Review

Friday, October 9, 2020

Masih Ada Orang Baik: Kisah sebuah Perjalanan.

Cerita di Balik Perjalanan
Traveling 2018: dua hari, satu malam di Dieng Plateau.

Hamparan perkebunan sayur dan kentang tumbuh subur menghijau di sepanjang jalan.
Sinar matahari pagi menerpa kaca jendela, warnanya kuning keemasan. Udara sejuk menerobos cela kaca jendela mobil Elf Microbus.
Suasana yang di nanti, melunasi rasa lelah yang luar biasa, trip to Dieng Plateau selama 12 jam.

Tepat jam 09.00 WIB kami memasuki Dataran tinggi Dieng, Kecamatan Batu,  Kabupaten Banjarnegara.
Kawasan wisata yang banyak didatangi wisatawan lokal dan mancanegara. Berbagai destinasi wisata ditawarkan, perjalanan yang pasti tak akan terlupakan.
Dataran tinggi Dieng di pagi hari, udara di bulan April tidak sedingin bulan Juli. Biasanya pada musim kemarau, udara di pagi hari sangat dingin, bisa mencapai nol derajat. 
Embun membeku menjadi es, inilah embun yang ditakuti petani, karena embun ini sangat merusak tanaman. 
Mereka menamakan Bun Upas atau embun racun.

Perjalanan dua hari satu malam, diikuti 20 orang termasuk supir Mobil elf Microbus,  penuh penumpang. Berdempetan di kursi, tak ada ruang gerak.
Mau mengeluh, sudah niat traveling biar kelihatan seperti orang-orang juga. Buktinya dua orang perempuan asal Korea di belakang kursi kami, diam, menikmati perjalanan, masaaa, eikehh  mau ngamuk, bisa-bisa diturunkan di jalan. 
Saya dan kakak sulung

Perjalanan saya dan kakak, dibiayanya gratis dari anak gadis, sebagai syukur berulang tahun 20 April 2018, dia kasih suprise buat Mama Een dan Tantenya, Ida.
Barakallah fii umrik ya, Nak.
Di balik wajah sumrigah anggota rombongan telah tiba pada  tujuan kawasan wisata, saya malah meratapi nasib.
Tangan saya sibuk meraba  kantong tas di pangkuan, nggak ada juga. Duh! Kemanaa?
Penasaran, segera saya bongkar isi tas, mencari hape, ternyata nggak ada juga. Menunduk ke lantai di bawah kaki, siapa tau itu Hp jatuh ke kolong kursi, nggak ada juga. 
Setelah saya yakin, hape saya memang  benar-benar hilang...pantas, benar-benar tak ada getaran di dalam tas dari hape.

Diam menarik nafas yang terasa sesak, kok ada-ada saja, saya termasuk pelupa berat. 
Kemana itu hape?
Daripada bikin heboh rombongan, merusak suasana piknik. Berita kehilangan hape, semua saya simpan sendiri, menangis diam-diam( dalam hati.), lemesss banget. Musibah.
Diperkirakan, hp ketinggalan waktu sholat subuh di mushola SPBU Pekalongan.
Pantas saja, sebelum berangkat, anak saya memaksa untuk membawa kamera LSDR yang merepotkan, besar tak praktis, dhilalah, bertanda hape mau hilang...Ngelus dada, nyesek sendiri...Ingin kumenangissssssss.

Memang saya akui, karena mobil sesak penumpang dan barang. 
Sejak berangkat dari Jakarta, saya sudah minum obat anti mabok supaya tidur. Dih! Saya dan kakak benar-benar pulessss.

Ketika sampai post pertama untuk istirahat di Cipali, saya segera salin kaos dan celana katun yang nyaman di kamar mandi. Kesempatan itu, saya memberi kabar suami dan anak, bahwa saya baik-baik saja.
Mobil kembali melanjutkan perjalanan, saya minum antimo lagi, sampai mata ini, nggak bisa terbuka blasss, maunya tidur terus.
Sholat subuh pun dalam keadaan ngantuk berat. Saya yakin, hape Acer tertinggal di mushola.
"Sssttt, Da...hapeku hilang." bisikku.
Lama kakak saya menatap, nggak percaya. 
Tak ada yang bisa disalahkan, sudah ikhlaskan saja, yang sudah hilang, biarlah hilang.

Sesampai sarapan pagi di warung Selera Raja,
( Baca: Kuliner khas Dieng
Saya minta tolong kakak mengabari anak, dhilalah baterat hapenya mati.
Akhirnya meminta tolong pada Jesica, tour leader kami untuk mengabari anak saya di Bogor, pesan ke Ica; "Caaaa hp mama hilang." (Kasih emotion menangisss bercucuran air mata)
Perempuan berambutan panjang nan manis itu berkata "Bu, sudah saya kabari mbak Ica. Malah dikira, Mamanya yang hilang...bukan Hape." 
What!
Pastilah si gadis panik, Mama hilang dari rombongan... Tak terbayang si gadis menjadi resah.
Yang lebih panik, suami saya, gimana Mama Een jajan, uang sedompet-dompetnya hilang. Kannnn...jadi heboh.

Rombongan melanjutkan ke destinasi wisata yang sudah dijadwalkan selama dua hari.
(Baca :Candi Arjuna , Kawah SikidangBukit CikunirBatu Pandang Ratapan Angin        Telaga Warna

Tepat jam 12.00 kami tiba di home stay (nggak tau namanya apa, nggak ada plang namanya).
Kami diterima dengan ramah oleh pemilik home stay.
Lelaki muda itu sibuk memandikan burung daranya yang bernama Rambo, juara satu 'ketepatan kembali terbang' di setiap kompetisi di Dieng.

Saya sudah niat dari rumah, bawa colokan listrik mata banyak, supaya waktu charger hape di penginanpan nggak rebutan (tips traveling; bawa colokan listrik.)
Biasanya homestay hanya menyediakan satu mata listrik saja,  tak heran colokan listrik jadi rebutan penghuni kamat...Ini colokan ada, eh! malah hape sendiri lenyap.


Kami di tempat dalam satu kamar berjumlah lima orang.
Kasur digelar dilantai dengan spray warna pink.
Tak ada pendingin ruangan, karena udara sudah sangat dingin.
Saat di kamar itulah, baru saya bercerita bahwa hape saya hilang. 
Jelas, semua kaget, karena saya masih kalem saja, (masa harus histeris, jungkir balik.)
Usai sholat zuhur, ada telpon anak dari hape kakak.
"Maaaa, ada Pak Nur Rahman dari Pekalongan, barusan menelpon Ica nemu hape mama di Mushola. Tolong hubungi nomer ini." 
Biar rasa hati mendengar berita baik ini. 

Segera saya telpon nomer dimaksud.
Suara lelaki di ujung telepon, membenarkan, dia menemukan hape saya ketika sholat subuh di mushola. Beliau meminta tolong menyebutkan isi dompet besar berwarna coklat: "hape Acer, powerbank dan charger, tidak ada uang."
Dia membenarkan jawaban saya. 
"Loh, bagaimana Pak Nur, membuka hape saya yang terkunci dan menemukan nomor kontak anak saya?"
"Saya ambil SIM Card nya aja, masukkan ke hape saya, Bu. Langsung tertera satu nomer kontak: Ica ANAKKU."

Alhamdulillah, saya selalu menaruh nomer kontak di Sim Card bukan salinan telpon. 
Dan setiap yang berhubungan dengan keluarga, saya menulis hubungan kekeluargaan di belakang nama nomer kontak: Ica Anakku, Kang Asep Suami, Ida Kakakku.
Kebetulan yang muncul nama anak saya.
Kemudian kami berjanji bertemu, saat pulang nanti, untuk mengembalikan hape. Langsung lega rasanya, emang bener ilmu ikhlas itu, meringankan hati.
Roman wajah saya langsung ceria.
Saya bicara dengan Jessica dan Iqbal, nanti mohon ijin singgah sebentar di Pekalongan, untuk mengambil hape.   
Ya Allah tak henti-henti berdoa, memang sih kalau barang masih milik, pasti kembali.

***
Kembali ke Jakarta.

Bus berhenti di Pekalongan. 
Saya sabar menunggu Pak Nur...tingak tinguk, manaaa orangnya?
Beliau datang dengan naik motor, melambaikan tangan sebagai penanda, ini sayaa, Pak Nur.
Wajah bapak itu begitu teduh dan lugu, beliau penjual wedang sekoteng keliling yang singgah sholat subuh ke Mushola SPBU.
Cuaca panas kota pekalongan tak menghalangi saya untuk tak henti-hentinya bersyukur dan berterima kasih. Pak Nur Rohman menyerahkan hape saya.
Beliau berkeras menolak pemberian saya sebagai tanda terima kasih, tapi saya berhasil mendesaknya, rezeki tak boleh ditolak.
Masya Allah, masih ada orang baik, dibalik kesederhanaan busananya, raut wajahnya begitu tenang dan ikhlas.

Bersegera saya menuju rombongan yang menunggu di toko samping SPBU Pekalongan. Sebagian membeli makanan dan minuman untuk bekal di jalan. 

"Bu Een sudah ketemu sama Pak Nur kan, hayuk berangkat." ajak Jesica sambil menenteng kantong kresek belanjaan.
Sampai di Pring Sewu Tegal untuk makan siang dan sholat, Jesica menghampiri saya dengan lesu: "Dompet aku hilang, buuu, padahal di dalam dompet itu, ada dua hp, kartu ATM, semua ID card dan aku barusan menarik uang tunai. Tadinya akubkira dompet itu udah masuk ke kantong kresek, bisa jadi dicopet atau ketinggalan."
Hah! Hilang.
Segera saya suruh telepon, hapenya mati karena bateraynya drop. Jesica lemas, usul teman-teman, Jesica kembali ke Pekalongan saja. Nomer telpon Indomaret pun tidak diangkat setelah ditelpon berulang kali. Tampak sekali kelesuan diwajahnya, Jesica naik elf microbus ke Pekalongan, kami melanjutkan perjalanan ke Jakarta. .

Beberapa jam kemudian, di antara rasa lelah, Iqbal berteriak dari kursi depan di samping supir, "Dompet Jesica ketemu!"
Serentak kamipun lega.
Rupanya dompet itu tertinggal di meja depan dan ditemukan ibu-ibu (entah sama namanya) dan menaruh dompet di kasir Indomaret.
Masya Allah, masih ada orang baik di dunia ini. 
Jikalau, semua orang baik di dunia ini, alangkah indahnya hidup ini.

Catatan perjalanan bulan April 2018...yang pengen jalan-jalan lagi.

Salam dari Mama yang gembira
-Een Endah-

No comments:

Post a Comment