Wednesday, May 11, 2016

Juhu Tantimun, Kuliner Khas Dayak

Sayuran ini sangat sederhana. Juhu Tantimun, sayur berkuah santan dengan mentimun(tantimun) dimasak serba mentah.

Juhu Tantimun vs Bapak

Setiap membuat juhu ini, jadi terkenang cerita masa muda Almarhum Bapak tercinta serta tanah leluhur Mama saya, Kalimantan Tengah.

Dari Bapak, saya belajar membuat untaian puisi dan mendongeng. Masa kecil yang indah, banyak senangnya dari dukanya. Mendengar suara motor Yamaha 70, spontan tiga bocah (satu belum lahir) langsung naik ke tempat tidur. 
Tidur siang sebuah kewajiban masa itu. Bapak pulang sebentar dari kantor untuk makan siang, sekalian menina bobokan kami dengan bercerita.

Jenis cerita beragam, bahkan bersambung, itulah yang selalu kami nantikan, cerita Bapak. 
Cerita tentang tikus kota dan tikus kampung. Tikus kota berjanji akan mengajak tikus kampung berkelana ke kota. Suatu siang tikus kota memanggil temannya, si tikus kampung
"Kussss...Kusss." teriak Bapak dengan expresi serius, "Kussss..."

"Iyaaaa..." eh... malah terdengaar sahutan Mama dari ruang makan. Dikira Bapak memanggil Mama. Bapak memanggil Mama dengan nama pendeknya, Kus dari Kusmini.

Selesai cerita, Bapak makan siang, kami harus seger tidur, malah susah. Baca doa tidur sudah, mata masih seger, ngantuk juga enggak, yang terbayang, bermain dengan temen memburu  undur-undur di belakang mussola.
Aaah....gimana ini, balik kanan, hitung 1 sampe 50, balik kiri, hitung lagi, sampe ketiduran...kalo nggak bisa tidur, kedip-kedip sendiri, sedih banget, harussss tidur siang.

Kini, kami semua sudah berkeluarga, kebiasaan bapak tetap aja suka bercerita. Saban malam, saya duduk sambil memijat kaki Bapak, stroke membuatnya harus selalu ditemani anak secara bergantian.

Bapak muda, merantau ke Kalimantan Tengah tahun 1967 karena ikatan dinas, sejak lulus Sekolah Kehutanan Menengah Atas. Pemuda dari tanah Sunda, mengawali hidupnya di kota yang benar tak tau dimana berada...Bapak tak pernah menyangka bisa sampai ke tanah Dayak, berjodoh pula dengan gadis setempat.

Tempat pertama Bapak di wilayah Tangkiling, rumah dinas untuk melakukan pembibitan pohon acasia kehutanan bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum.
Pohon acasia yang kini tumbuh subur di sepanjang jalan protokol di Palangka Raya, merupaan hasil kerja keras masa lalu. Dulu jalan itu gersang dan sangat panas.

Bapak, anak petani di kampung Cikalahang, hanya terdiam diberi lima buah mentimun. Bahasa dayak dinamai Tantimun.
"Buat apa,?" pikir pemuda lajang, dikampung mah, bonteng kieu teu laku, seuer...Hampir sebulan belum ketemu sayuran. Baru Bapak tau cara tantimun dari seorang staff pembibitan. Caranya mudah, dan rasanya aneh karena di kampungnya tidak pernah memasak ini. Tersenyum saya mendengar cerita tantimun Bapak. Kini, Bapak sudah hampir setahun lebih berpulang ke Rahmatullah, hanya ceritanya tak pernah saya lupakan.

Bagi saya, masak juhu tantimun, sangattt mudah, biayanya juga irit. Kalau di Palangka Raya, buah timun berukuran besar, berbeda dengan di Bogor, rata-rata timun berukuran kecil, masih muda, dan lezat buat lalapan temannya sambal terasi.

Begini cara membuat Juhu Tantimun.

Siapkan 4 buah timun, belah dua, keruk dagingnya dengan sendok. Bumbunya sederhana, bisa diulek, saya cuman diiris tipis, hanya beberapa bawang merah dan bawang putih. Kadang nggak usah pakai bawang putih, karena sudah gurih dari santan. Potong-potong cabai rawit sesuai selera, beri garam dan penyedap. Jangan lupa, santan yang dipergunakan yang encer(bukan yang kental) tidak perlu dimasak, semua dimasak segar, langsung disantap.

Juhu tantimun khas Dayak, lebih nikmat dimakan dengan lauk pundang atau ikan asin. Kuahnya gurih dan ringan, segar buat makan siang.

Mau mencoba juhu tantimun? Yuk..bagi saya, juhu tantimun enak sekali, orang Dayak memang praktis, nggak perlu banyak bumbu, jadiii deh. 
Bahkan kadang-kadang, saya suka makan goreng ikan asin telang(tenggiri), nasi hangat dibancur air putih, dipletusin cabe rawit...anehkan? ini makanan paling praktis dan terenak ala saya...Yummy.
Orang Dayak, makan ikan asin dengan air putih, orang Banjarmasin beda lagi, nasi putih disiram dengan air teh manis. Saya pernah coba, belum terbiasa memakannya. kalau asisten rumah tangga saya di Palangka, makan kolak dicampur nasi, aihhh...ada-ada, segala jadi sayur.

Kembali ke juhu tantimun ini, menu segar berkuah bisa menjadi alternatif variasi menu ibu-ibu.
Selamat mencoba ya.

4 comments:

  1. wah , aku belum pernah , jadi mau nyoba rasanya gimana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cobain deh mbak. cuman timun dikeruk, kasih santan encer. bawang merah, putih, penyedam, garam..

      Delete
  2. nasi putih dibancur air putih aku pernah tau, tapi kalo dibancur teh manis ini yg aku ga kebayang rasanya mbak :D.. kyknya ini ga bisa dibayangin deh.. juhu tantimun juga bikin penasaran rasanya.. bnr2 hrs dicoba biar tau :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nasi dengan teh manis, rasanya gitu deh..

      Delete