Review

Tuesday, October 13, 2020

Perjalanan ke Gili Air, Lombok Bersama Cinta | Part 1


Bali, Agustus 2019.
Kicau burung di pohon mangga depan kediaman kami, terdengar ramai sekali, bersaut-sautan. 
Mungkin, burung-burung, ular dan tupai itu, sedang ngeghibah kami: Itu suami istri di rumah aja, kurang jauuuh mainnya.
Setiap pagi, akang Caroge suka duduk di teras Palasari inn, menikmati suasana Bali. Ini liburannya selama dua Minggu di Indonesia.  Enam hari lagi, akang kembali ke benua biru untuk bekerja.

Diam-diam saya mengintip dari balik horden, apa gerangan yang dilakukan suami?

Sedari tadi sibuk memeriksa aplikasi perjalanan online.
Lamaaaa sekali, tak ada pula terdengar suara. Hening...cuman gerakan tangannya sebentar mencari cangkir (matanya tetep ke layar hape) kemudian meneguk kopi hitamnya berlahan.

"Beressss, besok kita liburan ke Gili Air, Cintaaaa," ia menoleh kearahku, sambil tersenyum puas, 
"Siapkan koper. Jangan bawa sepatu, jej  pan sok lebay deh, bawaan banyak, kita bukan ke pesta, cintaaaa, kita ke pantaiiii, bawa sendal aja."
Bawa koper, Kang ? 
Ah ...itu koper bagasi  untuk 7 kg, berat koper 3 kg, berarti isinya 4 kg saja. Dipikir mending bawa ransel, lebih praktis tapii perintah bos, diturutin aja.

Boneka kucingLolitoti setia menemani liburan

Kami berangkat ke Bandara Internasional Ngurah Rai, untuk penerbangan pagi menuju Lombok.
Bener juga kannn, kami kelebihan berat bawaan 3 kilo di koper bagasi, terpaksa kelebihannya djejalkan ke kantong ransel akang. Aduh ya, koper merk Presiden ini mah emang bikin begaya, cuman selalu bikin masalah, kelebihan berat.

***

Hanya perlu 45 menit saja, pesawat tiba di Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, Lombok Mataram.

Antara Lombok dan Cabai, sama yaaa?
Udara panas menerpa wajah, terik sekali mataharinya, apa karena namanya Lombok, yang kebayang, pedas dan panas..huh hahh!!!
walau ini pertama kali saya ke Lombok, saya pengemar masakan menu ayam taliwang, plecing kangkung, sambal matah, semua kulinernya dominan dengan rasa pedasnya...Benar cocok namanya: Lombok, cabai, cenggek ceu urang Sunda mah.
Apa ada hubungannya lombok dengan cabai?
.
Ternyata, nggak ada hubungan antara cabai dengan Pulau Lombok
Orang suku Sasak, menyebut Lombok dengan Lombo yang berarti lurus.
Dalam sejarah, nama lombok sudah ada sejak jaman Majapahit dan tertulis dalam kitab Negara Kertagama: Lombok sasak mirah adi
Kata Lombok artinya Lurus
Sasak berarti orang Lombok
Mirah berarti permata dan Adi berarti kejayaan. 
Arti kalimat secara keseluruhan adalah orang Lombok yang memiliki hati yang lurus untuk dijadikan permata kejayaan.
Intinya sih: hati yang lurus pasti akan berjalan di atas kebenaran.

"Cintaaa, cepetan." 
Mendengar suara itu saya mempercepat langkah. Hitungan langka kaki saya, baru satu kali saya melangkah, suami sudah empat atau lima langkah, cepat sekali jalannya.
Kami bergegas ke  terminal Damri. Kami memilih perjalanan murah meriah, yang penting jalan berdua.
Naik bus Damri (harga tiket Rp 25.000,-)  menuju  wisata Sengigi sekitar 50,1 km, waktu tempuh sekitar 1 jam 30 menit, bus berhenti di setiap terminal.

Jalanan dari bandara Internasional Lombok ke kawasan Senggigi jalanannya berkelok, tanah begitu gersang dan banyak bangunan yang rusak akibat gempa tahun lalu.
Kini, Mataram sibuk membangun kembali dan berusaha bangkit.

Sulitnya pesan Ojol
Kami minta ke supir supaya diturunkan di sebuah cafe pinggir jalan tidak.masuk terminal Damri.
Sebelum melanjutkan perjalanan, mau ngopi dulu biar nggak oleng. Biasalah pecandu kopi, ada yang kurang, kalo nggak ngopi, tadi pagi nggak sempat karena buru-buru. 
 
Saya membuka aplikasi Ojek Online, untuk tujuan Senggigi ke pelabuhan penyeberangan. Herannya berapa kali, tanda setuju, beberapa menit pesam dibatalkan Driver: namanya Harun.
Saya pesan kembali, tanda setuju masuk, drivernya orang yang sama. Aneh.
Driver kemudian chat melalui aplikasi, dia mau kita batalkan saja pesanan Drive Car karena supir masih makan. Alasan yang aneh...niat nggak sih nariknya?
Saya jawab, kami  tetap sabar menunggu, silahkan selesaikan makannya...lamaaa sekali jawaban driver.

Sambil menunggu (mudah-mudahan nggak dibatalkan lagi) 
Di depan cafe, ada empat mobil berderet, salah satunya menawarkan jasa antar secara pribadi. Bahkan ada pula yang mengajurkan, sewa motor aja.
Kami tolak dengan halus, masih menunggu driver car yang tadi dipesan.
Saya suka mengunakan transportasi ojol karena harganya jelas sesuai jarak. 
Kalo memakai jasa mobil biasa, nggak tau berapa tarif umumnya, malah dilihatnya kita turis, orang baru pula, alamat harga pasti dinaikan.

Tiba-tiba, datang lelaki tinggi besar berkaca mata, wajahnya sangat serius.
"Bu...saya Harun.Itu mobil saya." Sedikit kaget sih, serem amat sih.
"Bilang ya Bu, kalo ada yang tanya kita saudara." Lanjutnya. 
Oh, saya langsung paham maksudnya, bergegas kami mengikutinya tanpa bicara.

Harun membuka pintu mobil Avanza warna hitam, langsung tercium wangi jeruk.
Akang duduk di depan samping supir, saya di belakang bangku ke dua.
" Maaf ya Pak, Buuu. Sikap saya tadi kurang ramah." Seperti tersihir, ini orang langsung berubah.
"Di daerah Sengigi, Ojol belum bisa diterima, khususnya driver offline. Kalo ketahuan, habis saya bertengkar dengan mereka."

Masalah yang sama, antara Ojol dengan transportasi offline, di kawasan wisata Ubud Bali, pemesan ojol dengan drivernya kucing-kucing. Kalo ketahuan, kadang kaca mobil ojol dirusak.

"Kalo chat saya aneh, karena untuk hati-hati aja, Bu. Banyak yang pesan drive car, ternyata cuman ngecek dari driver lain. Terus saya di datangi, diomelin masih pake aplikasi. Nah, kalo serius pemesan, ya model ibu itu. Di sini rada susah Ojol, yang narik paling 4 orang atau lebih."
Aihh, jaman sudah sudah modern, pemikiran masih kuno aja. 
Padahal ojol bagi wisatawan (saya khususnya) sangat membantu. Harga  sudah dicantumkan dengan jelas di aplikasi sesuai jarak, keamanan dijamin, banyak kemudahan karena ijemput dan diantar sampai tujuan. Kalo pake cara lama, repot tawar-menawar, kadang kita ditaruh harga tinggi, apalagi sama turis bule, habis lah dikuras isi dompetnya.

Sepanjang perjalanan Harun banyak cerita tentang kawasan wisata yang kita lewati.

Kawasan Wisata Senggigi salah satu destinasi favorit wisatawan, karena pemandangan yang elok. 
Kita disuguhkan keindahan garis pantai Lombok. 
Pantai berpasir putih, ombak menyentuh bibir pantai yang landai, langit berwarna biru, Masya Allah, mempesona.

Banyak bangunan resort terbaik sepanjang pantai. Resort itu rata-rata, pemiliknya orang asing yang menikah dengan wanita setempat (salah satu allasan kemudahan bisa memiliki property). 
Negeri indah ini bukan lagi menjadi milik sendiri, tapi milik asing. Serius, ini kenyataannya.

Kata Harun, dulu semasa kecil, mereka bebas bermain ke pantai, sejak ada resot, pantai itu disekat-sekat, dibatasi oleh tembok karena tanahnya milik resort.

Masuk pantai pun, sekarang pengunjung dikenakan restribusi(biaya masuk) sesuai Perda Kabupaten Lombok Utara Nomor.5 tahun 2010.
Tiket masuk Rp 5.000 untuk wisman, Rp 1.000 untuk wisatawan domestik anak-anak dan Rp 2.000 untuk dewasa.

Pelabuhan Penyeberangan
Kami tiba di Pelabuhan Bangsal, tempat orang-orang Lombok daratan menyeberang ke tiga gili (Gili Air, Gili Meno dan Trawangan)
Ketiga pulau kecil ini terletak disebelah barat daya Pulau Lombok. Gili berasal dari bahasa Sasak, yang artinya 'Pulai kecil'

Gili Air tujuan liburan kami, merupakan pulau yang paling dekat dengan Pulau Lombok, sedang Gili Meno berada di antara Gili Air dan Gili Trawangan

Ada dua pilihan kapal:
1. Pilih nyaman dan cepat naik speedboad/kapal cepat melalui pelabuhan teluk Nara, waktu tempuh sekitar 7 menit saja
2. Pilih hemat dan murah naik perahu motor/slow boad, melalui Bangsal Pemenang.

Karena kami tadi dibawa si supir ke Pelabuhan bangsal, otomatis naik perahu air bermesin, lama perjalanan sekitar 30 menit tergantung besarnya gelombang.
Kita nggak langsung berangkat, tapi menunggu sampai penumpangnya penuh, beberapa sembako untuk penduduk Gili, diangkut dengan kapal ini.

Untungnya berpergian pakai sanda l(kalau pake sepatu, pastilah repot nenteng, takut basah) karena menuju kapal motor, nggak ada jembatan dari pantai naik perahu.
Kita perlu berjuang, apalagi bawa koper segala, aduhhh repot juga ternyata.


Kapal kecil diayun Ombak
Akang mengajak saya duduk di depan, tepat di belakang kemudi kapal.
Sebagai istri nurut aja. Sambil menoleh ke belakang buritan kapal.
Kenapa penumpang berjejalan dengan barang-barang? 
Semua memilih duduk di belakang, kapal seperti mau jumping, lebih berat di belakang.
Mau nanya sama siapa?

Kapal bergerak menuju lautan..
Serasa ingat muda dulu di Kalimantan, kemana-mana naik kapal air dan speedboat, belum ada transportasi darat.
Akang sedikit ragu ke saya.
"Tenang Kang, Urang sudah biasa naik beginian."
Tapi, kok kenapa rasanya mau muntah dan pusing, "Apa ceuk urang, maneh teu gora deui, belagak kuat," sibuklah dia mencari obat gosok andalan saya di dalam ranselnya. Langsung gosok di tengkuk, baru sadar, sekarang saya tak semuda dulu dengan fisik yang prima.

Gelombang siang ini agak tinggi. Kapal berjalan memecah ombak, dannnnn air menciprat ke bagian depan. 
Byurrrrrrrr.
Inilah alasan, kenapa penumpang lain duduk di belakang, bukan karena tiket bisnis atau ekonomi
 Hawong  harga tiket dibandrol sama semuanya.
Belum sempat rasa kaget hilang, ombak  datang menguncang, air  tumpah dari depan, sigap tangan kami mengelap percikan air di wajah dan kami sedikit kuyup. Tah begini kang, tadi keukeuh duduk  di depan...kami saling berpandangan, menahan tawa untuk  menertawakan diri sendiri.

Lagi-lagi gelombang menghantam kapal agak keras, kapalpun berayun ke kiri dan ke kanan...sungguh menakutkannn, karena sadar diri, saya nggak bisa berenang.
Koper yang saya taruh di antara kaki, sigap saya peluk. Ada untungnya juga bawa koper ini, paling tidak, kalo kapal ini karam, masih ada koper penganti pelampung. 

Saya melirik pelampung-pelambung yang berjejer rapi di atap kapal. Bukannya dipakai penumpang.

Tiga puluh menit lebih,  bermain dengan ombak, akhirnya tiba juga di tujuan: Gili Air.
Lagi-lagi susah payah turun dari kapal ke darat...kapal berayun juga saat berlabuh.
Saya duduk sebentar di bangku dermaga, perasaan sedikit oleng.
Tengak-tengok, kiranya ada angkutan yang cepat sampai ke resort.
"Kita jalan kaki, deket kok villanya, kurang dari lima menit." Rayu suami, tau aja isi kepala saya, lalu dia mengandeng tangan saya, kami beriring sengan rombongan bule ke arah yang sama.

Villa Karang Resort Gili Air

Baru kali ini lihat meja resepsionisnya, sederhana sekali.

Kamar yang kami pesan, berada di lantai 2 bangunan paling belakang.
Tangga ke lantai 2, cakep motif keramiknya

Mari bercinta

Kamar resort berukuran  kecil dan sederhana, tersedia AC (apa kebetulan AC 
-nya kurang dingin) napa juga nggak laporan ke petugas villa, soalnya saya langsung ambruk, mabook laut.
Villa ini nggak menyediakan air panas, waktu sikat gigi, hendak kumur-kumur, diih! airnya asin. 
Terpaksa saya mengambil air lebih banyak (satu botol aqua besar) di dispenser air isi ulang. Letaknya dispenser di depan kamar (dekat tangga) dipergunakan untuk ramai-ramai...Pasti petugasnya heran ya, napa air galon cepat habis. 

Kami cukup puas di kamar ini untuk sekedar tidur dan bisa menatap pemandangan dari balkon. 
Hal lain yang bisa kita gunakan,  adanya pelayanan wifi dan sarapan gratis, makan malam dan siang, bayar sendiri (makan dan minum harga bule semua), Ya sudahlah, yang penting enak... 


Restorannya berada di depan resort,  suasananya terbuka dengan alam, kursi berjejer di jalan utama, kita bisa menikmati aktifitas penduduk dan kapal-kapal yang berlabuh.


Di sisi jalan dekat resort, banyak penjual soveunir, penjualnya banyak yang datang ke wisatawan menawarkan dagangannya, padahal lagi jam makan.

Di resort ini, tersedia pula kolam renang kecil, kebanyakan bule yang berenang dan berjemur...saya cuman jadi penonton dari balkon.
Setelah saya perhatikan, hanya kami orang lokal yang menginap di sini , kebanyakan turis dari Eropa; Negara Inggris, Perancis, Belanda, Italia, maupun negara-negara lainnya. Sebenernya sih, suami juga tinggal lama di Eropa, wajahnya aja 100% lokal, banyak orang yang nggak percaya, kecuali kalo sudah bicara dengan berbagai bahasa, baru percayaaa. Suka kesihan, teu dipercayaaa, habis wajah Indonesia banget.

***

Keindahan Pantai Gili Air
Bada lohor, kami menuju pantai di sebelah barat.
Seperti  nama Gili Air (tengaq aiq) yang artinya adalah di tengah-tengah laut
Tak heran banyak wisatawan kemari karena pulau di tengah laut menawarkan pesona keindahan alam lautan yang  terbingkai Gunung Rinjani...melihatnya, hati ini rasanya bahagia membahana, ah Cinta.

Alasan lain, suka liburan di Gili air karena pantainya bersih dan warna air laut  gradasi dari  biru sampai hijau. Ombaknya datang dengan tenang ke bibir pantai. Pasirnya pun berwarna putih.
Permukaan Pantai Gili Air tertutupi oleh endapan alluvial, sehingga banyak kita temukan pecahan karang koral dan fosil foraminifera.

Dalam diam, saya merenungi keajaiban alam di bumi Pertiwi, saya  selalu bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah Allah berikan bagi Negeri ini, Negeri yang indah

Bersyukur karena saya dan suami, sudah diberikan nikmat sehat dan ke sempatan untuk berlibur ke Gili Air...

Pantai Gili air, sangat cocok untuk pemburu sinar matahari, termasuk suami saya. Jangan kaget ya, di sini banyak yang buka aura, eh! aurat, berjemur.

Kami membentangkan kain di pasir. 
Sementara akang berenang di laut (lagi-lagi saya jadi penonton).
  
Pamer aurat

Jangan suruh saya mandi di laut, saya paling  males berbasah-basah, buka-bukaan, lagian saya takut tenggelam, nggak bisa berenang.

Sambil menatap lalu lalang orang, nikmati sekali kriuk rangginang.
Suasana pantai sepi pengunjung, inilah kelebihannya pantai Gili Air jika mau mencari ketenangan dan tadabur alam.

Di sebelah kami, ada bule, masyuk sekali memadu kasih, pantai serasa milik sendiri, kami cuman jadi penonton. 
Dia yang berciuman, kok saya yang malu.
Suami senyum-senyum;
"Mauuuu?"
Langsung bibir saya naik ke atas, sori cintaaa...ciuman bukan di alam terbuka, entar di alam khusus. Just you and me.
Akang tertawa, suka banget godain saya.

Di usia kami yang tak muda lagi, kami lebih suka menikmati ketenangan pantai diiringi desir angin.
Hanya ingin: menikmati, berdua saja, memupuk cinta agar terus bersemi. 

Kami lebih suka di Gili air.
Gili Meno hampir sama dengan Gili Air karakteristik lebih privat daripada menyebrang ke Gili Trawangan. Di sana terlalu ramai pengunjung. Trawangan bernuansa pesta, cocok bagi yang muda-muda dan bersama rombongan. Apalagi pada  bulan Juli  hingga Agustus, puncak kedatangan turis...pasti rameee.

Tak terasa, senja menghias langit dengan warna merah tembaga.

Sunset

Kami segera pulang, menyelusuri jalan utama.
Bangunan banyak yang rusak karena gempa dan sedang bebenah.
Resort di sisi jalan, mempersiapkan menu makan malam bagi pengunjung, rata-rata hasil laut, ikan, cumi segar,  yang siap di panggang, kita tinggal pilih, duduk manis, makan, jangan lupa bayar.

Beberapa kru hotel menyiapkan cek sound musik untuk hiburan malam. Saya bergegas ke Villa Karang  Resort untuk menegejar sholat Magrib.
Rencana, kami akan malam malam romantis  berdua...

Salam dari yang bahagia
Een Endah
 

 














No comments:

Post a Comment