Friday, November 20, 2015

Gamis Cantik untuk si Tubuh Besar

Ingin memberi hadiah pakaian muslim  buat si gadis, anak tunggal saya.
Selalu saja, saya hanya bisa menarik nafas, kecewa.*Jadi batal, deh bikin surpresi*

Setiap kami belanja pakaian di toko. Saya sodorkan pakaian, untuk dicoba di kamar ganti, langsung dia menolak, "nggak usah, Ma. Pasti nggak cukup" 
Kasihan, batin saya. Selalu terkendala dengan ukuran.

Sudah keliling cari-cari pakaian, ketemu model pakaian cantik dan simple, ukuran diperkirakan cukuplah. Eh! waktu di coba di kamar ganti. Nggak cukup, nyangkut di dada. Ukuran branya  si gadis saja 41 cup C, jadi agak repot untuk memilih pakaian. Satu kendala lagi untuk si tubuh besar, jenis kain harus benar-benar nyaman dan daya serap yang tinggi, karena umumnya, dengan tubuh besar cenderung suka berkeringat.

Sebagai seorang ibu, saya harus bisa menyiasati, agar bisa memberikan yang terbaik buat anak satu-satu saya. Bahagia sekali, jika  melihatnya terlihat cantik dengan pakaian yang dikenakan. Sekalipun, berukuran tubuh besar, bukan berarti tidak bisa bergaya dengan model pakaian seperti mereka yang bertubuh langsing. Saya selalu tekankan padanya, harus tetap percaya diri, *Big is Beautiful*

Untunglah, pangsa pasar pakaian muslim sudah mulai melirik ukuran super besar bagi wanita muslim. Apalagi model pakaian muslim yang diminati saat ini sepert gamis mulai merambah ke fashion wanita muslim. Model gamis lebih up to date membuat pemakai menjadi lebih angun dan feminim tak ketinggalan jaman, selain itu jenis kain lebih bervariasi.

Secara etimologi Gamis  yang berasal dari bahasa Arab, qomish. Gamis berasal dari bahasa serapan Arab ke dalam bahasa Indonesia, berarti kemeja. Gamis menurut saya,gamis adalah baju panjang terusan dari atas pundak sampai keujung mata kaki, pakaian yang longgar tidak membentuk pola tubuh.

Tubuh besar, sapa takut, untuk tetap modis (dokpri)

Kadang, selain membeli gamis di toko pakaian, (kalo ada kesempatan), saya suka menjahit  gamis sendiri buat anak saya. Lebih-lebih kalo lebaran, saya berusaha tampil seragam dengan buah hati. Kami memakai gamis yang sama, kalau kami di foto...cantik, cantik,cantikkk. Moment yang tak akan terlupakan.

Thursday, November 19, 2015

Brengos...

Mungkin sebagian orang, sudah tau dengan istilah brengos
Kata 'brengos' sepintas jika kita dengar, terdengar seram.
Kesan yang ditampilkan, pasti ini tentang preman, badannya kekar, wajahnya bengis,dihiasi brewok lebat tak beraturan, dengan tato diseluruh badan, ada bekas luka pemanjang akibat senjata tajam. 
Aahh, serammm...nggak gitu kali. 

Sebenarnya, Brengos memiliki arti yang banyak loh. Tulisan ini tiba-tiba muncul hari ini, setelah saya mendengar percakapan teman beberapa bulan yang lalu sewaktu di Bandung. Ternyata brengos yang saya ketahui selama ini, bertambah satu lagi maknanya.



Brengos, lebih maskulin...Lelaki sekali. (Dokpri)
Dalam dunia Lelaki.
Brengos dalam bahasa Jawa,  adalah kumis. Lelaki yang memiliki kumis sangat lebat, bisa disebut: brengosan atau brewokan.
Katanya, lelaki  brengos itu keren, bertambah gahar dan maskulin sedikit sexy. Malah di tahun ini, menjadi tren brengos (yang klimis, geseran dulu dong) kalo eikeh, suka juga sih, asal dicukur rapihan dikit. 

Kata brengos dari bahasa Jawa ini sudah beradaptasi dalam bahasa keseharian, bahkan ada forum resmi yang didirikan untuk pria brewok, atau pria yang belum brewok, dan akan brewok, namanya Brengozer.


Wednesday, November 18, 2015

Saya Pilih Kopi Hitam [Kopi Bali Cap Kupu-Kupu Bola Dunia]


Een, kamu bukan pengemar kopi, tapi tukang cicip kopi, sisa saya.
Iyaaa, saya juga baru sadar. Nggak pernah pesan kopi hitam secara khusus. Cuman, suka minta kopi di gelas orang, yang memang tak saya sadari, malah bablas ke minum sampe tak tersisa.
Baru sadar, setelah pemilik gelas kopi komplain 
Mana kopiku, diminum juga baru seteguk.
Wakakakak...ketawa sembari nyengir.
Itu saya, loh! Suka banget, mencicipi kopi milik orang lain, maksudnya hanya sekedar icip-icip, sedikitttt, tapi kalo kopinya terasa enak, glek-glek, langsung tuntas.
Saya akui, cara minum kopi saya tak berseni, meneguk  minuman kopi seperti minum air putih, nggak bisa sedikit-sedikit. Langsung habis, daripada kelamaan nanti kopinya menjadi dingin.

Sebenarnya, saya bukan pengemar kopi hitam, selama ini saya meminum white coffee sachet-an, dibeli di warung. Rasanya juga enak, ada rasa kopi dicampur coklat, mocca, bean.Yang pasti murah meriah, satu sachet white kopi cuman Rp 1.200,- sisanya buat beli biskuit, temannya ngopi. Lagi-lagi saya kena komplain, dengan gamblang langsung menohok saya.

Een, mana ada white kopi? kalo ada juga, pasti mahalll. Itu mah isinya, tipung jagung, diberi gula. Nggak baik buat kesehatanmu.Apalagi yang kopi sachetan.
Nyengir, tetep keukeuh teu percaya. Sekalipun, baru diperingatkan bahwa kualitas kopi krimer tidak baik untuk kesehatan, tetap aja minum kopi putih sachetan sekali pakai. Buat kopinya praktis, tak perlu waktu lama, tinggal tuang ke dalam gelas, kasih air panas, jadi deh. Rasanya juga enak kok, walau gulanya kemanisan.

Lama-lama saya jadi sadar sendiri, setelah ingat umur nggak muda lagi. Juga dari hasil pengalaman saya, setiap habis minum white coffee terasa nek, dan kembung. Seubeuh, cek urang Sunda.
Masaiya, kopi putih  efeknya kurang bagus bagi kesehatan, membatin sendiri, diam-diam demi mencari pembenaran, cari-cari info, dampak negatif kopi putih(kopi krimer) khususnya kemasan scahet.

Setelah membaca sebuah artikel, saya merasa ketipu oleh iklan kopi putih...#Asa ketampar yeuh! 
Menurut Pakar Pertanian sekaligus Ketua Lembaga Penelitian(Lemhit) Universitas Jember Jawa Timur, Profesor Ahmad Subagio, beliau menginggatkan, kopi putih scahet mengandung krimer, yang bisa berdampak buruk bagi kesehatan, salah satunya kanker dan hipertensi. Terlalu banyak mengkonsumsi kopi krimer dalam jangka panjang, sama halnya dengan memasukkan khoresterol kering kedalam tubuh, karena kandungan krimer tidak dapat dicerna sempurna oleh tubuh...*Widiihhh, mendadak jadi takut* 

Kopi putih yang sering kita lihat dan menjadi 'korban iklan', sebenarnya bukan jenis kopi putih. Warna putih di dapat dari ekstrak gula atau minyak nabati yang di ekstraksi. Proses ekstraksi bahan sering mempergunakan bahan kimia. Proses pembuatan kopi putih, juga tidak memenuhi standar kesehatan. Kopi disangrai dengan suhu kecil, agar warna bubuk yang dihasilkan tidak menjadi hitam pekat. Padahal, sejatinya, proses biji kopi harus disangrai dengan suhu tinggi, agar kadar asam dan kafein menjadi turun. 

Ternyata eh! ternyata, anjuran si Akang itu benar. Pilihlah kopi hitam, lebih banyak manfaat di dalam tubuh. 
Sepulang berwisata di Pantai Kuta, Kabupaten Badung, kami duduk beristirahat di Bali Colada Cafe n Resto. Biar pembicaraan nyambung, mengurangi kesalah pahaman, mending ngopi dulu, yukkk.

"Nah, En...Ini baru kopi namanya, kopi Bali. Cobain"

Tumben, nyuruh minum. Cangkir berisi kopi hitam panas, uap yang keluar menebarkan aroma wangi. Seruput dengan berlahan tak tergesa. Nikmati ala pencinta kopi. 
Benerrr, Sumpeh! kopinya enak banget.
Kopinya terasa lembut dan ringan.
Pahitnya sedang, tidak pekat dan warna agak coklat, disitulah letak sensasinya kopi hitam. Pahit manis.

Kopi khas Bali, rasanya mantaf. (Dokpri)
Hmmm...saya baru tau, di Bali juga punya kopi sendiri. Kopi bubuk khas Bali dengan merk Cap Kupu-Kupu Bola Dunia.

Tuesday, November 17, 2015

GADO GADU Hostel Bandung

Masih cerita seputaran hostel di Bandung.  

Di jalan  belakang Pasar Kebon Jati, ada dua tempat penginapan yang murah, bersih dan nyaman. Sama-sama, tempat favorit backpackers, khususnya wisatawan asing yang berwisata ke Bandung. Jaraknya kedua penginapan, tidak begitu  jauh, berada dalam satu jalan, dengan lokasi yang strategis. Salah satunya; Gado Gadu Hostel Bandung...*kebelibet nyebutnya, mirip dengan salah satu merk kaos terkenal di Yogja, beda dikit.


Goda Gadu Hostel Bandung (Dokpri)

Apa itu hospel? 

Secara etimologi, Hostel adalah tempat peristirahat. Bagi wisatawan, hostel disebut juga hostel backpackers.

Kalau dipikir, berwisata itu membutuhkan banyak anggaran; selain biaya akomondasi (transport dan tempat penginap), berkunjung ke objek wisata dan beli oleh-oleh. Ketersediaan anggaran yang terbatas, tidak harus mengurungkan niat untuk berwisata...Ada Solusinya. 
Salah satu solusi menghemat biaya, pilihlah tempat penginapan yang murah, seperti hospel atau homestay dibanding hotel. Ketimbang memejamkan mata ini, mending pilih hospel daripada hotel.

Saya menginap di Goda Gadu Hostel sekitar 8 bulan yang lalu (widihh...posting cerita baru sekarang). Biasanya, kalau saya berkunjung ke Bandung, selalu menginap di rumah Bibi saya, belakang Pasar Induk Gede Bage. Masalahnya, kalau ada acara di dalam kota, jaraknya jauh sekali.  Mau jalan-jalan ke mall juga susah. Makanya, saya memilih tempat penginapan yang lokasinya strategis di pusat kota, jaminan bersih, aman, nyaman dengan  harga murah. 

Monday, November 16, 2015

Moritz Guesthouse Homestay in Bandung [Rendezvous]

Kebetulan sekali saya sedang berada di Bandung, akhir bulan Oktober lalu. Sayang bener nih, kalau punya waktu dan kesempatan, tidak dipergunakan bertemu teman-teman...Mumpung di Bandung.

Janjianlah kami, ketemuan dimana?
Moritz Guesthouse Homestay, Bandung (Foto: new by Moritz)
Dipilihlah, Moritz  guesthouse homestay. Kebetulan, teman-teman yang tinggal di Bandung, sebagian besar dulu sebagai pemandu wisata atau tour guide. Jadilah, Moritz tempat yang cocok untuk rendezvous. Berkumpul kembali untuk mengenang masa lalu.

Lokasi Moritz homestay, mudah dicapai, berada di belakang Pasar Kebon Jati, tak jauh dari Stasiun Kereta Api kota, hanya 15 menit berjalan kaki. Saya kemari, naik taxi, biar mudah saja.

Bangunan terdiri dari tiga lantai, tidak luas, namun nyaman.
Memasuki pintu depan homestay, ada sekat kecil untuk resepsionis. Di sebelah kanan, kursi dan meja panjang untuk berkumpul para tamu, suasananya santai dan kekeluargaan. Terdapat perpustakaan dan bar kecil, nuansa klasik modern menonjolkan suasana yang lebih terasa seperti dirumah sendiri. Hiasan di dinding ditata rapi, terdapat banyak lukisan dan foto-foto objek wisata di Jawa Barat. 

Sunday, November 15, 2015

Kuliner Khas Bogor: DOCLANG

Ada satu makanan khas Bogor, cocok untuk santapan sarapan dan isiannya  sangat minimalis, tapi...rasanya so yummy. Namanya unik, Doclang
Pernah dengar atau nggak pernah sama sekali?

Untuk warga Bogor dan sekitarnya, Doclang sudah akrab di telinga. Makanan ini, umumnya di jajakan dengan cara dipikul. Sekarang sudah banyak mempergunakan gerobak. Dijual berkeliling dari satu perumahan ke perumahan lain di pagi hari. Yang khas, Penjual Doclang tidak berteriak : Doclangg!!! tetapi memakai  bunyi. Piring di pukul berulang kali dengan sendok, nah! itu tandanya penjual doclang sedang lewat di depan rumah.

Dari namanya, doclang...saya bertanya dengan berbagai sumber, hingga kini belum menemukan maknanya. Penamaan Doclang, sudah ada dari jaman baheula. Menurut saya, doclang merupakan adaptasi dari ketoprak, makanan khas Betawi. Sama berbumbu kacang, namun ketoprak memakai sayuran berupa rebusan toge panjang dan bihun. Bumbu kacang ketoprak, cara pembuatannya, di ulek diatas piring. Sedang Doclang, cara penyajian lebih praktis dengan isian yang sederhana.

Sudah bisa membayangkan Doclang Bogor?

Doclang. seperti makanan khas Indonesia berbumbu kacang tanah yang diulek halus. Terdapat perpaduan rasa yang seimbang pada bumbu kacang; rasa manis berasal dari gula merah, gurih, sedikit asam, terasa segar dan wangi dari daun jeruk. Sajian doclang, berisi menu komplit terdiri dari; irisan tipis lontong, tahu goreng setengah matang, kentang rebus(digoreng sebentar), telur ayam rebus dibelah dua, ditatadi dalam piring makan, disiram dengan bumbu kacang tanah. Untuk menambah kelezatannya, ditabur bawang merah goreng. Terakhir, di beri kerupuk. 


Doclang Bapak Odik, Bogor

Di dekat rumah saya, beda kelurahan saja, ada warung penjual Doclang yang berdiri sejak tahun 1995. Sudah sangat terkenal, sering di ditayangkan di beberapa stasiun swasta, serta beberapa artis ibukota sering makan di sini. Warung Doclang Bapak Odik.

Friday, November 13, 2015

Sang Satria Sejati, Gatotkaca | Patung Kuda, Tuban Bali


Bali masih cerah menjelang senja, saya keluar dari gerbang Bandara Internasional Ngurah Rai, setelah penerbangan Jakarta-Bali, Oktober bulan lalu.
Di simpang tiga jalan, masih dalam kawasan bandara di antara jalan Raya Tuban dengan jalan Raya airport. Saya terpukau, dengan patung kuda  yang besar luar biasa. Ukiran patung dari beton berwarna putih. Megah, mempesona yang melihatnya. 
Patung Kuda, penyerangan dari angkasa Satria Gatotkaca ke kereta kuda Karna  (Dokpri)

"Itu, Patung Kuda.
Saya masih terpana, sayang saya hanya sekilas melihatnya, mobil melaju membawaku jauh meninggalkannya.
Esok harinya, barulah saya bisa melihat lebih dekat Patung Kuda. Karena masih siang hari, suasananya sepi pengunjung, kalau malam hari, patung kuda ini akan indah diterangi lampu warna warni. Patung kuda, menjadi tempat wisata alternatif kalangan anak muda dan keluarga. Murah meriah.

Patung kuda, menjadi ikon Kabupaten Tuban, Bali. Patung ini dibuat oleh seniman terkenal Bali asal Teges Peliatan Ubud, I Wayan Winten. Di resmikan tanggal 31 Oktober 1993 oleh Gubernur saat itu, Prof. Dr Ida Bagus Oka. Patung ini dibangun dalam rangka memperindah kawasan Bandara Ngurah Rai, Bali. Patung kuda yang berdiri megah, konon dipercaya dapat memberikan keamanan serta spritual bagi para wisatawan yang berkunjung ke Pulau Bali.


Nama Patung kuda lebih dikenal di kalangan masyarakat Bali, sebenarnya, patung kuda adalah Patung Satria Gatotkaca. Patung yang mengambarkan Perang Kurukshetra ,penyerangan Gatotkaca dari angkasa, dibalas Karna dengan senjata Konta (tombak). Ada enam ekor kuda perang, dipegang oleh kusir handal bernama Raja Salya (Artayani), raja Mandra.