Tuesday, January 5, 2016

Kisah Sepanjang Jalan di Kereta Api

Duduk di gerbong wanita Comuter Line jurusan Bogor-stasiun Kota. Petugas kebersihan menuangkan cairan pengharum di lantai, dan mengepel bersih seiring berangkatnya kereta.

Comuter Line Jurusan Bogor - Stasiun Kota
Saya duduk di bangku. Semenit kemudian, datang dua orang ibu, berdiri di depan saya.
"Kok disini bau ya, pesing. Nggak bersih nih yang baru ke kamar belakang."
Suaranya nyaring, dengan tarikan bibir ke atas, seakan hendak menutup lubang hidungnya.


Serentak satu deret bangku, termasuk saya, bergerak saling mencium, kekiri kekanan, membau baju dan tas. Semua hanya diam. Mau nuduh sama siapa, reflek si ibu itu pindah ke gerbong lain. Sayapun membatin, mungkin ada anak kecil yang kencing, hingga lantai tadi cepat-cepat dipel. Tak taulah, yang pasti gerbong bersih  dari sampah.

Kadang, perlu memilih 'diam' daripada bicara. Membuat penumpang tak nyaman duduk.
Sampai Stasiun Gondangdia, saya langsung ke toilet. Menciumi diri sendiri. Yang tercium hanya aroma parfum. Bener-bener kejadian tadi bikin keki aja.

Setelah merasa tak ada yang salah dengan diri saya. Kembali melanjutkan perjalanan dari stasiun Gondangdia, menuju ke stasiun Besar Gambir dengan naik bajay biru ramah lingkungan. Saya tanya berapa ongkos ke Gambir, spontan si Bapak menjawab Rp. 25.000,- Maenyak! Ini nih yang nggak saya suka, seenaknya kasih harga. Kebeneran saya sudah biasa dengan harga Rp. 15.000,- Bagaimana kalau orang yang nggak tau tarif bajay. Memang sih itu rezeki orang, tapi kalo kasih tarif semena-mena begini, kasihan juga kan.

Tepat jam 11.15 waktu jam tangan saya, Alhamdulillah, saya sampai stasiun Gambir. Nggak terasa, sudah hampir lima bulan saya nggak naik kereta api, banyak sekali perubahan semenjak Desember 2015 tahun lalu.
Mesin pencetak tiket secara mandiri
Sebelum masuk ke dalam ruang tunggu, print tiket online terlebih dahulu secara mandiri. Caranya mudah, seperti print tiket mandiri di pesawat. Masukkan nomer kode di layar komputer, terakhir klik pencarian. Akan muncul nama sesuai tiket pemesan. Klik, print...Gampang sekali.

Sekarang, sudah disediakan televisi besar untuk informasi  kedatangan dan keberangkatan kereta api luar kota. Rasanya mirip di Bandara Udara.
Sejak 20 Desember 2015, berlaku peraturan baru. Barang yang dibawa penumpang  jika melebihi kapasitas 20 dikenakan biaya juga. 
Ada ibu di depan saya, dia membeli tiket dua. untuk tempat barangnya, berupa lampu yang mudah pecah.

Dulu, memasuki ruang tunggu di dalam stasiun, boleh kapan saja, sekarang seperti di Bandara udara juga, harus masuk sejam sebelum kereta datang. Terpaksa saya menunggu di peron luar. Saya pun minta pada petugas untuk boarding tiket, agar nanti bisa langsung masuk. Tetap tidak bisa, sesuai aturan, sejam sebelum kereta datang.

Okelah kalau begitu,  santai di luar, melaksanakan sholat di mushola Stasiun Gambir. Yang membuat saya senang, toiletnya sangat bersih.
Barcode tiket dan aturan baru
bagasi angkutan penumpang
Setengah jam kemudian, saya berdiri di depan petugas pintu masuk, sambil memberikan tiket dan tanda indentitas diri, KTP atau pasport. Tiket kereta di cek dengan alat barcode tiket. Titt...alat itu bunyi, tanda tiket asli. Penasaran saya bertanya. Mbak, kok nggak di cap seperti dulu. Menurut penuturan mbak itu, banyak ditemukan tiket palsu dengan sistem cap manual itu, verifiasi dinyatakan sah, ternyata banyak ditemukan double tiket. Semenjak itu.diperlakukan alat sensor barcode tiket.

Naik kelantai 2, duduk manis di ruang, udaranya dingin semeriwing sekali karena pendingin ruangannya terasa banget. Saya tidak langsung naik ke lantai tiga jalur 3 dan 4, habisss panas di sana. Biasanya 30 menit sebelum kereta datang baru saya menuju atas. Sambil menunggu, saya membeli jajanan kue serba Rp 6.000,- minuman pun selisih harganya Rp. 2.500,- dengan harga di luar. Mihilll.
Tak menunggu lama, kereta api Cirebon ekspres tiba tepat waktu, saya naik ekslavator, nggak kuat naik tangga biasa. 
Jiran yang stel musik serasa di rumah sendiri
Gerbong Eksekutif 1 no 7D, saya duduk manis, sembari ngantuk. Pukul 13.45 Wib, kereta bergerak menuju Cirebon. 
Ngantuk berat, tapi susah tidur. Jiran di samping saya, seorang gadis keturunan Tionghoa, menyetel musik, suaranya nggak kira-kira.
Membatin, mau menegur nggak enak rasanya. Tapi sungguh tersiksa. kenapa sih, si mbak nggak  pake
headseat. Lagunya terasa asing di telinga. Hip hop mandarin.

Ketika  pemeriksa petugas tiket, saya berbisik pada Kondektur, meminta tolong untuk menegur jiran saya, supaya mengecilkan suara musik dari hapenya. Sambil tersenyum, dengan santun Pak kondektur malah mempersilahkan saya pindah ke kursi depan yang kosong. Ealahhhh, ya sarua wae , sama sungkannya.
Ya sutralah, saya dengan senang hati, beranjak ke depan. Aman damai. Mari melelapkan diri, waktu masih 3 jam lagi.

Perjalanan kereta api yang penuh cerita di awal Januari ini. Semoga, menjadi sebuah hikmah, bahwa memakai angkutan moda massal seperti kereta api, penumpang untuk saling menghargai, bahwa ini milik bersama. Menjaga kenyamanan penumpang sepanjang perjalanan. 
Sesuai motto PT.KAI : Anda adalah Prioritas Kami. Saya rasa, pelayanan PT. KAI sudah sangat bagus, tinggal penumpangnyalah yang tau diri.

Ciaooo, sampai jumpa di cerita lainnya.









9 comments:

  1. Iya yg di kereta jd bikin keki y mb hihii
    Bingung jugaaa

    Aku pernah kena stop karena bawa tipi gede di gambir, akhirnya tu barang dititipin trus diambil sodara buat dipaketin dari senen

    ReplyDelete
    Replies
    1. sejak desember 2015, banyak sekali aturan baru di kereta api

      Delete
  2. Sudah lamaaaa banget nggak naik kereta api..., ke Jakarta 2 tahun lalu naik bus...

    ReplyDelete
  3. kereta api skrg ini banyak berbenah dan sudah banyak sekali perubahan ke arah yg lebih baik

    ReplyDelete
  4. betul sekali. lebih bersih dan nyaman.

    ReplyDelete
  5. saya belumpernah naik kereta api Mbak,tapi mendengar cerita Mbak Een jadi pengen deh naik kereta :)

    ReplyDelete
  6. nice trip ya bunda..., tepat sekali terkadang diam adalah pilihan terbaik untuk mencuri kedamaian.
    hhi lucu baca paragraf terakhir gadis tionghoa :-D

    ReplyDelete
  7. Bagus kalau begitu kak, berarti berubah ke arah yang baik yaw, mulai dari ticketnya, peraturannya dll. Wah kecium loh kak bau pesingnya dari sini, hehehehe pizzzzzz a

    ReplyDelete