyataannya, saya memang baru tau cabe itu. Bentuknya bagaimana, rasanya... jelaslah pasti pedas, hawong cabe....tapi pedasnya, sepedas apakah? pedas atau peeeddaaasss! hah! ceuhahh. 

Terus terang, di Bogor memang nggak ada kok cabe ini. Ada dua cabe yang saya kenal, cabe rawit berwarna ijo, kecil dan ramping, dan cabe merah kecil. 
Dalam bahasa sunda, cabe dinamakan cengek. Cengek rawit, pasti kebanyakkan orang sudah mengenal cabe ini, karena pedasnya luar biasa. Menurut beberapa orang, cabe merah kecil lebih pedas dibanding cabe rawit. Cabe kecil berwarna merah menyala, dinamakan rada serem, cabe setan.
Bayangkan, kalo pembeli cabe setan, penjualnya kurang denger. 
"Buu, meser cabe setan"... Kumaha coba, emangnya pesugihan, mau nangkep setan, beli kok cabe setan. 
Memang kenyataan di kalangan ibu-ibu di Bogor menyebutnya cabe setan, katanya beberapa orang, pedes siga setan. Atau saat makan cabe ini, seperti ditempeleng setan. Muka, bibir jadi merah membara. 

Menurut saya sih, cabe setan, rasa pedasnya nggak seberapa sih, di banding rawit. Level pedas tiap orangkan berbeda-beda, dibilang pedas, malah nggak pedas. 

Di Bogor, nggak ada tuh cabe gendot. Suwer, apa saya yang kurang ngubek pasar di Bogor.

Adakah hubungan cabe gendot dengan Bandung. Adaaaa... 

Bulan Maret tahun lalu, sepeti biasa, saya akan mengunjungi ibu saya di Cirebon. Bosen lewat utara, saya mengambil jalan dari arah Bandung, sekalian bersilatulrahmi menginap di rumah bibi saya yang menetap di Bandung. 
Letak perumahan Bibi saya, berada di belakang pasar besar Gedebage Bandung. 

Suatu hari saya belanja di pasar induk itu. Beberapa sayuran dijual dengan harga murah, tiba-tiba, Rimba, ponakan berteriak dari los pedagang yang lain.
Rimba, si ganteng dengan cabe gendot

"Embiiii, cabe gendottt." 
Ini anak, rada tak biasa, memanggil semua orang, dimulai dengan kata Emmm. Ibu...Emmbu, Bapak jadi Emmpa, Nini...Emmmnin, saya dipanggil dengan seharusnya Bibi, jadi Emmbi. 

"Ieuu..." 
Ini, sambil menunjuk setumbuk cabe berbentuk bulat pendek, berwarna hijau tua di taruh di tampah bambu. 
Oalahh...rupanya Rimba mendengar obrolan saya dengan Nininya(nenek) tentang cabe gendot. Pinter juga nih bocah ganteng. Memang, saya penasaran dengan cabe gendot, yang katanya, enak di tumis dengan tahu, atau apa saja. Jadi, hari ini sengaja mencari cabe gendot dan oncom Bandung untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh ke Cirebon.

Cabe berwarna hijau dengan bentuk gemuk montok, buntet, bengkak.
Ooo...ini tah cabe gendot itu, pikir saya.

Dalam dunia kuliner memang terdapat berbagai macam cabe-cabean...Maksudnya, bukan cabe-cabean, cewe Abegeh, yang cunihin itu, bukannn, tapi cabe yang banyak mengandung vitamin C. 

Cabe gendot, memiliki nama lain dari cabe Habanero, aji chombo atau cabe Cina. Setelah melihat bentuknya, saya sering melihat cabe ini di acara kuliner televisi satelit. Karena hanya tumbuh subur di daerah yang memiliki mentari pagi dengan PH sedikit asam, sekita 5-6. Pantas, cabe gendot hanya ditemukan di sekitar perkebunan Bandung saja.Yang Aneh, penjualan cabe gendot nggak sampai wilayah Bogor.

Sejarah Cabe Gendot

Penamaan cabe Gendot, berasal dari  bentuknya yang gendut, bengkak. Cabe gendot pun bukan asli Indonesia. Si Gendut telah melalui perjalanan yang panjang, dari habitat aslinya menyebar keseluruh dunia, sampai Indonesia.

Cabe gendot, memiliki nama ilmiah: Capsicum Chinense. Disebut Cabe Cina, karena dikira penemunya, cabe berasal dari Cina pada abad 18. Padahal cabe ini berasal dari semenanjung Yucatan. Yucatan merupakan negara bagian di Meksixo.

Kata Habanero, diperkirakan berasal dari Kuba, yang dilihat dari asal katanya La Habana, yang dikenal sebagai Havana pada pada masa kini, karena daerah ini terkenal dengan memperdagangkan Habanero.
Di Panama, cabe Cina di namakan Aji ChomboSampai di Bandung namanya pun disesuaikan dengan dimana cabe itu tumbuh, jadi si cabe Cina menjadi cabe gendot.

Bagaimanakah rasa cabe gendot menurut skala lidah saya?

Skala untuk mengukur tentang pedasnya cabe di sebut Skala Scoville. Buah cabe(genus Capsicus) mengandung capsaicin, suatu bahan kimia yang merangsnag ujung saraf menerima pedas di lidah, dan jumlah satuan pedas Scoville (SHU) menunjukan capsaicin yang ada.
Tingkat satuan pedas scoville(SHU) banyak dijumpai di dalam komposisi kemasan sambal, untuk menarik daya jual sambal itu.

Menurut sumber yang saya baca, cabe Habanero pedasnya melebihi cabai rawit. Tingkat kepedasan mencapai 100.000-350.000 skala scoville.[wikipedia]

Setelah saya coba memakan, kenapa rasanya biasa saja, apa mungkin karena cabe gendot berwarna hijau, dengan PH tanah yang berbeda ya. Apalagi cabe gendotnya sudah dimasak dengan campuran tahu, rasa pedasnya juga seperti rasa pedasnya cabe ijo besar pada umumnya. Atau tingkat kepekaan ujung lidah saya yang memang sedang error.

Bagaimanapun, 'hanya' dari satu buah cabe gendot, selalu ada yang baru bagi saya, memberi tambahan ilmu untuk saya ketahui. 
Dari mana ia berasal sampai penyebar ke tanah Sunda. Sekalipun sebagian orang menganggap hal biasa, si cabe gendot. Bagi saya, cabe gendot selalu mengingatkan pada kota Bandung. Tak akan terlupakan, untuk belanja cabe gendot di Pasar tradisional di Bandung.

Selama di Bandung, saya ditemani ponakan ganteng. Bocah pintar yang banyak cerita dan serba tau, bahkan cabe gendot pun dia tau. Ada saya ceritanya yang membuat saya tertawa mendengarnya.

"Lihat, Embii. Rimba juga punya batu Ali," sambil menunjukkan batu ali(akik) di telapak tangannya. Kebetulan tahun lalu lagi trend batu akik. Bocah kecil inipun ikut-ikutan koleksi batu.
Saya memperhatikan koleksi batu si Rimba. Dia bilang batu ini di temukan sendiri. Saya jadi geli sendiri, menahan tawa, supaya Rimba nggak kecewa. Batu Akiknya, ternyata semua batu kerikil.
"Ini dapat nemu kemarin" tunjukkan, batu berwarna putih bercampur hitam, nemu di pinggir jalan waktu berjalan dari Pasar Gedebage kemarin.

"Rimbaaa, Embii pulang, ya," pamit saya pada bocah 5 tahun yang berparas rupawan. Ia berlari riang menyalami saya. 
"Kapan Embii datang lagi," tanya balik.
Sinar matanya menanti jawaban dengan segera.
Bocah pintar, selalu membuat kangen Embii.
Tentulah, saya akan datang lagi. Ada banyak cerita dan kenangan di kota Bandung

Ahh, Bandung. Banyak yang tak akan pernah terlupakan. Sunguh. Saya selalu suka datang ke kota ini. Bandung.






9 comments:

  1. wah, pernah makan cabe gendot waktu berkemah di gunung rakutak. hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gunung Rakutak itu ada di Bandung ya. Saya malah belum pernah kesana, cabe gendot juga baru tau...

      Delete
  2. baru ngeh ada skala scoville, pernah denger sih nama cabe gendot, tp sama sekali blm pernah liat apalagi ngerasain, apa spt cabe hijau besar ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin skala lidah saya rada eror ya, yaaa kaya cabe hijau itu.

      Delete
  3. Saya malah udah lama ga denger "gendot". :D

    ReplyDelete
  4. Saya suka sekali cabe gendot. Tinggal oseng-oseng pake kecap dan bawang merah plus garam, maknyooos. :D
    Makasih sudah ikut GA saya. :)

    ReplyDelete
  5. mungkin cabe gendot yang anda makan masih muda jadi ga kerasa pedas, sebab cabe gendot yg benar tua/mateng di pohon rasanya pedas banget. saya salah seorang penyuka cabe jenis ini

    ReplyDelete