Review

Thursday, April 30, 2015

Tunjukkan Kamu Pasti Bisa #Berani lebih Mandiri



Dalam diri seseorang tersimpan semangat untuk berkata
"Tunjukkan kamu pasti bisa!" #Berani lebih mandiri.
Walau, jujur...untuk mewujudkan kalimat:"Kamu pasti bisa", diperlukan waktu dan keberanian.

Ini sepenggal kisah hidup saya. Saya seorang ibu rumah tangga murni. Di awal pernikahan di tahun 1991 saya masih kuliah dan menikah muda. Selesai kuliah, saya bekerja menjadi karyawati staf keuangan di PT(Persero) Inhutani III unit HTI Palangka Raya Kalimantan Tengah. Bergulir era reformasi 1998, memaksa saya untuk menuntukan pilihan, bertahan menjadi staf dan berkarier, atau mengikuti dinas suami yang pindah ke Jakarta. Pilihan terakhir, saya memilih berhenti, demi  keutuhan kekeluarga.

Saya terus mencoba, pekerjaan apa yang cocok untuk saya. Akhirnya saya di terima  sebagai guru tenaga honorer di MAN-2 Bogor untuk mengajar mata pelajaran Tata Negara, sejarah dunia kelas XII dan ekonometrika. Semua saya jalani dengan suka cita.
Disela kesibukan saya, saya suka melukis dan menyulam, apa saja pekerjaan tangan wanita saya suka sekali. Sejalan dengan waktu, setiap masuk kelas, pasti siswa berkata, "Bu, kenapa matanya merah?"
Oh, ternyata saya tak bisa menutupi, mata saya yang bengkak karena menangis, sekalipun saya berusaha memakai kaca mata. Hati yang luka, membuat saya tertekan.
Suami saya, selalu ingin saya tergantung secara finasial padanya. Saya harus di rumah dan menjadi istri dan ibu saja. Akhirnya setelah lima tahun menjadi guru, saya memilih berhenti sesuai permintaan suami... Semua, sekali lagi saya katanya, demi keutuhan keluarga.

Benar, kata pepatah, "Rumput tetangga lebih hijau dari halaman sendiri,"
Kecantikan seorang istri dengan baju daster lusuh, akan tertutup dengan hadirnya wanita lain dalam kehidupan berumah tangga. Lebih muda dan langsing, mungkin juga lebih cantik. Mulailah badai itu datang.
Ada keraguan di hati saya, untuk melepaskan diri dari lingkaran kehidupan. Saya tidak bekerja, hampir lebih tujuh tahun saya tidak bekerja. Bisakah saya menghidupi diri dan anak saya?
Pertanyaan itu, yang selalu membuat langkah saya, susut kebelakang. Bertahan dan tetap tegar, sekalipun tak sanggup lagi…*Sakitnya tuh disini.
Itulah yang saya lakoni bertahun lamanya. Cinta memang aneh, menutupi rasa sakit disakiti, antara benci dan cinta itu setipis sutra. Waktu terus bergulir sampai  lebih dua dasa warsa. 
Tiga tahun yang lalu, saya berada pada titik terendah kehidupan.
Kata "Kamu pasti bisa!" menyeruak menjadi sebuah keberanian. Apakah hidup harus penuh air mata, saatnya untuk berani mandiri. Terlalu lama dalam kepasrahan, saatnya untuk memperjuangakn hidup dan kebahagiaan, walau harus menjadi single parent. 
Saya harus bisa!


Saya harus bisa! Saya berkata di depan cermin yang mantulkan wajah sesungguhnya.
Kamu pasti bisa! Yeap, ternyata saya bisa. Perpisahan membuat saya berpikir keras. Mengumpulkan semua mimpi yang tertunda untuk diwujudkan, satu per satu. Sebenarnya saya masih bisa mengajar di sekolah, tapi saya ingin membuat wirausaha, menjadi diri saya sendiri. Saya mulai aktif menjadi blogger dan mulai menulis cerita. Alhamdulillah, tulisan saya terbit di salah satu majalah anak. Saya yakin, dibalik semua ujian, Allah memberikan banyak hikmah bagi yang bersabar. Dan saya pun tidak takut dalam kehidupan, karena Allah lah yang memberi rezeki.
Dulu, saya pemalu, apalagi untuk berdagang. Sekarang, semua saya tepis, malu dan gengsi, yang penting halal. Kesuksesan di peroleh dari proses dan banyak kegagalan. Hingga saya mulai membuat produk tas aplikasi sulam dan lukis. Walau baru di mulai dengan modal kecil, saya bertekad untuk terus maju dan berjuang untuk mewujudkan banyak mimpi.


Semoga kisah saya ini, dapat menjadi inspirasi wanita yang masih dalam lingkaran ketakutan, keraguan dan tidak berani melangkah.
Katakan, "kamu pasti bisa!" Your are not alone, you can do it! 

Tulisan ini di ikutsertakan  Kompetisi tulisan pendek #Berani Lebih


 Fb :Een Endah 
Twitter: @eeney09 
Banyak Kata : 500 kata


Saturday, April 25, 2015

Nenek Minah, Penjual Biji Ketapang

Duduk sendiri, di peron kereta Stasiun Bogor. Kebetulan saya menunggu teman menuju Jakarta.
Nenek renta itu tampak gelisah, dia bertanya ke saya, " Mau kemana, Neng"
Ngobrol sebentar, eternyataa...nenek tua itu, berjualan biji ketapang. Kue kering khas yang terbuat dari tepung terigu, parutan kelapa sangrai, telur dan mentega dan di goreng. Daganganya di taruh di dalam tas bawaan, karena ada larangan berjualan di peron maupun di dalam kereta. Biji ketapang rapi terbungkus di dalam plastik. Jualan cuman ngambil upah saja.
Nenek itu bernama Siti Aminah, berumur 84 tahun. Serenta ini masih berjuang menghidupi diri sendiri.
Biasanya, nenek berjualan biji ketapang di Depok, sayang sampai jam sembilan lewat, hanya laku tiga buah. Mana cukuplah untuk hidup hari ini.
Nenek Minah, asli Pakuan dekat daerah Sukasari Bogor. Ia hidup menumpang di rumah menantunya, semenjak suaminya meninggal. Walau punya anak empat, tak satupun yang bisa diandalkan. Semua hidup susah, bagai bergantung di kayu lapuk. Sama-sama hidup miskin.
"Nenek mau cari uang, enggak mau tergantung dengan anak."
Nenek itu mengusap wajahnua, karenabrinai mulai turun.
Wajahnya lebih tua dari usianya. Memang sudah renta namun kehidupan telah banyak memberi guratan hidup pada wajahnya. Badannya tampak bungkuk. Kasihan..."Lieurrr," keluhnya dalam bahasa Sunda...Pusing.

Kadang Dunia ini tak adil. Namun sudah digariskan, ada yang kaya dan miskin. Dengan demikian, manusia selalu diajak untuk selalu bersyukur, dilangit ada langit, dibumi ada dalam bumi.
Melihat keatas, agar termotivasi untuk bekerja keras, melihat ke bawah, menimbulkan rasa syukur. Ada yang hidup berkekurangan dan ber empati.

Sebenarnya, saya kenyang hari ini, namun bentuk apresiasi saya pada nenek ini, saya beli dagangannya. Sekantung biji ketapang renyah guring seharga Rp. 5.000,- Semoga Nenek Minah mendapat rezeki yang banyak hari ini.
Aamiin Ya Robbal Allamin.

Comuter line jurusan Tanah Abang sudah tiba, saya menuju Kebayoran lama.
Menengok le belakang melihat Nenek Minah yang tetap bersemangat berjuang untuk dirinya. Hidup memang berat
Hidup memang harus terus berjuanhg

Tuesday, April 21, 2015

Kau tetap Mertuaku | Selamat Hari Kartini

Mengapa ku beri judul, kau tetap mertuaku.

Yaaa, sekalipun aku telah berpisah dengan anakmu, aku tetap merasa kau tetap mertuaku.
Sekalipun aku tak lagi bisa memelukmu seperti dulu.
Kau tetap tersimpan rapi di lubuk hatiku.
Izinkan aku tetap memanggil namamu, Mama.
Aku dan Mama Mertua
Terkenang, saat aku baru mengenal mertuaku.
Pertama kali berkunjung ke rumahnya tahun 1992 di tepian sungai Mentaya, Sampit.
Saat itu, aku hamil tua dan berencana untuk melahirkan di sana.
Aku mengunakan pesawat kecil berkapasitas 8 orang, Buroq Maskapai.
Dari Bandara Cilik Riwut menuju Bandara Sampit.
Sebelum boarding, penumpang harus menimbang tas bawaan dan berat badan.
Bisa di bayangkan, aku harus membayar kelebihan bobot badanku yang 82 kilogram, yailahhh, aku hamil besar...Begitulah saat itu, kelebihan kapasitas dihitung dari barang bawaan dan bobot badan.
Hanya dengan 45 menit, aku tiba di Sampit.

Monday, April 20, 2015

Belanja Mudah di Toko Online Shopious

Cerita Emak rempong nih, tentang ketidak taunya tentang toko Online, taunya ke pasar. Benar-benar kuno.


Belanja mudah dan semua tersedia [screenshots instagram Shopious]
Suer...rasa mau pingsan nih hari.[19/4]
Ceritanya nih, saya ada pesenan jilbab dan  baju kaos muslimah buat  temen yang tinggal di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Karena, jiwa saya nggak bisa berkata, tidak (cieee..) dan dia terlalu manis untuk ditolak permintaannya, saya setuju untuk membelikan pesenannya.  Setelah mengkonfirmasi, apa yang mau dibeli, ini dan itu. Jelimet sekale. Wokelah, saya bela-belain deh, berangkat juga ke pasar.
Waaa, keberuntungan sedang berpihak pada saya. Kok kebenaran, ada motor teman anak saya, di simpan di rumah, aji mumpung...Pinjem sebentar, lagian yang punya pergi kuliah.
Sebelum pergi, sudah kebiasaan saya, untuk selalu berdandan, yaaa..poles makeup sedikit, kalo nggak, ada yang kurang begitu (hihihi...Emak narsis nan lebay.)
Waktu jam 11 siang, saya berangkat ke pasar di wilayah Bogor. Sudah tak rahasia umum, pastilah, pasarnya penuh, macet lagi, plus panas.
Taruh  motor di pinggir jalan, karena cuman itu yang bisa buat parkir. Parkiran yang resmi, penuh. terpaksa yang ada saja. Mulailah saya ngubek . Kebetulan pasar lagi penuh, tanya sana-sini, soalnya jilbab yang di minta memakai cadar. Yaaa mana adalah produk begitu, yang jual sedikit dan kaos muslimah.
Panasnya minta ampun, dandan cantik jadi rusak, luntur semua.


Jilbab, hasil berdesak-desak di Pasar
Hampir sejam saya, baru menemukan barang yang di minta teman, itupun pakai telepon, cocok atau tidak warnanya. Repot juga...Semua selesai. Cilakak...*tepuk jidat. Saya lupaaa nomer motor yang saya pinjam, masalahnya, ternyata di dompet kunci motor, STNK nya ngak ada....Bener mau pingsan, hanya untuk beli dua barang saja, saya di buat keleyengan.Untunglah, saya masih ingat ciri motor, setelah minum teh botol upaya menenangkan diri. Akhirnya, motor itu ketemu. Kalau tidak, apa nggak bener pingsan, harga jilbab dan kaos aja ngga sesuai dengan harga motor.

Sesampai di rumah, setelah baca beberapa postingan share temen blogger tentang sebuah toko online terpercaya.
Ya ampunn...udah ketinggalan jaman eikeh. Udah nggak jaman lagi berdesak-desak dan berpanas-panas di pasar, kalau hanya untuk beli barang. Cukup buka internet dan instagram. Taraaa...semua tersedia, di sini toko online Shopious.
Nggak perlu repot dandan dan keringetan, apalagi pinjem motor teman.
Hmmm disini,  Shopious menyediakan segala kebutuhan pembeli . Ladalah, setelah saya berkunjung di link Shopious, ternyata, semua tersedia di Shopious, barang-barang terbaik dan terbaru untuk wanita, pria, anak dan bayi. Fashion trendy terbaru dan murah, bahkan tas bermerk dan terpercaya, tersedia di toko online Shopious. Serunya pula, nggak perlu repot dandan, kalo cuman mau beli pensil alis...di toko online Shop, tersedia dan lengkap.
Nah! sadarlah saya, jaman sudah tehnologi, serba online, kenapa tidak dimanfaatkan.( Phiufff...sadar kalo ndeso)
Ada point yang membuat saya semakin yakin dan percaya di Shopious, untuk pembelian barang langsung klik, kategori barang, di sana tertera dengan jelas harga barang (Nggak perlu repot adu tawar menawar) Nama penjual tertera jelas dan lokasi toko.
Untuk teman yang berada di Kalimantan, nggak perlu susah nyuruh saya lagi deh, tinggal beli sendiri. Toko online Shopious ada di seluruh Indonesia.
Untuk yang bingung cari-cari model baju , di Shopious tersediapula,  inspirasi style...kurang apalagi coba.
Hmm...saatnya siap-siap belanja nih, di toko online saja, Shopious.
Nggak perlu dandan, nggak berdesak-desakan, apalagi was-was hilang motor orang, gegara pinjam...
Yuk Mari, meluncur ke toko  shopious yang sangat mengoda.

Belanja mudah dan temukan barang-barang terbaik dan terbaru...

Inspirasi stye wanita muslimah dari  Shopious
Sumber : http://shopious.com




Friday, April 3, 2015

Kepundung, si buah langka.

Akhir Maret 2015, saya pulang ke kampung Cikalahang, Cirebon. Biasalah menjeguk Mama saya seorang. Sejak Bapak meninggal tahun kemarin, kami empat saudara bergantian menjeguk dan menemani beliau. Mama hanya di temani seorang asisten rumah tangga bernama Turinah dari Indramayu. Hebatnya, ini asisten sudah ada sejak gadis, trus berumah tangga,sampai jadi single parent (sekian tahun di Saudi) Eh! malah kembali ke asal, ya rumah orang tua saya. Agak larut saya tiba, maklum macet karena saya lewat jalan Selatan. Sesampai di rumah, peluk hangat dari Mama. Perut terasa lapar, "Masak apa, Tur," Saya langsung ke dapur. Eh ternayata, ada sebaskom kepundung yang mengoda.


Buah Kepundung [dokpri]

Taukah buah kepundung?

Buah kepundung, nostalgia di waktu kecil. bilaberkunjung ke rumah Kakek dan Nenek di desa Cikalahang. Waktu itu saya dan orangtua tinggal di Kalimantan Tengah. Buah kepundung, menjadi bahan cerita dengan teman saat pulang ke Palangka Raya.

Jujur, di Palangka Raya ada buah yang hampir sama dengan kepundung, namanya buah  Rambai. Awalnya saya kira kepundung, nama lainnya rambai...Ternyata ke dua buah ini berbeda.
"Kita bersaudara," kata yang tepat untuk kepundung dan rambai.
Kepundung memang saudaraan dengan rambai.
Nama latin kepundung, Baccaurea Racemosa, sedang nama lain rambai, Baccaurea Motleyana.