Sunday, October 25, 2020

Lebih Dekat dengan Satwa Purba Komodo di Pulau Rinca

19 Januari 2020

 

Di Taman Sail Komodo  kemarin, saya sudah melihat patung komodo yang besar sekali. 

Komodo asli,  saya juga sudah lihat di Kebun Binatang Ragunan Jakarta, cuman badannya nggak terlalu besar. Tapi, saya belum pernah melihat komodo dari 'dekat' di habitat aslinya. 

Saya nggak pernah bermimpi bisa datang kemari, Labuan Bajo. Suer! Ini namanya my dream come true. Kanggg....Eike teu lagi mimpi pan?

Hari ini saya dan suami, akan melihat langsung si kadal terbesar di dunia,  endemiknya cuman hidup di Indonesia. Apalagi tahun 2012 Taman Nasional Komodo ditetapkan  sebagai 7 keajaiban dunia. Semakin semangat saya untuk melihat komodo.

Kita cari tau dulu tentang  Komodo?

Komodo masih satu kerabat dengan biawak, cuman ukuran badannya lebih besar. Panjang ekornya Komodo sama panjang dengan badannya, bayangkan saja, besarrrrr dengan panjang hingga 3 meter dan beratnya bisa mencapai 135 kilogram.

Komodo ditemukan oleh seorang Pimpinan Museum Zoologi Jawa, Pieter Antonie Ouwens, tahun 1912. Dari makalah yang ditulisnya, Peter Ouwens yang mengambarkan ada kadal besar yang tinggal di Pulau. Dalam tulisannya, Peter Ouwens menyebut hewan itu dengan nama yang diberikan penduduk Flores dengan boeaja darat atau buaya darat (ora) dan menamakan dengan varanus komodoensis.

Habitat komodo: Pulau Komodo, Rinca, Pulau Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Perjalanan ini...demi  lebih dekat dengan Komodo.

Beneran ini, Pak, naruh kapalnya di mana?

"Di sana, Bu."

Susah payah melewati jalan setapak yang  terbuat dari susunan batu cadas di pinggir dermaga. Masalahnya bawa gembolan makanan minuman buat bekal di jalan. Padahal di kapal sudah disediakan kopi dan termos air panas, napaaa repot-repot. Maklumlah, emak-emak, sedia payung sebelum hujan, daripada kelaparan.

Nah itu, senyum ramah awak kapal motor 'Tiger' menyambut kami berdua.


Dua awak kapal, nahkoda dan asistennya membawa kami menerjang ombak, melihat pulau-pulau kecil di sekitar Labuan Bajo.
Laut biru, langit  biru, pesonanya luar biasa. Gelombang pun sangat tenang perahu berjalan aman. 

Sambil ngobrol, bapak ini sebentar-bentar mengocok alat di tengah badan kapal. Fungsinya untuk membuang air yang masuk ke badan kapal ke laut. Kapal motor berbahan bakar solar, perlu solar 80 liter untuk pulang pergi, dari Pelabuhan Labuan Bajo sampai pulau paling ujung.

Tak bisa diucapkan keindahan alam Labuan Bajo membuat berdecak kagum. Pulau-pulau kecil saling berdekatan.

Pemilik kapal bercerita, tidak semua pulau dihuni,  bahkan ada satu pulau kecil yang terdiri dari batu cadas,  tanaman saja tak tumbuh. Tadinya, saya kira digunduli manusia karena beda rupanya,  ada yang hijau ditumbuhi pohon, ada yang gersang (bukit batu).

Pulau Rinca


Perlu waktu 1.5 jam dari pelabuhan Labuan Bajo menuju Pulau Rinca, salah satu pulau habitat Komodo.
Memang sih, Pulau Rinca tidak sepopuler Pulau Komodo dan Pulau Pandar, namun, untuk melihat komodo lebih dekat, di Pulau Rinca, fasilitas sudah  disediakan.

Kapal Tiger, tak bisa menuju ke Pulau Komodo dan Pulau Pandar, karena  ada larangan dari syah bandar, gelombang terlalu berbahaya menuju ke sana.
Situasi ini diperkiraan akan kembali normal sehabis Imlek,  akhir Januari 2020

Sampai di dermaga kayu Pulau Rinca. Kapal motor 40 s/d 100PK  ditambatkan dengan biaya parkir kapal Rp 100.000,- 

Kita harus berhati-hati melewati satu kapal ke kapal hingga ke tepi, karena tertulis, ada buaya di area ini, apa ada hubungan dengan nama Loh Buaya? Serem juga.

Taman Nasional  Komodo terletak di daerah administrasi Provinsi Nusa Tenggara Timur dan taman nasional ini juga sangat dekat dengan kepulauan Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat. 


Di pintu gerbang,  langsung disambut satu menjaga kawasan wisata (Ranger).

Pemandu ini bertugas untuk menginformasikan jalur atau lintasan yang akan dilalui selama tracking.
Dari gerbang kayu Pulau Rinca, kita dibawa memasuki ke kawasan Taman Nasional Komodo. 

Jalan setapak  menuju lokasi Taman Nasional Komodo, di sekitarnya ada pohon-pohon juga, ngeri-ngeri sedep, auranya bikin deg-degan, takut tiba-tiba muncul Komodo, kan ngeri, karena kecepatan lari Komodo, 20 km/jam maximum di darat.
Bisa-bisa saya sesak nafas kalah cepat dikejar Komodo, sambil teriak," Ampooon, nyerahhh."

Kekuatiran itu tidak terbukti,  kita aman sampai ke gedung tempat membayar karcis. 


Rincian pembayaran ;

• Karcis masuk pengunjung TN Komodo Rp 5.000,-
• Karcis tracking dan hiking-climbing Rp 5.000,-
• Karcis retribusi tempat rekreasi dan olahraga Pulau Rinca Rp 50.000,-
• Kwitasi jasa pemandu Rp 80.000,- trail Loh Buaya- Wae Waso



Tracking

Pemandu wisata alam (Ranger) kita menawarkan jalur mana yang akan kita lewati? kami memilih tracking dengan jalur pendek saja,  nggak kuat booo, kalo  mengambil jalur panjang,  trackingnya pakai mendaki gunung segala.


Ranger (biasanya memakai topi bandar berukuran besar) yang bernama Frans ini hanya mengandal tongkat kayu bercabang dua, apa itu menjamin, kalo tiba-tiba kita disergap Komodo? 

Ini sudah resiko pekerjaan, Ranger selalu siap dengan kondisi lapangan.

"Pernah digigit komodo, dik Frans?"

"Belum bu." ...Semoga nggak pernah, karena  gigitan komodo sangat beracun, khususnya, yang berbahaya adalah air liurnya yang bercampur darah karena semua giginya dilapisi jaringan gingiva (gusi), jaringan ini tercabik saat komodo makan.

Tahap pertama perjalanan dari gerbang kayu tadi, kemudian kita melewati dapur umum. 

Komodo suka datang ke dapur karena mencium bau masakan. Di belakang dapur, banyak komodo yang tidur, jadi ini area yang biasa untuk foto dengan komodo (lebih dekat).

"Tenang Bu, aman." 

Tetap aja deg-degan, sampai nahan nafas, takut komodonya bangun. Sepertinya komodo-komodo di sini sudah biasa jadi foto model, santuy banget sama kita.


Kita memasuki kawasan dengan jalur setapak. Jalur yang biasa dilewati komodo ditandai dengan jejak  basah yang ditinggalkan oleh komodo itu sendiri.

Frans mengajak menelusuri jalur tersebut. 

Deg-degan, ini sama aja mau berhadapan dengan bahaya.  Tapi harus berani, yang penting kita harus tetap tenang, santai, tetap menjaga jarak sekitar 5 meter. 

Hindari bicara keras (lo kira di pasar) karena komodo memiliki pendengaran dan penciuman yang baik. Kalau kira-kira ketemu,  jangan lari, meloncat, malah nanti dikejar dan diserang komodo. Tetap tenang. Bilang aja: Damai Bro.

"Itu apa isinya, bawa daging." tanya Frans menunjuk gembolan yang saya bawa.

Frans menjelaskan tidak boleh membawa daging, Komodo memiliki indera penciuman dan sangat peka dengan bau amis. Untung isinya cuman keripik, masa iya, komodo suka keripik pisang.

Selama tracking saya serius mendengar Frans menjelaskan, bahwa Komodo tingal di semua pulau, berkembang biak dan berburu memangsa binatang. Komodo juga pandai berenang.

Kebayang...tiba-tiba komodo muncul di samping kapal terus bilang: hellowwww...
Apa perlu dijawab: apa sayang.

Untungnya, ngehalu saya cuman ada di film kartun, ternyata Komodo hanya berenang di pinggir pantai, tidak sampai ke tengah laut, jadi aman.

Populasi komodo di Pulau Rinca sebanyak 1.049 ekor dan lebih banyak lagi di Pulau Komodo 1.700 ekor.

Cara membedakan Jantan dan Betina

Melihat komodo yang tiduran ini, bisa ditebak mana jantan dan betina.  

Komodo jantan  lebih besar badan (juga kepalanya) dari komodo betina. Komodo jantan kulit berwarna dari abu-abu gelap hingga merah, sedang komodo betina berwarna lebih hijau. Komodo muda lebih berwarna kuning, hijau dan putih didominasi warna hitam.

Inspirasi Seni Gulat dari Komodo

Musim kawin berlangsung antara bulan Mei sampai Agustus .         

Selama periode ini, komodo jantan sering berkelahi dengan jantan lain untuk memperebutkan betina dan mempertahankan kekuasaan wilayahnya. 

Cara berkelahi pejantan itu, bergelut seperti berpelukan, mereka berdiri mengunakan kaki belakang lalu mendorong dan memukul dengan kaki depan. Komodo yang kalah akan terjatuh dan terkunci ke tanah.                                                                   

Pemenang pertaruhan akan menjulurkan lidahnya yang panjang, berwarna kuning dan bercabang  pada betina, untuk melihat penerimaan si betina...mau atau tidakkk? jawab!

Komodo betina juga jual mahal dengan Pejantan

Karena populasi Komodo jantan lebih banyak dari betina, perbandingan 3:1. 

Wajar dong, Komodo betina agak sedikit memilih komodo jantan...

"Tak semudah itu Fercuso! "                                                   

Pada usia 17 tahun Komodo betina  akan memilih sendiri  komodo pasangan kawinnya. Standar dan kriterianya cukup tinggi, komodo betina hanya mau dikawini komodo jantan besar dan kekar.

Pada fase awal perkawinan, betina masih juga  sok jual mahal, bersifat antogonis dan melawan dengan gigi dan cakar. Kegigihan pejantan  mampu mengendalikan betina hingga mau diajak bercinta.

Sifat Komodo yang langka dibanding kadal lain adalah sifat monogami (monogamus) dan membentuk pasangan, setia pada betina.

Komodo betina akan meletakkan telurnya di lubang tanah sedalam 2 meter, komodo mengali lubang tidak cuman satu, ini untuk untuk memanipulasi predator pencuri telur. Biasanya komodo lebih suka menyimpan telur disarang yang ditinggalkan.

Sarang Komodo berisi sekitar 15-30 telur, komodo betina mengerami selama kurang lebih 9 bulan. Tak seperti hewan lainnya yang melindungi telur di bawah perutnya, induk komodo menjaga lubang yang didalam tertanam telur.

Tidak selalu komodo betina menunggui sarangnya, mereka juga pergi untuk mencari makan. Setelah enam bulan komodo akan meninggalkan telur-telur yang masih tertanam di dalam tanah. 

Proses paling melelahkan bagi anak komodo adalah proses penetasan. 
Komodo kecil akan keluar dari cangkang telur, setelah menyobek cangkang dengan gigi yang akan lepas setelah pekerjaan berat selesai. 
Setelah berhasil menyobek kulit, komodo kecil akan berbaring di cangkang telur untuk beberapa jam mengumpulkan tenaganya untuk mengali keluar sarang.

Sejak menetas, komodo muda sudah memiliki naluri untuk menghindari induknya sendiri, karena saat menetas komodo muda tak melihat induknya. Bisa jadi kelak dewasa, ia mengawini atau memakan induknya sendiri.

Yang paling ditakuti, komodo muda adalah komodo dewasa kanibal, pemakan sesama komodo dan predator lain seperti babi dan burung, kejam sungguh kehidupan bagi komodo muda. 

Tak heran, komodo muda susah dilihat manusia, karena untuk tahun-tahun pertamanya, komodo naik dan bersembunyi di naik pohon berlubang, Komodo membutuhkan waktu tiga sampai lima tahun untuk menjadi dewasa, dan dapat hidup lebih dari 50 tahun.

Hewan Carnivora

Waktu masuk kawasan TN. Komodo di areal masuk,  kita melihat kumbangan besar tempat hidup kerbau liar, rusa dan babi, itu makanan Komodo. 

Di Taman Nasional Komodo, satwa liar dibiarkan untuk hidup seperti habitatnya, tak ada lagi 'atraksi' memberi makan agar Komodo memelihara sifat agresifnya.                                                                   

Memberi makanan pada satwa liar, itu sama saja membunuh secara berlahan, dan mengubah pola makan pada makan alami.

Memberi makan satwa liar sama juga, mengurangi kemampuan bertahan hidup  dan menyebabkkan ketergantungan pada manusia. Di alam liar komodo tidak butuh suplemen dari manusia, mereka mampu mencari makan sendiri.

Wajib diingatkan pada wisatawan, jangan membuang sampah sembarang dan membuang puntung rokok yang masih menyala. Kawasan TN. Komodo pernah dua kali kebakaran. Bayangkan alangkah meruginya kita kehilangan satwa purba.

Hati-hati, penjaga toiletnya Mbak Komodo

Kantin buat ngopi setelah tracking berakhir

Tn dan Ny. Asep Mul yang berbahagia

Hari sudah siang, selesai sudah berjalanan kami ke Taman Nasional Komodo, kelak ini menjadi cerita yang tak mungkin terlupakan.

Sampai jumpa, cerita bersambung ya, MasBro.

No comments:

Post a Comment