Tuesday, May 26, 2015

OSPEK, Siksa tapi Ngangenin.


Apa yang terpikir kalau denger kata OSPEK?

Hmmm...Sesuatu yang sadis, banyak perintah dan wajib di laksanakan. Bener, kan.
Kalo eikeh, bener banget...etapi, OSPEK, yang suram dan penuh tangis..*Soalnya banyak hukuman*
Sekian tahun terlewatkan, jadi bahan obrolan sesama teman waktu bertemu. Menertawakan kejadian masa lalu, udah kurus, hitam...dekil lagi. Ospek itu, menyiksa tapi ngangenin... etapiii, kalo disuruh lagi. Ogahhhhh.
Albun lama dibuka kembali, weiiiii...eikeh lagi OSPEK

Jadi inget, waktu OSPEK masuk kuliah Fakultas Ekonomi tahun 1989...*Nunjukkin angkatan, berasa tua banget...heudeuh.

Dengan memakai kaos kuning dan rok (Menyiksa banget nih, make rok)
Jadwal  Ospek, waktu tertulis, jam 6 pagi, nyatanya Ospek sudah dimulai sebelum subuh.
Ya jelaslah, saya dapat hukuman, disuruh lari tanpa sepatu keliling bundaran, yang jalannya macam rempeyek kacang. Berdua dengan Benny, anak Banjarmasin bertubuh tambun.
"Lari 10 putaran, sambil teriak: Saya terlambat"
Bergegas saya berlari, sambil teriak lantang :" Saya terlambat," sembari lari ngos-ngosan.
Si Benny malah nyahut dari belakang : " Saya Jugaaaaaa"

Apa ndak nambah hukuman, cilakak! Jej yang berbuat, gua yang kena getahnya juga.
"Kamu cinta tanah air?" wajah Senior itu tampak kejam...*sebenernya ganteng, kalo tersenyum
Saya dan Beni menyahut lantang : "Cinta!!!!!"
Cium bumi...alahmak, di suruh tengkurap mencium tanah basah berbecek. Yang jadi masalah, wajah manis eikeh, Bray....berhias lumpur jadinya. 

Itu tidak seberapa. Paling menyiksa, di hukum bersama, makan pisang cuman satu buah untuk enam orang. Pisang di kupas, di dikemut, digigit sedikit, kasih keteman yang selanjutnya sampai habis. Mau muntah rasanya, melihat gigitan pisang jejaka di sampingku, bibir tebalnya selalu basah. Sadis banget. 

Lebih surammmm tuh, berhujan-hujan di suruh jalan ke kali yang kotor. Sedih banget. Kedinginan, untung nggak masuk angin. Bayangiiin, saya mahasiswa baru, jauh dari orangtua di Jakarta, trus sakit. Sapa dong yang merawat.  Lo mau nggak?
Dibalik itu semua, kenangan Ospek yang berkesan. Di suruh buat surat cinta...*yeay!
Saya kirim sama Panitia, mahasiswa senior yang paling galakkk.
Eh! ternyata, surat saya cuman satu-satunya buat si dia. itulah cinta pertama saya.
Hahahahah...di taksir kakak kelas, eh ternyata, setelah selesai Ospek. Cakepya beuhhhh, and ramahnya ajubileh!!!

Nah! itu tadi ceritas saya tentang Ospek. Apa sih yang bisa di ambil?
Paling juga, kesan itu akan tertinggal setelah berpuluh tahun. Mungkin ada yang meninggalkan kesan manis juga pahit. lamanya Ospek , sekitar seminggu. Benar-benar menguras tenaga, walau di akhiri dengan acara inagurasi, tetap saja meninggalkan, lelah teramat sangat.
Kadang Ospek dimaknai sebagai ajang balas dendam...Eh, dulu kan saya, di gini sama kamu...
Banyaklah, kisah seputar balas dengan senior dan yunior, yang cilakakannya, ada saja memakan korban nyawa.

Bagimana pandangan saya tentang Ospek kreatif, gokil, seru?

Buatlah, ospek cukup dua hari saja. Tampilkan kreatifitas masing masing mahasiswa, dengan kemampuan talenta pribadi. Kemudian , buat grup secara acak,  lakukan kerja sama semacam outbond agar terjadi komunikasi, kerja sama dan solidaritas. Akhiri dengan kegiatan sosial masyarakat, ke rumah jompo, anak yatim, kerja bakti, untuk menimbulkan empati.

Buat Ospek yang juga gogil...Lakukan suprise buat mahasiswa, bisa membuat mereka stres namun berakhir bahagia, Syah-syah saja, acara yang sedikit sadis tapi tidak kebablasan, karena kesan nya akan terkenang sampai jadi sarjana. Ospenkitu, bisa dibilang siksa tapi ngangenin. Ini bener, loh!


8 comments:

  1. kalau kau sih paling gak suak dg ospek itu, soalnya kebanyakan kakak kelas lagaknya ajdi sok berkuasa gitu loh, apalagi kalau pakai bentak-bentak. makanya kalau aku gak pernah mau ikutan jadi panitia ospek karena aku gak suka begituan. masih ada cara lain yang tidak dengan bentak2 yang bikin sakit hati

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku nggak bisa jadi Panitia, karena sulit sekali, sok galak, bentak-bentak....jadi, nggak pernah ikut jadi Panitia. Namu sekarang Mak Tira Soekardi, ospek nggak segalak jaman aku ya. Karena sekarang adamedia sosial yang bisa langsung share, kalau ada kejadian. Kalo dulu, aihhhh semua tertutup rapi, kalau ada kejadian.

      Delete
  2. buset, masuk ospek 1989?
    itu mah saya baru lahir...
    he he he

    tapi bener mbak, ada sisi negatif soal ospek, juga banyak positifnya sih
    tergantung perspektif kita masing-masing yang menilainya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hadeuhhhh...tambah merasa tuaa, eikeh.

      Delete
  3. wah bisa bahasa banjar kah pian? pian salah banar menyambat beta bungas, sumpah nah -______-

    ospek pada zaman ngeri lah itu pasti, Ayah ulun aja pernah mau adu jotoh sama panitia ospek hihii

    semoga menang GA nya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. unda kuliah di Palangka Raya, kawa ai bahasa banjar :)

      Delete
  4. yang dibilang bungas itu blognya dit, bukan oragnya -___-
    terimakasih udah ikutan, maaf baru ninggalin jejak, hhi

    ReplyDelete