Review

Tuesday, October 6, 2020

Berbalut Asap Pekat Kawah Sikidang Dieng

Jam 17.00 WIB lewat.
Setelah mengunjungi objek wisata Komplek Candi Arjuna dan Bima 
Tujuan akhir perjalanan hari ini ke kawah Sikidang, letaknya di 
desa Dieng, Kulon Batur, Banjarnegara Jawa Tengah

Sebenarnya, objek wisata alam ini buka dari jam 07.00 sampai 17.00 setiap hari, karena harga tiket merupakan tiket terusan objek wisata Candi Arjuna dan Bima, terpaksa datang, biar kata, udara sudah mulai mendung kelabu dan pengunjung sangat sepi. Hayuk aja....Lanjutkan, semangat.


Untuk menuju ke kawah Sikidang, kita melewati pasar kecil, banyak lapak semi permanen. Penjual rata-rata berasal dari Penduduk setempat. 
Kawah Sikidang merupakan berkah untuk warga. Mereka menjual hasil bumi, makanan, minuman dan oleh-oleh khas Dieng.

Semakin sore, kabut menyelimuti udara, berbaur dengan asap putih pekat . 
Ada kesan suram dan sendu.
Sejenak saya berhenti mengumpulkan semangat yang tersisa.
Sebenarnya, menuju kawah Sikidang  sangat mudah karena letak kawah Sikidang Dieng berbeda dengan kawah pada umumnya yang terletak di puncak gunung berapi, dan susah untuk melihatnya. Sedangkan Kawah Sikidang berada di tanah yang datar.
Kita akan melewati kawasan yang sangat luas dengan disuguhkan pemandangan yang berbeda, fenomena alam akibat aktivitas kawah Sikidang

Tanah di sekitar kawah  berwarna putih  akibat kandungan zat zulfur,  tanah pun menjadi gersang, pepohonan  mati berlahan.
Selain itu terdapat lubang-lubang bekas kolam kawah di berbagai titik. 
"Ibuuu..jalannya pelan-pelan, ini tanahnya rapuh, bisi ambrol kecemplung ke kolam mendidih."tegur Iqbal, pemandu wisata rombongan dari Ladita.

Seperti kawah-kawah yang lain, Kawah Sikidang juga tinggi akan kandungan sulfur ataupun belerang serta zat beracun lainnya. Oleh sebab itu bau gas yang keluar sangat menyengat dan beracun.

Untuk itu, jika berwisata ke Kawah Sikidang, kita disarankan untuk memakai masker atau penutup mulut lainnya agar nggak keracunan gas.  Wajib mematuhi rambu-rambu yang tertera di dekat kawah yang melarang pengunjung untuk menyalakan api atau membuang puntung rokok ke dalam kawah. Api yang mengenai zat-zat dari gunung berapi bisa memicu ledakan dan kebakaran.

Untuk tujuan keamanan, pengelola obyek wisata ini telah memasang pagar pembatas dari bambu untuk menjaga jarak aman dari kolam kawah agar nggak terlalu terpapar gas beracun dan tercebur ke kawah Sikidang.

Kami hanya sebentar, karena hari mulai gelap, dingin mulai menusuk tulang, asap sangat pekat dan bau belerang yang menusuk. Saya jadi sedikit tak begitu leluasa, melihat lumpur panas meletup-letupi seperti air mendidih. Gelembung-gelembung bundar meletup dan berpindah bagai kijang yang meloncat-loncat.


Asal mula kawah Sikidang
Konon, ada cerita cinta terbentuknya kawah  Sikidang

Masyarakat daerah Dieng percaya, dan selalu bercerita, ada kisah Cinta yang tragis, jauh sebelum adanya kawah Sekidang di dataran tinggi Dieng.

Hiduplah seorang Ratu yang sangat cantik jelita bernama Ratu Sinta Dewi, karena kecantikannya, terkenal kemana-mana, hingga terdengar sampai ke telinga seorang  Raja yang kaya, sakti mandraguna yang bernama Raja Kidang Garungan. 

Raja Kidang Garungan datang ke istana berniat untuk melamar sang putri dan keluarlah sang Ratu menemui sang Raja. 

Namun apa yang terjadi betapa kaget sang Ratu melihat wajah sang Raja yang ternyata Raja Kidang Garungan berkepala kijang. Selanjutnya sang Ratu tidak berani menolak lamaran sang Raja, karena tahu akan kesaktiannya. 

Kemudian sang Ratu mengatur siasat dan minta Raja Kidang Gandrunga membuat sumur yang sangat dalam di hadapan Ratu dan prajurit kerajaanya. 

Singkat cerita, dibuatlah sumur oleh Raja Kidang untuk sang ratu.

Pada saat mencapai yang terdalam, sang ratu memerintahkan prajuritnya untuk menimbun sumur tersebut dan akhirnya Raja Kidang Garungan terkubur dalam sumur yang dibuatnya, dalam kemarahannya sang Raja mengeluarkan kesaktiannya yang menyebabkan tanah disekitarnya bergetar dan terjadi ledakan yang kemudian berujud kawah. Raja mencoba kesana-kemari dan muncullah ledakan yang dasyat hingga berujud kawah yang seolah-olah kawahnya berpindah-pindah. Sejak saat itu daerah ini dikenal dengan Kawah Sikidang.

Itulah legenda Kawah Sikidang, yang ceritanya terus ada hingga kini

Sebenarnya, kawah Sikidang terbentuk dari letusan gunung berapi di kawasan Dataran Tinggi Dieng bertahun-tahun lalu. Sampai sekarang kawah ini masih aktif.

Kawah ini sangat fenomenal. Pada waktu tertentu, rata-rata sekali dalam 4 tahun, kolam kawah akan berpindah atau seolah-olah melompat dalam satu kawasan seperti karakter hewan kidang (kijang dalam bahasa Jawa) yang suka melompat. 

Tempat foto-foto

Ada beberapa tempat foto disediakan untuk selfie di kawasan ini. Karena sudah sore, tidak ada yang menunggu areal itu, mau bayar, nggak orang.

Kakak saya lagi selfie...gratis, hihihi



Selain itu terdapat tiang dari kayu, mungkin itu tempat atraksi burung-burung hantu

Untungnya, saat saya datang, tak ada satupun burung hantu. Saya paling geram juga sedih bila hewan dijadikan 'pekerja'oleh manusia.

Burung hantu adalah hewan malam(nocturna) tidak sesuai habitatnya di kawah Sikidang ini. Demi uang, apapun dilakukan manusia, walau mengorban hewan..ah itukan cuman burung....iya, burung juga makhluk hidup.

Untung sekali saya tak berjumpa dengan antraksi burung hantu. Kalo ada, perihhh melihatnya. Usah jadi animal lover, susah.

Rombongan kami segera pulang, liburan ini kami lakukan sebelum Pandemik Corona.

Kini, kabarnya kawah Sikidang ditutup. Semoga Covid19 cepat berlalu, kita bisa jalan-jalan lagi.

 

 

No comments:

Post a Comment