Sunday, October 4, 2020

Belanja di Pasar Tradisional Rakyat: Pasar Badung, Kota Denpasar

Gegara kelebihan bagasi pesawat menuju Bali.
Sampai bayar bagasi, seharga tiket pesawat, gileeee bener.
Nahhh, pulang ke Bali bulan ini, saya nggak bawa banyak  oleh-oleh.

Sebenarnya, isinya koper ini, semua oleh-oleh permintaan suami yang nanti, akan dibawa ke Swiss.
Cuman opak, rangginang, ikan asin, cikur, kerupuk kaca, sagala yang beraroma Sunda, dibeliin demi Yayang suami.

"Udah nanti kita belanja oleh-oleh ke Pasar Badung, Bali saja.Di sana juga lengkap," saran suami, karena dia deg-degan juga, kalo balik ke Swiss, takut bagasi lebih 30 kg.
"Mawa naon sih Cintaaa, sagala diabus keun," keluhnya. 
Eh! Dia tidak tau itu tanda sayang, istri...pamajigan. Tetap aja saya masukkan oleh-oleh ke tasnya. Saya tau, ia memandang  kopernya dengan resah gelisah, takut kalo bagasinya  pesawatnya kelebihan berat. Mehongg bayarna.

Setelah dipikir, solusi terbaik; agar sama-sama plog soal berat bagasi. 
Belenjong oleh-oleh Sunda saja yang dibawa dari Bogor, sisanya beli di Bali saja
Sebagai orang yang setahun dua kali ke Bali.
Pasar Badung, saya belum pernah ke sana. Whattt?
Belum pernahhhhh.
Emmmm. 
Yaiiyalahhh, bambang, kami tinggal di Kuta. 

Pasar Badung letaknya di lokasi strategis di pusat kota Denpasar, jalan Gajah Mada.
Untuk sampai ke Pasar Badung, biaya  ojol mobil tarifnya sebesar  Rp 50.000 (sebelum virus corona).
*Kita sampai tujuan.

Dikisahkan sepasang suami istri, berjalan diterik matahari Bali, puanass, bawa tas besar dicantelin di pundak, buat naruh belanja karena tidak disediakan plastik.

Ck ck ck,  siga orang kampung (baca: turis) kebingungan. 

Ih ih ih, Kitakan juga turis, karena konsep Pasar ini ditujukan  untuk kemudahan wisatawan domestik dan mancanegara berbelanja oleh-oleh khas Bali.

Sekalipun Pasar Badung adalah Pasar tradisional rakyat, tapi konsep beda.

Memasuki kawasan Pasar.

Pasar Badung ini adalah pasar tradisional terbesar di Bali, dalam sejarahnya sudah tiga kali mengalami kebakaran. 

Kemudian dibangun kembali dengan 3 lantai dengan desain sebagai pasar tradisional, tetapi menawarkan fasilitas pasar modern.

Masuk Pasar Badung, tak Bali, kalo tak berseni, dinding pasar dilukis mural jenaka, bisa-bisa saya tak mau pulang...terkagum-kagum sendiri.


Apa Keunggulan Pasar Badung?

Pertama, dari segi keamanan dari bahaya kebakaran. 

Pasar ini sudah dilengkapi dengan hidran air di setiap lantainya, alat pemadam api ringan (APAR), serta gedung dilengkapi springkler yang akan hidup jika ada percikan api.

Terdapat juga tangga darurat jika ada bahaya dan evakuasi.



Kedua, sanitasi pasar juga mendapatkan perhatian. Disediakan tempat sampah untuk tiga jenis sampah plastik, logam dan ogranik. Tempat cuci peralatan disediakan khusus untuk mencuci peralatan habis pakai. 

Toilet juga disediakan disetiap lantai dengan jumlah yang cukup.

Untuk pedagang daging ditempatkan khusus dan tertata dan ada kran air untuk persediaan air bersih, cuci alat, dan dagingnya. Kebersihan pasar juga terjaga karena ada petugas kebersihan yang membersihkan pagi dan sore.

Ketiga, fasilitas pasar ini sudah juga sama dengan pasar modern umumnya. Sudah dilengkapi ekskalator di setiap lantainya. 


Ada lift juga tersedia dan pengatur suhu ruangan. Dengan fasilitas standar pasar modern maka pasar badung dapat menjadi model pasar tradisional yang unggul.

Pasar tradisional ini juga memiliki keunggulan yang tidak dimiliki pasar modern pada umumnya.

Bagaimana dengan harga, apakah sama dengan di Mall?

Santai, bro, nggak perlu keukep dompet, karena harganya menurut saya, relatif lebih terjangkau. Jangan lupa, lakukan tawar menawar  antara penjual dan pembeli. Sistem masih pasar tradisional.

Kesan saya: Pasar Tradisional serasa di Mall.

Tempatnya bersihhh, nggak gelap, becek dan bau.Lapak pedagang ditata sesuai lantai



Setelah selesai belanja, kami keluar pasar dari sisi kanan. Baru saya sadar, Pasar Badung dan Pasar seni Kumbasari dibatasi oleh sungai, namanya Tukad Badung 



Sungai yang sudah bersih dan tertata menjadi objek wisata sungai bagi wisatawan yang datang. Tapii karena panas, saya dan suami hanya memandang sungai bertulis 'Kotaku Rumahku.'

Memang Pulau Bali empat tahun belakangan ini, saya merasa sebagai rumah kedua bagi keluarga kami. Entahlah, apa kami pindah ke Bali, karena suami lebih suka menghabiskan masa tua di sini. Doakan ya.

Baiklah, belanja oleh-oleh selesai. Mari kita pulang,kemas-kemas.oleh-oleh khas Bali. 

Besok hari, holiday berakhir.

Kembali mencari rezeki yang barakkah, walau harus sementara kami saling berpisah jarak.

Salam jalan-jalan. Piknik ke Pasar.



No comments:

Post a Comment