Friday, February 27, 2015

Kliping Tabloid Nova

Kalo Ingat Tabloid Nova, akrab banget sepanjang usia saya...Aih, mari bernostalgia.
Terus terang, saya mengenal tabloid Nova sejak tahun 1990. Saat usia saya 19 tahun. Sekarang saya sudah Emak berusia 44 tahun. Saat itu, saya baru menikah dan merantau jauh dari orang tua dan mertua. Untungnya, tabloid Nova mudah saya dapat di Palangka Raya, kini saya tinggal di Bogor.

Sebagai pasangan muda, banyak yang dapat saya ambil ilmu dan manfaat dari rublik artikel Nova. Apalagi saya baru menikah, banyak persoalan menghadapi suami, maklumlah masih muda. Emosi masih tinggi sekali. Untung [untung lagiii]  ada rublik  tanya-jawab konsultasi psikologi yagg di asuh Ibu Dra Rieny Hasan. Rublik ini merupakan solusi dan pencerahan bagi saya. Artikelnya enak di baca mudah dicerna, ndak njelimet...*Salam hangat untuk mbak Rien. Selama ini saya selalu membaca rublik ini.
Kliping Resep Masakan Nova

Tuesday, February 24, 2015

Belajar Mendengar Bahasa Anak (2)


Acara talk show "Mendengarkan dan bicara dalam bahasa anak " merupakan parenting sharing project, yang bertujuan agar orang tua yang mau berbagi dan berkumpul membentuk moment berbagi ilmu dan pengalaman dalam tumbuh kembang anak-anak.
Acara ini diselengarakan di Kalcare Lotte Shopping Avanue, Sabtu [21/02]
Melanjutkan catatan saya pada Belajar Mendengar Bahasa Anak(1)

Disadari, jaman terus berubah dan akan banyak ujian yang menghadang dengan kemajuan tehnologi. Tentunya, tanggung jawab dan tugas orang tua mendidik anak semakin berat. Untuk itu, semakin anak tumbuh menjadi besar, perlu di berikan pola pikir yang baik, agar anak akan menjadi anak yang selalu berpikir dan berkepribadian baik ,masa kini dan mendatang.
Faktor yang mempengruhi pola pikir adalah keluarga, agama, lingkungan sosial dan media.

Ajarkan pola pikir dengan memperkuat pendidikan agama sedari dini, agar, jika suatu saat ia dewasa, dan kelakuannya diluar kebiasaan. Yakinlah, Anak itu tau jalan pulang, yaitu agama.
Kadang, orang tua selalu menilai, media sepeti televisi, barang yang merusak moral dan akhlak anak.
Apakah televisinya yang salah? kemudian main matikan, dilarang nonton televisi. Sadis banget. Bukan televisinya yang salah tapi acara televisinyalah yang salah. Orang tua yang pandai mengontrol dan menilai acara televisi yang layak tonton. Bukan menjauhkan anak dari peradaban.

Di situ Kadang Saya Merasa Sedih

"Di situ kadang saya merasa sedih," kalimat yang diucapkan  Polwan, Brigadir Dewi Sri Mulyani di sebuah acara '86'  NetTV, lagi trending topik...*kebetulan saya nonton langsung.
Apakah, hanya dikau dengan hapemu?
[Candid HP, di Stasiun Kereta Bogor]

"Di situ kadang saya merasa sedih"

Lha, benar tho. Dunia kini memang berbeda. Tehnologi menjadi jarak antara manusia,  sekalipun duduk berdampingan, semua sibuk dengan smartphone-nya.
Dimana-mana, semua tenggelam di  dunia dalam genggaman.
Paling, hanya seutas  senyum sambil menoleh, kemudian kembali di dalam sibuk sendiri.

Lonely


Duhai, dalam penantian
Sepi...walau di tengah keramaian.
Senyum walau berduka.
Bersandiwara dengan elegan 
Ceria tapi pilu
berduka...

Monday, February 23, 2015

Belajar Mendengarkan Bahasa Anak (1)

         

         Duduk manis,walau terlambat di ruang KALcare lantai 3 Lotte  Shopping Avenue. Tempat yang rapi, minimalis serta menyatu dengan audien, serta suara anak yang menjerit dan bermain. Saya sungguh berbahagia, mendapat kesempatan bersama teman blogger, mengikuti talk show, hari Sabtu, 21 Februari 2015. Acara ini di sponsori oleh Kalcare, Woman Radio, 94,7 UFM, Wajah Bunda, Tabloid Nakita, Junior's Plcae.
         Dalam suasana yang santai, pembicara, Kirdi Putra, seorang hypnotherapis, bapak tiga anak, memulai bercerita. Di latar belakangi, rasa ketakutan beliau.
Bisakah manusia menjamin hidup di hari esok? Bagaimana,  suatu saat nanti anak akan tumbuh di luar jalur kebiasaan.
Pertanyaan itu, akhirnya memberikan solusi, bahwa setiap orang tua (Parents),  jika mau duduk bersama dan saling berbagi, berkumpul membentuk moment untuk berbagi ilmu dan pengalaman.  Maka bersama akan menemukan jawabanya. Seperti saat ini, parenting sharing project.

Do It Your self | anak Punk

Menunggu teman di depan Stasiun Kereta Bogor. Saya ingin foto anak ini. Penampilannya berbeda di antara kerumunan orang, rambut dan cara berpakaian. 
Saya hoby foto hape, maklumlah saya ini ketularan virus jepret dalam komunitas seni foto hape. Mau tau, komunitas Seni Foto HP, klik disini.

Jadiii, asal ada moment  bagus, bawaan mau foto melulu. 
Salam jepret, iyes!!!
Jadi, sampul grup SFHP minggu ini.
Don't judge a book by its cover

Ini candid, loh!
Sebenernya, takut juga, kalo tiba-tiba nggak terima difoto, terus marah...tapi pengen fotoin dia. Lancarkan trik, deket-deket, sok sibuk. Jepret! Phiufffhhh...deg-degan .

Sunday, February 22, 2015

Kampung Sasirangan Banjarmasin

Hari Jumat, sedikit mendung, Pak Husein supir kami, mengajak tour dalam kota Banjarmasin [13/11/14]
"Ulun handak menukar kain sasirangan. Di manalah wadahnya?" kata saya dalam bahasa banjar. [Saya mau membeli kain sasirangan. Di mana tempatnya?]
"Kita ke kampung sasirangan ja, Bu lah." [ Kita ke kampung sasirangan aja, Bu, ya]

Terus terang, saya sudah sering berkunjung ke kota Banjarmasin, tapi baru pertama kali, melihat pembuat kain sasirangan. Kain khas Banjarmasin. Kampung sasirangan, jalan seberang Masjid, Sungai Jingah.
Disini, saya melihat cara pembuatan kain sasirangan khas Banjarmasin. Sasirangan memiliki ke khasan warna yang cerah, antara gelap dan terang. 
Kalau anda pakai kain sasirangan ini. Saya jamin, anda yang memakainya bertambah manis dan tampan. Bengkeng banar! cakep sekali.
Bahan baku sasirangan terbuat dari kain sutera asli [Jelas, ini mahal harganya] kain katun, satin dan perpaduan satin sutera[sebut saja, sutera kecewa...hehehe] 

Kain Sasirangan nan penuh warna