Review

Thursday, March 24, 2016

Efek Cream Skincare Mengandung Merkuri

Kamis siang akhir Februari yang lalu (25/2), saya ke rumah salah satu saudara (dulu ipar) saya di Palangka Raya, kebetulan ada beberapa temannya datang juga. 
Mata saya malah lain fokusnya...diam-diam melirik pada wajah tiga orang perempuan dengan wajah putih bercak di pipi, dan dagu. Bener-bener gagal fokus, gegara wajah belang itu. 

"Masih ada juga yang percaya dengan janji palsu", batin saya. 
Tanpa harus bertanya pada tiga orang ibu itu (kalau ditanya pun, pasti rata-rata tak pernah mau jujur) saya tau pasti menyebab muka flek hitam, karena saya juga korban tapi nggak separah itu. Gara gara cream wajah keparat itu...maaf sedikit kasar, efek dari janji janji palsu. Akhirnya hanya penyisakan cerita sedih, wajah jadi kehitaman, putih belang-belang atau efek yang lebih parah lagi seperti penyakit kanker kulit.

Saya menulis ini, karena ingin berbagi untuk menyadarkan kaum perempuan yang masih menggunakan cream abal-abal yang banyak beredar di pasaran. 

Produsen yang nakal hanya mementingkan keuntungan semata, termasuk penjual cream yang tidak memikirkan efek pemakaiannya. Semua karena uang. Padahal dosa besar kalau melihat efek akhir cream jualannya pada pemakai.

Wednesday, March 23, 2016

Pie Susu Teflon Anti Gagal

Kejadian hari Minggu kemarin, bahagia sekali antara kami berdua, ibu dan anak, 5 menit kemudian bersedih,kecewa lalu geli bersama.

Ternyata...bahagia dan sedih itu cuman soal perasaan, yang sifatnya sementara. Jika bersedih, jangan bersedih terus, karena ada saatnya kita bahagia. Begitu pula bahagia, tak selamanya merasa bahagia, ada pula saatnya bersedih, semua berjalan bersama.

"Maka sesungguhnya bersama kepedihan itu ada kebahagiaan. Dan sesungguhnya bersama kepedihan itu ada kebahagiaan" (Qs. Al Insyiraah:5-6)


Foto 1 jam 12.31 WIB. Pie Susu Teflon, sukses!
Seperti kejadian tragedi pie susu telfon gadisku Nisa Latifah. 

Monday, March 14, 2016

Tugu Kota Palangka Raya yang Semakin Cantik

Nyaris deh, Tugu kota Palangka Raya kelewatan, keasikkan ngegas motor, hampir saja kebablasan, jarak pandang saya juga terhalang kacamata helm yang saya pakai, ketutupan tetesan air hujan.

Sebenernya sih, kepaksa banget jalan-jalan berhujan-hujan begini. Habis kapan lagi saya bisa pulang kampung macam ini. Waktu berkunjung ke Palangka Raya tinggal dua hari,  sudah mepet dan banyak acara. Ya beginilah, biarpun hujan, ya jalan terus. Ada beberapa teman yang berbaik hati menawarkan untuk mengantar dengan mobilnya.Bukannya menolak, tapi takut merepotkan, lebih nyaman naik motor sendiri eh! pinjaman ding, bebas kemana suka.
Tugu Kota Palangka Raya di tengah rinai hujan
Hujan sebentar deras, kemudian gerimis, berganti deras lagi, bertanda bakal awet nih hujan sepanjang hari. Saya berhenti sebentar di pinggir jalan, memastikan ini yang saya cari. Setelah yakin, barulah motor  saya parkir, masih memakai jas hujan, saya langsung mengabadikan Tugu cikal bakal kota Palangka Raya. 

Sunday, March 13, 2016

Ragam Wadai Banjar di Palangka Raya

Pagi berselimut mendung.
Kota Palangka Raya bakal hujan lagi, padahal, masih tampak sisa semalam. Air tergenang di atas jembatan ulin rumah Mina Pancar.
Masih termanggu di lawang, selonjoran, ada yang saya tunggu, 'seseorang'
Kata Mina, biasanya sudah lewat, kok agak telat pagi ini, mungkin karena hujan.
Wadai Banjar di jual berkeliling kota

"Wadaiiii...
Teriakan Paman penjual wadai. Suara knalpot motornya memecah sepi. Treng teng prutt...treng teng prut, sepertinya knalpotnya kotor, suaranya nggak enak bener akhirannya.

Thursday, March 10, 2016

Melunasi Rindu dalam Semangkuk Kenta | Makanan Khas Dayak




Nah ini dia, yang saya cariiiiii....*antara senang dan histeris*...Lunjak-lunjak, oye!
Terkenang Tambi setiap memakan kenta

Wednesday, March 9, 2016

Keindahan Matahari dalam Kegelapan yang Tak Akan Terlupakan

Sehari sebelumnya gerhana matahari total, toa masjid mengumumkan, besok pagi akan di adakan sholat gerhana matahari.
Saya begitu antusias, untuk ikut sholat kusuf syam, sunah gerhana matahari. 

Tuesday, March 8, 2016

[Review Novel] Malam-Malam Terang




Judul    : Malam-Malam Terang
Penulis  : Tasniem Fauzi Rais dan Ridho Rahmadi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun Terbit: Desember 2015 
Jumlah halaman:  244 halaman
ISBN : 978-602-032-454-8
Seorang gadis melamun dan mengamati di bingkai jendela. Bola matanya mengarah ke kanan, memandang langit, menekuri malam-malam untuk meniti masa depan, kini dan nanti. Dalam benaknya bertanya, bisakah ia menjadi sosok bintang yang paling terang?

Sunday, March 6, 2016

Oseng Lantar, si Uhat Kujang.

Suara meriah usai subuh.
Suara sunduk beradu dengan permukaan wajan. Srengg... srenggg dari arah dapur rumah Mina Pancar. Sambil memasak, Mina sibuk pula menelpon saudara tuanya di Cirebon, Ibu saya.

Ditambah lagi, Bapak tua yang tinggal di samping kanan rumah Mina, tampaknya sedang galau hebat. Nyetel lagu dangdutnya full volume.
Tak mau kalah, rumah di sebelah kiri pun terdengar teriakan Acil sedang memarahi gadisnya yang pulang kemalaman. Ngomel-ngomel, si anak malah ngeluyur naik motor.
Duniaku yang sungguh ohhhh...

Setelah sholat subuh, sengaja saya tidur lagi karena masih ngantuk, habiss, saya pulang rada malam kebantuin Fitri, sepupu yang punya hajad Mantenan.
Mendengar suara tadi, saya  terbangun mengumpul jiwa yang ingin bersatu dengan raga. Diantara kantuk, dan gema dimana-mana.
"Mbakkk, kita makan linggis...hihihi." Sepupu saya, Inur menunjukkan sepiring masakan pagi, sayur yang dipotong setelunjuk memang mirip mini linggis, namanya lantar.

Saturday, March 5, 2016

Dendang Cinta Perempuan Bepupur Basah

Jika, ingin mendapatkan cinta dari seseorang, berdendanglah sambil mengusap pupur basah di wajah. Jangan lupa berdoa kepada Tuhan.
Trus, apa hubunganya berdoa, bepupur dan cinta.

Friday, March 4, 2016

Kawong Masak Bahenda ala Sepupu Saya.


Hujan turun sepanjang hari. Suara air seperti irama yang beraturan, jatuh di rumah beratap seng, melodi alam menghanyutkan saya untuk tetap tidur. Rasa malas untuk berpergian di pagi ini, nikmat nian berebah di kasur rumah papan Mina Pancar. Kasur yang diampar diatas lantai papan beralas karpet plastis bercorak, sungguh sederhana, namun membuat saya betah, serasa di rumah sendiri.